تسجيل الدخولBagi Estela Calista, kecantikan adalah kutukan yang membuatnya dikhianati oleh teman-temannya sendiri. Bagi Edward Sebastian Alexander, kekayaan adalah penjara yang membuat ibunya menghalalkan segala cara demi seorang cucu, termasuk menjebak putranya sendiri.
عرض المزيد"Berapa harga yang disepakati ibuku untuk kesucianmu, Gadis Kecil?"
Suara berat dan dingin itu menyambar seperti petir di tengah keheningan kamar 808 yang pengap oleh aroma sisa percintaan dan pengkhianatan. Estela Calista tersentak, selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya merosot, mengekspos bahunya yang dipenuhi tanda kemerahan. Estela menoleh dengan perlahan. Di sudut ruangan, pria dengan pahatan wajah setajam dewa Yunani itu berdiri sambil mengencangkan jubah mandi hitamnya. Matanya yang berwarna abu-abu gelap tidak memancarkan gairah yang semalam mereka bagi, yang ada hanyalah kebencian murni. "Aku... aku tidak mengerti maksudmu. Aku bahkan tidak mengenal ibumu!" suara Estela bergetar, serak karena tangis dan kelelahan. Pria itu, Edward Sebastian Alexander, mendengus sinis. Dia melangkah mendekat, setiap derap langkahnya terasa seperti lonceng kematian bagi harga diri Estela. "Jangan bermain drama di depanku. Kamu masuk ke sini tepat saat obat itu bekerja, di kamar yang sudah disiapkan, di hotel milik keluargaku. Katakan, apa rencanamu selanjutnya? Meminta pernikahan atau langsung memeras saham?" Ucap dingin Edward yang begitu menusuk Estela memejamkan mata erat, dan saat itulah fragmen ingatan semalam menghantamnya seperti godam. Semua dimulai dari senyum palsu Clarissa di hari ulang tahunnya. “Ini hanya fruit punch, Estela. Jangan merusak malam ulang tahunku.” Gadis beasiswa yang lugu itu tidak pernah menyangka, bahwa sahabat tempatnya berbagi keluh kesah, tega mencampurkan sesuatu yang lebih dari sekadar soda ke dalam gelas kristal itu. Dunia yang berputar, rasa panas yang membakar dari dalam, dan bisikan terakhir Clarissa di depan pintu kamar ini,"Selamat menikmati malammu, Estela. Ini hadiah terakhirmu dariku." Estela menyadari satu hal yang menghancurkan hatinya, Dia bukan hanya dijebak oleh teman-temannya untuk dipermalukan, tapi dia telah dijadikan pion dalam permainan kekuasaan keluarga Sebastian. Dia dikirim sebagai 'alat' untuk menjebak sang CEO muda, Edward, agar terjebak dalam skandal yang diatur oleh ibunya sendiri demi kepentingan pewaris takhta Sebastian Group. "Aku dijebak, Tuan Alexander," bisik Estela, air mata kini mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. "Clarissa... dia yang membawaku ke sini. Aku tidak tahu ini kamar Anda. Aku hanya merasa sangat panas dan..." "Dan kau menemukan 'pendingin' yang tepat di tempat tidurku, begitu?" potong Edward kejam. Dia mencengkeram dagu Estela, memaksanya menatap intensitas matanya yang membeku. "Di duniaku, ketidaksengajaan adalah dongeng untuk orang bodoh. Kau adalah noda dalam catatan bersihku." Lanjutnya Estela mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Edward menguat. "Lepaskan! Aku tidak menginginkan apa pun darimu! Aku ingin pergi!" Ucap Estela dengan air mata yang masih mengalir di pipinya "Pergi?" Edward tertawa pendek, tawa yang tidak mencapai matanya. "Lihat ke luar pintu itu, Estela. Jika kau keluar sekarang dengan keadaan berantakan seperti ini, lusinan kamera sudah menunggu di lorong. Ibuku tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati." Ucao sinis Edward, membuat Estela mematung tak percaya TOK! TOK! TOK! Ketukan keras dan menuntut menghantam pintu kamar 808, memecah ketegangan di antara mereka. "Edward? Ibu tahu kau di dalam bersama gadis itu," suara wanita paruh baya yang penuh wibawa namun dingin terdengar dari balik daun pintu. "Buka pintunya sekarang. Kita harus membicarakan kontrak pernikahan dan pengumuman pers sebelum bursa saham dibuka satu jam lagi."teriak sang ibu diluar pintu kamar hotel Wajah Edward mengeras. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Dia melepaskan dagu Estela dengan kasar, lalu menatap pintu dan Estela bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kontrak pernikahan?" Estela berbisik ngeri. "Tidak... aku tidak mau..." lanjutnya sambil menggelengkan keras kepalanya Edward berbalik, tangannya sudah memegang gagang pintu. Dia menoleh sedikit ke arah Estela, seringai tipis yang mengerikan muncul di bibirnya. "Kau benar, ini bukan kebetulan. Tapi mulai detik ini, kau bukan lagi pion ibuku," Edward menjeda kalimatnya, suaranya merendah hingga ke level yang membuat bulu kuduk Estela meremang. "Kau adalah tawanan pribadiku."Sistem pengamanan di Mansion Sebastian ditingkatkan secara menyeluruh berdasarkan analisis ancaman terbaru. Edward memperbarui protokol pengawasan digital dan menambah jumlah personel keamanan di setiap akses masuk utama.Di area luar, kamera termal spesifikasi militer dipasang di sepanjang batas luar area. Selain itu, seluruh tamu dan staf domestik wajib menjalani pemeriksaan biometrik sebelum memasuki area inti rumah.Meskipun pengawasan digital dan fisik telah diperketat, celah keamanan masih berpotensi ada pada sektor utilitas dasar yang belum diperbarui.Victoria memanfaatkan celah pada sektor tersebut dengan memilih metode sabotase fisik pada jalur LPG di area dapur belakang.Aksi ini dilakukan melalui seorang pekerja harian yang menggunakan identitas pemeliharaan rutin palsu setelah menerima suap. Pekerja tersebut memodifikasi jalur pipa dengan cara menonaktifkan katup pengaman otomatis secara manual. Akibatnya, tekanan gas t
Ketegangan di Mansion Sebastian selama berminggu-minggu akhirnya mulai mereda. Meski upaya serangan balik digital Edward perlahan mengembalikan kepercayaan investor, situasi ini cukup menguras energi penghuni rumah. Estela mulai menyadari bahwa memenangkan setiap perdebatan di media tidak otomatis memberikan kedamaian yang mereka butuhkan.Malam itu, setelah Arthur Junior tidur di kamar dengan pengamanan biometrik, Estela menemui Edward di balkon ruang kerja. Edward sedang berdiri melihat ke arah luar, tampak kelelahan memikirkan masalah yang sedang mereka hadapi."Edward, kita perlu bicara." ujar Estela, tenang namun serius. Edward menoleh. "Tentang petisi terbaru dari pengacara ibuku?" Tanya Edward"Bukan. Tentang kita. Tentang masa depan anak kita yang berada di dalam sana," Estela menunjuk ke arah kamar bayi. "Selama kita tetap berada di sini, mengenakan nama Sebastian, dan memimpin perusahaan ini, kita akan selalu menj
Strategi Victoria Sebastian selalu melibatkan kombinasi antara sabotase internal dan manipulasi opini publik. Begitu sadar mata-matanya di Mansion Sebastian mulai ketahuan oleh Estela, Victoria langsung ganti strategi ke cara lamanya, yaitu merusak nama baik Edward.Dia tahu betul kalau di dunia bisnis sekarang, opini publik jauh lebih berpengaruh daripada fakta. Isu buruk yang menyerang nama baik seorang bos bisa bikin harga saham anjlok jauh lebih cepat dibanding masalah operasional apa pun.Selasa pagi itu, sebuah situs berita independen luar negeri yang banyak dibaca investor Asia Tenggara merilis artikel investigasi eksklusif. Judulnya cukup memancing, "Hilangnya Julian Sebastian, Kebenaran di Balik Tragedi Jalur Pegunungan". Di dalam artikel itu, mereka juga menyertakan sebuah rekaman suara yang diklaim sebagai obrolan rahasia antara Edward Sebastian dengan seseorang yang tidak dikenal.Di dalam rekaman itu, yang dibuat menggunakan teknologi deepfake suara tingkat tinggi, s
Setelah rencana perawat Maria terbongkar dan Edward menemui Victoria, situasi di Mansion Sebastian berubah. Jika sebelumnya Estela hanya menjadi pihak yang dilindungi, sekarang ia mulai bertindak aktif. Perubahan ini terjadi bukan karena emosi, melainkan karena serangkaian keputusan yang ia ambil demi melindungi anaknya.Estela mulai menyadari bahwa sistem keamanan Edward, meskipun canggih dan berlapis tapi memiliki satu kelemahan fatal, sistem tersebut dirancang untuk melawan musuh dari luar dan pengkhianatan, namun kurang peka terhadap ancaman dari dalam dan manipulasi psikologis yang merupakan keahlian Victoria."Aku tidak mau lagi ada staf yang masuk ke area nursery tanpa izin biometrik dariku," ujar Estela suatu pagi saat Edward sedang bersiap untuk rapat dengan Leo.Edward berhenti merapikan dasinya dan menatap istrinya melalui pantulan cermin."Sistem biometrik utama sudah mencakup area itu, Estela. Setiap pengawal memiliki akses yang tercatat.""Itu masalahnya," sahut Este
Clarissa terpaku, wajahnya yang tadinya cerah mendadak pucat pasi. Ia ingin membalas, namun punggung Estela yang menjauh dengan langkah angkuh memberikannya tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Estela tidak lagi berjalan seperti mangsa, ia berjalan seperti pemilik tempat ini. Namun,
"Jangan... jangan pergi ke paviliun itu," igau Edward. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. "Gelap... aku tidak bisa membukanya..."Estela menyadari bahwa Edward sedang terjebak dalam mimpi buruk masa lalunya. Dia mengusap rambut Edward yang basah oleh keringat dengan lembut. "Sssttt... tenang
"Sudah kutegaskan untuk tidak masuk ke sini, Estela." Suara bariton itu menyambar seperti petir di tengah keheningan. Estela tersentak hebat hingga map di tangannya terjatuh, isinya berserakan di atas karpet. Edward berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jasnya yang sedikit berantakan. Waj
Saat mereka memasuki aula utama, musik orkestra yang tenang seketika meredup, digantikan oleh kesunyian yang mencekam sebelum suara riuh rendah bisikan tamu mulai memenuhi ruangan. Edward menggandeng lengan Estela dengan posesif, memandu langkahnya menuruni tangga besar."Itu dia... gadis mahasis






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعات