Chapter: 135. Liburan Tipis."Jadi, Bima sudah ketangkap, Mas?" suara Olivia yang beradu dengan angin yang menyusup lewat celah jendela mobil membuat Adrian sempat melirik sekilas, lalu mengangguk. Senyum tipis terbit di wajahnya."Udah, Sayang.""Syukurlah..." kata Olivia sambil menghembuskan napas panjang, matanya menatap jalanan yang meliuk di depan mereka, diapit pepohonan dan bayang-bayang sore yang mulai jatuh."Iya," lanjut Adrian dengan suara lebih ringan. "Teman kontrakannya jujur waktu diperiksa polisi. Dari situ langsung dilacak. Dari CCTV di terminal juga keliatan waktu mau naik bus. Pas ditangkap, dia sempat coba kabur, tapi polisi di sana sigap."Tangannya mencari tangan Olivia, menggenggamnya hangat di atas konsol tengah. Jemari mereka saling mengunci, seolah memastikan semuanya benar-benar sudah berlalu."Semoga setelah ini nggak ada masalah lagi di Solaire, Mas," gumam Olivia, matanya mengikuti garis jalan yang tak ia kenal."Amiin," jawab Adrian, lalu mengecup punggung tangan itu pelan, lama.Ol
Terakhir Diperbarui: 2026-04-18
Chapter: Bab 134. Bima Oh Bima.Bima menarik hoodie-nya lebih dalam, hingga bayangan kain itu menutupi sebagian wajahnya. Kacamata berbingkai kotak bertengger rapi, menyamarkan wajah dan sorot matanya yang gelisah. Dari balik masker, napasnya terasa berat.Di luar jendela, terminal masih riuh. Orang-orang berlalu lalang, suara pedagang bercampur dengan deru mesin kendaraan. Tapi kursi sopir di depan ternyata kosong."Kapan berangkat ini bus?" gumamnya, rahangnya mengeras."Haduuh, eta supirna kamana?" celetuk seorang pria di belakang, logat Sundanya kental."Molor kali!" sahut yang lain, disusul tawa tipis yang terasa mengganggu.Bima mengetuk-ngetuk jari di pahanya. Debaran jantungnya semakin terasa di telinga. Pelariannya kali ini harus berhasil."Mas mau ke mana?"Suara itu membuatnya menoleh. Seorang perempuan muda duduk di sampingnya dengan senyum yang manis, lesung pipinya dalam."Oh… saya mau ke Sidoarjo, Mbak," jawabnya singkat, buru-buru merapikan maskernya agar wajahnya tidak dikenali."Loh, sama! Daerah m
Terakhir Diperbarui: 2026-04-15
Chapter: Bab 133. Sebuah Konsekuensi.Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam ketika suara mesin mobil berhenti di bawah carport terdengar pelan. Cukup membuat Olivia langsung menoleh.Ia bangkit dari sofa tanpa berpikir panjang, langkahnya cepat menuju pintu ruang tamu dan membukanya.Begitu terbuka, Adrian berdiri di sana. Kemejanya kusut, wajahnya sangat lelah. Ada sesuatu yang berat menggantung di matanya.“Mas… Gimana kondisi Firly?” suara Olivia melembut.Adrian tidak langsung menjawab. Ia masuk, menutup pintu pelan di belakangnya, lalu mengembuskan napas panjang. “Masih kritis,” ucapnya akhirnya, suaranya serak. “Ternyata… dia hamil.”Olivia terdiam.“Usia kandungannya…” Adrian menelan ludah, matanya sempat terpejam. “Sama seperti kamu.”Olivia masih terdiam.“Tadi dokter bilang…” lanjutnya pelan, seolah setiap kata terasa berat untuk keluar, “bayinya nggak bertahan. Dan kemungkinan ibunya juga kecil.”Olivia menutup mulutnya dengan tangan.“Ya Tuhan…” bisiknya, suaranya nyaris hilang. “Separah itu, Mas?”Jawab
Terakhir Diperbarui: 2026-04-14
Chapter: Bab 132. Panik!Firly berdiri di depan laci kasir, tubuhnya sedikit membelakangi area pelanggan. Tangannya bergerak cepat, tapi tidak tergesa. Satu per satu lembaran uang di tangannya, ia luruskan. Disusun rapi sesuai pecahan.Matanya sesekali melirik angka di layar monitor, lalu kembali ke tumpukan uang, menghitung senyap tapi presisi.Selanjutnya ia a membuka sedikit dompet kecil yang terselip di balik apron yang tersampir di tubuhnya.Beberapa lembar uang berpindah tempat dengan cepat dan bersih. Gerakannya halus dan nyaris tak terlihat. Tak ada yang menyadari pergerakan itu karena semua orang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.“Lumayan, berarti udah hampir tiga jutaan di dalam dompet ini. Semoga pelanggannya makin ramai yang datang...” bisik Firly dengan senyum tersembunyi.Tangannya kembali bekerja seperti biasa, menyusun sisa uang ke dalam laci. Bersikap biasa agar tidak ada yang curiga.“Gila! Rame banget ya, Mbak?”Suara itu muncul tiba-tiba di sampingnya, membuat Firly tersentak, ja
Terakhir Diperbarui: 2026-04-13
Chapter: Bab 131. Akhir Dari Si Pencuri Kecil.Renata melangkah cepat menuju pintu ruang briefing, bahunya tegak, wajahnya tetap datar seolah tak terjadi apa-apa. Namun di kepalanya, nama Bima masih terngiang jelas.Ia tak menoleh lagi, tak memberi celah sekecil apa pun untuk menunjukkan bahwa ia sadar melihat nama itu di layar ponsel Firly tadi.Renata membuka pintu, lalu menutupnya pelan. Begitu langkahnya menjauh, getaran ponsel di dalam ruangan terdengar semakin nyaring.Drrrt… drrrtt...Firly menahan napas sejenak, matanya terpaku ke arah pintu, memastikan tak ada bayangan yang kembali muncul. Cepat-cepat ia menyambar ponselnya.“Halo, Mas…” bisiknya, suaranya turun drastis, hampir tak terdengar.“Kamu lama amat?!” suara di seberang langsung menghantam.Firly meringis, refleks melirik lagi ke pintu. “Maaf, Mas… tadi ada Mbak Renata. Kami baru selesai briefing…”“Terus? Dia curiga?”Firly menggeleng, meski tak terlihat. “Nggak. Aman. Kayaknya dia nggak lihat nama kamu. Ada apa, Mas?”Di ujung sana, suara Bima merendah menjadi
Terakhir Diperbarui: 2026-04-11
Chapter: Bab 130. Temuan Renata.“Mas suka otomotif?”Mariska bertanya pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara bunyi gesekan logam dari kap mobil yang terbuka.Gyan tak langsung menjawab. Tubuhnya setengah membungkuk di depan mesin, jemarinya cekatan menyusuri setiap bagian. Sesekali ia memutar baut, meniup debu halus, lalu mengetuk ringan salah satu komponen dengan ujung kunci.Baru setelah itu, ia mengangguk singkat. “Lumayan.”Mariska berdiri di sampingnya, menahan napas—bukan karena bau oli, melainkan karena cara Gyan bekerja. Tenang. Fokus. Tak sedikit pun panik, seolah mobil mogok bukan masalah besar baginya.“Oh, pantes…” gumamnya, matanya mengikuti setiap gerakan tangan Gyan. “Dari tadi kelihatan jago banget utak-atiknya.”Gyan tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari mesin.“Dulu sempat kerja di bengkel,” katanya santai. Tangannya berhenti sebentar di satu bagian, lalu perlahan memutar karburator. “Waktu kelas 3 SMA. Aku memang suka cari kerjaan sampingan buat keperluan sekolah. Nggak enak kalau t
Terakhir Diperbarui: 2026-04-10
Chapter: Bab 78. Bahagia Selamanya. (TAMAT)Jennar duduk di depan cermin dengan rambut yang masih sedikit basah setelah mandi, helaiannya jatuh lembut di bahu. Ujung sisir bergerak perlahan, tapi pikirannya justru melayang kembali pada malam lalu. Pada malam panas yang mereka lalui di villa ini untuk menikmati bulan madu.Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa sadar.Pintu kamar tiba-tiba berderit pelan.“Udah bangun?” suara Birru terdengar hangat.Jennar menatap pantulan pria itu di cermin, tatapannya penuh cinta.“Udah, Mas. Kenapa nggak bangunin aku?” gumam Jennar pelan.Birru tidak langsung menjawab. Ia hanya mendekat, mengambil sisir dari tangan Jennar, lalu mulai menyisir rambut istrinya dengan gerakan yang lembut.“Kamu tidurnya nyenyak banget tadi. Aku nggak tega.”“Oh ya?”“Iya. Dan sarapan sudah siap,” lanjut Birru. “Habis itu kita jalan-jalan, naik kuda. Ada track kecil sampai ke sungai. Katanya bagus banget.”Jennar mengernyit kecil, menatapnya lewat cermin. “Aku belum pernah naik kuda, Mas. Itu aman nggak?”Birru ter
Terakhir Diperbarui: 2026-04-02
Chapter: Bab 77. Malam Pertama Menjadi Suami Istri. (21++)Disclaimer: Bab ini mengandung konten dewasa. Harap di skip jika tidak suka.Malam mulai merayap dengan udara yang pekat di Puncak saat Jennar memutar keran shower. Tubuhnya terasa segar, rambutnya masih basah, wajah bersih tanpa bekas make-up pengantin. Ia melangkah ke sudut kamar mandi, matanya melebar saat melihat rak itu kosong tanpa handuk."Eh!? Kok nggak ada handuk?!" suaranya mendadak panik.Matanya berkeliling. Tak ada lemari kecil hanya ada rak handuk di sudut dan itu kosong. Napasnya mulai tersendat."Ya Tuhan... gimana ini? gaun pengantin udah basah kena air," bisiknya sambil menggigit bibir bawah, cemas menyapu pandangan ke arah pintu.Dia memutar handle pintu dan melirik ke arah Birru. Suaminya itu duduk di tepian kasur, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Birru juga baru selesai mandi di kamar mandi dekat perapian."Mas," panggil Jennar dengan suara sedikit gemetar.Birru menoleh, senyum ringan di bibirnya. "Apa, Sayang?""Boleh tolong ambilkan handuk?" pinta J
Terakhir Diperbarui: 2026-03-11
Chapter: Bab 76. After The Wedding...Pesta akhirnya mereda ketika jarum jam mendekati pukul empat sore. Tenda yang sejak pagi dipenuhi tawa, doa, dan kilatan kamera perlahan kembali tenang. Para tamu satu per satu berpamitan, meninggalkan jejak kebahagiaan yang masih terasa menggantung di udara.Di antara pelukan terakhir dan ucapan selamat yang tak ada habisnya, Birru dan Jennar kini berdiri berdampingan. Mereka masih dalam balutan busana pengantin, masih dengan senyum yang sesekali gemetar karena lelah bercampur bahagia. Tapi, rasa lelah itu akan hilang karena mereka sedang berpamitan untuk menuju villa, menikmati malam pengantin.“Birru, tolong jaga Jennar baik-baik, ya. Jennar itu super manja sebenarnya,” pesan Priska sambil memeluk putrinya sekali lagi. Suaranya lembut, tapi matanya berbinar penuh kelegaan.“InsyaAllah, Ma,” jawab Birru mantap. Tangannya otomatis meraih tangan Jennar, seolah itu refleks yang tak perlu dipikirkan lagi.Surya menepuk bahu Birru pelan. Tidak banyak kata, tapi tatapan itu adalah tatapa
Terakhir Diperbarui: 2026-03-10
Chapter: Bab 75. Akhirnya Sah!Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent
Terakhir Diperbarui: 2026-03-01
Chapter: bab 74. Sebelum Akad.Rumah sederhana milik keluarga Jennar pagi itu berubah menjadi sangat ramai. Biasanya, halaman depan hanya diisi suara sapu lidi dan tawa anak-anak tetangga. Kini, tenda panjang bernuansa emas dan putih membentang gagah, kainnya berayun pelan diterpa angin pagi. Tiang-tiangnya dihiasi rangkaian bunga segar yang aromanya semerbak. Kursi-kursi tamu berjajar rapi, dengan pita-pita kecil di sandarannya yang menambah cantik suasana. Dari dalam rumah terdengar denting sendok, suara memanggil nama, dan tawa yang saling bersahutan. Di ruang tamu, meja akad sudah siap. Taplak putih membentang tanpa noda, di atasnya tersusun Al-Qur’an dan seperangkat alat ijab kabul. Kursi-kursi berbalut kain putih dan pink berdiri manis, dengan bunga hidup di tengahnya yang masih berembun. Di depan rumah, pelaminan berdiri anggun, seolah menunggu dua insan yang akan duduk berdampingan sebagai suami istri beberapa jam lagi. “Jen!” suara Priska menyusup ke dapur. Jennar berdiri sambil memegang cangkir, menu
Terakhir Diperbarui: 2026-02-26
Chapter: Bab 73. Jelang Pernikahan.“Ru… Papa kabur.”Sendok kecil di tangan Birru berhenti setengah jalan. Saus Padang merah menyala menetes kembali ke piring, meninggalkan jejak lengket di keramik putih.Dia mengunyah sangat pelan, seolah butuh waktu untuk mencerna bukan hanya kepiting di mulutnya, tapi juga kalimat itu.“Kakak tahu dari mana?” tanyanya akhirnya, dengan suara datar.Alexa berdiri di seberang meja island, jemarinya masih menggenggam tisu yang tadi dipakai untuk membersihkan tangan. “Mama telepon. Waktu aku ke kamar tadi.” Ia menelan saliva. “Papa ke luar negeri, Ru. Beberapa hari lalu.”Sendok Birru berbunyi pelan saat diletakkan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap dinding beberapa detik sebelum kembali mengambil capit kepiting di piringnya. Cangkangnya ia patahkan sedikit lebih keras, retakannya terdengar tajam.“Oh,” gumamnya. Hanya satu suku kata, tapi rahangnya mengeras.Daging kepiting ia congkel keluar, lalu dimasukkan ke mulut tanpa benar-benar dinikmati. Tangannya penuh saus, tapi ia ta
Terakhir Diperbarui: 2026-02-24