Chapter: Bab 34. Langkah Pelan Menuju Keberanian.Jennar menghela napas berat sambil merapikan kerah blazernya. Ujung jarinya menepuk-nepuk lipatan kain agar tampak rapi. Di cermin lift, wajahnya terlihat pucat dengan mata yang masih menyimpan sisa kantuk.“Tarik napas, fokus, Jennar,” bisiknya pelan.Lift berdenting lembut saat tiba di lantai lima.Begitu pintu terbuka, Jennar melangkah keluar. Alih-alih langsung menuju ruang divisinya, ia berbelok ke pantri di depan divisi lain. Di sana, ia meraih sebuah mug dari rak, meletakkannya di bawah mesin kopi, lalu menekan tombol. Mesin berdengung rendah, mengisi ruangan dengan aroma kopi yang mulai menguar.Jennar duduk di kursi tinggi, menyandarkan punggungnya yang lelah.“Pagi, Jen!” sapa Helena yang baru masuk pantri.“Hai, Mbak!” balas Jennar dengan senyum meski tampak lelah.Helena melirik mesin kopi. “Tumben sudah bikin kopi sepagi ini?”Jennar terkekeh kecil sambil mengusap tengkuknya. “Iya, Mbak. Aku baru balik dari Puncak. Sampai rumah hampir jam dua belas malam. Masih ngantuk ba
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Bab 33. Cinta yang Tak Boleh Terlihat.Jennar terbangun tepat pukul lima pagi ketika udara di kamarnya menusuk tajam, merayap dari sela-sela jendela hingga ke tulang. Ia menggeliat kecil, lalu refleks menahan napas saat menyadari ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya.Sesaat jantungnya berdegup kencang.Namun begitu ingatan tentang malam panas menyusul, Jennar mengendur. Ia tersenyum kecil. Di belakangnya, ada Birru. Pria yang selalu berhasil membuatnya merasa pulang.Gerakan kecil Jennar rupanya cukup terasa.“Kamu udah bangun?” bisik Birru, suaranya masih serak oleh sisa tidur.“Udah, Ruu,” jawab Jennar lirih.Birru mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Jennar lebih dekat hingga punggungnya menempel sempurna ke dada pria itu. Ujung hidung Birru menyentuh rambut Jennar.“Dingin banget, Sayang…” gumamnya malas.“Hmm. Makanya aku kebangun.”Birru menggeser tangannya, mengusap lengan Jennar perlahan, seolah ingin memindahkan hangat tubuhnya ke sana. “Mau tidur lagi?”Jennar menghela napas kecil, ragu. “Ruu… kamu ngga
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bab 32. Berbagi Kehangatan di Villa. (21++)Birru menarik napas dalam-dalam sebelum bibirnya perlahan terlepas dari ciuman di antara remang lampu kamar yang redup. Mereka masih duduk berdampingan di tepi ranjang, bibir mereka masih basah bekas ciuman yang tadi. Pipi Jennar memerah saat hembusan napas hangat Birru mengusap halus kulitnya.“Kamu tau, aku sudah menahan rindu sejak hari pertama di Bandung,” bisik Birru, tangan kanannya pelan menyentuh lengan bagian atas Jennar, mulai dari pergelangan tangan sampai ke bagian atas bahunya. Jari-jarinya mengelus perlahan, lembut, tidak terlalu kuat tapi cukup membuat Jennar merasakan setiap lekukan ujung jarinya.Jennar menghela napas pelan, matanya menatap Birru. “Aku juga rindu kamu, Ruu.”“Aku tau, Sayang.”“Ruu...”Birru tersenyum tipis. “Hmm? Apa Sayang? Kamu sadar nggak kalau kulit kamu itu lembut banget.” Bibirnya mulai merambat ke leher Jennar, mengusap-ngusap bagian belakang telinganya yang mulai memerah.“Boleh aku sentuh yang lain?” suaranya pelan, menggoda.Jennar menelan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Bab 31. Kejutan.Tok. Tok. Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas dan lebih dekat. Jennar mundur satu langkah, punggungnya menempel erat pada dinding. Jantungnya berdegup kencang sampai telinganya berdenging. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu. “Kalau ini cuma bercanda, gue sumpahin lo sial seumur hidup,” gumamnya lirih, berusaha menenangkan diri sendiri. Ia menarik napas panjang, lalu membuka pintu dengan gerakan cepat. “Aaaaarrgh!” Jeritannya pecah seketika. Sosok tinggi di depan pintu langsung bergerak refleks. Dua lengan kuat melingkar, menahan tubuh Jennar yang hampir limbung. “Sayang! Ini aku, Birru!” suara itu terdengar panik sekaligus familiar. Jennar terdiam sesaat. Hidungnya menangkap aroma yang sangat dikenalnya. Bahu lebar itu, dan detak jantung yang terasa di dadanya. “Birru…?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Begitu kesadarannya menyusul, tangisnya meledak tanpa bisa ditahan. “Ya ampun, Sayang…” Birru segera menutup pintu, lalu mendorong Jennar masuk
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Bab 30. Ketukan Di Kamar 207.Sambil berbincang ringan, Jennar dan Alexa berjalan perlahan memasuki restoran villa yang terbuka di satu sisi, menghadap hamparan hijau dengan pepohonan pinus yang berdiri tenang. Di dalam, meja-meja kayu tertata rapi dan bersih. Angin sepoi-sepoi masuk bebas, membawa aroma nasi hangat dan lauk rumahan yang menggoda. Keduanya langsung berdiri di depan meja prasmanan untuk memilih lauk. “Wah, gue suka nih! Lauknya Indonesia banget,” gumam Jennar sambil meraih piring. “Iya, Jen. Gue sengaja request. Masa gathering LUXE makannya salad semua,” sahut Alexa. Jennar terkekeh kecil. Ia mengambil nasi putih, ayam goreng, tumis buncis, sambal, dan sedikit tahu. Alexa lebih santai mengisi piringnya dengan nasi, rendang, perkedel, dan sambal agak banyak. “Besok kita outbound,” kata Alexa sambil menuang kuah ke piringnya. “Ada flying fox, fun games tim, sama jelajah kecil ke hutan pinus. Santai kok.” “Flying fox?” Jennar melirik ragu. Alexa menyengir. “Tenang, tali pengamannya lengkap. Lo
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Chapter: Bab 29. Tempat Hening Bernama Tenang.“Hai, Jen!”Jennar mengangkat wajahnya, senyum langsung mengembang saat melihat Alexa berdiri di depannya. Perempuan itu tampak bersinar dengan kaus merah menyala bertuliskan LUXE Fun Day di punggungnya, membuat auranya semakin mencolok.“Gila, kece juga kaosnya,” celetuk Alexa sambil menunjuk kaus yang sama yang dikenakan Jennar. “Cocok di lo. Emang nggak salah gue ajak lu, Jen.”Jennar tertawa kecil. “Gue bisa berkamuflase kayak karyawan LUXE, ya?”“Bener, Jen.”“Udah rame, ya?” ucap Jennar sambil melihat kerumunan di depannya.Padahal matahari belum sepenuhnya naik, tapi area parkir sudah hidup. Beberapa panitia mondar-mandir dengan clipboard di tangan, menyebut satu per satu nama karyawan. Ada yang masih sibuk merapikan tas, ada yang tertawa keras meski mata mereka jelas belum sepenuhnya sadar.Tatapan Alexa turun ke ransel kecil di punggung Jennar. “Lo cuma bawa itu?”“Iya. Lo bilang cuma dua hari.”“Dua hari, tapi padat,” balas Alexa cepat. “Fun games di villa, tapi ada sedikit
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Chapter: Bab 105. Api Kecil di Dapur Bisnis.Mobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Bab 104. Hari-hari Setelah Sah.Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Bab 103. Satu Bahagia, Satu Terluka.Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Chapter: Bab 102. Nikmatnya Bulan Madu.Adrian melajukan mobilnya perlahan menuju Puncak, menembus jalanan hijau yang berliku. Di kursi depan sedan itu, dua hati yang baru sehari disatukan dalam pernikahan menikmati perjalanan pertama mereka sebagai suami istri. “Mas, habis dari Puncak, ada rencana ke tempat lain?” tanya Olivia. Adrian menoleh sekilas, lalu meraih tangan Olivia dan meletakkannya di depan dadanya. “Sejauh ini belum ada, Sayang. Kamu masih pengen jalan-jalan?” “Pengen sih, tapi aku cuma cuti satu minggu, Mas,” jawab Olivia. Adrian tersenyum hangat. “Lain kali kita atur waktu, ya.” “Iya, Mas. Tempat yang lebih jauh, gimana? Aku mau ke Nusa Penida,” bisik Olivia. “Boleh. Aku juga pengen banget ke sana.” “Asiiik! Nanti aku coba cari tahu trip ke sana.” Mereka terus berbincang ringan sepanjang perjalanan. Udara cerah meski langit Bogor sempat meneteskan gerimis di atas kaca mobil Adrian. Tak lama, mobil yang membawa mereka akhirnya melambat, lalu berhenti mulus di depan sebuah bangunan kecil yang tersemb
Terakhir Diperbarui: 2026-01-02
Chapter: Bab 101. Duhai Si Pengantin Baru.Olivia terbangun perlahan, bukan oleh suara atau cahaya, melainkan oleh sensasi lembut yang menyusup di sela tidurnya. Hembusan napas hangat menyentuh kulit, disusul kecupan ringan di pundaknya yang terbuka. Ia meremang, jari-jarinya refleks mencengkeram seprai.“Eungh…” lenguhnya lirih, kelopak matanya bergetar.Ia membuka mata pelan dan mendapati Adrian sedang mencium lembut pundaknya yang terbuka. Tatapannya hangat, bibirnya masih menyisakan senyum kecil seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang sangat ia nikmati.Tatapan mereka bertemu, "Apa aku membangunkanmu?"“Iya, Mas.”Adrian tertawa pelan. “Maaf … aku nggak bisa menahan diri.”Tangannya melingkar di pinggang Olivia, menarik tubuh itu lebih dekat ke dadanya. Pelukan Adrian terasa kokoh, menenangkan, membuat Olivia kembali ingin menutup mata.“Ciuman kamu bikin aku kegelian, Mas,” gumamnya, wajahnya bersandar di dada Adrian.“Tidur lagi,” bisik Adrian sambil mengusap rambut Olivia dengan gerakan yang sabar, nyaris protektif.
Terakhir Diperbarui: 2026-01-01
Chapter: Bab 100. Melebur Di Malam Intim. (21++)Olivia menaruh air putih yang disiapkan Adrian setelah dia selesai mengisi perutnya. Rasa nyaman segera menjalar setelah perutnya kosong sejak resepsi pernikahannya siang tadi.Olivia mengeratkan tali handuk kimononya kemudian bergerak ke depan wastafel untuk mencuci tangan sementara suaminya merapikan meja makan di depan sofa.Ketika Olivia keluar dari kamar mandi, Adrian yang juga terbalut handuk kimono, berdiri di tepi jacuzzi sambil memutar tombol air. Seketika suara gemericik air memenuhi kamar. Olivia menelan salivanya, sebentar lagi momen panas akan dia lalui bersama suaminya."Kenapa, Sayang?" Adrian menoleh dengan tatapan penasaran saat melihat Olivia gugup."Eh, e-enggak, Mas," jawab Olivia, suaranya terdengar ragu.Adrian tersenyum tipis, menggoda. "Pengen buru-buru ya?""Kata siapa?""Aku barusan. Pasti kamu habis ini nggak mau buka handuk," ledek Adrian.Merasa tertantang, Olivia tersenyum samar dan membuka handuk kimononya. Dia mendekat dengan langkah yang dibuat menggod
Terakhir Diperbarui: 2025-12-31