LOGINJennar tak pernah menyangka dunianya akan runtuh saat mengetahui Daniel—tunangan yang sudah menemaninya enam tahun—berselingkuh dengan bosnya sendiri. Hatinya remuk, harga dirinya tercabik, dan seluruh masa depan yang ia rencanakan hilang begitu saja. Berusaha melarikan diri dari luka, suatu malam Jennar mabuk dan pulang ke apartemen Alexa, sahabatnya. Namun di sana, ia justru bertemu Birru—adik sahabatnya yang baru kembali ke ibu kota. Berbahaya, menawan, dengan tubuh atletis dan tatapan tajam yang terlalu mudah membuat napasnya tercekat. Di bawah pengaruh alkohol dan hati yang limbung, Jennar tanpa sadar melewati batas. “Mbak.” tanyanya diantara perhentian. “Mau aku ajari gak?” Jennar menautkan alis. “Ajari apa?” “Aku harus ajarin kamu cara lupa nama Daniel dulu… sebelum kamu menggoda orang lain. Atau, minimal, sebelum kamu nyaris mencium aku lagi.”
View MoreJennar duduk di depan cermin dengan rambut yang masih sedikit basah setelah mandi, helaiannya jatuh lembut di bahu. Ujung sisir bergerak perlahan, tapi pikirannya justru melayang kembali pada malam lalu. Pada malam panas yang mereka lalui di villa ini untuk menikmati bulan madu.Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa sadar.Pintu kamar tiba-tiba berderit pelan.“Udah bangun?” suara Birru terdengar hangat.Jennar menatap pantulan pria itu di cermin, tatapannya penuh cinta.“Udah, Mas. Kenapa nggak bangunin aku?” gumam Jennar pelan.Birru tidak langsung menjawab. Ia hanya mendekat, mengambil sisir dari tangan Jennar, lalu mulai menyisir rambut istrinya dengan gerakan yang lembut.“Kamu tidurnya nyenyak banget tadi. Aku nggak tega.”“Oh ya?”“Iya. Dan sarapan sudah siap,” lanjut Birru. “Habis itu kita jalan-jalan, naik kuda. Ada track kecil sampai ke sungai. Katanya bagus banget.”Jennar mengernyit kecil, menatapnya lewat cermin. “Aku belum pernah naik kuda, Mas. Itu aman nggak?”Birru ter
Disclaimer: Bab ini mengandung konten dewasa. Harap di skip jika tidak suka.Malam mulai merayap dengan udara yang pekat di Puncak saat Jennar memutar keran shower. Tubuhnya terasa segar, rambutnya masih basah, wajah bersih tanpa bekas make-up pengantin. Ia melangkah ke sudut kamar mandi, matanya melebar saat melihat rak itu kosong tanpa handuk."Eh!? Kok nggak ada handuk?!" suaranya mendadak panik.Matanya berkeliling. Tak ada lemari kecil hanya ada rak handuk di sudut dan itu kosong. Napasnya mulai tersendat."Ya Tuhan... gimana ini? gaun pengantin udah basah kena air," bisiknya sambil menggigit bibir bawah, cemas menyapu pandangan ke arah pintu.Dia memutar handle pintu dan melirik ke arah Birru. Suaminya itu duduk di tepian kasur, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Birru juga baru selesai mandi di kamar mandi dekat perapian."Mas," panggil Jennar dengan suara sedikit gemetar.Birru menoleh, senyum ringan di bibirnya. "Apa, Sayang?""Boleh tolong ambilkan handuk?" pinta J
Pesta akhirnya mereda ketika jarum jam mendekati pukul empat sore. Tenda yang sejak pagi dipenuhi tawa, doa, dan kilatan kamera perlahan kembali tenang. Para tamu satu per satu berpamitan, meninggalkan jejak kebahagiaan yang masih terasa menggantung di udara.Di antara pelukan terakhir dan ucapan selamat yang tak ada habisnya, Birru dan Jennar kini berdiri berdampingan. Mereka masih dalam balutan busana pengantin, masih dengan senyum yang sesekali gemetar karena lelah bercampur bahagia. Tapi, rasa lelah itu akan hilang karena mereka sedang berpamitan untuk menuju villa, menikmati malam pengantin.“Birru, tolong jaga Jennar baik-baik, ya. Jennar itu super manja sebenarnya,” pesan Priska sambil memeluk putrinya sekali lagi. Suaranya lembut, tapi matanya berbinar penuh kelegaan.“InsyaAllah, Ma,” jawab Birru mantap. Tangannya otomatis meraih tangan Jennar, seolah itu refleks yang tak perlu dipikirkan lagi.Surya menepuk bahu Birru pelan. Tidak banyak kata, tapi tatapan itu adalah tatapa
Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews