Chapter: ISTRI ORANG?Sementara itu, di dalam sebuah rumah sederhana dengan halaman yang dipenuhi sayuran hidroponik, Dahlia-ibunda Gilang-tampak gelisah menantikan kepulangan putra tunggalnya. Ia sudah menyiapkan sirup stroberi kesukaan Gilang dan menyimpannya di dalam lemari pendingin. Tak hanya itu, semur daging spesial pun telah tersaji, khusus untuk menyambut anak kesayangannya."Ayah belum tidur? Nungguin Gilang juga, ya?" tanya Dahlia sambil melongok ke dalam kamar.Irawan Mahendra-pria yang selalu tersenyum setiap kali mendengar nama putranya-terbaring di ranjang dengan jemari saling bertaut di atas perut. Pagi tadi, saat mendengar suara Gilang di telepon yang mengabarkan akan pulang, semangat Irawan langsung meletup. Dia berhasil menghabiskan satu mangkuk bubur organik sarapannya sampai tandas.Kini, pria yang biasanya sudah terlelap pukul tujuh malam itu masih terjaga, setia menanti kepulangan Gilang. Dahlia duduk di tepi ranjang, mengupas sebuah pisang sambil menemani suaminya. Biasanya, Irawan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-22
Chapter: PULANG KAMPUNG"Selamat... eheem... selamat ulang... eheem... selamat ulang tahun ... aduuhh... gimana sih tadi nadanya, Lang? Aku payah banget deh kalau urusan nyanyi ..."Gilang tergelak mendengar suara Mayang yang ternyata sangat pas-pasan. Padahal tadi dia sendiri yang mengusulkan untuk memberikan kejutan kepada ibunda Gilang dengan menyalakan lilin dan menyanyikan lagu 'selamat ulang tahun'. Tapi, kelihatan dari raut wajahnya sekarang sepertinya Mayang hampir menyerah."Aku nggak nyangka, Mayang. Dibalik semua sikap kamu yang selalu terlihat sempurna itu, ternyata masih bagusan suara Raka kalau nyanyi." Gilang tertawa hingga menitikkan air mata. "Aduh, maaf, Mayang...""Iihh, malah ngeledek ... aku dari jaman sekolah nilai terendah itu pelajaran kesenian, Lang. Nggak tau kenapa, kayaknya aku nggak berbakat aja gitu ...""It's okay, Mayang. Semua orang punya keunggulannya masing-masing. Nggak musti semua dikuasai, kan? Aku juga nggak akan bisa kalau disuruh multi-tasking kayak kamu ..." Gilang m
Terakhir Diperbarui: 2026-01-21
Chapter: SUAMI TAK TAHU DIRICinta?Pengakuan menjijikkan Cipto seketika menyulut amarah Mayang hp sampai ke ubun-ubun. Dadanya naik turun, rahangnya mengeras, matanya berkilat menahan luapan emosi.“Omong kosong!” bentaknya tajam. “Kamu bilang nggak cinta, tapi bisa punya anak dari dia?” Suaranya bergetar, namun tetap menusuk. “Kamu pasti sudah tidur sama dia—lebih dari sekali, kan, Cipto?!”Napas Mayang tersengal, menahan tumpukan kecewa, dan rasa dikhianati yang bercampur jadi satu."Terus... otak kamu di mana, hah?!" lanjutnya. "Hampir setahun kamu menghilang, ternyata kamu sudah nikah sama dia! Kamu bohongin aku, Cipto! Kamu tidur sama dia sampai dia hamil-"Suaranya meninggi, nyaris menjerit."-tapi di waktu itu kamu pulang, bisa-bisanya kamu masih minta jatah sama aku?"Mayang tertawa getir, matanya memerah. "Enak ya... bisa ngegilir dua istri? Kamu pikir kamu siapa? Raja minyak? Sultan Baghdad?""Mayang, apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan hati kamu lagi?" tanya Cipto masih dengan suara memel
Terakhir Diperbarui: 2026-01-20
Chapter: TUMPUKAN MASALAHMayang mengintip kursi belakang melalui kaca spion. Dia tersenyum puas melihat banyaknya kue dan barang-barang yang telah dibeli untuk keluarga berondong gantengnya itu.Dia membeli banyak obat-obatan herbal untuk ayah Gilang, minyak pijat, serta berlembar-lembar daster batik untuk ibu Gilang. Selain itu ia juga sudah menyusun kata-kata perkenalan agar tidak terkesan kaku dan memalukan di depan calon mertuanya."Calon mertua? Astaga..." Mayang tertawa dalam hati membayangkan akan seperti apa akhir cerita cintanya nanti dengan Gilang Pratama.Mayang membelok ke arah belakang kampus lama, lalu memperlambat laju mobilnya sebelum berhenti tepat di titik tempat janjian mereka. Ia tiba satu jam lebih awal, karena di luar dugaan, kue dan hadiah yang ia incar berhasil didapatkan jauh lebih cepat dari perkiraannya.Untuk membunuh waktu sambil menunggu Gilang, Mayang akhirnya meraih ponselnya yang selama berbelanja tadi ia simpan di dalam tas. Setelah hampir seharian penuh mengabaikannya, kini
Terakhir Diperbarui: 2026-01-19
Chapter: BIMBANG"Gilang... sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak seusia kamu, Bu Lan hanya mau mengingatkan kalau masa depan kamu itu masih panjang. Sayang sekali kalau prestasi yang selama ini sudah kamu raih dengan susah payah, harus sia-sia hanya karena setitik kesalahan saja," ucap Bu Lan sembari mengelus kepala Gilang yang menunduk."... dan Bu Lan akan jadi salah satu orang tua yang menangis kalau kamu sampai kehilangan beasiswa kamu," ujar Bu Lan semakin membuat hati Gilang terbeban tentang dua masa depan yang menjadi cita-citanya."Aku harus gimana, Bu?" tanya Gilang bingung.Dia sungguh tidak mau kehilangan beasiswanya, apalagi kalau Mayang sampai kehilangan pekerjaannya. Dengan kasus seperti itu pasti akan sulit bagi Mayang untuk mendapatkan pekerjaan di Universitas lain.Bu Lan mengangkat kedua bahunya, "Ibu sih tidak mau kepo siapa dosen yang tengah menjalin hubungan dengan kamu, tapi kalau boleh memberi saran - jauhi dia dulu untuk sementara waktu, sampai kamu berhasil terbang ke A
Terakhir Diperbarui: 2026-01-18
Chapter: CITA-CITA DAN CINTAKonsentrasi Gilang terpecah saat mengikuti kelas mulai dari pagi hingga siang hari. Pertanyaan terkutuk Raka membuat hatinya tidak tenang. Dia hanya bisa berharap kalau gossip belum menyebar terlalu jauh sampai ke telinga Pak Dekan. Tapi bagaimana caranya? Di kampus itu dinding saja punya telinga dan bisa berbicara.Bahayanya lagi, dari yang pernah Mayang ceritakan kepadanya, Pak Dekan pernah beberapa kali mengajak Mayang berkencan. Tapi selalu di tolak karena tidak ingin jadi buah bibir di kampus. Bertolak pada kenyataan itu, pikiran buruk seketika menyergap Gilang yang sengaja mengambil jeda kelas dengan menyendiri di perpustakaan.Gilang tidak bisa membayangkan kalau sampai hubungan mereka ketahuan kampus, maka Mayang akan dipanggil ke ruang dekan dan dihadapkan pada dua pilihan. Dipecat dari profesinya karena dianggap mencoreng nama universitas atau bertahan menjadi dosen dengan syarat berkencan dengan Pak Dekan? Hiiyyy...Dan dua pertanyaan itu sangat mungkin terucap dari mulut d
Terakhir Diperbarui: 2026-01-17
Chapter: BAB 244Nayla mengajak Davina—atau yang akrab dipanggil Davi—berkeliling vila. Ia mengenalkan satu per satu ruangan di dalam bangunan utama, dari ruang keluarga hingga kamar-kamar tamu, lalu berhenti di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. “Nah, Davi... kamar ini nggak boleh dibuka sembarangan," ujar Nayla sambil tersenyum tipis. “Kamar ini khusus keluarga kami kalau menginap. Banyak barang-barang saya dan Oma Matilda." Davina mengangguk kecil, mencatat setiap informasi dalam benaknya. Tur singkat itu berakhir di bagian belakang vila. Angin sejuk menggerakkan dedaunan, menciptakan riak halus di permukaan kolam renang yang memantulkan cahaya matahari pagi. Suasananya tenang yang memancing Davina tersenyum tipis. “Bagian ini yang paling saya suka,” kata Nayla sambil berhenti di depan deretan pot bonsai. Setiap pot sudah ia beri nama—Jeger yang kokoh dan menjulang, Ratu yang ramping dengan lekuk cabang penuh cerita. “Sebagian saya bentuk sendiri,” lanjut Nayla, “sebagian lagi sudah cantik
Terakhir Diperbarui: 2026-01-11
Chapter: BAB 243 - BONUS CHAPTERDua tahun berlalu seperti hembusan napas, Pagi itu, keceriaan menaungi vila milik Nayla yang berdiri anggun di bawah sinar matahari. Bangunan lama yang penuh kenangan itu sudah berubah dengan sentuhan modern—jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya masuk bebas, dan warna-warna dinding yang lembut menenangkan. Semua dirancang Nayla sendiri, sebagai bagian dari perjalanan barunya menempuh pendidikan sebagai desainer interior. Dari dapur, aroma roti panggang dan omelete menyebar. Nayla bergerak ringan, rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya cerah. Sesekali ia melirik ke ruang tamu melalui pintu kaca yang terbuka lebar. Di ruang tamu, Matteo berlari kecil dengan tawa riang, menendang bola plastik ke sana kemari. “Adeee… liat!” serunya lantang, sengaja menendang bola pelan agar jatuh tak jauh dari kakinya sendiri. Helena yang sedang belajar berjalan, bersorak kecil. Tangannya bertepuk-tepuk, mulutnya terbuka lebar menampilkan senyum tanpa gigi yang sempurna. “Ta… ta!” serunya tak je
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: BAB 242Di ranjang pasien, Nayla berbaring dengan wajah pucat pasi. Rambutnya basah oleh keringat, menempel di pelipis dan leher. Napasnya pendek-pendek, terputus-putus, setiap tarikan terasa seperti perjuangan melawan nyeri yang datang bergelombang tanpa ampun. Tangannya terangkat gemetar, meraba udara—mencari sesuatu… seseorang. “Ti…” suaranya nyaris mencicit lemah. “Iya, Nay. Aku di sini.” Surti segera meraih tangan itu, menggenggamnya erat. Kulit Nayla dingin, jari-jarinya bergetar hebat, menahan sakit dan takut yang merundungnya. Nayla menatap Surti. Matanya berkaca-kaca, merah, dan terbuka lebar. “Ti… aku bakal baik-baik aja, kan?” tanyanya lirih. Surti mengangguk cepat, meski dadanya terasa diremas. “Pasti, Nay. Pasti,” jawabnya terbata, seakan menenangkan dirinya sendiri. “Selesai operasi, kita langsung ketemu lagi, ya. Aku tunggu di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Nayla meringis ketika perutnya kembali menegang. Rintihannya lolos begitu saja. “Aku takut, Ti…” napasnya tersengal.
Terakhir Diperbarui: 2026-01-09
Chapter: BAB 241Wajah Leo menegang seketika saat suara Surti terdengar di ujung sambungan. Kalimat demi kalimat yang disampaikan wanita itu menghantam dadanya. Dunia di sekelilingnya seakan meredup, menyisakan satu titik terang yang berdenyut kencang di kepalanya—Nayla.Telepon itu berakhir dengan bunyi tut yang singkat. Leo menurunkan ponsel perlahan. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan di dada. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Putra, ia berbalik dan mengambil langkah ke arah berlawanan dari pintu keberangkatan.“Pak, mau ke mana?” suara Putra menyusul, terdengar panik.Leo tak berhenti. Langkahnya justru semakin cepat.“Pulang!” suaranya tegas, terburu-buru. “Kamu pergi ke Switzerland sendiri aja, Put! Saya nggak ikut. Saya pulang."“Lho? Lho? Lho?” Putra berlari mengejar, koper besarnya terguncang-guncang. “Kenapa, Pak? Ada apa? Pak?"Leo pun akhirnya berhenti. Ia menoleh—hanya sesaat—namun cukup untuk membuat Putra tercekat. Matanya sudah berkaca-kaca, seperti menahan sesuatu yang hampir tumpa
Terakhir Diperbarui: 2026-01-08
Chapter: BAB 240Nayla kembali membuka resleting tas besar berwarna krem itu, memastikan isinya sekali lagi. Popok bayi berbagai ukuran—cek. Selimut tipis—cek. Baju bayi yang sudah disetrika dan dilipat rapi—cek. Semua tersusun persis seperti daftar yang Matilda buatkan dengan tulisan tangan tegas, lengkap dengan tanda centang merah di pinggir kertas.Dua tas besar itu disusun di dekat lemari. Satu tas khusus perlengkapan persalinan, satu lagi berisi kebutuhan bayi, dan tas terpisah berisi pompa ASI, botol susu, dan kantong pendingin siap angkut. Nayla menghela napas panjang, lalu menutup tas terakhir dengan perasaan campur aduk—tegang, berdebar, sekaligus pegal yang ia tahan.Dari arah meja, Leo masih duduk di depan laptopnya. Layar menyala menampilkan jadwal penerbangan dan dokumen persiapan grand opening apartemen pertamanya di Switzerland. Namun sejak sepuluh menit lalu, tak satu pun baris benar-benar ia baca. Pandangannya berkali-kali melirik ke arah Nayla.“Nay…” Leo akhirnya menutup laptop itu
Terakhir Diperbarui: 2026-01-07
Chapter: BAB 239Tamu-tamu mulai berdatangan dari segala penjuru kompleks perumahan itu. Selesai dengan dekorasi, Pak Dirman langsung sigap berdiri di dekat pintu gerbang yang sengaja dibuka lebar, menyambut setiap tamu dengan senyum ramah dan arahan singkat. Derai tawa anak-anak kecil yang datang bersama orang tua mereka memenuhi halaman rumah.Nayla memang sengaja mengundang semua anak di kompleks itu. Ia ingin ulang tahun pertama Matteo dipenuhi riuh suara dan langkah-langkah kecil yang berlarian, seolah ingin mengusir keheningan yang sudah terlalu lama bertamu di rumah mereka.Di ruang keluarga, Nayla berdiri menyambut para tamu dengan senyum terbaiknya. Gaun bertema Mesir itu sungguh tak bisa menyembunyikan perut buncitnya yang ikut menjadi pusat perhatian ibu-ibu. Bahkan sesekali, bayi di rahimnya bergerak aktif, seolah ikut merasakan keramaian, apalagi ketika ada ibu-ibu tetangga dengan gemas mengusap perut Nayla.“Ya Tuhan, bumilnya cantik banget,” ujar salah satu ibu sambil menyalami Nayla. “S
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06