Chapter: BAB 244Nayla mengajak Davina—atau yang akrab dipanggil Davi—berkeliling vila. Ia mengenalkan satu per satu ruangan di dalam bangunan utama, dari ruang keluarga hingga kamar-kamar tamu, lalu berhenti di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. “Nah, Davi... kamar ini nggak boleh dibuka sembarangan," ujar Nayla sambil tersenyum tipis. “Kamar ini khusus keluarga kami kalau menginap. Banyak barang-barang saya dan Oma Matilda." Davina mengangguk kecil, mencatat setiap informasi dalam benaknya. Tur singkat itu berakhir di bagian belakang vila. Angin sejuk menggerakkan dedaunan, menciptakan riak halus di permukaan kolam renang yang memantulkan cahaya matahari pagi. Suasananya tenang yang memancing Davina tersenyum tipis. “Bagian ini yang paling saya suka,” kata Nayla sambil berhenti di depan deretan pot bonsai. Setiap pot sudah ia beri nama—Jeger yang kokoh dan menjulang, Ratu yang ramping dengan lekuk cabang penuh cerita. “Sebagian saya bentuk sendiri,” lanjut Nayla, “sebagian lagi sudah cantik
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: BAB 243 - BONUS CHAPTERDua tahun berlalu seperti hembusan napas, Pagi itu, keceriaan menaungi vila milik Nayla yang berdiri anggun di bawah sinar matahari. Bangunan lama yang penuh kenangan itu sudah berubah dengan sentuhan modern—jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya masuk bebas, dan warna-warna dinding yang lembut menenangkan. Semua dirancang Nayla sendiri, sebagai bagian dari perjalanan barunya menempuh pendidikan sebagai desainer interior. Dari dapur, aroma roti panggang dan omelete menyebar. Nayla bergerak ringan, rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya cerah. Sesekali ia melirik ke ruang tamu melalui pintu kaca yang terbuka lebar. Di ruang tamu, Matteo berlari kecil dengan tawa riang, menendang bola plastik ke sana kemari. “Adeee… liat!” serunya lantang, sengaja menendang bola pelan agar jatuh tak jauh dari kakinya sendiri. Helena yang sedang belajar berjalan, bersorak kecil. Tangannya bertepuk-tepuk, mulutnya terbuka lebar menampilkan senyum tanpa gigi yang sempurna. “Ta… ta!” serunya tak je
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: BAB 242Di ranjang pasien, Nayla berbaring dengan wajah pucat pasi. Rambutnya basah oleh keringat, menempel di pelipis dan leher. Napasnya pendek-pendek, terputus-putus, setiap tarikan terasa seperti perjuangan melawan nyeri yang datang bergelombang tanpa ampun. Tangannya terangkat gemetar, meraba udara—mencari sesuatu… seseorang. “Ti…” suaranya nyaris mencicit lemah. “Iya, Nay. Aku di sini.” Surti segera meraih tangan itu, menggenggamnya erat. Kulit Nayla dingin, jari-jarinya bergetar hebat, menahan sakit dan takut yang merundungnya. Nayla menatap Surti. Matanya berkaca-kaca, merah, dan terbuka lebar. “Ti… aku bakal baik-baik aja, kan?” tanyanya lirih. Surti mengangguk cepat, meski dadanya terasa diremas. “Pasti, Nay. Pasti,” jawabnya terbata, seakan menenangkan dirinya sendiri. “Selesai operasi, kita langsung ketemu lagi, ya. Aku tunggu di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Nayla meringis ketika perutnya kembali menegang. Rintihannya lolos begitu saja. “Aku takut, Ti…” napasnya tersengal.
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: BAB 241Wajah Leo menegang seketika saat suara Surti terdengar di ujung sambungan. Kalimat demi kalimat yang disampaikan wanita itu menghantam dadanya. Dunia di sekelilingnya seakan meredup, menyisakan satu titik terang yang berdenyut kencang di kepalanya—Nayla.Telepon itu berakhir dengan bunyi tut yang singkat. Leo menurunkan ponsel perlahan. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan di dada. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Putra, ia berbalik dan mengambil langkah ke arah berlawanan dari pintu keberangkatan.“Pak, mau ke mana?” suara Putra menyusul, terdengar panik.Leo tak berhenti. Langkahnya justru semakin cepat.“Pulang!” suaranya tegas, terburu-buru. “Kamu pergi ke Switzerland sendiri aja, Put! Saya nggak ikut. Saya pulang."“Lho? Lho? Lho?” Putra berlari mengejar, koper besarnya terguncang-guncang. “Kenapa, Pak? Ada apa? Pak?"Leo pun akhirnya berhenti. Ia menoleh—hanya sesaat—namun cukup untuk membuat Putra tercekat. Matanya sudah berkaca-kaca, seperti menahan sesuatu yang hampir tumpa
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: BAB 240Nayla kembali membuka resleting tas besar berwarna krem itu, memastikan isinya sekali lagi. Popok bayi berbagai ukuran—cek. Selimut tipis—cek. Baju bayi yang sudah disetrika dan dilipat rapi—cek. Semua tersusun persis seperti daftar yang Matilda buatkan dengan tulisan tangan tegas, lengkap dengan tanda centang merah di pinggir kertas.Dua tas besar itu disusun di dekat lemari. Satu tas khusus perlengkapan persalinan, satu lagi berisi kebutuhan bayi, dan tas terpisah berisi pompa ASI, botol susu, dan kantong pendingin siap angkut. Nayla menghela napas panjang, lalu menutup tas terakhir dengan perasaan campur aduk—tegang, berdebar, sekaligus pegal yang ia tahan.Dari arah meja, Leo masih duduk di depan laptopnya. Layar menyala menampilkan jadwal penerbangan dan dokumen persiapan grand opening apartemen pertamanya di Switzerland. Namun sejak sepuluh menit lalu, tak satu pun baris benar-benar ia baca. Pandangannya berkali-kali melirik ke arah Nayla.“Nay…” Leo akhirnya menutup laptop itu
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: BAB 239Tamu-tamu mulai berdatangan dari segala penjuru kompleks perumahan itu. Selesai dengan dekorasi, Pak Dirman langsung sigap berdiri di dekat pintu gerbang yang sengaja dibuka lebar, menyambut setiap tamu dengan senyum ramah dan arahan singkat. Derai tawa anak-anak kecil yang datang bersama orang tua mereka memenuhi halaman rumah.Nayla memang sengaja mengundang semua anak di kompleks itu. Ia ingin ulang tahun pertama Matteo dipenuhi riuh suara dan langkah-langkah kecil yang berlarian, seolah ingin mengusir keheningan yang sudah terlalu lama bertamu di rumah mereka.Di ruang keluarga, Nayla berdiri menyambut para tamu dengan senyum terbaiknya. Gaun bertema Mesir itu sungguh tak bisa menyembunyikan perut buncitnya yang ikut menjadi pusat perhatian ibu-ibu. Bahkan sesekali, bayi di rahimnya bergerak aktif, seolah ikut merasakan keramaian, apalagi ketika ada ibu-ibu tetangga dengan gemas mengusap perut Nayla.“Ya Tuhan, bumilnya cantik banget,” ujar salah satu ibu sambil menyalami Nayla. “S
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: MALAM WAJIB"Mayang... kamu nggak capek?" bisik Gilang, yang mulai tak kuat menahan kantuk sambil mendengarkan dongeng panjang bapak mertuanya.Sejak pukul tujuh malam, panggung dan peralatan katering telah dibereskan. Surya dan Nia pun sudah lebih dulu pulang karena Amanda mendadak rewel. Mungkin gadis kecil itu kewalahan dengan banyaknya orang yang mencubit gemas dan mengajaknya bicara, seolah-olah dia bintang utama di pesta hari itu.Rombongan musisi Hendro juga satu per satu pamit meninggalkan lokasi acara. Hingga akhirnya, hanya tersisa Hendro yang masih betah bercengkerama dengan menantu barunya. Maklum, baru kali ini ia merasa menemukan sosok menantu yang sefrekuensi dengannya."Jadi begitu, Nak Gilang... waktu muda, Bapak ini bukannya playboy. Cuma... yaa, penggemar Bapak memang banyak sekali. Namanya juga musisi-ganteng, romantis... gadis mana yang nggak kelepek-kelepek, coba?" Hendro terkekeh bangga. "Iya, kan, Mayang? Eh, Gilang... Mayang...?"Tak ada sahutan.Menyadari kedua lawan bic
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: PITON RAKA!Menjelang sore hari, sesudah menghabiskan dua piring nasi goreng dengan lauk rendang, dua gelas es buah dan puding aneka rasa yang seperti tidak ada habisnya, Raka dan Olivia berpamitan dari acara pernikahan Gilang dan Mayang."Aa Raka masih teu nyangka kalau brother Gilang akhirnya nikah sama Bu Dosen. Kirain teh gossip-gossip itu semua bohong. Ternyata beneran mereka menjalin sesuatu sampe tekdung kitu Bu Dosen," ucap Raka setelah keduanya berada di taxi online menuju Hotel Brawijaya."Livi juga nggak nyangka kalau Aa Raka bisa nyanyi lagu romantis kayak gitu. Jantung Livi jadi berdebar-debar pas Aa nyanyi tadi.""Berdebar? Masa aah? Mana? Aa nggak percaya ..." Raka menggigit bibirnya sembari pura-pura melihat keluar jendela taxi."Ini... Aa rasain sendiri aja kalau nggak percaya," Olivia mengangkat sebelah tangan Raka untuk menyentuh dadanya."Neng ..." Raka terkejut, tapi tidak serta merta menarik tangannya untuk menjauh dari dada Olivia.Tangan Raka malah membelai lembut dada Oli
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: PESTAPesta yang awalnya direncanakan sederhana, justru berubah menjadi meriah berkat totalitas rombongan musisi Hendro. Mereka mendirikan panggung di halaman rumah, lengkap dengan berbagai alat musik yang siap menghidupkan suasana di hari bahagia itu.Awalnya, keluarga Mahendra tampak sedikit kikuk menghadapi hiburan yang hingar bingar. Namun, ketika sang pembawa acara mulai menawarkan kesempatan bagi tamu untuk menyumbangkan lagu, suasana perlahan mencair. Mereka mulai saling lirik, bisik-bisik dan senggol-senggolan.Dan, Om Chandra menjadi yang pertama naik ke atas panggung. Dengan penuh percaya diri, ia mendendangkan lagu nostalgia."Tak sengaja... lewat depan rumahmu... ku melihat ada tenda biru..." suaranya mengalun berat khas bapak-bapak. "Dihiasi indahnya janur kuning... hati bertanya pernikahan siapa?"Penampilan itu langsung disambut sorakan. Tak mau kalah, Camelia ikut naik ke panggung, mengambil mikrofon dari tangan pembawa acara."Tanpa undangan diriku kau lupakan... tanpa bica
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: SAH!Semalaman Gilang nyaris tak bisa memejamkan mata. Rumah Mayang sudah dipenuhi tamu yang menginap, sehingga kamar pun harus dipisah antara pria dan wanita. Mayang berada satu kamar dengan Nia, Amanda, serta sepupu yang akan membantu merias dan mendandaninya.Sementara itu, Gilang tidur bersama Surya, Hendro, dan salah satu kerabat dari pihak ayah yang akan menjadi saksi pernikahan. Selain sulit tidur karena suasana yang ramai, Gilang juga sibuk berkomunikasi dengan keluarga Mahendra yang menginap di hotel bintang lima bersama ayah dan ibunya.Baru saja matanya hendak terpejam, terdengar ketukan di pintu kamar."Subuh dulu, Lang. Mayang sudah mulai didandani. Ibu juga sudah bangun. Kamu siap-siap sana," ujar Surya sambil melemparkan senyum, seolah ingin meredakan ketegangan Gilang. "Orang tua kamu sudah dihubungi? Mereka aman, kan?""Sudah, Mas. Aman. Mereka datang bareng keluarga Mahendra. Adik-adik ayah ikut semua sebagai perwakilan keluarga," jawab Gilang."Bagus. Kalau ada apa-apa,
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: SERANGAN TERAKHIR"Kamu nggak pegel dari tadi senyum-senyum terus?" tanya Gilang saat mobil melaju membelah jalanan menuju luar kota.Oh ya, mereka sudah mengembalikan Civic milik Sabrina. Sekarang, mereka punya mobil dan sopir pribadi yang ditugaskan langsung oleh Chandra sebagai bagian dari fasilitas perusahaan. Namun, sementara ini, mobil itu lebih sering digunakan oleh Mayang, karena Gilang lebih suka wara-wiri dengan 'kuda besi' kesayangannya."Aku seneng banget sama ide brilian kamu, Lang," jawab Mayang sambil tersenyum lebar. "Jadi, aku nggak perlu marah-marah lagi. Kamu memang pantas jadi calon CEO, Lang. Otak kamu cemerlang."Di rekening Mayang, kini tersimpan hampir sembilan ratus lima puluh juta rupiah-uang dari gaji Cipto yang selama bertahun-tahun diam-diam ia kumpulkan. Atas persetujuan Gilang, uang itu akan ia kembalikan kepada Cipto. Lebih tepatnya, ditukar dengan sesuatu yang sejak dulu sebetulnya bisa menjadi haknya."Nih! Urus saja balik namanya sendiri!" ucap Cipto ketus saat mereka
Last Updated: 2026-04-18
Chapter: GILANG MANJAMinggu siang. Sudah dua minggu berlalu, sejak makan malam Mayang bersama keluarga Mahendra yang berlangsung hangat dan bahagia.Tak disangka, Mayang dan Camelia-yang ternyata menekuni bidang ilmu yang sama-cepat sekali akrab. Obrolan mereka mengalir begitu saja, bahkan Camelia sempat menjanjikan akan mengajak Mayang berkeliling Indonesia sebagai pembicara dalam seminar ekonomi yang ia selenggarakan.Di sisi lain, Mayang juga telah membicarakan rencana bantuan biaya pengobatan Gayatri kepada Gilang. Dengan bijaksana, Gilang menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Mayang. Ia hanya memberi saran dan mengingatkan satu hal-agar Mayang tidak terpancing emosi jika nanti harus menghadapi sikap Gayatri dan Cipto yang menyebalkan. Terlebih mereka sudah sama-sama tahu seperti apa tabiat ibu dan anak itu."Tambah buncit, ya..." gumam Gilang sambil mengelus lembut perut Mayang. "Anak-anak ayah sudah ketahuan belum jenis kelaminnya?""Belum, Lang. Baru juga satu bulan. Nanti sekitar empat bulan baru
Last Updated: 2026-04-17