เข้าสู่ระบบDi tempat berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan dengan mendaratnya pesawat yang ditumpangi Mayang, Gilang dan keluarganya tiba di sebuah komplek pemakaman elite. Gilang mendorong kursi roda ayahnya melewati deretan makam."Darius Mahendra ... Elvira Askana Mahendra." Gilang membaca lambat-lambat dua nama yang terukir di atas batu nisan yang bersebelahan."Itu kakek dan nenek kamu, Lang ..." ucap Dahlia dengan suara pelan. "Kamu udah pernah bertemu sama nenek kamu waktu itu."Gilang mengepalkan tangannya. Kejadian pengusiran itu masih terekam jelas dalam ingatannya. Hinaan yang terlontar dari mulut neneknya kala itu masih menggaung di telinganya setiap kali ia menangkap wajah sedih ibunya. Gilang menatapi tanggal kematian wanita itu di batu nisan. Belum lama, baru sekitar lima bulan yang lalu."Setelah kematian Ibu, kami langsung mencari keberadaanmu, Gilang. Bukan tanpa alasan," ujar Chandra tenang, kedua tangannya masuk ke saku celana, sikapnya terlihat santai namun sorot matanya
Tanpa berkata apa-apa, ia buru-buru menjauh dari meja makan.Langkahnya tergesa-gesa menaiki tangga. Napasnya memburu, satu tangan menekan perutnya, tangan lain menutup mulutnya rapat-rapat."Mayang?? Mau ke mana? Makan dulu!" seru Pertiwi kaget melihat putrinya berlari begitu saja.Mayang tak menjawab.Ia mendorong pintu kamar mandi di dalam kamarnya dengan tergesa, lalu berlutut di depan kloset. Ia teringat, sebelum tertidur dengan gelisah semalam, makanan yang terakhir masuk ke perutnya hanyalah sepotong paha ayam ungkep.Dan kini dia memuntahkan semuanya ke kloset kamar mandi. Kepalanya seketika berdenyut. Sudah lama sekali dia tidak merasakan keanehan dalam tubuhnya seperti ini.BYYUURR!Mayang menekan kuat tombol flush klosetnya dengan badan yang agak sempoyongan. Tangannya memijat-mijat pelipisnya, merasakan pusing bercampur mual yang seketika mengacaukan dirinya."Nduk??! Kamu baik-baik saja, kan?!" seru Pratiwi yang mendengar suara muntah dari kamar Mayang."Mayang ngga apa-a
Kereta api berkecepatan tinggi melesat, membelah malam dengan raungan logam yang memekakkan telinga. Angin kencangnya menerjang hebat, menghantam tubuh Gilang dan motor yang masih ia duduki. Hanya sepersekian detik. Sepersekian detik yang memisahkan hidup dan maut.Sebuah dorongan kasar menghantam bahunya.Tubuh Gilang terseret ke tepi, motornya terjungkal. Dua pria yang tadi berteriak berhasil menariknya menjauh tepat ketika palang pintu nyaris menutup dan rangkaian gerbong kereta melintas.Bunyi berisik roda kereta di atas rel perlahan menjauh. Dan Gilang terduduk, napasnya terputus-putus, jantungnya menghantam kencang tulang rusuknya sendiri. "Kamu mau ke mana tengah malam begini? Bahaya, Dek!" seru pria berjanggut yang masih memegangi tubuh Gilang.Gilang menyebutkan nama kota yang menjadi tujuannya. Ternyata, masih ada setitik keberuntungan memihak Gilang. Pria yang menyelamatkannya seorang pengemudi truk tanpa muatan dan sedang menuju kota yang sama dengan Gilang. Melihat kondi
Gilang menyeret langkahnya menuju kostan dengan perasaan gamang yang bercampur aduk. Dua jam lamanya dia berjongkok di tepi jalan seusai mengabari Mayang tentang keadaannya. Mayang tak dapat menyembunyikan keterkejutannya mendengar penuturan Gilang. Suaranya bergetar saat mencoba menenangkan pemuda itu.Meski belum pasti Gilang akan terlibat dalam kasus yang tengah menimpa Sarah dan suaminya, tetapi sepertinya menjauh dari kota di mana dia berada saat ini adalah pilihan yang terbaik. Mayang menyetujui saran tersebut. Untuk masalah ujian, dia akan coba membicarakannya dengan Pak Dekan agar Gilang masih bisa mengikuti ujian susulan.Gilang tiba di depan kostan Raka bersamaan dengan kedatangan pemuda itu. Kepanikan yang hampir serupa tergambar di wajah keduanya. Gilang tak mampu menjelaskan apapun kepada Raka.Dia hanya sanggup berkata, "Kalau nanti ada yang nyariin gue-siapa pun itu-tolong jangan kasih tahu gue di mana."Angin malam berembus tipis.Untuk pertama kalinya, Raka melihat ke
Gilang sedang mencari udara segar di luar kostan Raka, saat pemuda sunda itu pergi berkencan dengan Olivia. Gilang menyusuri jalan setapak menuju mini market tak jauh dari kostan. Dia membeli dua botol minuman dingin untuk menemaninya belajar. Masih ada dua mata kuliah terakhir yang harus ia selesaikan besok."Tante Sarah? Mau apa lagi sih dia?" Gilang mengerutkan kening menatap layar ponselnya saat mengantri di kasir mini market. "Cuekin dulu saja lah. Kalau emang ada yang penting, paling entar kirim chat."TRING!Benar saja, sebuah pesan singkat masuk tak lama setelah panggilan telepon berakhir. Gilang membayar belanjaannya terlebih dulu sebelum membuka pesan dari Sarah. Kemudian menenggak separuh botol minuman dinginnya dan menggulir layar ponselnya.[Aku di apartement] - SarahTenggorokan Gilang tersekat. Selama ia mengenal Sarah, ada dua hal yang menjadi ciri khas wanita itu ketika dirundung masalah berat.Pertama, Sarah akan menggubah warna rambutnya. Kedua, kalau Sarah mengatak
"Raka lama dehh ..." bisik Olivia. Membuat Raka semakin gugup. Bagaimana kalau sampai ketahuan kalau dirinya belum ada pengalaman berciuman? Aduuhh ... bisa jatuh harga diri kelelakiannya.Karena sudah tidak sabar, Olivia menarik kerah baju Raka dan menyatukan bibir mereka. Untuk pertama kalinya Raka merasakan bibir kenyal dan lembut Olivia. Perlahan dia menghisap bibir gadis itu dengan lembut hingga Olivia mendesahkan namanya lagi dan lagi.Tangan Raka mulai menjelajah sesuai instingnya, meremas kedua bukit kembar Olivia. Raka melakukannya dengan keyakinan dan kepercayaan diri tinggi bahwa Olivia tidak akan menolak kalau dia melakukan lebih dari pada itu. Dan kini tangannya mulai menyusup ke balik kaos tipis Olivia, memainkan pucuk dada gadis itu yang membuat dada Raka berdebar hebat.Hingga sebuah suara dari interkom rumah Olivia mengejutkan mereka."Selamat malam! Kami dari kepolisan membawa surat penangkapan ...""Naon?? Pulisi? Kunaon aya pulisi, Livi? Kamu mau ngejebak Raka? Dem







