MasukGilang Pratama adalah mahasiswa Teknik Elektro tingkat pertama di Universitas Jayakarta—cerdas, pendiam, dan nyaris tak pernah menarik perhatian siapa pun. Hingga suatu hari, sebuah keteledoran kecil membuatnya terpergok oleh Mayang, dosen yang dikenal dingin dan ditakuti mahasiswa. Volume maksimal yang dipasang Gilang jelas mengaburkan suara apapun yang berada di sekelilingnya. Gilang yang mulai meresapi video kedua yang ditontonnya, tanpa sadar menggosok-gosok bagian bawah tubuhnya dengan santai. Wanita itu melihat dengan jelas apa yang sedang ditonton Gilang. Namun, bukannya menegur, Mayang Sari – Ibu Dosen di kampus itu malah berputar dan duduk di sebelah mahasiswanya. Gilang yang terkejut buru-buru mematikan video yang tengah di tontonnya, dan segera menjauhkan ponselnya dari pandangan Mayang. "Butuh bantuan?"
Lihat lebih banyakGilang Pratama – melangkah keluar kelas sambil menguap kecil, meregangkan bahunya yang terasa pegal setelah sejam penuh mendengarkan dosen ngoceh soal rangkaian listrik. Matanya masih sayu, efek dari waktu tidur yang berantakan selama seminggu terakhir.
Yeah! Semua gara-gara Bima yang menyetujui banyak job, dan belakangan baru panik sendiri, terus ujung-ujungnya semu dioper-operin ke Gilang. Tapi, berhubung bayarannya gede, tentu saja, Gilang tidak keberatan sama sekali. Sikat saja lah! Mumpung masih muda, kuat dan perkasa. Iya, kan?!
Baru dua langkah dari depan pintu, terdengar suara nyaring memanggilnya, menggema di koridor kelas.
"Gilang, kita makan bareng di kantin, yukk ..."
Seorang gadis jelita berpakaian serba kekurangan bahan, melangkah mendekat dengan senyum manis berpulas merah muda tercetak di bibirnya.
Gilang mengerjapkan mata, kantuknya perlahan menguap. Tawaran makan ini cukup menggoda, karena yang bayar makanan pasti Sabrina. Tapi ...
“Duluan, Sab. Aku masih ada perlu nih. Tugas dari Pak Sidik belum aku kerjain sama sekali.” Gilang menggaruk lehernya, menolak sopan ajakan gadis itu.
“Iiihh ... bete ah, Gilang belajar terus," Sabrina mengerucutkan bibirnya. "Ya udah! Tapi besok-besok kamu nggak boleh nolak ya, kalau aku ajak makan bareng lagi. Aku pengen ngobrol banyak, Lang." Sabrina menggerlingkan mata sambil mendaratkan tangannya di dada Gilang dan mengusapnya manja.
"Siap, Cantik ..." Gilang mengedip tengil, dan mengacak rambut sabrina sekilas.
Gadis yang dipanggil 'cantik' itu tersipu malu dan segera berlalu meninggalkan Gilang. Selepas kepergian Sabrina yang kembali bergabung dengan geng centilnya, Gilang buru-buru mengeluarkan ponselnya yang selama di kelas tadi terus bergetar tanpa henti.
"Dia ngirim pesan apa, sih?" gumamnya, membuka aplikasi chat sambil berjalan menuju taman kampus.
Siang itu, seperti biasa, area taman kampus selalu sepi. Hanya ada beberapa kucing liar yang tidur melingkar di bawah pohon, serta sepasang kekasih yang pura-pura mengerjakan tugas bareng sambil colek-colekan.
Untuk berjaga-jaga, Gilang memilih kursi taman yang paling strategis — dekat dengan pintu toilet. Ia membuka belasan pesan video yang baru masuk, dan memasang headset nirkabel ke telinganya.
"Sh*t ..." desis Gilang begitu mendengar suara lenguhan seorang wanita berwajah mungil dan berkulit pucat tanpa busana menembus telinganya. "Nggak biasanya nih. Kapan dia videoin ini? Aduh, bikin pengen lagi..."
Gilang menggigit bibir bawahnya, dan mengatur posisi duduknya, sedikit merosot di sandaran kursi. Saking serunya, Gilang sampai tidak sadar kalau ada sepasang mata yang mengamatinya dari arah toilet. Seorang wanita dengan pakaian rapi, berjalan mendekat dengan langkah tenang, dan ... berdehem tepat di belakang Gilang.
"Ehem! Lagi nonton apa, nih?" tanyanya.
Volume maksimal yang dipasang Gilang jelas mengaburkan suara apapun yang berada di sekelilingnya. Gilang yang mulai meresapi video kedua yang ditontonnya, tanpa sadar menggosok-gosok bagian bawah tubuhnya dengan santai. Raut mesum tergurat jelas di wajah tampannya.
Wanita itu melihat dengan jelas apa yang sedang ditonton Gilang. Namun, bukannya menegur, Mayang Sari – Ibu Dosen di kampus itu malah berputar dan duduk di sebelah mahasiswanya. Gilang yang terkejut buru-buru mematikan video yang tengah di tontonnya, dan segera menjauhkan ponselnya dari pandangan Mayang.
Di luar dugaan, Mayang malah mengambil sebelah headset Gilang dan memakai ke telinganya.
"Lanjut, Lang. Suara siapa, nih? Merdu banget... By the way, kayaknya tadi saya lihat yang mirip kamu di video itu. Bener, nggak?" tanyanya santai.
"Bu – bukan, bu! Salah lihat kali nih," elak Gilang, sudah siap mengantongi ponselnya.
"Ah, masa saya salah lihat? Mata saya ini cuma minus, bukan buta. Buktinya, saya masih bisa bedain mana tugas mahasiswa yang dikerjain sendiri, dan mana yang nyuruh orang ngerjain. Sini, coba saya lihat lagi,” ujar Mayang sambil membuka telapak tangannya di atas paha Gilang.
Mata Gilang melotot sedetik melihat tangan Mayang — kulit putih langsat, mulus, tapi ada bulu-bulu halus yang membut pikirannya berkelana nakal.
"Jangan, Bu! Bisa bahaya kalau ibu lihat," sahut Gilang.
Mayang menyipitkan matanya.
"Lebih bahaya lagi kalau dosen lain yang lihat, Lang. Kamu itu kan mahasiswa jalur beasiswa, dan calon penerima beasiswa luar negeri. Kamu harus menjadi teladan buat yang lain. Tapi, kamu malah–"
Perkataan Mayang terpenggal senyuman tipis penuh arti yang terbit di bibir Gilang.
"Oh, jadi ... kalau Ibu yang lihat nggak bahaya, ya?!" Gilang mencondongkan tubuhnya, mulutnya mendekati telinga Mayang yang tidak tertutup headset.
"Yah ... maksud saya ... nggak enak aja gitu ..." sahut Mayang, dadanya berdesir halus.
"Terus, kalau sama ibu ... bisa enak, ya?" Gilang terkekeh pelan, sembari mengacungkan layar ponselnya, siap memutar ulang video syur-nya itu.
"Ibu ... mau lihat video panas ini bareng saya, hmm?" desah Gilang, sekilas menyentuhkan bibirnya ke telinga Mayang.
Deg!
Jantung Mayang membeku sesaat, dan siap meledak oleh sorot mata tengil pemuda itu.
“Brother aink!!” suara khas Raka memanggil Gilang yang baru tiba di Indonesia. “Raka kangen ... huuu ... lama banget ngga ketemu sampai kamu sudah punya anak tiga biji begini.”“Aku juga kangen sama kamu, ka. Istiri aku ngga disapa, ka?”“Ehh ... Bu Mayang ... tambah geulis wae ... apa kabar ibu?” Raka mengulurkan tangannya dan mencium tangan mantan dosennya itu.“Katanya kamu mau jemput pakai mobil, ka? Mana mobilnya?”“Ehh iyaa ... hayu atuh kita berangkat. Kesian bayi-bayi kayaknya udah pada lelah.”“Aku yang udah lelah, ka. Tangan keram gendong tiga bayi, ayahnya sih enak tidur.” Mayang menyenggol lengan Gilang.Sebuah Vellfire hitam telah menunggu tak jauh dari pintu lobby bandara. Gilang berdecak saat Raka mendekati mobil itu dan membukakan pintu untuk mereka.“Wuuiihhh ... keren banget brother aink sekarang! Mobil baru?” tanya Gilang seakan mencurigai perbuatan pemuda itu selama dua tahun ditinggal olehnya.“Tinggal naik saja bawel banget sih? Tinggal duduk saja yang nyaman, la
Suatu hal yang wajar jika seorang istri posesif terhadap suaminya. Itu berarti rasa cintanya begitu besar dan dia menginginkan suaminya itu hanya menjadi milik satu-satunya. Bahkan kalau bisa nyamuk betina juga tidak boleh nemplok seenaknya dan menggigit anggota tubuh manapun dari suaminya itu.Wanita juga ahli sejarah yang paling hebat di dunia. Dia bisa mengingat segala kesalahan yang pernah dilakukan suaminya mulai dari saat pacaran hingga sudah punya anak banyak. Dan Mayang tidak mau menambah rentetan kesalahan untuk diingat. Dia harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya kini.Mayang melenggang anggun sambil mendorong stroller, memasuki area taman kampus terkenal di kota itu. Dia dan Tina berjalan menuju fakultas tempat Gilang menuntut ilmu. Berdasarkan jadwal yang Mayang intip diam-diam dari ponsel suaminya itu, seharusnya Gilang sudah selesai kelas pagi.Pucuk dicinta ulam pun tiba, ayah muda yang tengah dicari keberadaannya itu terlihat sedang mengo
Tiba-tiba Mayang seperti merasa cemas dengan lingkungan kampus Gilang. Apa mungkin mahasiswa di sana tidak mengetahui status Gilang yang sudah menjadi seorang ayah? Atau gadis-gadis di sana sudah terbiasa bersikap mesra terhadap lawan jenis?“Ehh? Grace?” tanya Gilang seketika terdiam.Suara pintu apartement yang terbuka mengejutkan mereka, sebelum Gilang sempat memuaskan Mayang dengan jawabannya. Tina sudah pulang berbelanja. Dengan dibantu supir, wanita itu mengangkut kantong-kantong belanja yang seperti tidak ada habisnya. Lekas Mayang mengalihkan perasaan anehnya dengan membantu Tina mengeluarkan barang belanjaan.“Are you okay? Bayi-bayi handsome masih tidur? Apa mereka sempat rewel?” tanya Tina yang melihat ketidakberesan di wajah Mayang.“Tidak, Tina. Mereka aman dan aku juga sudah sempat mandi. Tina aku boleh minta bantuan kamu?” bisik Mayang sembari meremas jemarinya.“Silahkan. Bilang saja. Kamu butuh bantuan apa?”“Besok aku mau kita membawa bayi-bayi ini ke suatu tempat.”
Hari itu terasa sangat panjang dan melelahkan bagi Gilang. Selama seminggu terakhir, ia harus membagi waktu antara kuliah, virtual meeting dengan Chandra dan jajaran manajemen perusahaan di Swedia, serta bolak-balik menemani Mayang di rumah sakit. Hingga akhirnya, hari ini mereka bisa kembali ke apartemen.Dengan bantuan Tina, masing-masing dari mereka menggendong satu bayi. Sementara itu, dua tas besar dibawa oleh sopir. Tepat pukul sepuluh pagi, mereka tiba di apartemen. Tanpa menunda, Gilang segera merebahkan tubuhnya di ranjang setelah memastikan ketiga bayinya terlelap di boks baru mereka."Gilang, Mayang... aku harus ke supermarket sebentar. Beli bahan makanan sehat untuk ibu hamil. Keluarga dari Indonesia jadi datang tiga hari lagi, kan? Sekalian aku beli bahan untuk bikin kue," ujar Tina sambil menggenggam dompet yang setiap hari diisi Mayang untuk kebutuhan belanja."Om Chandra bilang jadi datang. Dia juga bawa ayah dan ibuku. Oh iya... tolong belikan buah yang banyak, ya. Ay
"Hei! Kita jadi nganter Bu Mayang pulang nggak sih?" tanya Sabrina yang merasa dicuekin karena kedua orang yang berada di depannya itu terus saja mengobrol dengan asyik seolah melupakan keberadaan dirinya."Ehhh ... jadi lah, Sab ... tunggu... aku minta kursi roda dulu ke perawat ..." sahut Gilang.
"Mayang... aku nggak yakin ada pria lain yang mau sama kamu setelah bercerai nanti, Mayang ..." ucap Gilang setelah mengeluarkan jari telunjuk Mayang dari mulutnya dan menatap dalam manik mata Mayang."Kenapa? Karena aku sudah tua, ya?" tanya Mayang, hatinya sedikit menciut."Bukan. Karena aku sela
Adzan subuh baru saja berkumandang. Alih-alih membasuh wajah dengan air kran yang sejuk, Cipto justru belingsatan di dalam kamar. Istri mudanya yang bertubuh mungil, padat itu sebenarnya sangat enak dipeluk di udara dingin begini. Tapi, karena masih dalam masa nifas yang tak kunjung selesai. Ditamb
Jauh di negara berbeda, seorang wanita berambut pendek keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan kimono sutera berwarna biru. Tubuhnya penuh dengan gairah seksual yang menuntut. Sudah hampir seminggu ini pikirannya tersita dengan berbagi macam problem yang harus ia selesaikan di negara itu.E












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan