
Belenggu Cinta Sang Don Juan
Alessia Ardelia tak pernah menyangka, hidup yang sederhana dan penuh luka justru membawanya ke dalam dunia yang paling ditakutinya, dunia mafia.
Hanya dalam satu malam, ia dipaksa mengenakan gaun pengantin, dinikahkan dengan pria asing yang bahkan namanya baru ia dengar.
Pria itu adalah Drazhan Alvaro. Don muda yang namanya digemakan dengan rasa gentar, pewaris kerajaan mafia yang dingin, kejam, dan tak pernah gagal menundukkan lawan.
Namun pernikahan itu bukanlah tentang cinta.
Bagi Drazhan, itu hanyalah formalitas, sekadar jalan untuk mengamankan kekuasaan dan mempertahankan posisinya. Sementara di balik semua itu, ada seorang wanita lain, Seraphine Morelli yang menjadi alasan sesungguhnya mengapa ia rela menyeret Alessia ke dalam ikatan pernikahan tanpa hati.
Bagi Alessia, pernikahan itu adalah belenggu. Sebuah penjara tanpa jeruji, di mana setiap tatapan tajam sang Don adalah ancaman sekaligus misteri. Ia ingin bebas, tapi semakin ia berusaha menjauh, semakin kuat ikatan takdir menariknya kembali pada pria itu.
Dalam pusaran pengkhianatan, darah, dan cinta yang terlarang, bisakah Alessia menemukan jalannya? Ataukah ia akan selamanya terperangkap dalam belenggu cinta sang Don Juan? cinta yang bisa menghancurkan, atau justru menyelamatkan?
Read
Chapter: Bab 112 Dia Tidak Menampakkan DiriMikhail bertahan di posisinya sejak ia melihat Katerina di balik tirai lantai dua. Ia tidak bergerak atau pergi kemana pun. Baginya, waktu bukan sesuatu yang harus dikejar. Waktu adalah senjata.Teropong masih menempel di mata. Dari jarak ini, Mikhail bisa melihat cukup jelas, gerakan kecil tirai, bayangan kepala yang sesekali mendekat ke jendela lalu menjauh dengan cepat, seperti hewan liar yang mencium bau pemburu. Mikhail tidak akan mendekat, ia hanya memastikan Katerina masih hidup dan itu sudah cukup baginya. Mikhail mencatat setiap detail tanpa emosi. Ada dua penjaga di dalam apartemen, bayangan mereka bergerak tidak teratur, terlalu sering berpindah posisi. Itu bukan disiplin militer, itu kegelisahan. Di luar, satu penjaga berjaga di tangga darurat, rokok menyala mati setiap beberapa menit. Tidak ada rotasi, tidak ada pola tetap, dan orang-orang Sergei terlihat mulai lelah. Semua itu sudah masuk sebagai kesalahan ketiga.Mikhail tidak melakukan apa pun. Ia tidak menembak, tid
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: Bab 111 Jadi KamuBangunan beton berdiri seperti warga yang patuh, lalu lintas bergerak teratur, dan orang-orang berpura-pura hidup normal. Namun di bawahnya, di lorong-lorong basah, gudang kosong, stasiun tua yang sudah dihapus dari peta, terdapat beberapa darah yang masih hangat. Masih banyak pergerakan yang tak terlihat. Mikhail bergerak di antara dua dunia itu tanpa meninggalkan jejak.Luka di bahunya sudah dibersihkan sendiri, dijahit kasar tanpa anestesi. Rasa sakit tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Ia mengganti pakaian, membakar yang lama, lalu menghilang dari jaringan Alexei selama dua puluh empat jam pertama, cukup lama untuk membuat semua orang berpikir ia sedang menjalankan perintah, cukup singkat untuk tidak dianggap membelot.Apa pun pemikiran orang lain, Mikhail tak peduli, ia hanya mengikuti perintah Alexei untuk mengikuti Katerina dan ia yakin, Katerina tidak akan bisa pergi jauh.Katerina masih terluka dan dia tidak mengetahui Balkan dengan baik, kecuali dia di bantu oleh or
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Bab 110 Pergi Sebelum Aku Berubah PikiranKediaman Alexei masih berbau asap dan besi. Api sudah dipadamkan, mayat-mayat telah diseret ke lorong servis, dan darah di lantai marmer ditutup sementara dengan karpet gelap. Dunia hitam tidak mengenal pemakaman. Ia hanya mengenal pembersihan.Alexei berdiri di ruang kendali bawah tanah, jaketnya terbuka, pistol masih tergantung di tangannya meski magasin sudah kosong. Layar-layar di hadapannya menampilkan potongan kamera yang mati satu per satu, mulai terowongan runtuh, jalur lama hilang, jejak yang sengaja dihapus.Ia tidak marah. Kemarahan adalah kemewahan bagi orang bodoh. Ia hanya diam, terlalu diam, dan itu membuat semua orang di ruangan itu menahan napas.“Putar ulang segmen timur,” katanya akhirnya.Operator menelan ludah, jarinya bergerak cepat. Gambar buram muncul kemudian kabut asap, siluet orang-orang Korolev yang bergerak cepat, lalu satu sosok yang tidak salah lagi.Mikhail. Dia berdiri di persimpangan terowongan, bahunya menghalangi jalur, tubuhnya menjadi dinding hidu
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: Bab 109 Keluargamu Sudah MatiTerowongan tua itu menelan mereka seperti kerongkongan binatang purba, sempit, lembap, dan berbau besi tua bercampur darah yang belum kering. Lampu darurat berkelip malas, memantulkan bayangan patah-patah pada dinding batu. Katerina bergerak di tengah barisan, langkahnya cepat tapi terukur. Satu tangan menggenggam pistol, tangan lain menahan nyeri di rusuknya. Setiap tarikan napas mengingatkannya pada harga yang baru saja dibayar untuk kebebasan.“Cepat,” bisik salah satu pria di depan. “Gerbang sekunder lima puluh meter.”Mereka hampir berhasil. Alexei tidak bisa mengejar karena reruntuhan menutup jalur utama. Anak buah Korolev yang tersisa bergerak dalam formasi rapat, menutup tubuh Katerina dengan disiplin yang lahir dari tahun-tahun hidup dalam pengkhianatan. Mereka tidak berbicara. Dunia hitam selalu mengutamakan diam dan bertahan.Katerina menelan ludah. Kepalanya berdenyut. Wajah-wajah mati menumpuk di benaknya, ayahnya, pamannya, nama-nama yang kini hanya tinggal ukiran di ba
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: Bab 108 Membunuh Sebanyak Mungkin Sebelum Mereka PergiDi sisi kota yang lain, hampir pada detik yang sama ketika darah Ivan Korolev mengering di lantai beton milik Drazhan, kediaman Alexei berubah menjadi medan perang.Tidak ada ledakan besar. Mereka langsung menyerang tanpa aba-aba. Serangan itu senyap, presisi, dan kejam.Lampu halaman padam satu per satu, bukan karena listrik mati, melainkan karena leher para penjaga dipatahkan dalam gelap. Gerbang besi terbuka tanpa suara, kode lama yang seharusnya sudah mati ikut hidup kembali. Orang-orang Korolev bergerak seperti bayangan, tidak berteriak, tidak panik. Mereka datang untuk satu tujuan, menebus kegagalan dengan darah Alexei dan menyelamatkan Katerina.Alexei terbangun bukan oleh suara tembakan, melainkan oleh insting. Ia sudah berdiri saat peluru pertama menghantam kaca jendela kamar kerjanya. Tubuhnya bergerak cepat, mengambil pistol dari laci rahasia, lalu menyelinap ke balik dinding baja.“Kontak,” ucapnya datar ke alat komunikasi di telinganya. “Jumlah besar. Mereka tahu denah ru
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: Bab 107 Mahkota Kekuasaan Itu Selalu Haus DarahDinding batu di penjara bawah tanah sebelah timur terbelah seperti luka lama yang dipaksa terbuka kembali. Api menyembur, asap hitam menjilat langit fajar, dan suara alarm manual akhirnya meraung, bukan karena sistem, melainkan karena darah pertama telah tumpah.Drazhan sudah bergerak sebelum gema ledakan mereda. Ia menarik Alessia ke balik dinding baja, menekan bahunya ke sudut aman yang hanya diketahui tiga orang di dunia ini. “Tetap di sini. Apa pun yang kamu dengar, jangan keluar,” perintahnya dingin dan mutlak.“Apa yang terjadi?” tanya Alessia, matanya tajam meski jantungnya berdegup keras.“Kesalahan lama,” jawab Drazhan singkat. “Anak buah Korolev bangkit lagi.” Ia berbalik, meraih senapan otomatis dari rak tersembunyi. Wajahnya kini sepenuhnya berubah, tidak ada sisa pria yang semalam berjanji perlindungan dengan bisikan. Yang berdiri saat ini adalah Raja Mafia Balkan, pemilik tanah, darah, dan ketakutan.Rafael muncul dari koridor dengan wajah berlumur darah orang lain. “Mer
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 53 Kamu Kira Dunia di Luar Sana Lebih Baik Dariku?Handuk masih melingkari pinggangnya ketika Damian melangkah keluar kamar mandi. Tatapannya langsung tertuju ke ranjang tapi ranjang itu kosong, tidak ada Elara di sana. "Elara," panggilnya pelan. Ia melihat sekeliling kamar lalu menatap kursi cukup lama. Ia mengingat jelas setiap detail di kamar Elara. Jaket yang ada di sandaran kursi menghilang. “ELARA!”Damian bergerak cepat, menyibak tirai, membuka pintu kamar mandi, kamar ganti, tidak ada. Tidak ada jejak selain kehampaan yang menampar wajahnya dengan kejam.Ia meraih ponsel dan memerintahkan seluruh anak buah Morreti untuk berkumpul di aula sekarang juga.Dalam hitungan menit, para penjaga berkumpul. Beberapa masih mengenakan sarung tangan pembersih. Beberapa lain terlihat kebingungan, belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi. Damian berdiri di tengah ruangan seperti badai yang ditahan paksa, rahangnya mengeras, mata gelapnya membara.“Elara pergi,” ucapnya pelan.Tidak ada yang menjawab.“AKU BERTANYA,” lanjut Damian, kini suara
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: Bab 52 Apa Kamu Juga Musuh Morreti?"Jangan pergi kemana pun, tetap duduk di tempat tidurmu!" Damian memberikan perintah sebelum masuk kamar mandi. Elara tidak menjawab, ia memilih untuk memalingkan wajahnya. Tak lama, terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Elara melirik sekilas lalu menunggu sampai suara air mengalir dari kamar mandi terdengar jelas dan stabil. Bukan suara biasa, itu adalah satu-satunya celah. Ia berdiri dan berjalan pelan-pelan, jantungnya berdegup terlalu keras sampai rasanya Damian bisa mendengarnya menembus dinding. Tangannya gemetar saat meraih jaket tipis di sandaran kursi, tidak ada tas, tidak ada sepatu yang pantas, dan tidak ada rencana selain satu kata yang terus berdentum di kepalanya. Pergi sekarang!. Hanya itu dan ia kali ini harus nekad. Ia membuka pintu kamar perlahan. Engselnya nyaris tidak bersuara. Lorong di luar tampak lengang, namun udara masih membawa aroma logam dan pembersih keras tanda rumah ini baru saja selamat dari pertumpahan darah. Beberapa penjaga terlihat di ujun
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Bab 51 Lebih Baik Hancur DisisikuElara berdiri terlalu lama di bawah pancuran, membiarkan air hangat jatuh ke kulitnya tanpa benar-benar merasakan hangat itu. Yang ia rasakan justru tekanan, seperti ada tangan tak kasatmata menahan dadanya, membuat napasnya pendek dan tidak utuh. Dinding kamar mandi terasa lebih sempit dari biasanya. Bahkan uap air pun seolah ikut mengawasinya.Di luar sana, Damian menunggu.Bukan sekadar menunggu. Ia tahu pria itu mendengar segalanya. Setiap gesekan kaki di lantai, setiap tarikan napas yang terlalu lama, setiap botol sabun yang terjatuh. Kesadaran itu membuat Elara mempercepat gerakannya, bukan karena takut pada bahaya di luar, melainkan karena takut pada kehadiran yang terlalu dekat, terlalu mengikat.Saat ia keluar dengan rambut masih basah dan handuk melilit tubuhnya, Damian sudah berdiri di depan pintu. Posisi tubuhnya santai, namun matanya bergerak cepat, menilai, memastikan. Elara tahu tatapan itu. Tatapan penjaga sekaligus pemilik.“Kamu lama,” kata Damian.Elara tidak menjaw
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: Bab 50 Aku Sudah Membunuh Terlalu Banyak Orang UntukmuKamar itu kembali sunyi setelah fajar benar-benar menguasai langit Roma. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin pagi, cahaya lembut jatuh ke wajah Elara yang perlahan terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih berat, tubuhnya terasa pegal, seolah semalam ia berlari jauh tanpa henti.Hal pertama yang ia rasakan adalah kehadiran seseorang.Elara membuka mata perlahan dan menemukan Damian duduk di kursi dekat jendela. Pria itu tidak tertidur. Sama sekali tidak. Punggungnya tegak, lengan terlipat, wajahnya tenang namun mata gelapnya tertuju lurus ke arahnya, seolah dia berjaga sepanjang malam tanpa sekali pun lengah.“Kamu sudah bangun,” ucap Damian rendah.Nada suaranya tidak keras, tidak juga lembut tapi cukup membuat Elara menegakkan tubuhnya dengan refleks. Ingatan tentang malam sebelumnya kembali menghantamnya bertubi-tubi, ledakan, tembakan, darah, dan janji Damian yang diucapkan dengan suara dingin namun penuh kepastian.“Sudah pagi,” kata Elara lirih. Ia mengusap wajahnya, mencob
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: Bab 49 Dia Membencimu Sejak Hari Pertama Kamu LahirGiovanni Morreti berdiri di aula utama saat matahari sudah naik sepenuhnya. Cahaya pagi menerobos jendela-jendela tinggi, jatuh ke lantai marmer yang masih menyisakan noda gelap. Bau darah belum sepenuhnya hilang meski para anak buah bekerja tanpa henti sejak fajar. Ember-ember air diganti berkali-kali. Kain pel dibuang lalu diganti lagi. Namun ada hal-hal yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan air.Giovanni menunduk, memperhatikan satu tubuh yang belum sempat diangkut keluar.Mayat itu tergeletak miring, wajahnya hancur oleh tembakan jarak dekat. Di dadanya, jaket hitamnya terbuka, memperlihatkan sebuah emblem kecil yang dijahit rapi di bagian dalam. Giovanni berlutut perlahan. Tangannya yang sudah terlalu sering memegang kematian kini bergerak dengan hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh.Ia mengenali lambang itu dalam satu tarikan napas. Seekor serigala hitam dengan mata merah, dikelilingi lingkaran tipis berwarna perak.Giovanni menutup mata. Ia kini tahu siapa penyeran
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: Bab 48 Ia Memiliki Segalanya Kecuali Hati Perempuan yang Ia CintaiGiovanni Morreti berjalan menyusuri lorong panjang kediamannya sendirian. Langkahnya mantap, namun di dalam dadanya ada sesuatu yang retak, sesuatu yang tidak pernah benar-benar sembuh meski puluhan tahun telah berlalu. Lorong itu dipenuhi lukisan-lukisan leluhur Morreti, wajah-wajah pria yang membangun kekuasaan dengan darah dan perjanjian kotor. Biasanya, pemandangan itu memberinya rasa tenang tapi hari ini tidak.Hari ini, setiap wajah seolah menatapnya dengan tuduhan dalam diam.Giovanni masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu rapat-rapat. Ia melepas mantel, menggantungnya sembarang, lalu berdiri lama di depan jendela besar yang menghadap taman belakang. Suasana tampak mendung. Namun, masih ada sedikit sinar matahari di atas rumput yang basah oleh darah dan belum sempat dibersihkan sepenuhnya. Ia menuang minuman keras ke dalam gelas kristal. Tangannya tidak gemetar tapi ketika cairan itu menyentuh bibirnya, rasa pahit langsung mengembalikannya pada masa lalu yang selama ini ia
Last Updated: 2026-01-05