Chapter: Bab 120 Lucas Tidak Akan Tinggal DiamMalam di Firenze terasa lebih dingin dari biasanya. Angin berhembus pelan di antara bangunan-bangunan tua, membawa suasana sunyi yang aneh, seolah kota itu ikut menahan napas setelah kekacauan yang terjadi.Di sebuah apartemen sederhana di sisi lain kota, Matteo berdiri di depan jendela dengan ponsel masih berada di tangannya. Layar ponsel itu menampilkan foto yang baru saja dikirim seseorang.Foto lokasi proyek Lucas yang hancur. Beton runtuh, rangka baja terlipat, garis polisi membentang, dan lampu darurat menyala di tengah puing-puing.Matteo tidak bergerak. Rahangnya mengeras, matanya menatap layar tanpa berkedip. Ia baru saja menerima kabar itu beberapa menit lalu. Awalnya ia mengira itu hanya kecelakaan biasa. Namun semakin banyak informasi yang masuk, semakin jelas bahwa ini bukan kebetulan. Dua proyek meledak dalam waktu hampir bersamaan.Matteo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia mengenal dunia ini cukup lama untuk tahu bahwa kejadian seperti itu bukan sekadar nasib buruk. Se
Last Updated: 2026-03-20
Chapter: Bab 119 Aku Bisa Menghancurkanmu Kapan SajaLampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di atas jalanan batu yang masih menyimpan sisa kehangatan siang tadi. Kota itu tetap terlihat hidup, orang-orang berjalan, kendaraan melintas, tawa terdengar dari kafe-kafe kecil. Namun di salah satu sudut kota yang lebih sepi, Lucas berdiri sendirian. Ia berada di lokasi proyeknya atau lebih tepatnya, bekas proyeknya.Puing-puing bangunan masih berserakan di mana-mana. Rangka baja yang bengkok, beton yang retak, dan bekas hangus dari ledakan terlihat jelas di beberapa titik.Garis polisi membentang di sekitar area itu. Beberapa lampu sorot dinyalakan untuk menerangi lokasi. Namun suasana tetap terasa kelam.Lucas berdiri di balik garis pembatas. Matanya menatap lurus ke arah kehancuran yang dulunya adalah harapan terbesarnya. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Namun bukan hanya proyek itu yang memenuhi pikirannya.Langkah kaki terdengar dari belakang. Namun Lucas tidak menoleh. Ia sudah tahu. Hanya ada satu orang y
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: Bab 118 Dia Salah PahamCahaya keemasan perlahan memudar, digantikan oleh bayangan panjang yang jatuh di sepanjang jalanan batu. Kota itu tetap terlihat indah seperti biasa, namun bagi Lucas, semuanya terasa seperti runtuh bersamaan dengan dua proyeknya.Debu dari lokasi konstruksi masih menempel di pakaiannya. Kemeja putihnya kini kusut dan kotor. Wajahnya terlihat lelah, matanya merah karena kurang tidur dan tekanan yang terlalu berat dalam waktu singkat. Namun ia tidak pulang. Ia tidak berhenti. Ia hanya memiliki satu tujuan yaitu menemui Damian.Lucas berdiri di depan gedung tinggi dengan fasad kaca yang berkilau. Gedung itu tampak megah, jauh berbeda dengan lokasi proyeknya yang kini berubah menjadi puing-puing.Ia tahu Damian ada di dalam. Ia tidak perlu memastikan lagi. Tangannya mengepal kuat sebelum akhirnya melangkah masuk. Langkahnya cepat. Penuh amarah yang nyaris tak terkendali.Resepsionis sempat mencoba menghentikannya."Maaf, Anda—""Aku tidak punya waktu." Nada suara Lucas dingin dan tajam.
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: Bab 117 Ada Api Dimana-manaLangit di atas Firenze tampak cerah, nyaris tanpa awan. Cahaya matahari memantul dari rangka baja bangunan yang sedang dibangun, membuat area konstruksi itu tampak sibuk dan penuh kehidupan. Meski tidak seperti sebelumnya. Derek besar berputar perlahan. Para pekerja berjalan ke sana kemari membawa peralatan. Beberapa teknisi berdiri di dekat panel listrik sementara mandor mengawasi pekerjaan dari kejauhan.Semua terlihat seperti hari kerja biasa. Namun bagi Lucas, tidak ada yang terasa biasa lagi sejak pagi tadi. Ia berdiri di pinggir area proyek dengan ponsel di tangan. Wajahnya terlihat jauh lebih tegang dibandingkan beberapa hari sebelumnya.Percakapannya dengan Elara di toko bunga tadi masih terngiang di kepalanya. Ia berhasil menghentikan kesepakatan itu. Namun entah kenapa, perasaannya tidak benar-benar tenang.Andre berdiri di sampingnya sambil memegang tablet berisi laporan proyek. "Kita masih punya waktu untuk menyelamatkan ini," kata Andre mencoba terdengar optimis.Lucas m
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 116 Proses DimulaiUdara pagi di Firenze masih terasa dingin ketika Damian keluar dari toko bunga itu.Pintu kayu kecil di belakangnya tertutup pelan, lonceng di atasnya berdentang lembut sebelum akhirnya kembali sunyi.Damian tidak langsung berjalan menuju mobilnya. Ia berhenti beberapa langkah dari pintu, lalu menatap sebentar jendela toko yang dipenuhi bunga-bunga segar.Dari luar, tempat itu terlihat hangat dan tenang. Seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi di dalamnya. Namun Damian tahu persis apa yang baru saja berubah. Lucas, pria itu datang dengan penuh emosi, penuh keyakinan, dan dengan keberanian yang menurutnya cukup menarik.Damian berjalan perlahan menuju pohon tua yang berdiri di sisi jalan kecil itu. Pohon itu sudah sangat tua, batangnya besar dengan kulit kayu yang kasar. Daunnya yang lebat menciptakan bayangan panjang di trotoar batu.Di sanalah Damian berhenti. Ia memasukkan satu tangan ke dalam saku jasnya, sementara tangan yang lain mengambil kotak cerutu kecil dari sakunya.
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: Bab 115 Aku Menolak Semua KesepakatanmuPagi di Firenze terasa cerah, tetapi udara masih menyimpan sisa dingin dari hujan semalam. Jalanan batu di depan toko bunga Elara tampak berkilau terkena cahaya matahari yang baru muncul di antara bangunan-bangunan tua. Beberapa orang berjalan santai melewati jalan kecil itu. Turis berhenti sebentar untuk mengambil foto etalase toko yang dipenuhi bunga segar berwarna-warni. Namun di dalam toko bunga itu, suasana terasa jauh lebih tegang. Elara berdiri di dekat meja kasir, berhadapan dengan Damian. Pria itu tampak sama seperti biasanya, tenang, rapi, dan sepenuhnya menguasai situasi. Jas hitamnya terlihat sempurna tanpa satu lipatan pun, sementara tatapannya yang dingin tertuju pada Elara. Di meja di antara mereka terletak beberapa lembar dokumen. Damian baru saja selesai menjelaskan sesuatu. "Kontrak ini hanya formalitas," katanya dengan nada tenang. "Tidak perlu sesuatu yang besar. Pernikahan sederhana sudah cukup." Elara menatap dokumen itu tanpa menyentuhnya. Jantungnya berde
Last Updated: 2026-03-15
Dosa Beraroma Oud
Di tengah kegelapan kamar beraroma oud, Amira pasrah ditaklukkan oleh gairah memabukkan yang merenggut sisa kepolosannya. Ia mengira, setelah lima tahun pernikahan yang hambar, sang suami akhirnya menyentuhnya layaknya seorang wanita seutuhnya.
Namun, saat sarapan keluarga di pagi hari, mimpi indah itu berubah menjadi mimpi buruk yang menyesakkan.
Pria yang semalam merengkuhnya kini duduk di ujung meja. Bukan suaminya. Melainkan Malik Al-Fayed, sang kakak ipar yang merupakan penguasa gelap klan tersebut.
Jantung Amira nyaris berhenti saat Malik menatapnya, dengan sengaja memamerkan jejak cakaran dan gigitan kemerahan di lehernya. Seringai mematikan di bibir pria itu menyuarakan satu ancaman tanpa suara.
"Kamu tak bisa kembali pada suamimu, karena kamu milikku sekarang."
Read
Chapter: Bab 24 Kamu Pengecut, ZyanTiga hari berlalu sejak pertemuan menjengkelkan di ruang rapat dewan klan dan dalam tiga hari itu pula, dunia bawah tanah Lebanon menyaksikan bagaimana murka seorang Malik Al-Fayed terwujud dalam bentuk abu dan kehancuran finansial.Di dalam ruang kerja pribadinya yang kedap suara, Zayn duduk bersandar di kursi kulitnya, menatap layar televisi datar di dinding dengan tatapan kosong bercampur ngeri. Saluran berita internasional menyiarkan gambar langsung dari pesisir Laut Hitam. Kepulan asap tebal membubung ke langit malam Odessa, Ukraina. Tiga gudang logistik terbesar milik keluarga Madame Soraya rata dengan tanah akibat ledakan beruntun yang secara resmi disebut polisi lokal sebagai "kebocoran gas industri".Namun, semua orang di lingkaran dunia bawah tahu kebenarannya. Itu adalah eksekusi terencana. Kargo senjata selundupan bernilai jutaan dolar hangus tak bersisa. Saham perusahaan cangkang keluarga Soraya anjlok hingga titik nadir dalam hitungan jam. Keluarga itu bangkrut seketika
Last Updated: 2026-04-02
Chapter: Bab 23 Aku Akan Mencabut Taring Mereka Satu PersatuSinar matahari telah lama tenggelam di ufuk Mediterania saat Amira perlahan membuka matanya. Kamar tidur utama itu hanya diterangi oleh lampu temaram di nakas. Hal pertama yang menyerbu indranya adalah aroma oud yang maskulin, pekat, dan mendominasi, aroma yang kini secara aneh memberikan efek menenangkan bagi sistem sarafnya yang sempat hancur.Amira mengerjapkan mata, berusaha memfokuskan pandangan. Di kursi berlengan kulit di sudut ruangan, duduklah sang Iblis Beirut. Malik telah melepas kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang dihiasi beberapa bekas luka lama, bukti nyata bahwa tahta yang dia duduki dibangun di atas pertumpahan darah. Pria itu tengah memutar gelas kristal berisi bourbon di tangannya, menatap Amira dengan intensitas yang seolah bisa menembus hingga ke dasar jiwanya.Melihat Amira tersadar, Malik meletakkan gelasnya dan melangkah mendekat. Ranjang king-size itu sedikit melesak saat Malik duduk di tepinya."Kamu tidur cukup lama, Habibti," suara bariton Malik
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Bab 22 Mereka Mencoba Merampas TempatmuAroma oud yang pekat, maskulin, dan sarat akan dominasi menguar dari tubuh Malik, memenuhi ruang pertemuan utama klan Al-Fayed. Ruangan berdinding kayu mahoni gelap itu biasanya hanya menjadi saksi bisu pertumpahan darah dan negosiasi senjata. Namun siang ini, udara terasa sangat pengap oleh intrik picikan yang membuat rahang Malik mengeras.Di ujung meja bundar berukir, para tetua dewan, Bashir, Yusuf, dan Hamza duduk dengan wajah berkerut serius. Di seberang Malik, duduklah dua tamu yang kehadirannya di ruang sakral ini saja sudah membuat darah sang Capo mendidih. Ada Madame Soraya dan putrinya yang didandani bak boneka porselen, Layla.Dan yang paling menyebalkan dari semuanya adalah sosok Bibi Najwa yang duduk di samping Paman Bashir. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun kerah tinggi bergaya Victoria, sengaja menutupi memar ungu bekas cengkeraman Malik di lehernya dengan senyum licik yang memuakkan terukir di bibir merahnya."Aliansi ini adalah langkah paling logis untuk klan
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Bab 21 Mereka Tidak Akan MempercayainyaNajwa Al-Fayed melangkah menyusuri lorong remang-remang di sebuah vila kuno di pinggiran Baabda. Ini adalah tempat pertemuan rahasia para Consigliere tua, tiga pria yang telah mengabdi pada klan Al-Fayed sejak zaman kakek Malik masih menyelundupkan emas di pelabuhan. Mereka adalah penjaga tradisi, hakim moral, dan pemegang kunci restu dewan klan.Dengan leher yang dibalut syal sutra tebal untuk menyembunyikan memar keunguan bekas cengkeraman Malik, Najwa duduk di hadapan mereka. Napasnya masih terasa berat, namun dendam di dadanya jauh lebih menyesakkan."Paman Bashir, Paman Yusuf, Paman Hamza," suara Najwa bergetar, sengaja dibuat sedramatis mungkin. "Aku datang membawa aib yang akan menghancurkan fondasi klan kita jika tidak segera dihentikan."Bashir, pria tertua dengan janggut putih panjang dan mata yang sudah mulai keruh, menyesap kopi pekatnya perlahan. "Bicara namamu dengan tenang, Najwa. Apa yang membuatmu begitu gemetar?""Malik," desis Najwa. "Keponakan kita yang agung itu,
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Bab 20 Kamu Akan Membiarkan Istrimu Dipakai Oleh KakamuLobi utama gedung klan Al-Fayed di pusat kota Beirut biasanya merupakan tempat yang tenang, simbol kemegahan dan otoritas. Namun, ketenangan itu pecah saat Bibi Najwa berlari masuk dengan napas tersengal. Riasan wajahnya yang mahal kini luntur bercampur air mata dan keringat, kalung mutiaranya yang bernilai ribuan dolar telah hilang separuh, meninggalkan lehernya yang memar kemerahan. "Tuan Zayn! Di mana Tuan Zayn?!" teriaknya histeris pada para penjaga yang kebingungan. Tanpa menunggu jawaban, ia menerjang masuk ke dalam lift pribadi menuju lantai kantor eksekutif. Sepanjang perjalanan di dalam lift, tangan Najwa gemetar hebat. Bayangan mata Malik yang hitam dan dingin, mata seorang pembunuh yang tak memiliki nurani, terus menghantuinya. Ia merasa seolah tangan besar keponakannya itu masih melingkar erat di tenggorokannya, merenggut nyawanya inci demi inci. Pintu kantor Zayn terbuka dengan dentuman keras saat Najwa menabraknya. Zayn, yang sedang duduk lesu di balik meja kerjany
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Bab 19 Aku Selalu Tahu, Kamu itu Wanita RendahanSinar matahari sore menembus kaca antipeluru penthouse Apex Tower, memantulkan warna keemasan di atas lantai marmer. Amira berdiri di dekat meja dapur island, mencengkeram tepian marmer itu dengan buku-buku jari memutih. Kepalanya berdenyut hebat, dan perutnya melilit perih.Sejak pusaran konflik ini dimulai dari rumah sakit, pelarian, hingga terkurung di menara gading Malik, selera makan Amira hancur lebur. Lambungnya yang kosong kini memprotes keras, diperparah oleh kecemasan yang terus menggerogoti kewarasannya.Di saat ia memejamkan mata mencoba menenangkan napasnya, denting halus lift pribadi terdengar memecah keheningan. Amira mengernyit. Ini terlalu cepat untuk kepulangan Malik dari Tripoli.Namun, alih-alih langkah kaki berat dan maskulin milik sang Capo, yang terdengar adalah ketukan nyaring sepatu hak tinggi beradu dengan lantai marmer, disusul oleh suara lengkingan wanita paruh baya yang sangat familiar dan selalu membawa teror psikologis bagi Amira."Minggir, bodoh! Kamu
Last Updated: 2026-03-28

Belenggu Cinta Sang Don Juan
Alessia Ardelia tak pernah menyangka, hidup yang sederhana dan penuh luka justru membawanya ke dalam dunia yang paling ditakutinya, dunia mafia.
Hanya dalam satu malam, ia dipaksa mengenakan gaun pengantin, dinikahkan dengan pria asing yang bahkan namanya baru ia dengar.
Pria itu adalah Drazhan Alvaro. Don muda yang namanya digemakan dengan rasa gentar, pewaris kerajaan mafia yang dingin, kejam, dan tak pernah gagal menundukkan lawan.
Namun pernikahan itu bukanlah tentang cinta.
Bagi Drazhan, itu hanyalah formalitas, sekadar jalan untuk mengamankan kekuasaan dan mempertahankan posisinya. Sementara di balik semua itu, ada seorang wanita lain, Seraphine Morelli yang menjadi alasan sesungguhnya mengapa ia rela menyeret Alessia ke dalam ikatan pernikahan tanpa hati.
Bagi Alessia, pernikahan itu adalah belenggu. Sebuah penjara tanpa jeruji, di mana setiap tatapan tajam sang Don adalah ancaman sekaligus misteri. Ia ingin bebas, tapi semakin ia berusaha menjauh, semakin kuat ikatan takdir menariknya kembali pada pria itu.
Dalam pusaran pengkhianatan, darah, dan cinta yang terlarang, bisakah Alessia menemukan jalannya? Ataukah ia akan selamanya terperangkap dalam belenggu cinta sang Don Juan? cinta yang bisa menghancurkan, atau justru menyelamatkan?
Read
Chapter: Bab 188 Hanya HidupFajar perlahan muncul di ufuk timur. Langit yang tadinya hitam mulai berubah menjadi abu-abu pucat, lalu perlahan diwarnai semburat jingga yang lembut. Cahaya pertama pagi itu jatuh di halaman markas yang porak-poranda.Bekas ledakan masih terlihat di dinding. Kendaraan rusak terparkir miring di beberapa sudut. Tubuh-tubuh yang semalam tergeletak kini telah dipindahkan oleh anak buah Alexei.Perang telah selesai. Namun jejaknya masih terasa di udara.Alexei berdiri di balkon lantai dua markas. Tangannya bertumpu pada pagar besi dingin, matanya menatap jauh ke arah langit yang mulai terang. Ia tidak tidur semalam. Di bawah sana, beberapa orang masih bergerak membersihkan halaman.Langkah kaki terdengar di belakangnya. Viktor muncul sambil membawa dua cangkir kopi. “Seharusnya kamu tidur,” katanya santai.Alexei tidak menoleh. “Tidak bisa.”Viktor berdiri di sampingnya dan menyerahkan salah satu cangkir. “Aku juga tidak.”Beberapa detik mereka hanya berdiri diam, menatap matahari yang p
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 187 Apa Rencamu Sekarang?Angin malam berhembus pelan, membawa bau mesiu dan darah yang masih segar di udara. Lampu sorot kendaraan masih menyala, memantulkan bayangan panjang dari tubuh-tubuh yang tergeletak di tanah.Alexei tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam pistol, tetapi larasnya kini mengarah ke tanah. Kata-kata Mikhail masih menggema di kepalanya.Perintah untuk menyerang malam itu… memang datang dari ayahmu.Drazhan menatap Mikhail tajam.“Apa kamu yakin dengan yang kamu lihat?”Mikhail mengangguk perlahan. “Ada rekaman transaksi, pesan terenkripsi, bahkan perintah operasi. Semuanya memakai kode militer keluarga Vorstikrov.” Ia menelan ludah. “Dan tanda tangannya milik ayahmu.”Udara terasa semakin berat.Viktor berjalan keluar dari balik kendaraan rusak. Pistolnya masih di tangannya, tetapi ia tidak lagi menembak. Matanya bergantian menatap Alexei dan Makarov. “Jadi semua ini,” gumamnya pelan, “benar-benar perang keluarga dari awal.”Makarov menghela napas panjang, seolah ia sudah menunggu mom
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 186 Kali Saja Ini JebakanTembakan masih terdengar di berbagai sudut halaman. Namun di tengah kekacauan itu, waktu terasa seperti melambat.Alexei dan Makarov berdiri saling berhadapan. Peluru melintas di udara, orang-orang berlari mencari perlindungan, jeritan dan perintah saling bersahutan, tetapi di antara dua pria itu, seolah dunia menjadi sunyi.Alexei tidak menurunkan pistolnya. Ujung larasnya tetap mengarah tepat ke dada Makarov.Angin malam menggerakkan mantel hitam pria itu perlahan..Makarov terlihat terlalu santai untuk seseorang yang sedang berdiri di tengah pertempuran. “Lihat sekelilingmu,” katanya pelan.Tatapannya bergerak ke arah halaman yang dipenuhi mayat dan kendaraan rusak.“Berapa banyak orang yang harus mati hanya karena kesalahan ayahmu?”Alexei tidak bereaksi. Namun rahangnya menegang sedikit.Di belakangnya, Drazhan melangkah keluar dari bayangan koridor. Pistolnya sudah terangkat. Langsung mengarah ke kepala Makarov.Suara Drazhan rendah. “Satu langkah lagi dan aku akan menembak.”Ma
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 185 Yang Sebenarnya Terjadi Malam ItuPintu terbuka dengan suara keras. Udara di koridor langsung dipenuhi bau mesiu dan debu beton.Suara tembakan bergema dari berbagai arah. Tapi Alexei melangkah keluar tanpa ragu.Beberapa anak buahnya yang berjaga di lorong langsung menoleh ketika melihatnya. “Tuan!” Namun Alexei hanya mengangkat tangannya sedikit. Isyarat singkat, untuk tetap di posisi. Ia berjalan melewati mereka dengan langkah tenang. Dari komunikator di telinganya, suara Viktor masih terdengar di tengah kekacauan. “Bagian depan mulai panas!” Suara tembakan terdengar di latar belakang. “Kita sudah menjatuhkan beberapa orang mereka, tapi jumlahnya tidak sedikit!”Drazhan menimpali dengan suara lebih stabil. “Mereka mencoba menembus pagar luar.”Alexei menjawab singkat. “Biarkan mereka sibuk di sana.” Ia berbelok ke koridor belakang. Lampu darurat merah menyala redup di sepanjang lorong. Alexei berjalan semakin cepat dan Mikhail berlari mengejarnya dari belakang.“Kalau mereka berhasil masuk ke ruang inti, semua da
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 184 Sudah Waktunya Makarov MelihatkuTidak ada yang berbicara selama beberapa detik. Namun seluruh ruangan berubah seperti medan perang yang menunggu peluru pertama ditembakkan.Alexei berjalan mendekati laptop. Langkahnya tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Buka pesannya.”Mikhail menelan ludah pelan lalu menekan beberapa tombol. Sebuah jendela kecil muncul di layar. Tidak ada file. Tidak ada dokumen.Hanya satu pesan teks sederhana.Aku akhirnya menemukanmu, Alexei.Udara di ruangan terasa semakin dingin.Viktor mendengus pelan. “Dia bahkan tidak mencoba bersembunyi.”Drazhan menatap layar dengan mata menyipit. “Dia tidak perlu.”Graf berdiri diam di belakang mereka. Namun sorot matanya berubah menjadi sangat tajam. “Ini bukan pesan.”Semua orang menoleh padanya.Graf berkata pelan. “Ini pernyataan perang.”Seolah menunggu kata-kata itu selesai diucapkan, lampu di ruangan tiba-tiba berkedip.Sekali, dua kali, lalu padam.Suasana langsung berubah menjadi gelap. Alarm keamanan berbunyi nyaring di seluruh b
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: Bab 183 Seseorang Sedang Meretad Sistem KitaTidak ada yang langsung menjawab setelah kata-kata Alexei. Namun suasana di ruangan itu berubah drastis.Jika sebelumnya mereka berdiri dalam kebingungan, sekarang mereka sadaran bahwa mereka sedang berdiri di ambang perang yang sesungguhnya.Viktor menggosok wajahnya perlahan. “Baiklah,” gumamnya akhirnya. “Jadi mari kita rangkum semuanya sebelum kepalaku benar-benar meledak.” Ia menunjuk meja. “Kita baru saja mengetahui bahwa keluarga Vorstikrov hampir dimusnahkan bertahun-tahun lalu.” Lalu ia menunjuk Graf. “Pria tua ini ternyata tidak mati.” Kemudian ia menatap Alexei dan Alessia. “Dan kalian berdua adalah pewaris yang seharusnya sudah mati sejak lama.” Ia berhenti sebentar. Kemudian menambahkan dengan nada datar. “Dan sekarang orang yang mencoba membunuh kalian masih hidup, sangat berkuasa, dan mungkin sudah tahu kalian ada di sini.” Viktor menghela napas panjang. “Bagus. Sangat bagus.”Mikhail menyilangkan tangan di dadanya. “Masalah utamanya bukan hanya itu.” Tatapannya berpind
Last Updated: 2026-03-15