LOGINDamian Morreti. Pewaris kerajaan mafia yang membangun kekuasaan dari darah dan dosa. Pria kejam, dingin, dan mematikan itu datang lagi ke kehidupan damai Elara, tidak untuk bernostalgia. Dia datang untuk menuntut yang dulu sempat hilang. Tatapan pria itu masih sama, terlalu dalam untuk disebut benci dan terlalu berbahaya untuk disebut cinta Elara miliknya dan selamanya akan terus menjadi miliknya, Damian tak peduli bagaimana pun caranya, meski harus dengan pemaksaan, Elara harus hidup dibawah kekuasaannya.
View MoreCahaya lampu toko bunga itu menembus kaca jernih, memantul pada kelopak mawar merah yang baru saja disiram. Aroma lembutnya memenuhi udara, bercampur dengan wangi hujan yang masih menetes di luar. Elara menunduk, mengatur satu per satu batang bunga dengan hati-hati seolah dengan begitu ia bisa menjaga hatinya tetap tenang.
Hari-hari terakhir terasa damai. Tak ada mimpi buruk. Tak ada bayangan masa lalu. Setidaknya, itu yang ia kira. Suara bel kecil di atas pintu berbunyi. Langkah sepatu kulit menjejak lantai marmer. Lembut, namun berat, seolah setiap hentakan membawa ancaman. Hatinya berdetak tak wajar. Ia tahu suara itu. Ia tahu langkah itu. Tidak. Tidak mungkin. “Elara.” Satu kata cukup untuk menghancurkan semua ketenangan yang ia bangun selama tiga tahun terakhir. Suara bariton yang dalam, sedikit serak, tetapi berwibawa. Suara yang dulu pernah memanggil namanya dengan lembut di lorong rumah keluarga mereka. Suara yang sama yang kemudian mengutuknya dengan dingin sebelum menghilang tanpa jejak. Elara perlahan memberanikan diri untuk menatap dan di sana, di ambang pintu toko bunga mungilnya, berdiri pria yang dulu pernah menjadi kakak tirinya. Damian Morreti. Setelan hitam membungkus tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai yang jatuh di dahi. Mata kelam itu menatapnya tanpa senyum, tanpa ragu. Tatapan yang dulu membuatnya merasa aman, kini membuatnya gemetar. “Kamu? apa yang kamu lakukan di sini?” suara Elara bergetar, hampir tak terdengar. Sudut bibir Damian terangkat tipis, tapi itu bukan senyum. Itu peringatan. “Aku hanya mengambil kembali apa yang dulu seharusnya tidak kubiarkan pergi.” Elara mundur selangkah. “Kamu salah tempat. Hidupku bukan urusanmu lagi.” Damian melangkah mendekat, langkahnya terukur, terencana. Jarak di antara mereka menyusut cepat. “Sayangnya, kamu selalu menjadi urusanku, Elara.” Ia berhenti tepat di depan meja kayu, menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Elara tercekat. “Aku mencarimu ke seluruh Eropa dan sekarang kamu di sini, berpura-pura jadi gadis biasa?” “Pergi!” Suaranya tegas, tapi tangannya gemetar. “Kamu pikir aku datang sejauh ini hanya untuk pergi?” Damian mencondongkan tubuhnya, suaranya nyaris seperti bisikan yang membakar udara di antara mereka. “Kamu milikku. Sejak dulu, dan sampai kapan pun.” Elara menatapnya dengan mata yang mulai berkaca. Ia tahu, Damian bukan pria yang bisa dibujuk dengan kata-kata. Dia adalah badai yang menuntut, menghancurkan, dan memiliki. Hari ini, badai itu kembali. Mengguncang seluruh ketenangan Elara. Elara menatap pria itu dalam diam. Semua yang ada di depannya terasa seperti mimpi buruk yang dulu pernah ia coba kubur dalam-dalam. Namun, seperti bunga yang tumbuh di antara reruntuhan, kenangan itu muncul lagi, pelan, menyakitkan, dan indah pada saat yang sama. Dulu, rumah keluarga Morreti selalu dingin. Dindingnya tebal, marmer putihnya berkilau, tapi tak pernah ada kehangatan di dalamnya. Elara masih ingat hari pertama ia datang ke sana. Ia baru berusia enam belas tahun, berdiri di ambang pintu besar itu bersama ibunya yang baru saja menikah dengan ayah Damian. Semua orang menatapnya dengan dingin. Semua, kecuali satu orang. Damian. Saat itu, pria itu baru berusia dua puluh dua tahun, tinggi, berwibawa, dan nyaris tak tersentuh. Ia berjalan menghampiri Elara tanpa ekspresi, menatap gadis itu yang menunduk gugup sambil menggenggam koper kecil. “Selamat datang,” katanya datar. Namun entah mengapa, suara itu menenangkan. Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Damian jarang bicara, lebih sering berada di ruang kerjanya atau keluar malam tanpa penjelasan tapi setiap kali Elara ketakutan karena petir, atau kesepian di rumah yang sunyi itu, langkah Damian selalu datang. Dia mengetuk pintu kamar Elara tanpa bicara, menyalakan lampu kecil, lalu duduk di kursi dekat ranjang sampai Elara tertidur. Dia tak pernah menjelaskan apa pun dan Elara tak pernah berani bertanya. Namun malam demi malam, rasa takutnya berganti dengan sesuatu yang lain. Sebuah perasaan yang ia tahu terlarang, tapi tumbuh semakin dalam. Damian berbeda. Dia tak pernah tersenyum, tapi Elara tahu ada luka yang tak pernah sembuh di balik matanya. Kadang, di balkon rumah besar itu, Damian berdiri sendirian dengan segelas anggur, menatap jauh ke kota. Elara selalu datang diam-diam, berdiri di sebelahnya tanpa suara. “Kenapa kamu selalu di sini?” tanya Damian suatu malam, tanpa menoleh. “Karena kamu sendirian,” jawab Elara pelan. Damian hanya tertawa kecil. Tawa yang nyaris tak terdengar, tapi menusuk. “Sendirian itu pilihan, Elara. Jangan pernah dekat dengan seseorang yang memilih kesepian karena mereka akan menelanmu bersamanya.” Elara tidak mengerti saat itu. Ia hanya tahu, jantungnya berdetak terlalu cepat setiap kali Damian menatapnya lebih lama dari seharusnya. Dan suatu malam, ketika badai mengguncang kota, Elara berlari ke ruang Damian dengan tubuh gemetar karena suara petir. Ia mengetuk pintu berulang kali. Damian membuka, mengenakan kemeja hitam separuh basah, rambutnya acak, wajahnya lelah. “Aku takut,” lirih Elara. Pria itu menatapnya lama, terlalu lama. Lalu tanpa sepatah kata pun, ia menarik Elara masuk, menutup pintu, dan membiarkannya duduk di sofa kulit dekat perapian. Ia duduk di seberang, menatap api yang menari di antara mereka. Tak ada yang bicara tapi malam itu, batas antara adik tiri dan sesuatu yang lebih dari itu mulai kabur. Kini, berdiri di hadapan Damian yang sama, namun lebih dingin, lebih berbahaya. Elara sadar, mungkin sejak malam itu segalanya sudah salah. Ia mencintai pria yang tak seharusnya ia cintai dan kini pria itu kembali, bukan untuk mengenang, tapi untuk menuntut apa yang dulu mereka langgar bersama. “Elara,” suara Damian memecah lamunannya, rendah dan bergetar. “Kamu ingat, bukan? Aku sudah memperingatkanmu dulu, bahwa aku tak tahu caranya melepaskan.” Elara menelan ludah. Tatapan itu sama seperti dulu. Hanya saja kini lebih gelap, seperti jurang yang siap menelannya bulat-bulat. “Dan kali ini,” Damian berbisik, suaranya serak namun tegas, “aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”Handuk masih melingkari pinggangnya ketika Damian melangkah keluar kamar mandi. Tatapannya langsung tertuju ke ranjang tapi ranjang itu kosong, tidak ada Elara di sana. "Elara," panggilnya pelan. Ia melihat sekeliling kamar lalu menatap kursi cukup lama. Ia mengingat jelas setiap detail di kamar Elara. Jaket yang ada di sandaran kursi menghilang. “ELARA!”Damian bergerak cepat, menyibak tirai, membuka pintu kamar mandi, kamar ganti, tidak ada. Tidak ada jejak selain kehampaan yang menampar wajahnya dengan kejam.Ia meraih ponsel dan memerintahkan seluruh anak buah Morreti untuk berkumpul di aula sekarang juga.Dalam hitungan menit, para penjaga berkumpul. Beberapa masih mengenakan sarung tangan pembersih. Beberapa lain terlihat kebingungan, belum sepenuhnya sadar apa yang terjadi. Damian berdiri di tengah ruangan seperti badai yang ditahan paksa, rahangnya mengeras, mata gelapnya membara.“Elara pergi,” ucapnya pelan.Tidak ada yang menjawab.“AKU BERTANYA,” lanjut Damian, kini suara
"Jangan pergi kemana pun, tetap duduk di tempat tidurmu!" Damian memberikan perintah sebelum masuk kamar mandi. Elara tidak menjawab, ia memilih untuk memalingkan wajahnya. Tak lama, terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Elara melirik sekilas lalu menunggu sampai suara air mengalir dari kamar mandi terdengar jelas dan stabil. Bukan suara biasa, itu adalah satu-satunya celah. Ia berdiri dan berjalan pelan-pelan, jantungnya berdegup terlalu keras sampai rasanya Damian bisa mendengarnya menembus dinding. Tangannya gemetar saat meraih jaket tipis di sandaran kursi, tidak ada tas, tidak ada sepatu yang pantas, dan tidak ada rencana selain satu kata yang terus berdentum di kepalanya. Pergi sekarang!. Hanya itu dan ia kali ini harus nekad. Ia membuka pintu kamar perlahan. Engselnya nyaris tidak bersuara. Lorong di luar tampak lengang, namun udara masih membawa aroma logam dan pembersih keras tanda rumah ini baru saja selamat dari pertumpahan darah. Beberapa penjaga terlihat di ujun
Elara berdiri terlalu lama di bawah pancuran, membiarkan air hangat jatuh ke kulitnya tanpa benar-benar merasakan hangat itu. Yang ia rasakan justru tekanan, seperti ada tangan tak kasatmata menahan dadanya, membuat napasnya pendek dan tidak utuh. Dinding kamar mandi terasa lebih sempit dari biasanya. Bahkan uap air pun seolah ikut mengawasinya.Di luar sana, Damian menunggu.Bukan sekadar menunggu. Ia tahu pria itu mendengar segalanya. Setiap gesekan kaki di lantai, setiap tarikan napas yang terlalu lama, setiap botol sabun yang terjatuh. Kesadaran itu membuat Elara mempercepat gerakannya, bukan karena takut pada bahaya di luar, melainkan karena takut pada kehadiran yang terlalu dekat, terlalu mengikat.Saat ia keluar dengan rambut masih basah dan handuk melilit tubuhnya, Damian sudah berdiri di depan pintu. Posisi tubuhnya santai, namun matanya bergerak cepat, menilai, memastikan. Elara tahu tatapan itu. Tatapan penjaga sekaligus pemilik.“Kamu lama,” kata Damian.Elara tidak menjaw
Kamar itu kembali sunyi setelah fajar benar-benar menguasai langit Roma. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin pagi, cahaya lembut jatuh ke wajah Elara yang perlahan terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih berat, tubuhnya terasa pegal, seolah semalam ia berlari jauh tanpa henti.Hal pertama yang ia rasakan adalah kehadiran seseorang.Elara membuka mata perlahan dan menemukan Damian duduk di kursi dekat jendela. Pria itu tidak tertidur. Sama sekali tidak. Punggungnya tegak, lengan terlipat, wajahnya tenang namun mata gelapnya tertuju lurus ke arahnya, seolah dia berjaga sepanjang malam tanpa sekali pun lengah.“Kamu sudah bangun,” ucap Damian rendah.Nada suaranya tidak keras, tidak juga lembut tapi cukup membuat Elara menegakkan tubuhnya dengan refleks. Ingatan tentang malam sebelumnya kembali menghantamnya bertubi-tubi, ledakan, tembakan, darah, dan janji Damian yang diucapkan dengan suara dingin namun penuh kepastian.“Sudah pagi,” kata Elara lirih. Ia mengusap wajahnya, mencob
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.