author-banner
Ghazala Rizu
Ghazala Rizu
Author

Novels by Ghazala Rizu

Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka

Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka

Adelia mengira penderitaannya berakhir ketika hidupnya direnggut hutang dan pengkhianatan. Namun ia malah terlahir kembali sebagai Elara Sinclair, seorang putri dari istri ketiga raja Etheria. Sebuah negara fiksi yang samar-samar Adel ingat dari novel yang ia baca beberapa waktu sebelum ia mati. Elara ini ditakdirkan meninggal secara tragis di bab awal novel, sebagai pemicu dari segala konflik di novel itu. Tapi apa jadinya jika pemeran pembantu ini malah ingin bertahan hidup dan menghancurkan 'takdir' yang telah dituliskan oleh sang penulis?
Read
Chapter: Bab 20: Serpihan yang Tersisa
Seminggu setelah mimpi buruk itu, Lara mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Elara sebelumnya. Ia keluar dari kamarnya. Bukan keluar istana, hanya keluar kamar. Berjalan pelan menyusuri lorong sayap timur yang selama ini hanya ia kenal dari cerita Cornell. Langkahnya hati-hati, satu tangan sesekali menyentuh dinding batu yang dingin untuk memastikan keseimbangannya. Cornell mengikutinya dua langkah di belakang dengan ekspresi wanita yang sedang menahan diri untuk tidak memegang tangan tuannya. "Tuan yakin tidak mau ditemani lebih dekat?" "Cornell, aku jalan, bukan mendaki gunung." "Tapi Chakra tuan masih..." "Masih stabil." Lara menoleh sebentar, tersenyum. "Kael bilang begitu kemarin." Cornell menghela napas pasrah. "Baiklah." Lorong sayap timur ternyata lebih panjang dari yang Lara bayangkan. Di ujungnya ada sebuah taman kecil. Bukan taman besar yang megah seperti yang ia lihat dari jendela permaisuri, tapi taman sederhana dengan bangku batu di tengahnya dan
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Bab 19: Mimpi yang Bukan Miliknya
Lara tidak pernah meminta mimpi-mimpi itu datang. Mereka selalu muncul di waktu yang tidak terduga, kadang saat ia baru saja tertidur, kadang di tengah malam ketika angin Etheria sedang paling sunyi. Selalu dalam bentuk yang sama: potongan-potongan hidup Elara yang berhamburan seperti puzzle yang belum selesai disusun. Malam ini tidak berbeda. Elara kecil duduk di sudut ruangan, memeluk lutut. Di tangannya ada sebuah boneka kain kecil. Rambutnya dari benang hitam, bajunya dari kain sisa jahitan ibunya. Di depannya, dua orang berbicara dengan suara keras. Seorang wanita berambut emas yaitu Permaisuri , dan seorang wanita berambut hitam yang berdiri dengan punggung tegak meski tangannya gemetar. Cecilia. "Kau pikir aku tidak tahu?" suara permaisuri tajam seperti pecahan kaca. "Raja mengunjungimu lagi tadi malam. Apa yang kau lakukan sampai beliau betah berlama-lama di kamarmu?" "Yang mulia, beliau hanya..." "Diam." Satu kata itu jatuh seperti pukulan. "Aku tidak butuh
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: 18: Diam yang Berbicara
Tiga hari setelah kepulangan dari pasar, rutinitas Lara berubah sedikit. Bukan perubahan besar. Hanya beberapa hal kecil yang tanpa ia sadari mulai menjadi kebiasaan. Membuka jendela setiap pagi, minum obat Chakra sebelum sarapan tanpa perlu diingatkan Cornell, dan menunggu. Menunggu kunjungan Kael. Ia tidak mau mengakui itu, tentu saja. Kalau Cornell bertanya kenapa ia sudah rapi sejak pagi padahal tidak ada agenda apapun, ia akan menjawab bahwa ia hanya ingin berlatih merawat diri. Kalau Cornell bertanya kenapa ia selalu melirik ke arah pintu setiap kali ada suara langkah kaki di lorong, ia akan pura-pura sibuk dengan buku catatannya. Tapi kenyataannya, setiap kali pintu itu tidak diketuk oleh Kael, ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap masuk tanpa permisi. Lara tidak suka itu. Ia tidak suka bergantung pada siapapun. Ia benar-benar tidak suka. Bahkan di kehidupan pertamanya, ia sudah belajar dengan keras bahwa menunggu orang lain hanya akan berakhir dengan kekecewaan. Ay
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: BAB 17: Oleh-Oleh
Lara pulang dengan tiga hal di tangannya. Satu toples macaroon pasar, dua ikat bunga lavender kering, dan satu pita bordir biru muda. Kael pulang dengan keadaan pusing di kepalanyan Bukan karena lelah berjalan, bukan juga karena cuaca. Tapi karena sepanjang perjalanan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan satu hal kecil yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan sama sekali. Tawa Lara. Ya, pemirsa. Tawanya. Kael seribu persen yakin ada yang salah pada otaknya. Karena jika, jika otaknya dalam keadaan baik-baik saja, tawa gadis itu tidak mungkin terngiang-ngiang di otaknya seperti adegan video yang terulang secara otomatis. Begitu mereka tiba kembali di sayap timur istana, Cornell sudah berdiri di depan pintu kamar Lara dengan ekspresi campuran antara lega dan sedikit cemas. Wanita paruh baya itu langsung meneliti Lara dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti seorang ibu yang anaknya baru pulang terlambat. "Tuan putri baik-baik saja?" "Baik sekali, Cornell." Lara meny
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: bab 16: Pasar
Pagi itu Lara bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena mimpi buruk, bukan karena punggungnya sakit, dan bukan karena Cornell mengetuk pintunya. Tapi karena ia excited. Benar-benar excited sampai ia tidak bisa tidur lagi sejak subuh. Gadis itu duduk di tepi ranjangnya, memeluk lututnya sendiri sambil tersenyum kecil ke arah jendela. Di luar, langit Etheria masih berwarna jingga kemerahan. Pasar belum seramai siang, tapi Lara sudah bisa membayangkan suara riuhnya — teriakan pedagang, bau rempah yang menguar, warna-warna kain yang berjajar. Hari ini aku keluar istana, batin Lara. senyuman masih tersungging cerah di bibirnya. Rasanya tidak nyata. Cornell datang tepat saat matahari mulai naik, membawa gaun berwarna hijau sage yang sederhana, jauh lebih sederhana dari gaun-gaun Elara yang biasanya. Lara memintanya sendiri kemarin. Ia tidak mau tampil seperti putri yang sedang melancong ke pasar rakyat. Terlalu mencolok, terlalu merepotkan, dan yang paling penting akan terlalu
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Bab 15 : Izin
Setelah perdebatan alot antara mereka , Lara dan Kael, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertemu dengan yang mulia paduka sore ini. Berdua. Kenapa? Karena Lara terlalu takut untuk menemui paduka sendiri. Pertama karena ingatan Elara tentang paduka itu hanya sedikit, dan kedua, ia takut apa yang dilakukanya bisa memancing kemarahan permaisuri. Hal itu jelas akan sangat menyulitkan dirinya sendiri. Selain itu, Kael akan bertugas menjadi orang yang menemani Lara nanti ke pasar, jadi lara rasa kael harus, wajib, wajib sekali ikut dalam misinya meminta izin paduka. "Jadi apa yang membuat kalian berdua mengunjungiku?" tanya paduka pada mereka berdua. Lara yang hanya melirik Kael dengan ujung matanya hanya diam,seolah meminta Kael yang berbicara saja. 'Untuk merayakan kesembuhannya, Putri Elara ingin berjalan-jalan keluar istana, tuan. Ia ingin berkeliling ke pasar.' Ucap Kael tenang. Arkael terlalu sering berurusan dengan tetuanya di menara, jadi ia terbiasa untuk menutup kegugupan
Last Updated: 2026-01-08
You may also like
Senior Gokil
Senior Gokil
Fantasi · Gebe
2.9K views
Dewa Naga Terpilih
Dewa Naga Terpilih
Fantasi · Shaveera
2.9K views
Four Adventures
Four Adventures
Fantasi · Everush
2.9K views
Rantai Gen Mekanik
Rantai Gen Mekanik
Fantasi · Rizki Cahyo
2.9K views
True Colour
True Colour
Fantasi · Affandi
2.9K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status