Share

BAB 17: Oleh-Oleh

Author: Ghazala Rizu
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-28 10:37:30
Lara pulang dengan tiga hal di tangannya. Satu toples macaroon pasar, dua ikat bunga lavender kering, dan satu pita bordir biru muda.

Kael pulang dengan keadaan pusing di kepalanyan

Bukan karena lelah berjalan, bukan juga karena cuaca. Tapi karena sepanjang perjalanan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan satu hal kecil yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan sama sekali.

Tawa Lara. Ya, pemirsa. Tawanya.

Kael seribu persen yakin ada yang salah pada otaknya. Karena jika, jika otaknya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 20: Serpihan yang Tersisa

    Seminggu setelah mimpi buruk itu, Lara mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Elara sebelumnya. Ia keluar dari kamarnya. Bukan keluar istana, hanya keluar kamar. Berjalan pelan menyusuri lorong sayap timur yang selama ini hanya ia kenal dari cerita Cornell. Langkahnya hati-hati, satu tangan sesekali menyentuh dinding batu yang dingin untuk memastikan keseimbangannya. Cornell mengikutinya dua langkah di belakang dengan ekspresi wanita yang sedang menahan diri untuk tidak memegang tangan tuannya. "Tuan yakin tidak mau ditemani lebih dekat?" "Cornell, aku jalan, bukan mendaki gunung." "Tapi Chakra tuan masih..." "Masih stabil." Lara menoleh sebentar, tersenyum. "Kael bilang begitu kemarin." Cornell menghela napas pasrah. "Baiklah." Lorong sayap timur ternyata lebih panjang dari yang Lara bayangkan. Di ujungnya ada sebuah taman kecil. Bukan taman besar yang megah seperti yang ia lihat dari jendela permaisuri, tapi taman sederhana dengan bangku batu di tengahnya dan

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 19: Mimpi yang Bukan Miliknya

    Lara tidak pernah meminta mimpi-mimpi itu datang. Mereka selalu muncul di waktu yang tidak terduga, kadang saat ia baru saja tertidur, kadang di tengah malam ketika angin Etheria sedang paling sunyi. Selalu dalam bentuk yang sama: potongan-potongan hidup Elara yang berhamburan seperti puzzle yang belum selesai disusun. Malam ini tidak berbeda. Elara kecil duduk di sudut ruangan, memeluk lutut. Di tangannya ada sebuah boneka kain kecil. Rambutnya dari benang hitam, bajunya dari kain sisa jahitan ibunya. Di depannya, dua orang berbicara dengan suara keras. Seorang wanita berambut emas yaitu Permaisuri , dan seorang wanita berambut hitam yang berdiri dengan punggung tegak meski tangannya gemetar. Cecilia. "Kau pikir aku tidak tahu?" suara permaisuri tajam seperti pecahan kaca. "Raja mengunjungimu lagi tadi malam. Apa yang kau lakukan sampai beliau betah berlama-lama di kamarmu?" "Yang mulia, beliau hanya..." "Diam." Satu kata itu jatuh seperti pukulan. "Aku tidak butuh

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   18: Diam yang Berbicara

    Tiga hari setelah kepulangan dari pasar, rutinitas Lara berubah sedikit. Bukan perubahan besar. Hanya beberapa hal kecil yang tanpa ia sadari mulai menjadi kebiasaan. Membuka jendela setiap pagi, minum obat Chakra sebelum sarapan tanpa perlu diingatkan Cornell, dan menunggu. Menunggu kunjungan Kael. Ia tidak mau mengakui itu, tentu saja. Kalau Cornell bertanya kenapa ia sudah rapi sejak pagi padahal tidak ada agenda apapun, ia akan menjawab bahwa ia hanya ingin berlatih merawat diri. Kalau Cornell bertanya kenapa ia selalu melirik ke arah pintu setiap kali ada suara langkah kaki di lorong, ia akan pura-pura sibuk dengan buku catatannya. Tapi kenyataannya, setiap kali pintu itu tidak diketuk oleh Kael, ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap masuk tanpa permisi. Lara tidak suka itu. Ia tidak suka bergantung pada siapapun. Ia benar-benar tidak suka. Bahkan di kehidupan pertamanya, ia sudah belajar dengan keras bahwa menunggu orang lain hanya akan berakhir dengan kekecewaan. Ay

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   BAB 17: Oleh-Oleh

    Lara pulang dengan tiga hal di tangannya. Satu toples macaroon pasar, dua ikat bunga lavender kering, dan satu pita bordir biru muda. Kael pulang dengan keadaan pusing di kepalanyan Bukan karena lelah berjalan, bukan juga karena cuaca. Tapi karena sepanjang perjalanan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan satu hal kecil yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan sama sekali. Tawa Lara. Ya, pemirsa. Tawanya. Kael seribu persen yakin ada yang salah pada otaknya. Karena jika, jika otaknya dalam keadaan baik-baik saja, tawa gadis itu tidak mungkin terngiang-ngiang di otaknya seperti adegan video yang terulang secara otomatis. Begitu mereka tiba kembali di sayap timur istana, Cornell sudah berdiri di depan pintu kamar Lara dengan ekspresi campuran antara lega dan sedikit cemas. Wanita paruh baya itu langsung meneliti Lara dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti seorang ibu yang anaknya baru pulang terlambat. "Tuan putri baik-baik saja?" "Baik sekali, Cornell." Lara meny

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   bab 16: Pasar

    Pagi itu Lara bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena mimpi buruk, bukan karena punggungnya sakit, dan bukan karena Cornell mengetuk pintunya. Tapi karena ia excited. Benar-benar excited sampai ia tidak bisa tidur lagi sejak subuh. Gadis itu duduk di tepi ranjangnya, memeluk lututnya sendiri sambil tersenyum kecil ke arah jendela. Di luar, langit Etheria masih berwarna jingga kemerahan. Pasar belum seramai siang, tapi Lara sudah bisa membayangkan suara riuhnya — teriakan pedagang, bau rempah yang menguar, warna-warna kain yang berjajar. Hari ini aku keluar istana, batin Lara. senyuman masih tersungging cerah di bibirnya. Rasanya tidak nyata. Cornell datang tepat saat matahari mulai naik, membawa gaun berwarna hijau sage yang sederhana, jauh lebih sederhana dari gaun-gaun Elara yang biasanya. Lara memintanya sendiri kemarin. Ia tidak mau tampil seperti putri yang sedang melancong ke pasar rakyat. Terlalu mencolok, terlalu merepotkan, dan yang paling penting akan terlalu

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 15 : Izin

    Setelah perdebatan alot antara mereka , Lara dan Kael, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertemu dengan yang mulia paduka sore ini. Berdua. Kenapa? Karena Lara terlalu takut untuk menemui paduka sendiri. Pertama karena ingatan Elara tentang paduka itu hanya sedikit, dan kedua, ia takut apa yang dilakukanya bisa memancing kemarahan permaisuri. Hal itu jelas akan sangat menyulitkan dirinya sendiri. Selain itu, Kael akan bertugas menjadi orang yang menemani Lara nanti ke pasar, jadi lara rasa kael harus, wajib, wajib sekali ikut dalam misinya meminta izin paduka. "Jadi apa yang membuat kalian berdua mengunjungiku?" tanya paduka pada mereka berdua. Lara yang hanya melirik Kael dengan ujung matanya hanya diam,seolah meminta Kael yang berbicara saja. 'Untuk merayakan kesembuhannya, Putri Elara ingin berjalan-jalan keluar istana, tuan. Ia ingin berkeliling ke pasar.' Ucap Kael tenang. Arkael terlalu sering berurusan dengan tetuanya di menara, jadi ia terbiasa untuk menutup kegugupan

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 5: Luka Pertama

    Cecilia- ibunya Elara-, memeluk Lara erat-erat. Wanita paruh baya itu sekuat tenaga berusaha menutup kedua telinga malaikat kecilnya supaya tidak mendengar hal-hal menyakitkan yang diucapkan sang permaisuri padanya. "Cecilia, kau mungkin paling dicintai. Kau mungkin cinta pertama beliau atau apala

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   BAB 4: Luka pada Lara

    “Lara, lara sayang ibu kan?”Elara kecil menangguk dalam dekapan ibunya. “Kalau begitu, apapun yang kamu dengar nanti, jangan biarkan orang lain tahu ya sayang.” Sang ibu menatapnya dengan mata yang basah, “Lara tahu betul ‘kan kalau anak baik harus?”“Diam. Jangan beritahu siapapun.”“Pintarnya..

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 3: Anak yang seharusnya tidak lahir

    Sudah hari ketiga Adelia ada di tubuh Elara. Mau seberapa keras pun ia berusaha, tetap ia tidak bisa terbiasa dengan ini. Gadis itu terbiasa dengan badan yang gemuk, pipi yang penuh jerawat dan kamar yang sempit. Sekarang ia berada di ruangan yang besarnya mungkin 3 kali rumahnya. Badannya pun tera

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   BAB 2: Elara

    POV Orang KetigaCahaya pagi yang lembut merembes masuk melalui celah tirai tipis, memantul pada dinding kamar bernuansa putih gading. Ruangan itu begitu luas dan sunyi, seolah setiap suara takut memecahkan ketenangan yang menyerupai ilusi.Di atas ranjang besar dengan selimut sutra perak, gadis it

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status