author-banner
Redezilzie
Author

Novels by Redezilzie

Sampai Kau Ingat Aku

Sampai Kau Ingat Aku

Enam tahun lalu, Azalea Rosela Adhyasa (Zea) ditinggalkan. Arkan Elvano Akmal, lelaki yang berlutut melamarnya di tepi pantai, menghilang tanpa kabar, membawa serta semua janji masa depan. Zea berjuang keras untuk bangkit, memilih karier sebagai perisai dari hati yang hancur. Tepat saat ia merasa sudah menemukan 'closure' dan ketenangan, Arkan kembali. Dia muncul sebagai klien utamanya: lebih matang, lebih mapan, dan... sama sekali tidak mengenalinya. Arkan, yang kini ditemani tunangan yang posesif, memperlakukan Zea hanya sebagai eksekutif pemasaran profesional. Sementara Zea berusaha keras menolak tarikan masa lalu demi kariernya, tunangan Arkan, Naya, mulai melihat ancaman. Sebuah pesan singkat dari Zea, yang hanya tersimpan sebagai 'Z' dengan emotikon hati putih di ponsel Arkan, membuat Naya menyadari, bahwa ingatan Arkan mungkin tidak 'hilang' sepenuhnya, hanya tertidur. Mampukah Zea melepaskan cintanya yang kembali datang tanpa membawa ingatan? Atau haruskah ia berdiri di sana, menunggu lelaki yang ia cintai untuk mengingatnya kembali di tengah permainan Naya yang semakin intens?
Read
Chapter: BAB 81 - Melindunginya
BAB 81Arkan merasa sangat lega melihat respon dari kedua sahabat Zea yang langsung tanggap dan bergegas menghampiri Zea ke kosannya tanpa banyak pertimbangan. Sebesar itulah ketiganya saling menyayangi.“Bisa tolong kabarin aku tentang kondisi Zea nanti?” pinta Arkan dengan tatapan memelas, pada keduanya saat mereka tiba di depan gerbang kosan Zea.Vivid dan Nadya saling bertukar pandang sebelum kemudian mengangguk bersamaan. Arkan tersenyum lega, berbalik meski dengan sedikit tidak rela, meninggalkan tempat tersebut.Kedua gadis itu bergegas masuk setelah melempar senyum sekilas pada Arkan.Butuh waktu beberapa saat sampai kemudian wajah sembab Zea muncul dari celah pintu. Kedua matanya mengerjap, tampak terkejut. “Kalian…,” gumamnya, tampak kebingungan.“Kita bawa pie!!” Seru Vivid sambil menerobos masuk, diikuti Nadya.Masih dengan mulut ternganga Zea menata
Last Updated: 2026-03-22
Chapter: BAB 80 - Terluka Lagi
BAB 80Debu jalanan sisa survei lokasi di pinggiran kota masih menempel di jaket Zea. Napasnya masih sedikit memburu saat ia memarkirkan motor matic-nya di area parkir kantor di bawah cuaca yang terik. Namun, rasa lelah fisiknya seketika menguap, digantikan oleh firasat buruk saat staf administrasi di depan memberitahunya bahwa Pak Wira sudah menunggunya di ruangan sejak tiga puluh menit yang lalu.Zea merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan karena helm, lalu melangkah menuju ruangan bos besarnya itu. Begitu pintu terbuka, Zea langsung merasakan atmosfer yang mencekam. Pak Wira duduk di balik meja besarnya, namun tidak dengan senyum kebapakan yang biasanya menyapa. Wajahnya keras, rahangnya terkatup rapat, dan matanya menatap tajam ke arah sebuah amplop cokelat di atas meja.Zea tersenyum simpul sambil menyapa hormat.“Duduk, Zea," suara Pak Wira terdengar rendah.Zea duduk dengan punggung kaku.
Last Updated: 2026-03-20
Chapter: BAB 79 - Mata Dalam Kegelapan
BAB 79Angin malam berembus pelan, membawa aroma debu jalanan yang kering dan sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara. Zea masih berdiri mematung. Memandang kepergian Ibra dengan hati yang tak karuan.“Ze…,” panggil Arkan lembut. Suaranya seakan menarik Zea kembali.Zea mengerjap.“Yuk, keburu malem. Aku udah kelaperan banget nih.” ujar Arkan dengan suara mendesak. Zea menarik nafas dalam. Jujur saja, selama beberapa saat tadi ia melihat bagaimana dirinya berdiri di persimpangan jalan. Merasa gundah oleh dilema. Zea sama sekali tak pernah membayangkan kejadian seperti malam ini. Saat Arkan dan Ibra berada di lokasi yang sama. Tepat di depan kosannya.Dua lelaki mendatanginya di malam hari. Andai Naya tahu mengenai hal ini perempuan itu pasti sudah meloncat dan tertawa girang karena memiliki amunisi baru untuk menghancurkan reputasi Zea.Atau mungkin malah meradang karena salah satu dari lelaki itu ada
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: BAB 78 - Komunikasi Maskulin
BAB 78 Malam terasa berjalan lambat bagi Arkan. Ia menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Di tangannya, layar ponsel masih tampak menyala. Menunjukkan pesan balasan dari Zea. “Iya, sebentar,” Hanya itu. Terasa datar dan tanpa emosi. Arkan tak menyukainya. Beberapa hari terakhir ini, dunia Arkan seolah hanya berputar di antara tumpukan kertas di atas meja kerja, ber gelas-gelas kopi pahit dan rapat-rapat yang tak henti. Dibantu Irgi, ia terus bekerja sampai dari pagi hingga larut malam. Meski demikian ia cukup puas karena grafik pemasukan usahanya menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan. Sebuah validasi dari kerja kerasnya selama ini. Namun dam-diam, sudut ruang hatinya terasa hampa. Ia merindukannya. Gadis itu. Zea. Setelah pertemuan terakhir mereka, gadis itu masuk begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya, membuat Arkan merasa frustasi dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pekerjaan yang tak ada habisnya. Tapi malam ini, tidak lagi. Malam ini ia berencana mengajak Zea unt
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: BAB 77 - Sauh Masa Lalu
BAB 77Perbincangannya dengan Ibra ternyata membawa kerinduan yang nyata pada kedua sahabatnya. Jadilah malam ini, ketiganya berkumpul di apartemen nyaman milik Nadya. Perempuan pemilik kafe itu berbaik hati, bersedia menemani kedua sahabatnya dan absen dari kafe miliknya.Aroma mie instan kuah pedas dengan irisan cabai rawit dan telur setengah matang memenuhi ruangan. Di atas meja, tiga gelas plastik besar berisi es kopi susu Boba yang sudah mulai berembun, bersanding dengan tumpukan tisu yang tampak di sekitarnya.Zea duduk meringkuk di atas sofa beludru biru, kakinya ditekuk ke dada, mendekap bantal sofa erat-erat, seakan berharap mendapatkan sedikit ketenangan.Di hadapannya, dua orang paling berisik sekaligus paling tulus dalam hidupnya yang sedang menatapnya lekat, Zea baru saja menceritakan pertemuannya dengan Naya dan Riyanti di restoran beberapa hari lalu.Ia menceritakan setiap detail yang mampu diingatnya. Mulai dari
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: BAB 76 - Dilema
BAB 76“Iya, boleh kan? Atau kamu takut mereka juga ikut jatuh pada pesona cowok ganteng ini?” goda Ibra. Ia menaik-naikkan kedua alisnya yang tebal secara bergantian, menyunggingkan senyum narsis yang dibuat-buat namun entah kenapa terlihat sangat pas di wajahnya yang maskulin.Zea yang baru saja menyesap es jeruk kelapanya nyaris tersedak. Ia meletakkan gelasnya dengan sedikit keras di atas meja kayu. “Hiiy….” Zea meringis lebar, tangannya mengusap-usap lengannya sendiri seolah-olah suhu udara mendadak turun drastis. “Merinding sekujur badan aku, Mas. Sumpah, serem banget denger kamu ngomong begitu.”Tawa Ibra meledak. Terdengar renyah dan lepas di telinga Zea,l. Mata pria itu yang bulat besar dengan bulu mata lentik khas keturunan Timur Tengah tampak menyempit hingga nyaris membentuk garis lengkung yang ramah. Kerutan kecil muncul di sudut matanya.“Eiit… dilarang mau mu**ah ya! Hahaha,” Ibra masih terkekeh, t
Last Updated: 2026-03-16
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status