FAZER LOGINAku telah salah menolong ular, kini ia menusukkan bisa mematikan dan perlahan ingin merebut semuanya dariku. Tunggu dulu, aku bukan wanita lemah! Aku cantik, Aku kaya!
Ver maisDada kiriku berdenyut nyeri, bukan hanya karena bebat chest binder yang menekan dadaku, tapi juga karena pemandangan di depanku.
Di barisan depan kelas arsitektur, Sarah Varelian tertawa anggun. Rambut hitamnya jatuh sempurna di bahu, dan seragamnya bersih tanpa cela. Dia terlihat seperti putri tunggal konglomerat yang hidup bahagia. Aku meremas ujung bolpoinku, menahan amarah. Tujuh tahun lalu, senyum pongah ayahnya, yang sayangnya juga ayahku, menghancurkan hidupku. Pria brengsek itu... Tak hanya membiarkan ibuku digilir para bajingan tapi juga, membiarkanku menjadi saksi atas kemalangan yang menimpa ibuku, sebelum beliau meninggal akibat dibakar hidup-hidup. Tentu saja, semua tindakan sadis pria itu, ia lakukan demi menyenangkan ibu Sarah, si wanita simpanan, gundik rendahan yang menjadi duri dalam daging. Aku yang saat itu masih berusia dua belas tahun hanya bisa membeku dan menangis tanpa suara dari balik persembunyian. Tapi, aku tidak perlu khawatir. Kini, aku telah kembali. Aku meninggalkan desa terpencil, membuang identitas Qiqiela, nama asliku, memangkas rambutku, dan menyusup ke Universitas Bimsa sebagai Kean Arsenio. Semuanya... Demi mengobrak-abrik keluarga baru ayahku dan menagih cidera yang aku alami selama tujuh tahun terakhir. Lamunanku pecah saat sebuah tangan mencubit lenganku bermanja-manja. "Kean, dari tadi lihatin siapa sih?" Bella mengerucutkan bibir berpoles lip gloss merah mudanya. "Fokus amat. Kamu naksir Sarah?" Aku menggeleng pelan, menormalkan detak jantungku. "Nggak. Dia terlalu sempurna buat lumpur sepertiku." "Halah, nggak usah bohong," goda Bella menyenggol pundakku. "Lagipula wajar kalau kamu naksir dia." Aku hanya tersenyum tipis. "Aku ke sini cuma mau lulus dan kerja di perusahaan besar. Mana ada waktu buat kisah cinta." Bella mengibaskan tangan, tak acuh dengan jawabanku. Dia merogoh tas tangannya, mengeluarkan kotak berukuran kecil dengan pita cantik. "Tolong kasih ini buat Kak Arlo, ya. Kalian 'kan sekamar." Aku mengernyit. "Kenapa nggak kamu kasih sendiri?" "Aku... Malu," kilahnya. Rona merah menjalar di pipinya. "Kak Arlo dingin banget. Aku takut ditolak. Tolong ya, Kean? Kue ini aku buat sendiri." Mendengar rengekannya yang persis seperti bayi, aku mendesah pelan dan terpaksa menerima kotak itu. *** Sore harinya, kamar asrama laki-laki terasa sejuk. Arlocean Herlan tengah duduk bersandar di ranjangnya seberang kasurku, tenggelam dalam buku tebal. Garis rahangnya tegas, rambutnya tertata rapi. Pemuda dua puluh dua tahun itu bukan sekadar senior rupawan yang bersikap dingin. Dia adalah ahli waris dan kepala keluarga Herlan. Kekuasaannya mutlak. Mendapatkan kepercayaannya adalah jalan pintas untuk memuluskan rencanaku. Tanpa menunggu, aku meletakkan kotak pemberian Bella di atas nakasnya. "Hadiah dari Bella, Kak. Kayaknya dia naksir berat sama Kakak," pungkasku berterus terang. Arlo menghela napas panjang, menutup bukunya. Tatapannya yang tajam beralih padaku, menguarkan aura intimidasi yang membuat bulu kudukku meremang. "Hadiah itu buat kamu saja. Bilang padanya kalau aku sudah menerimanya." Dengan senang hati aku membawa kotak kue itu ke mejaku sendiri. Arlo bangkit, menarik kursi tak jauh dariku, lalu meletakkan sebuah buku catatan. Tatapannya mengunciku lekat. "Kamu mahasiswa beasiswa yang masuk dengan peringkat pertama," suaranya mengalun rendah dan berat. "Kalau kamu berhasil mempertahankan peringkatmu, bekerjalah untukku." Aku tersenyum lebar. "Kak Arlo beneran baik, nggak kayak gosip yang aku dengar!" Tangan besar Arlo mendadak terulur, mengelus puncak kepalaku pelan. Aku terpaku. Senyum tipis untuk pertama kalinya terbit di bibirnya. Arogansinya lenyap, menampakkan pesona maskulin yang luar biasa. Belum sempat aku membalas, pintu kamar menjeblak terbuka. Reno melangkah masuk, melemparkan kunci motor ke ranjang sambil mengeluhkan cuaca luar yang panas seperti simulasi neraka. Tubuh gagahnya basah oleh keringat. Tanpa permisi, pemuda berambut pirang kecokelatan itu duduk di sebelahku dan merangkul pundakku erat. "Hei, cowok jadi-jadian, aku sudah daftarin kamu ke klub tinju," kekeh Reno, menepuk lenganku. Aku membelalak kaget, berusaha meronta dari jepitan ototnya. "Kak! Fisikku dari kecil emang lemah, tapi aku normal seratus persen!" Reno mendengus lelah, melepaskan rangkulannya. "Aku nggak peduli orientasi seksualmu. Aku cuma nggak tahan lihat badan mungilmu ini. Minimal kamu punya otot lengan!" "Suruh dia pergi ke gym saja. Tidak semua orang maniak tinju sepertimu," potong Arlo datar, dia menyelamatkanku. Reno mengangguk setuju tanpa berdebat. Pertemanan mereka memang sehat dan saling menghargai. Sadar perutku sedikit keroncongan, aku membuka kotak dari Bella. Sebuah kue fondant merah muda yang terlihat sangat manis. "Apa itu? Kelihatan seperti penyebab penyakit diabetes," cibir Reno pedas saat aku menawarkan potongan kue padanya. Lantaran Reno dan Arlo tidak suka manis, aku menyuapkan potongan besar itu ke mulutku sendiri. Namun, sedetik setelah gigiku mengatup, rasa sakit yang luar biasa menusuk gusi dan lidahku. Aku refleks memuntahkan seluruh isi mulutku ke lantai. Rasa anyir darah menyengat indra penciumanku. "Kean! Mulutmu berdarah!" Bersambung...Aku Lebih Cantik dari Gundik SuamikuPart 26Mas Khalid semakin kalap mengetahui semuanya. Kami memang terlambat mengecek rumah Ibu, sebab terlalu sibuk mengurus dan menjaga Ibu di Rumah Sakit. Sekarang, Frisca entah dimana keberadaannya. Tapi aku yakin, bersembunyi di lubang semut pun, pasti kamu akan bisa aku temukan!“Ibu, maafkan Khalid. Gara-gara Khalid, Ibu harus ikut menanggung akibatnya.” Mas Khalid meratap di tepi ranjang perawatan Ibu.“Mas, aku dan Mas Kamil sudah membuat laporan ke kepolisian. Aku pastikan, Frisca akan mendapatkan balasan dari perbuatannya!” ujar Mikha.“Kalau waktu bisa diulang, Mas pasti tidak akan mau kenal dengan Frisca! Mas menyesal! Semua masalah yang datang pada keluarga kita, semua akibat Mas yang bermain api dengan Frisca.”“Sudahlah, Mas. Semua orang pasti punya kesalahan, yang penting saat ini adalah, kita fokus pada kesembuhan Ibu, dan secepatnya
Aku Lebih Cantik dari Gundik SuamikuPart 25PoV FriscaHahahaha … mereka pikir aku perempuan bodoh yang mudah menyerah begitu saja? Meski Mas Khalid marah dan mengusirku saat itu, tapi aku tak akan begitu saja tinggal diam pada semua perlakuan buruknya padaku. Masih sakit hatiku saat Mas Khalid mengusirku waktu itu. Padahal dia tahu, hujan turun dengan derasnya. Aku didorong keluar gerbang pagar rumahnya seperti anjing jalanan. Dia lebih khawatir pada perempuan itu. Dibopongnya tubuh Mbak Widya masuk ke dalam rumah.Kalau kamu bisa menyakitiku seperti aku ini seorang penjahat, baik! Aku akan benar-benar menjadi jahat. Apa kamu lupa, Mas? dulu kamu bersimpuh di kakiku, sekarang kau campakkan aku begitu saja. Aku tahu, kau itu laki-laki yang takut miskin! Padahal kau bisa memiskinkan istrimu itu dan hidup bahagia bersamaku. Dasar laki-laki tak berpendirian kamu, Mas!Kamu akan merasakan sakitnya nanti. Aku bergegas pulang ke rum
Aku Lebih Cantik dari Gundik Suamiku.Part 24Frisca benar-benar gila, ditengah derasnya hujan yang mengguyur bumi, dia nekat berlari keluar dengan membawa bayinya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, sampai tega hendak mencelakai anaknya sendiri.Untungnya Mas Khalid sudah siaga dengan memerintahkan security untuk menutup gerbang. Frisca terjebak, dan aku bisa menangkap rambutnya.Frisca berteriak kesakitan, namun dia masih saja meronta saat aku hendak mengambil Andra dari tangannya. Bukannya diberikan, Frisca malah dengan sengaja melemparkan anak itu ke dinding tembok pos security. Seketika darahku seperti berhenti mengalir melihat tubuh kecil itu membentur dinding. Kesadaranku pun seketika hilang. Allah ….Saat tersadar, aku sudah ada di dalam kamar. Bajuku sudah berganti, dan hal pertama yang aku ingat adalah Andra.“Mas! mana Andra? Dimana Andra, Mas?” tanyaku panik. Mas Khalid sedang duduk men
Aku Lebih Cantik dari Gundik SuamikuPart 23PoV FriscaMbak Widya benar-benar susah ditaklukkan. Ibuk juga selalu aja nolak kalau aku menyuruhnya mengambil barang-barang berharga di rumah itu. Ibuk bener-bener gak bisa diajakin kompromi. Rasanya aku gak betah tinggal di rumah Ibuk. Belum lagi si Ferdy sifatnya selalu saja sinis kalau aku minta uang sama Ibuk.“Ibuk belum gajian, Fris. Mungkin lusa. Itupun Ibuk untuk bayar sewa rumah sama sekolahnya Ferdy, Nak.”“Alesan banget, sih, Ibuk?”“Ngapain Ibuk bohong sama kamu?”“Emang Ibuk digaji berapa sama Mbak Widya?”“Empat juta.”“Cuma segitu? Kok Ibuk mau, sih?”“Itu sudah tinggi, Nak. Sebelumnya Ibuk hanya digaji dua setengah juta.”“Ibuk yang bod**! Ibuk bisa minta gaji lebih tinggi. Masak iya ngurusin anak cacat begitu gajinya cuma segitu?”
Aku Lebih Cantik dari Gundik SuamikuPart 18“Dimana dia?” tanyaku pada karyawanku yang terlihat cemas menunggu di depan toko. Keributan itu pastinya sudah membuat pengunjung merasa tak nyaman. Bisa bahaya, reputasi tokoku akan rusak gara-gara ulah Frisca.“Di
Aku Lebih Cantik dari Gundik SuamikuPart 12“Aku? Aku kamu minta untuk mengurus anak itu? Kenapa harus aku, Mas? kamu sewa saja jasa pengasuh!”“Iya, itu maksudku. Kamu tolong bantu carikan orang yang bisa dan sudah terlatih mengurus bayi.&r
Part 9PoV FriscaMas Khalid bener-bener kelewatan. Sudah hampir satu minggu aku diasingkan di hotel ini. Dia cuma datang satu kali, pagi saat aku dipaksa keluar dari rumah. Dia membawakan beberapa potong pakaian untuk ganti diriku selama mengungsi. Dia bilang ibunya akan
Aku Lebih Cantik dari Gundik SuamikuPart 22Hari ini kami akan kembali ke rumah. Aku menjemput Bu Tini di rumahnya. Kulihat wajah Bu Tini lesu tak seperti biasanya.“Bu, Ibu sakit?” tanyaku saat kami sudah tiba di rumah.“Enggak, Mbak. Saya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliaçõesMais