ログインEnam tahun lalu, Azalea Rosela Adhyasa (Zea) ditinggalkan. Arkan Elvano Akmal, lelaki yang berlutut melamarnya di tepi pantai, menghilang tanpa kabar, membawa serta semua janji masa depan. Zea berjuang keras untuk bangkit, memilih karier sebagai perisai dari hati yang hancur. Tepat saat ia merasa sudah menemukan 'closure' dan ketenangan, Arkan kembali. Dia muncul sebagai klien utamanya: lebih matang, lebih mapan, dan... sama sekali tidak mengenalinya. Arkan, yang kini ditemani tunangan yang posesif, memperlakukan Zea hanya sebagai eksekutif pemasaran profesional. Sementara Zea berusaha keras menolak tarikan masa lalu demi kariernya, tunangan Arkan, Naya, mulai melihat ancaman. Sebuah pesan singkat dari Zea, yang hanya tersimpan sebagai 'Z' dengan emotikon hati putih di ponsel Arkan, membuat Naya menyadari, bahwa ingatan Arkan mungkin tidak 'hilang' sepenuhnya, hanya tertidur. Mampukah Zea melepaskan cintanya yang kembali datang tanpa membawa ingatan? Atau haruskah ia berdiri di sana, menunggu lelaki yang ia cintai untuk mengingatnya kembali di tengah permainan Naya yang semakin intens?
もっと見るZe! Di mana?”
“Otewe kaa… bentar lagi sampai.” “Aduuh, gimana yaa…” Zea mendengus kecil. Dari nada suara di seberang sana, ia sudah bisa menebak akan ada permintaan tambahan. “Kenapa, Kak? Jadi kan meeting-nya?” “Jadi. Bukan itu. Yang kemarin sore dikasih Pak Sanusi, produk-produk baru itu belum sempat di-upload. Ketinggalan di meja aku.” Zea memejamkan mata sesaat. Tangannya refleks mencengkeram setang motor lebih kuat. “Terus…?” “Iya, ambilin dulu ya, Ze.” “Aaa…, aku udah dikit lagi, Kak,” rengek Zea, berharap ada sedikit belas kasihan. Namun seperti biasa, junior tetaplah junior. Zea akhirnya putar balik, mengambil map yang dimaksud, lalu kembali melaju ke arah kafe tempat meeting berlangsung. Waktu terus berjalan, dan jarum jam seolah mengejarnya tanpa ampun. Ia tidak boleh terlambat. Bonus tim bulan ini taruhannya. Begitu sampai, Zea langsung memarkir motor dan melangkah cepat masuk ke dalam kafe. Nafasnya sedikit tersengal, pashmina yang dikenakan sudah tak lagi serapi pagi tadi. Tak ada waktu untuk bercermin. Meeting seharusnya sudah berjalan hampir sepuluh menit. Ia mengedarkan pandangan, hingga menemukan Riyanti duduk di meja dekat jendela besar yang memisahkan area indoor dan outdoor. Zea mempercepat langkah, sambil berusaha merapikan pashminanya lewat pantulan kaca. Riyanti duduk berhadapan dengan seorang lelaki yang membelakangi Zea. Zea mengangkat tangan, memberi isyarat kecil. Riyanti menoleh, lalu mengangguk sambil mengatakan sesuatu pada klien mereka. Lelaki itu ikut menoleh. Dan dunia Zea seolah berhenti berputar. Map di tangannya nyaris terlepas. Arkan! Bagaimana bisa? Wajah itu, meski lebih matang, lebih tegas, tetap tak asing. Rahang yang dulu sering ia perhatikan diam-diam. Alis yang selalu tampak serius saat berpikir. Tatapan hangat yang dulu pernah menjadi sumber kehangatan dan ketenangannya. “Zea! Cepat,” tegur Riyanti, heran melihat juniornya hanya terdiam terpaku. Zea menelan ludah. Benaknya sibuk menerka-nerka kejadian selanjutnya. Akan canggungkah? Apakah kerja sama ini akan tetap dilanjutkan? Atau dia akan digantikan? Berisik sekali suara mengisi kepalanya Ia memaksa kakinya melangkah, mendekat dengan senyum tipis yang terasa asing di wajah sendiri. “Maaf telat,” ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar, ia mengangguk kecil pada Arkan, dan lelaki itu membalasnya. Zea mengerjap. Bukan itu respon yang diduganya. Dan itu..., mengganggunya. Riyanti langsung mengambil map dari tangan Zea. Sementara Zea duduk di sebelahnya, berusaha mengatur napas dan detak jantung yang tak mau tenang. Ia membuka laptop, pura-pura sibuk, menundukkan wajah agar kegugupannya tak terbaca. “Nah ini, Mas. Bisa dilihat dulu,” ujar Riyanti. Arkan mengangguk, menerima map itu. Gerakannya tenang. Sama seperti dulu. Seolah tidak ada apa pun yang mengusik pikirannya. “Untuk konsep kafenya, Mas, lebih ke industrial atau warm minimal?” lanjut Riyanti. “Warm minimal,” jawab Arkan. Suara itu membuat dada Zea berdetak makin hebat. “Saya sudah ada bayangan, tapi belum yakin.” “Oh, baik. Sambil Mas lihat-lihat, izin kami jelaskan detail teknisnya ya. Silakan, Ze.” Zea berdehem. Ia menarik napas dalam sebelum mulai bicara. “Perusahaan kami menyediakan beberapa opsi furniture dan peralatan dapur yang bisa disesuaikan dengan kapasitas dan konsep ruang,” jelasnya, mata terpaku pada layar. “Untuk mesin kopi, kami merekomendasikan tipe semi-automatic agar barista tetap punya kontrol rasa.” “Bagaimana dengan perawatannya?” tanya Arkan. Zea terdiam sepersekian detik. Bukan karena tak tahu jawabannya, tapi karena suara itu masih punya kuasa yang kuat atasnya. Ia menelan ludahnya. “Maintenance-nya relatif ringan,” jawabnya akhirnya. “Kami menyediakan servis berkala setiap tiga bulan.” Arkan menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau ke depannya berkembang, bisa upgrade tanpa ganti semua unit?” “Bisa,” jawab Zea cepat, lalu memperlambat nada suaranya. “Sistemnya modular, jadi penyesuaian bisa dilakukan bertahap.” Riyanti tersenyum puas. “Nah, itu keunggulan kita.” Sepanjang rapat, Zea berusaha menjaga jarak. Tangannya sibuk mencatat, menggulir slide, seolah itu hal penting yang harus ia lakukan. Ia hanya mengangkat wajah jika benar-benar perlu. Dan setiap kali mata mereka hampir bertemu, Zea selalu lebih dulu menunduk. Arkan benar-benar tak menunjukkan apa pun. Tak ada keterkejutan. Tak ada jeda canggung. Tak ada tanda bahwa ia mengenali Zea lebih dari sekadar staf perusahaan. Sikapnya betul betul profesional. Datar. Dan itu, justru membuat Zea semakin gusar. Rapat pun berakhir. “Terima kasih atas penjelasannya,” ujar Arkan sambil berdiri. “Saya tunggu penawaran finalnya.” Saat berjabat tangan, Zea menahan napas. Sentuhan singkat itu cukup untuk membuat kenangan lama berdesakan di kepalanya. Namun Arkan segera melepaskan, lalu melangkah pergi. Zea memandangi punggung tegap itu hingga menghilang di balik pintu kafe. Enam tahun. Harusnya cukup untuk sembuh, bukan? Namun nyatanya, luka lama masih terasa perih, sementara Arkan tampak hidup baik-baik saja. “Ganteng ya, Ze,” bisik Riyanti sambil terkikik, mendekatkan wajahnya. “Kelihatan mapan lagi.” Zea mengedip, kembali ke realita. “Tapi sayang,” lanjut Riyanti, nada suaranya menggoda. “Sayang kenapa, Kak?” tanya Zea pelan. Riyanti tersenyum miring. “Sayang, udah laku.”BAB 10 - Diputuskan, DicariPagi itu kantor berjalan seperti biasa. Seperti biasa juga Zea menghabiskan awal harinya dengan membaca email, dan menyusun ulang jadwal meeting, memastikan tak ada yang terlewat.Sesekali terdengar candaan ringan rekan-rekan satu timnya menambah semarak suasana, membuat Zea ikut mengembangkan senyum kecil. Ia sudah berencana untuk membuat kopi pertamanya, sebelum sebuah suara memanggil namanya. “Zea!” Zea menoleh, “Kak Riyanti?!!” Gadis itu terperangah. Wanita itu seharusnya berada di Pulau B.“Ruang meeting, sekarang ya.” Kata Riyanti setengah berseru.Semua orang memandang Zea penuh tanda tanya. Zea meneguk ludahnya. Cemas mulai menjalari dadanya. Sementara badannya bergerak mengambil ponsel dan tablet, kepalanya mulai menerka-nerka alasan kemunculan ketua timnya itu.Ruang meeting kecil itu terasa hening ketika pintu ditutup. Riyanti yang sedang be
BAB 9 Seperti ada yang menekan mode tempur di tengkuk Naya. Meski sempat bergetar sejenak, saat melihat kebersamaan kekasihnya dengan perempuan lain di kafe yang kosong, ia memutuskan untuk bersikap tak acuh dan melanjutkan langkahnya dengan mantap. Dilepasnya kacamata hitam mahalnya. Matanya tajam menatap lurus ke arah dua orang di dekat meja bar. Menganalisa. Arkan menelan ludahnya. Malam itu, malam setelah ia mengantar Zea pulang, ia dengan sengaja mengganti nama Zea di ponselnya dengan inisial Z. Dan menambah emotikon hati berwarna putih di sana. Kenapa? Naya juga menanyakan hal yang sama. Dan ia tak bisa memberi jawaban pasti. Mungkin karena panggilan pendek Zea itu Ze? Ia sungguh tak tahu. Tapi satu yang pasti, kekecewaan di mata Naya menamparnya lebih dari apapun. “Pagiii.” Naya menyapa riang, “Pagi Sayang, aku bawain sarapan buat kamu. Kelar ini kita makan bareng ya. Cium deh.” Ujar Naya. Langkah pertamanya untuk menjelaskan batas dengan gamblang. Dari tem
Wajah dan suara lembut itu muncul di beranda media sosialnya. Membuat Arkan terpaku sesaat. Jarinyanya berhenti di udara, tepat sebelum layar kembali ia geser. Ada sesuatu yang berdenyut pelan di dadanya. Suara itu terdengar sangat familiar.Hanya video biasa. Gadis itu berdiri di atas panggung kecil, diiringi band sederhana. Wajahnya tampak bercahaya di bawah sorot lampu.Ada sesuatu yang familiar pada gadis itu. Sesuatu yang terasa… dekat. Zea mengenakan busana kasual dengan hijab sederhana yang membingkai wajahnya. Sesekali matanya menatap kamera, tatapan teduh yang membuat jantung Arkan berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.Aneh, Arkan jadi terus bertanya-tanya, terus-menerus merasa yakin bahwa mereka pernah kenal sebelumnya.Tapi entah di mana dan kapan. Sejak kecelakaan itu, ia memang melupakan beberapa hal. Pikiran ini membuatnya tercenung sejenak.Lalu suara itu mengalun.Lembut, jujur, tanpa u
Malam ini adalah malam peresmian Kafe. Bukan, bukan kafe Arkan, tapi kafe milik Nadya, sahabat Zea. “Jadi sekarang kita punya tempat nongkrong resmi nih.” Ujar Vivid.“Yep, lebih tepatnya satu tempat lagi, selain warung bakso Mang Usep,” tukas Nadya sambil terkekeh.“Selamat ya Beb!” kata Zea, mengangkat gelas berisi sarsaparilla. Cairan pekat berwarna kecoklatan mirip cola.Kedua temannya ikut mengangkat gelas mereka dan mengetukkan pelan bersama, “Cheers!! For a better future!” Seru Vivid.“Aamiin!” Balas Zea.“For a better pacar buat Zea!” Tambah Vivid lagi, membuat kedua temannya tergelak.“Aamiin!” Seru keduanya bersamaan.“Habis ini ya, Ze.” Ujar Nadya. “Pokoknya lo harus nyumbang suara, nggak mau tahu!” Nadya berkata sambil menyipitkan mata.Kafe milik Nadya memang dilengkapi dengan fasilitas live band. Dan Nadya sudah mewanti-wanti temannya itu sejak jauh-jauh hari.“Ehem… ma






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.