LOGINEnam tahun lalu, Azalea Rosela Adhyasa (Zea) ditinggalkan. Arkan Elvano Akmal, lelaki yang berlutut melamarnya di tepi pantai, menghilang tanpa kabar, membawa serta semua janji masa depan. Zea berjuang keras untuk bangkit, memilih karier sebagai perisai dari hati yang hancur. Tepat saat ia merasa sudah menemukan 'closure' dan ketenangan, Arkan kembali. Dia muncul sebagai klien utamanya: lebih matang, lebih mapan, dan... sama sekali tidak mengenalinya. Arkan, yang kini ditemani tunangan yang posesif, memperlakukan Zea hanya sebagai eksekutif pemasaran profesional. Sementara Zea berusaha keras menolak tarikan masa lalu demi kariernya, tunangan Arkan, Naya, mulai melihat ancaman. Sebuah pesan singkat dari Zea, yang hanya tersimpan sebagai 'Z' dengan emotikon hati putih di ponsel Arkan, membuat Naya menyadari, bahwa ingatan Arkan mungkin tidak 'hilang' sepenuhnya, hanya tertidur. Mampukah Zea melepaskan cintanya yang kembali datang tanpa membawa ingatan? Atau haruskah ia berdiri di sana, menunggu lelaki yang ia cintai untuk mengingatnya kembali di tengah permainan Naya yang semakin intens?
View MoreZe! Di mana?”
“Otewe kaa… bentar lagi sampai.” “Aduuh, gimana yaa…” Zea mendengus kecil. Dari nada suara di seberang sana, ia sudah bisa menebak akan ada permintaan tambahan. “Kenapa, Kak? Jadi kan meeting-nya?” “Jadi. Bukan itu. Yang kemarin sore dikasih Pak Sanusi, produk-produk baru itu belum sempat di-upload. Ketinggalan di meja aku.” Zea memejamkan mata sesaat. Tangannya refleks mencengkeram setang motor lebih kuat. “Terus…?” “Iya, ambilin dulu ya, Ze.” “Aaa…, aku udah dikit lagi, Kak,” rengek Zea, berharap ada sedikit belas kasihan. Namun seperti biasa, junior tetaplah junior. Zea akhirnya putar balik, mengambil map yang dimaksud, lalu kembali melaju ke arah kafe tempat meeting berlangsung. Waktu terus berjalan, dan jarum jam seolah mengejarnya tanpa ampun. Ia tidak boleh terlambat. Bonus tim bulan ini taruhannya. Begitu sampai, Zea langsung memarkir motor dan melangkah cepat masuk ke dalam kafe. Nafasnya sedikit tersengal, pashmina yang dikenakan sudah tak lagi serapi pagi tadi. Tak ada waktu untuk bercermin. Meeting seharusnya sudah berjalan hampir sepuluh menit. Ia mengedarkan pandangan, hingga menemukan Riyanti duduk di meja dekat jendela besar yang memisahkan area indoor dan outdoor. Zea mempercepat langkah, sambil berusaha merapikan pashminanya lewat pantulan kaca. Riyanti duduk berhadapan dengan seorang lelaki yang membelakangi Zea. Zea mengangkat tangan, memberi isyarat kecil. Riyanti menoleh, lalu mengangguk sambil mengatakan sesuatu pada klien mereka. Lelaki itu ikut menoleh. Dan dunia Zea seolah berhenti berputar. Map di tangannya nyaris terlepas. Arkan! Bagaimana bisa? Wajah itu, meski lebih matang, lebih tegas, tetap tak asing. Rahang yang dulu sering ia perhatikan diam-diam. Alis yang selalu tampak serius saat berpikir. Tatapan hangat yang dulu pernah menjadi sumber kehangatan dan ketenangannya. “Zea! Cepat,” tegur Riyanti, heran melihat juniornya hanya terdiam terpaku. Zea menelan ludah. Benaknya sibuk menerka-nerka kejadian selanjutnya. Akan canggungkah? Apakah kerja sama ini akan tetap dilanjutkan? Atau dia akan digantikan? Berisik sekali suara mengisi kepalanya Ia memaksa kakinya melangkah, mendekat dengan senyum tipis yang terasa asing di wajah sendiri. “Maaf telat,” ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar, ia mengangguk kecil pada Arkan, dan lelaki itu membalasnya. Zea mengerjap. Bukan itu respon yang diduganya. Dan itu..., mengganggunya. Riyanti langsung mengambil map dari tangan Zea. Sementara Zea duduk di sebelahnya, berusaha mengatur napas dan detak jantung yang tak mau tenang. Ia membuka laptop, pura-pura sibuk, menundukkan wajah agar kegugupannya tak terbaca. “Nah ini, Mas. Bisa dilihat dulu,” ujar Riyanti. Arkan mengangguk, menerima map itu. Gerakannya tenang. Sama seperti dulu. Seolah tidak ada apa pun yang mengusik pikirannya. “Untuk konsep kafenya, Mas, lebih ke industrial atau warm minimal?” lanjut Riyanti. “Warm minimal,” jawab Arkan. Suara itu membuat dada Zea berdetak makin hebat. “Saya sudah ada bayangan, tapi belum yakin.” “Oh, baik. Sambil Mas lihat-lihat, izin kami jelaskan detail teknisnya ya. Silakan, Ze.” Zea berdehem. Ia menarik napas dalam sebelum mulai bicara. “Perusahaan kami menyediakan beberapa opsi furniture dan peralatan dapur yang bisa disesuaikan dengan kapasitas dan konsep ruang,” jelasnya, mata terpaku pada layar. “Untuk mesin kopi, kami merekomendasikan tipe semi-automatic agar barista tetap punya kontrol rasa.” “Bagaimana dengan perawatannya?” tanya Arkan. Zea terdiam sepersekian detik. Bukan karena tak tahu jawabannya, tapi karena suara itu masih punya kuasa yang kuat atasnya. Ia menelan ludahnya. “Maintenance-nya relatif ringan,” jawabnya akhirnya. “Kami menyediakan servis berkala setiap tiga bulan.” Arkan menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau ke depannya berkembang, bisa upgrade tanpa ganti semua unit?” “Bisa,” jawab Zea cepat, lalu memperlambat nada suaranya. “Sistemnya modular, jadi penyesuaian bisa dilakukan bertahap.” Riyanti tersenyum puas. “Nah, itu keunggulan kita.” Sepanjang rapat, Zea berusaha menjaga jarak. Tangannya sibuk mencatat, menggulir slide, seolah itu hal penting yang harus ia lakukan. Ia hanya mengangkat wajah jika benar-benar perlu. Dan setiap kali mata mereka hampir bertemu, Zea selalu lebih dulu menunduk. Arkan benar-benar tak menunjukkan apa pun. Tak ada keterkejutan. Tak ada jeda canggung. Tak ada tanda bahwa ia mengenali Zea lebih dari sekadar staf perusahaan. Sikapnya betul betul profesional. Datar. Dan itu, justru membuat Zea semakin gusar. Rapat pun berakhir. “Terima kasih atas penjelasannya,” ujar Arkan sambil berdiri. “Saya tunggu penawaran finalnya.” Saat berjabat tangan, Zea menahan napas. Sentuhan singkat itu cukup untuk membuat kenangan lama berdesakan di kepalanya. Namun Arkan segera melepaskan, lalu melangkah pergi. Zea memandangi punggung tegap itu hingga menghilang di balik pintu kafe. Enam tahun. Harusnya cukup untuk sembuh, bukan? Namun nyatanya, luka lama masih terasa perih, sementara Arkan tampak hidup baik-baik saja. “Ganteng ya, Ze,” bisik Riyanti sambil terkikik, mendekatkan wajahnya. “Kelihatan mapan lagi.” Zea mengedip, kembali ke realita. “Tapi sayang,” lanjut Riyanti, nada suaranya menggoda. “Sayang kenapa, Kak?” tanya Zea pelan. Riyanti tersenyum miring. “Sayang, udah laku.”BAB 98Malam peresmian Lentera Kafe yang seharusnya menjadi salah satu puncak kemenangan Arkan, seketika berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan.Setelah berhasil menenangkan badai histeria Naya di ruangannya, pesta tetap berlanjut, seolah-olah tak pernah terjadi apapun sebelumnya.Di tengah kerumunan tamu yang masih menyisakan bisik-bisik penasaran, Naya muncul kembali dengan penampilan yang sudah lebih rapi. Walaupun gaunnya tampak sedikit kusut, ujungnya kotor, tapi riasan wajahnya kembali sempurna meski tak paripurna seperti biasanya. Sekedar menyamarkan wajah sembabnya.Binar matanya memancarkan kepuasan dan kebahagiaan. Ia berdiri dengan anggun di samping Arkan, jemarinya menggamit lengan pria itu dengan posesif.Pak Wira, yang sejak awal merasa atmosfer sudah tidak sehat, segera berpamitan begitu melihat Arkan muncul. Ia tidak banyak bertanya, hanya memberikan tatapan penuh arti kepada Arkan sebelum beranjak p
BAB 97Suasana di dalam ruangan kerja pribadi Arkan terasa begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habisDi luar, suara hiruk-pikuk peresmian kafe masih terdengar samar, namun di dalam sini, hanya ada suara napas Naya yang memburu dan detak jantung Arkan yang berpacu cepat.Naya berdiri hanya beberapa senti di depan Arkan. Matanya yang merah padam menatap tajam, mengunci manik mata Arkan“Lupa, Mas? Benar-benar sudah lupakah?” desis Naya. Suaranya rendah. Seperti racun yang disemprotkan ke udara.Arkan terdiam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia ingin membantah, ingin mengusir wanita di depannya ini, namun lidahnya terasa kelu.“Tiga tahun lalu Mas. Waktu salah satu armada travel kamu kecelakaan di jalan tol?” Naya melanjutkan, suaranya kini naik satu oktaf, penuh dengan penekanan yang mengiris-iris sisa kekuatan Arkan.“Dan korbannya, anak pejabat, dia nyaris lumpu
BAB 96Kehangatan melodi Just Give Me a Reason masih menggantung di udara. Semua orang masih terfokus pada Arkan dan Zea, yang berdiri bersisian di atas panggung kecil itu. Pasangan duet dadakan yang sukses membius mereka, saat terdengar suara dentuman pintu.BRAKK!Pintu kaca Lentera Kafe terbanting menghantam dinding. Sosok Naya muncul dengan napas memburu dan mata yang merah padam. Gaun pesta yang ia kenakan tampak kusut, seolah ia baru saja berlari menembus badai. Ia menatap lurus ke arah panggung.“PUAS KAMU?! PUAS KAMU, ZEA?!Suara melengking Naya memotong suara tepuk tangan penonton dengan kasar. Semua orang di kafe itu tersentak. Para tamu, termasuk Pak Wira dan rekan-rekan tim Zea menoleh dengan wajah terperangah.Naya merangsek maju, mengabaikan beberapa staf yang mencoba menghalanginya. Ia menunjuk Zea dengan telunjuk yang gemetar hebat. “Dasar PELAKOR! Kamu pikir dengan pura-pura jadi rekan bisnis, kamu
BAB 95Cahaya lampu sorot kuning hangat di panggung kecil Lentera Kafe seolah mengunci sosok Zea. Di genggamannya, mikrofon itu terasa dingin, kontras dengan telapak tangannya yang mulai lembab karena gugup. Di bawah sana, puluhan pasang mata menatapnya, namun hanya satu pasang mata yang sanggup membuat dunianya seolah berhenti berputar, mata Arkan.Jantung Zea berdegup kencang. Lelaki itu berdiri lurus tak jauh di hadapannya, bersandar santai pada pilar, dengan aura yang begitu dominan namun tenang. Bibirnya membentuk senyum simpul. Tatapannya teduh sarat makna.Zea menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian yang tersisa. Dengan satu anggukan kecil, ia memberikan isyarat pada pemain keyboard untuk memulai intro. Nada-nada melankolis yang akrab di telinga mulai mengalun lembut.Zea memilih sebuah lagu yang belakangan ini terus terngiang di kepalanya, seolah lirik-liriknya ditulis khusus untuk menggamb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore