Chapter: 26. Bangkitnya KekuatanAroma melati yang biasanya menenangkan di paviliunnya kini terasa terlalu tajam, menusuk indra penciuman Aurelia saat kelopak matanya perlahan terbuka. Cahaya matahari pagi menyelinap di antara celah gorden beledu, membentuk garis-garis emas yang menari di atas lantai marmer. Aurelia mengerang pelan, merasakan denyut nyeri yang samar di lehernya—bekas gigitan Alaric yang kini terasa seperti tanda permanen di kulitnya. "Lady! Oh, syukurlah, Anda sudah bangun!" Lily bergegas mendekat, menjatuhkan kain kompres ke dalam baskom perak hingga airnya memercik. Wajah pelayan itu pucat, dengan kantung mata yang menandakan dia tidak tidur semalaman. "Lily... suaramu terlalu keras," bisik Aurelia. Suaranya serak, seolah tenggorokannya baru saja diguyur pasir. "Maaf, Lady. Saya hanya... saya sangat takut. Setelah apa yang terjadi di aula kemarin malam... pria itu membawa Anda ke sini dan—" "Pria? Pria yang mana, Lily?" Aurelia mencoba duduk, namun kepalanya terasa berputar. "Pria yang sangat
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: 25. Mimpi Leluhur, Kalung PermataKegelapan yang menyelimuti Aurelia bukanlah kehampa yang menakutkan, melainkan sebuah ruang yang tenang, dihiasi oleh aliran cahaya yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang di tengah malam yang hangat. Tidak ada lagi teriakan Zayne, tidak ada bau darah, dan tidak ada detak jantung Alaric yang terburu-buru. Hanya ada keheningan yang megah. Di mana ini? pikir Aurelia. Perlahan, ruang gelap itu terbuka menjadi hamparan padang rumput yang tak berujung, namun rumputnya tidak terbuat dari tanaman biasa. Helai-helainya adalah benang cahaya hijau yang lembut. Di atasnya, langit tidak memiliki matahari, melainkan sebuah pusaran galaksi yang berputar lambat, meneteskan energi yang terasa seperti embun di kulit Aurelia. "Selamat datang kembali, Pewaris," sebuah suara bergema. Itu bukan suara manusia, melainkan harmoni dari desiran angin dan gemericik air yang menyatu. Aurelia berbalik. Di sana, dua sosok berdiri dengan keagungan yang membuat napasnya tertahan. Yang satu tampak seperti pria
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: 24. Apakah ini saatnya aku kembali ke dunia asalku?Aurelia berdiri tegak di tengah aula yang mendadak sunyi, menantang Zayne yang masih terpaku dengan pedang terhunus. Aura keemasan itu bukan sekadar cahaya; itu adalah manifestasi dari denyut Aethelgard yang mulai bergejolak di dalam darahnya. Zayne tampak mundur selangkah, matanya yang biasa licik kini menunjukkan kilatan ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan. "Itu... tidak mungkin," gumam Zayne, suaranya tercekat. "Tidak ada seorang pun di kerajaan ini yang memiliki kekuatan murni seperti itu. Kau hanyalah pion, Aurelia!" "Pion telah berhenti melangkah, Zayne," sahut Aurelia. Suaranya terdengar berbeda, lebih dalam dan bergema, seolah-olah ribuan suara leluhur turut berbicara bersamanya. "Dan sekarang, bidak ini siap menjatuhkan rajanya." Alaric, yang masih berdiri di samping Aurelia, merintih pelan. Ikatan darah yang baru saja terbentuk melalui gigitan itu membuat mereka berbagi detak jantung yang sama. Aurelia bisa merasakan rasa sakit Alaric yang mereda, digantikan oleh kesa
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: 23. Jangan Mendekat, Aurelia!Cahaya merah yang menyakitkan itu membanjiri aula, mengubah gaun-gaun sutra menjadi terlihat seperti genangan darah. Aurelia merasa napasnya tersengal saat jeritan panik pecah di sekelilingnya. Namun, fokusnya seketika teralih pada suara debuman keras di sisi balkon yang tadi ditinggalkan Alaric.Pangeran werewolf itu telah ambruk. Tubuhnya tertekuk di atas lantai marmer, sementara otot-otot di balik seragam militernya menegang secara tidak wajar. Suara kertak tulang terdengar nyaring di tengah kekacauan, membuat para bangsawan yang berada di dekatnya lari tunggang-langgang."Alaric!" teriak Aurelia. Ia mengabaikan peringatan Caelan yang mencoba menarik lengannya. "Lepaskan aku, Caelan! Dia sedang sekarat!""Jangan mendekat, Aurelia! Dia sudah tidak bisa mengendalikan instingnya lagi!" Caelan memekik, matanya menatap horor ke arah Alaric yang kini mulai mengeluarkan taring panjang dan cakar yang merobek lantai marmer.Aurelia tidak peduli. Kakinya melangkah pasti menuju sosok pria yan
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: 22. PenghianatAurelia menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar paviliun untuk terakhir kalinya. Gaun berwarna ungu gelap yang ia kenakan tampak kontras dengan kulit pucatnya. Ia bisa merasakan kalung permata di lehernya berdenyut pelan, seolah-olah artefak kuno itu memiliki detak jantungnya sendiri."Anda siap, My Lady?" tanya Lily dengan suara yang masih gemetar.Aurelia menarik napas panjang, mencoba menekan gemuruh di dadanya. "Aku harus siap, Lily. Tidak ada jalan kembali sekarang. Bersembunyi di sini hanya akan membuat mereka mencariku dengan cara yang lebih kasar.""Tapi Pangeran Zayne... dia terlihat sangat marah tadi siang," bisik Lily sambil merapikan jubah hitam Aurelia."Biarkan dia marah. Kemarahannya adalah tanda bahwa dia mulai kehilangan kendali atas permainannya," sahut Aurelia mantap. "Ayo, jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama."Mereka melangkah keluar dari paviliun menuju aula utama istana. Sepanjang perjalanan, suasana terasa sangat aneh. Para pengawal berdiri kaku d
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: 21. Fenomena Langit yang AnehLangit di atas kerajaan Aethelgard tidak lagi menunjukkan warna senja yang lazim. Perlahan, gumpalan awan yang semula berwarna jingga keemasan kini berubah menjadi merah pekat, serupa genangan darah yang tumpah di atas kanvas hitam malam. Aurelia berdiri di dekat jendela kamarnya, jemarinya mencengkeram bingkai kayu dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Angin yang berhembus melalui celah jendela terasa panas, membawa aroma logam dan debu yang menyesakkan paru-paru.Lily, pelayan setianya yang sejak tadi mondar-mandir merapikan gaun sutra di lemari, tiba-tiba berhenti. Ia menatap ke arah luar, lalu ke arah tuannya dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan."My Lady, apakah Anda melihatnya? Langit itu... kenapa warnanya tampak begitu menyeramkan?" suara Lily bergetar.Aurelia tidak menjawab segera. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penglihatan. Ada gejolak energi yang asing, sesuatu yang berdenyut di bawah permukaan tanah istana. Ras
Last Updated: 2026-04-27