Kutukan Sang Putri Antagonis

Kutukan Sang Putri Antagonis

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-17
โดย:  Penraอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
7บท
8views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Ayra mengira kematian adalah akhir, namun ia justru terbangun dalam tubuh Lady Aurelia Veridian—sang antagonis kejam yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan mereka yang membencinya. Bertekad mengubah nasib, Ayra membuang topeng kelamnya dan memilih jalan kebaikan. Namun, di istana yang penuh dengan duri, kebaikan adalah magnet bagi bahaya. Empat pria berpengaruh dengan rahasia gelap kini mengelilinginya dengan maksud dan tujuan berbeda. Akankah Lady Aurelia bisa merubah takdirnya? Apa saja rahasia kelam para pria berpengaruh itu?

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

1. Eksekusi Sang Pendosa

Dingin. Lantai batu ini terasa begitu menusuk kulitku, seolah ribuan jarum es sedang menembus pori-pori. Bau karat dan darah segar menguar di udara, menusuk hidung hingga membuatku mual. Di depanku, ribuan orang berteriak histeris, wajah mereka merah padam karena amarah yang meluap-luap.

"Mati kau, penyihir Veridian!"

"Pengkhianat! Kau pantas membusuk di neraka!"

Aku mencoba mendongak, namun leherku terhimpit oleh balok kayu yang kasar. Di sinilah aku, di panggung eksekusi yang megah namun mematikan. Mataku menyapu barisan depan penonton, tempat tiga pria berdiri dengan angkuh. Lucien, Raja Iblis dengan mata merahnya yang berkilat kejam. Alaric, sang Werewolf yang menatapku seolah aku hanyalah sekerat daging busuk. Dan Zayne... Pangeran Sempurna yang justru memberikan senyum paling dingin yang pernah kulihat seumur hidupku.

"Sudah waktunya," bisik Zayne, suaranya terdengar merdu namun mengandung racun.

Kilatan pedang algojo memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Detik berikutnya, aku hanya bisa mendengar suara tebasan yang membelah udara.

Srak!

"Hah!"

Aku tersentak bangun. Napasku memburu, paru-paruku terasa seperti terbakar karena tarikan udara yang terlalu mendadak. Keringat dingin mengucur deras di dahi. Aku segera meraba leherku dengan tangan gemetar. Masih ada. Kepalaku masih menempel di tubuhku.

"Apa... apa itu tadi?" bisikku lirih. Suaraku terdengar berbeda. Lebih lembut, lebih dalam, namun bergetar hebat.

Aku melihat ke sekeliling. Aku tidak lagi berada di panggung eksekusi yang kotor itu. Aku berada di sebuah kamar yang luar biasa mewah. Kelambu sutra berwarna ungu gelap menjuntai dari langit-langit, dan aroma mawar yang mahal memenuhi ruangan. Ini bukan kamarku. Kamarku di dunia nyata hanyalah apartemen sempit yang berantakan, bukan istana seperti ini.

"My Lady! Anda sudah sadar?"

Seorang gadis muda dengan seragam pelayan berlari mendekat. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab seperti habis menangis berjam-jam. Dia langsung berlutut di samping tempat tidurku.

"Kenapa kamu menangis?" tanyaku bingung. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

"Anda... Anda mencoba meminum racun itu lagi, My Lady! Kami pikir kami sudah kehilangan Anda. Duke akan membunuh kami semua jika terjadi sesuatu pada Anda!" tangis gadis itu pecah.

Aku terdiam. Racun? Duke? Aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum aku 'tidur'. Ingatan terakhirku adalah aku sedang membaca bab terakhir novel favoritku, Aethelgard: Segel Sang Pewaris Primordial, sebelum akhirnya aku tertidur karena kelelahan bekerja lembur.

Tunggu sebentar, pikirku, jantungku berdegup kencang. Nama-nama tadi... Lucien, Zayne, Alaric... itu adalah tokoh utama dalam novel itu.

Aku segera bangkit dari tempat tidur, mengabaikan rasa pening yang menyerang kepalaku. Aku berlari menuju cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Begitu melihat pantulan di sana, aku hampir saja jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

Wanita di dalam cermin itu memiliki kecantikan yang mematikan. Rambutnya berwarna perak berkilau seperti rembulan, matanya ungu gelap sepekat warna anggur, dan kulitnya seputih porselen. Ini adalah wajah Aurelia Veridian. Sang antagonis utama yang tewas dipenggal di tangan tiga pangeran karena ambisinya yang gila.

"Ini tidak mungkin," aku menyentuh permukaan cermin dengan jari gemetar. "Aku masuk ke dalam tubuh Aurelia?"

"My Lady, ada apa? Anda terlihat ketakutan," pelayan itu mendekat, mencoba memegang pundakku.

"Siapa namamu?" tanyaku spontan.

"Ini saya, Lily. Anda tidak ingat saya?"

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan badai di kepalaku. Jadi, penglihatan mengerikan tadi adalah masa depanku? Leher yang ditebas, sorak-sorai rakyat yang membenciku, dan tatapan dingin ketiga pria itu... itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah akhir hidup Aurelia jika aku mengikuti alur novelnya.

"Aku harus pergi dari sini," gumamku tanpa sadar. "Aku tidak mau mati."

"Pergi ke mana, My Lady? Anda bahkan belum bisa berdiri tegak," Lily menatapku cemas.

"Lily, dengarkan aku," aku memegang tangannya dengan erat, membuat gadis itu terkejut. "Mulai hari ini, aku tidak mau ada lagi barang-barang mewah di kamar ini. Gaun-gaun yang mencolok, perhiasan yang berat, semuanya... singkirkan. Aku ingin menjadi orang yang tidak terlihat."

"Tapi, My Lady... Anda selalu bilang kalau kemewahan adalah identitas Anda. Anda sangat membenci kesederhanaan," Lily tampak kebingungan, seolah aku baru saja bicara dalam bahasa asing.

"Itu Aurelia yang dulu," kataku tegas, meskipun hatiku sebenarnya menjerit ketakutan. "Sekarang, aku hanya ingin hidup tenang. Aku ingin selamat."

Aku kembali duduk di pinggir ranjang, mencoba memilah ingatan Aurelia yang mulai menyatu dengan pikiranku. Wanita ini bukan hanya jahat, dia sombong dan haus kekuasaan. Dia mengejar-ngejar ketiga pangeran itu demi status, tanpa menyadari bahwa mereka bertiga adalah monster yang akan merobeknya menjadi berkeping-keping di masa depan.

Lucien, sang Raja Iblis yang terobsesi pada kekuatan. Zayne, si manipulator yang haus keabadian. Dan Alaric, sang Werewolf yang tidak bisa mengendalikan insting binatangnya.

Sial, pikirku merana. Kenapa aku harus masuk ke tubuh wanita yang paling dibenci di seluruh kekaisaran?

"My Lady, ada surat untuk Anda," Lily kembali setelah mengambil sesuatu dari meja di luar. "Ini dari istana. Undangan dari Pangeran Zayne."

Aku tersentak saat mendengar nama itu. Nama yang baru saja kulihat di penglihatanku sebagai orang yang tersenyum saat kepalaku jatuh ke tanah. Tanganku gemetar saat menerima amplop berwarna emas tersebut.

"Jangan bilang aku harus pergi," bisikku pada diri sendiri.

"Ini adalah undangan pesta teh pribadi di taman kerajaan, My Lady. Anda sudah menunggu ini selama berbulan-bulan. Anda bahkan mengancam akan menghancurkan toko penjahit jika gaun Anda tidak selesai tepat waktu untuk acara ini," jelas Lily.

Aku menatap surat itu seolah itu adalah bom yang siap meledak. Jika aku pergi, aku akan bertemu dengan mereka. Jika aku bertemu dengan mereka, alur cerita akan dimulai. Tapi jika aku tidak pergi, aku akan memicu kecurigaan. Aurelia yang asli tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk mendekati Zayne.

"Katakan pada pengirimnya, aku sakit," ucapku cepat.

"Tapi My Lady, Pangeran Zayne tidak suka ditolak. Anda tahu sendiri bagaimana sifatnya," Lily mengingatkan dengan suara pelan.

Aku meremas surat itu hingga kusut. Ingatan di novel kembali berputar. Zayne adalah pria yang paling berbahaya karena dia selalu menyembunyikan belatinya di balik kata-kata manis. Jika aku mulai bertingkah aneh, dia akan menjadi orang pertama yang menyadarinya.

Apa yang harus aku lakukan? pikirku panik. Aku hanya ingin hidup sebagai orang biasa dan menghindari eksekusi itu.

Tiba-tiba, sebuah bayangan melintas di jendela kamarku. Sosok tinggi besar dengan aura yang sangat berat. Aku menoleh dengan cepat, namun sosok itu sudah hilang. Jantungku berdebar kencang. Apakah salah satu dari mereka sudah ada di sini? Apakah mereka sudah mulai mengawasiku?

"Lily, kunci semua pintu dan jendela," perintahku dengan nada mendesak.

"Ada apa, My Lady? Anda terlihat seperti melihat hantu."

"Bukan hantu, Lily. Sesuatu yang jauh lebih buruk," aku menelan ludah, mencoba menghilangkan rasa ngilu di leherku yang seolah masih terasa.

Aku menatap pantulan diriku sekali lagi di cermin. Wajah ini cantik, tapi ini adalah kutukan. Darah yang mengalir di tubuh ini bukan darah sembarangan. Aku adalah pewaris Aethelgard, pemilik kekuatan primordial yang diinginkan oleh ketiga pria berbahaya itu. Mereka tidak menginginkan cintaku, mereka menginginkan kekuatanku untuk menghancurkan dunia.

Aku harus mengubah nasibku. Aku tidak akan membiarkan leherku berakhir di bawah mata pedang itu. Jika aku harus menjadi pengecut yang bersembunyi di balik bayang-bayang, maka itulah yang akan kulakukan.

Namun, di sudut hatiku yang paling dalam, aku tahu. Pelarian ini tidak akan semudah yang kubayangkan. Bayangan ketiga pangeran itu seolah sudah mengunci langkahku, menunggu saat yang tepat untuk menarikku kembali ke dalam permainan maut mereka.

"Aku tidak akan mati," bisikku pada bayanganku sendiri, dengan tangan yang masih gemetar hebat. "Tidak untuk kedua kalinya."

Tok, tok, tok!

Suara ketukan di pintu kamar membuatku melonjak kaget.

"Siapa?" teriakku dengan suara yang hampir pecah.

"My Lady, ini Caelan. Saya diperintahkan Duke untuk memastikan Anda benar-benar masih bernapas."

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ไม่มีความคิดเห็น
7
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status