LOGINAyra mengira kematian adalah akhir, namun ia justru terbangun dalam tubuh Lady Aurelia Veridian—sang antagonis kejam yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan mereka yang membencinya. Bertekad mengubah nasib, Ayra membuang topeng kelamnya dan memilih jalan kebaikan. Namun, di istana yang penuh dengan duri, kebaikan adalah magnet bagi bahaya. Empat pria berpengaruh dengan rahasia gelap kini mengelilinginya dengan maksud dan tujuan berbeda. Akankah Lady Aurelia bisa merubah takdirnya? Apa saja rahasia kelam para pria berpengaruh itu?
View More"Lima kota terbakar," bisik Aurelia, matanya terpaku pada visi mengerikan di perangkat Editor—kota-kota Aethelgard yang runtuh, rakyatnya yang panik, dan di tengah semua itu, sosok Zayne yang kini mengerikan, dikelilingi oleh 'Super Soldier' manusia dengan mata ungu bersinar. Editor itu, dengan suaranya yang tanpa emosi, telah melemparkan pilihan yang mustahil: menyelamatkan satu kota, atau membiarkan empat lainnya binasa. "Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi."Lucien, Alaric, Caspian, Jasper, dan Elara menatap Aurelia dengan tatapan yang sama. Mereka telah bersumpah untuk melindunginya, untuk Aethelgard. Tetapi sekarang, mereka dihadapkan pada kenyataan yang brutal. Mereka tidak bisa berada di lima tempat sekaligus."Ada cara," kata Caelan, suaranya serak. Ia baru saja pulih dari luka parahnya, dan meskipun lebih kuat, ia masih terlihat pucat. Ia menatap Aurelia dengan tatapan penuh tekad. "Dulu, klan rubah kami memiliki legenda tentang tempat di mana semua cerita bertemu. Sebuah
Ruang putih bersih yang memancar dari portal di dinding koridor, dan janji untuk kembali ke dunia asalnya, terasa begitu menggoda bagi Aurelia. Di sampingnya, Cermin Jiwa menampilkan wajah Ayra yang tersenyum lembut—dirinya yang lain, dari dunia yang ia tinggalkan, seolah memanggilnya pulang. Namun, Aurelia melihat wajah-wajah pucat para sekutunya: Lucien, Alaric, Caspian, Jasper, dan Elara, yang kini terancam terhapus dari keberadaan. Ia melihat pengorbanan Caelan yang baru saja terjadi. Ia melihat Aethelgard yang telah ia perjuangkan dengan darah dan air mata."Tidak," kata Aurelia, suaranya tegas, menggetarkan setiap sudut reruntuhan istana. "Aku tidak akan kembali. Aethelgard adalah rumahku sekarang. Dan aku akan melindunginya."Pria bertopeng Editor itu tertawa, suara tawanya terdengar hampa dan dingin. "Pilihan yang bodoh, Pewaris. Kau menolak kebahagiaanmu demi sebuah 'cerita' yang cacat. Maka saksikan kehancuran yang akan menimpamu." Ia mengaktifkan perangkat tabletnya, dan po
Transformasi Zayne yang mengerikan, tubuhnya melebur menjadi sosok hitam pekat yang mengerikan, melahap Pena Takdir dan Artefak Cahaya, meninggalkan Aurelia dan sekutunya dalam keadaan syok. Zayne bukan lagi sekadar pangeran ambisius; ia telah menjadi perwujudan dari keinginan tergelapnya, diciptakan oleh kekuatan kegelapan dan Pena Takdir itu sendiri. Ia adalah penulis baru Aethelgard, ancaman yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan."Zayne... tidak!" Aurelia menjerit, mencoba melancarkan serangan, tetapi kekuatan kelima elemen dalam dirinya terasa goyah. Menghadapi entitas yang menggabungkan kekuatan Zayne, Pena Takdir, Artefak Cahaya, dan kegelapan Leluhur Raja Kegelapan sekaligus, adalah ujian terberatnya.Lucien, Alaric, Caspian, Jasper, dan Elara segera mengerumuni Aurelia, membentuk formasi pertahanan. Mereka merasakan ancaman yang sama, bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Namun, mereka tidak akan menyerah."Kita harus menghancurkan Pena Takdir itu!" seru A
Pria bertopeng zirah hitam, yang memegang artefak penetralisir sihir, berdiri di ambang pintu, tatapannya dingin dan mengancam. Kata-kata pria itu, 'Kau telah membuat banyak masalah, Pewaris Aethelgard. Dan sekarang, saatnya untuk mengembalikanmu ke tempatmu,' menggema di benak Aurelia. Ia merasakan energi primordial dalam dirinya berdenyut, mencoba melawan pengaruh artefak itu, tetapi kekuatannya terasa melemah, hampir hilang. Di belakangnya, ia merasakan kehadiran Lucien yang semakin mendekat, diikuti oleh Alaric yang kini telah pulih sepenuhnya, dan Caelan yang masih lemah namun penuh tekad."Siapa kau?" tanya Aurelia, suaranya bergetar, tetapi ia berusaha keras untuk tetap berdiri tegak. Ia memegang Pena Takdir yang diberikan 'penciptanya', merasakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya artefak di tangan pria bertopeng itu.Pria itu tertawa, suara tawanya terdengar teredam oleh helmnya. "Aku hanyalah alat. Alat untuk memastikan cerita berjalan sesuai rencana. Dan kau, Aurelia,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews