LOGINAyra mengira kematian adalah akhir, namun ia justru terbangun dalam tubuh Lady Aurelia Veridian—sang antagonis kejam yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan mereka yang membencinya. Bertekad mengubah nasib, Ayra membuang topeng kelamnya dan memilih jalan kebaikan. Namun, di istana yang penuh dengan duri, kebaikan adalah magnet bagi bahaya. Empat pria berpengaruh dengan rahasia gelap kini mengelilinginya dengan maksud dan tujuan berbeda. Akankah Lady Aurelia bisa merubah takdirnya? Apa saja rahasia kelam para pria berpengaruh itu?
View MoreAroma melati yang biasanya menenangkan di paviliunnya kini terasa terlalu tajam, menusuk indra penciuman Aurelia saat kelopak matanya perlahan terbuka. Cahaya matahari pagi menyelinap di antara celah gorden beledu, membentuk garis-garis emas yang menari di atas lantai marmer. Aurelia mengerang pelan, merasakan denyut nyeri yang samar di lehernya—bekas gigitan Alaric yang kini terasa seperti tanda permanen di kulitnya. "Lady! Oh, syukurlah, Anda sudah bangun!" Lily bergegas mendekat, menjatuhkan kain kompres ke dalam baskom perak hingga airnya memercik. Wajah pelayan itu pucat, dengan kantung mata yang menandakan dia tidak tidur semalaman. "Lily... suaramu terlalu keras," bisik Aurelia. Suaranya serak, seolah tenggorokannya baru saja diguyur pasir. "Maaf, Lady. Saya hanya... saya sangat takut. Setelah apa yang terjadi di aula kemarin malam... pria itu membawa Anda ke sini dan—" "Pria? Pria yang mana, Lily?" Aurelia mencoba duduk, namun kepalanya terasa berputar. "Pria yang sangat
Kegelapan yang menyelimuti Aurelia bukanlah kehampa yang menakutkan, melainkan sebuah ruang yang tenang, dihiasi oleh aliran cahaya yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang di tengah malam yang hangat. Tidak ada lagi teriakan Zayne, tidak ada bau darah, dan tidak ada detak jantung Alaric yang terburu-buru. Hanya ada keheningan yang megah. Di mana ini? pikir Aurelia. Perlahan, ruang gelap itu terbuka menjadi hamparan padang rumput yang tak berujung, namun rumputnya tidak terbuat dari tanaman biasa. Helai-helainya adalah benang cahaya hijau yang lembut. Di atasnya, langit tidak memiliki matahari, melainkan sebuah pusaran galaksi yang berputar lambat, meneteskan energi yang terasa seperti embun di kulit Aurelia. "Selamat datang kembali, Pewaris," sebuah suara bergema. Itu bukan suara manusia, melainkan harmoni dari desiran angin dan gemericik air yang menyatu. Aurelia berbalik. Di sana, dua sosok berdiri dengan keagungan yang membuat napasnya tertahan. Yang satu tampak seperti pria
Aurelia berdiri tegak di tengah aula yang mendadak sunyi, menantang Zayne yang masih terpaku dengan pedang terhunus. Aura keemasan itu bukan sekadar cahaya; itu adalah manifestasi dari denyut Aethelgard yang mulai bergejolak di dalam darahnya. Zayne tampak mundur selangkah, matanya yang biasa licik kini menunjukkan kilatan ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan. "Itu... tidak mungkin," gumam Zayne, suaranya tercekat. "Tidak ada seorang pun di kerajaan ini yang memiliki kekuatan murni seperti itu. Kau hanyalah pion, Aurelia!" "Pion telah berhenti melangkah, Zayne," sahut Aurelia. Suaranya terdengar berbeda, lebih dalam dan bergema, seolah-olah ribuan suara leluhur turut berbicara bersamanya. "Dan sekarang, bidak ini siap menjatuhkan rajanya." Alaric, yang masih berdiri di samping Aurelia, merintih pelan. Ikatan darah yang baru saja terbentuk melalui gigitan itu membuat mereka berbagi detak jantung yang sama. Aurelia bisa merasakan rasa sakit Alaric yang mereda, digantikan oleh kesa
Cahaya merah yang menyakitkan itu membanjiri aula, mengubah gaun-gaun sutra menjadi terlihat seperti genangan darah. Aurelia merasa napasnya tersengal saat jeritan panik pecah di sekelilingnya. Namun, fokusnya seketika teralih pada suara debuman keras di sisi balkon yang tadi ditinggalkan Alaric.Pangeran werewolf itu telah ambruk. Tubuhnya tertekuk di atas lantai marmer, sementara otot-otot di balik seragam militernya menegang secara tidak wajar. Suara kertak tulang terdengar nyaring di tengah kekacauan, membuat para bangsawan yang berada di dekatnya lari tunggang-langgang."Alaric!" teriak Aurelia. Ia mengabaikan peringatan Caelan yang mencoba menarik lengannya. "Lepaskan aku, Caelan! Dia sedang sekarat!""Jangan mendekat, Aurelia! Dia sudah tidak bisa mengendalikan instingnya lagi!" Caelan memekik, matanya menatap horor ke arah Alaric yang kini mulai mengeluarkan taring panjang dan cakar yang merobek lantai marmer.Aurelia tidak peduli. Kakinya melangkah pasti menuju sosok pria yan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.