author-banner
Indah Park Hyura
Author

Novels by Indah Park Hyura

Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas

Jiwa Yang Kembali Hidup Untuk Menuntut Balas

Setelah selamat dari kecelakaan misterius, Alvaro mulai mendengar suara pria asing di dalam kepalanya—seorang pria yang mengaku telah dibunuh. Suara itu membuat Alvaro menyadari bahwa kematian tersebut terhubung dengan perusahaan besar tempatnya bekerja. Kini, tanpa sengaja Alvaro terjebak dalam rahasia berbahaya yang bisa membuatnya menjadi korban berikutnya.
Read
Chapter: Bab 49. Ancaman sang monster
“Alvaro Pratama, silahkan duduk didepan,” Ucap salah satu dewan direksi. Alvaro duduk dikursi dengan tatapan mengunci Rama, mereka saling pandang dengan tatapan tajam. “Baik Alvaro Pratama, pertanyaan seperti sebelumnya apakah benar orang dalam video itu adalah anda dan Aurel Mahesa?” Tanya salah satu dewan direksi. “Benar pak, itu saya,” Jawab Alvaro santai. “Apakah anda tahu hubungan dalam perusahaan itu melanggar ketentuan perusahaan?” “Ya… Saya tahu, tapi yang harus anda garis bawahi apakah disini diantara hubungan saya dan Aurel Mahesa itu ada pihak yang dirugikan, misalnya pasangan dia di rumah atau yang lain…” Para dewan direksi saling pandang. Hingga akhirnya Rama bersuara. “Memang tidak ada yang dirugikan tapi ini sikap profesionalitas kerja,” Alvaro mengangguk santai. “Profesional? Lalu bagaimana dengan eksekutif yang justru mencoreng nama baik perusahaan besar ini, saya rasa itu tidak adil dalam hubungan saya dan Aurel Mahesa tidak ada yang dirugikan sama sekali tapi
Last Updated: 2026-05-05
Chapter: Bab 48. Skakmat Sang Permaisuri
Terdengar suara langkah cepat sepatu pantofel wanita, rupanya itu Aurel yang dari tadi sudah mencari Alvaro. “Disini kamu rupanya,” Ucap Aurel sambil bersilang dada. ​"Hai, Sayang... nyusul ke sini karena kangen ya? Baru juga pisah lima menit, udah nggak tahan mau peluk?" Alvaro menyeringai lebar, mengabaikan atmosfer berat yang baru saja ia bangun bersama Darian.​PLAK!​"Aduh! Rel, hobi banget sih aniaya kepala aku!" rintih Alvaro sambil mengusap bekas geplakan maut Aurel yang mendarat tepat sasaran.​Aurel tidak tertawa. Napasnya memburu, wajahnya pucat pasi sambil menggenggam ponsel dengan tangan gemetar. "Bisa nggak sih serius sebentar? Kita dalam masalah besar, Varo!"​Alvaro langsung menegakkan punggungnya, meski sisa cengiran masih menempel tipis. "Kenapa? Si Rama serangan jantung?"​"Lebih parah! Surya, aku, dan kamu dipanggil dewan direksi sekarang juga," seru Aurel dengan suara tertahan. "Video viral Surya sudah tersebar di grup internal kantor. Seluruh Maheswara Group lag
Last Updated: 2026-05-05
Chapter: Bab 47. Pelatuk tak berhenti
Alvaro menarik napas panjang seraya mencabut kabel data dari tablet. Ia tidak butuh waktu lama untuk memindahkan rekaman terkutuk itu ke dalam penyimpanan awan pribadinya. Wajahnya tidak lagi menunjukkan gurauan konyol yang tadi ia gunakan untuk menggoda Aurel. Kini hanya ada gurat tajam yang tampak haus darah.​Aurel berdiri disamping kursi Alvaro. Matanya masih menatap layar kosong dengan sisa keterkejutan yang nyata. Ia merasa mual. Kenyataan bahwa ibu Rama berselingkuh dengan salah satu orang kepercayaan keluarga Maheswara terasa jauh lebih kotor dari sekadar pengkhianatan bisnis.​"Varo, kamu benar-benar akan mengirim ini sekarang?" suara Aurel terdengar bergetar.​Alvaro menoleh sekilas tanpa menghentikan jemarinya yang sedang mengetik pesan di enkripsi khusus. Ia tidak menjawab dengan keraguan.​"Menunggu hanya akan memberi mereka waktu untuk menyusun kebohongan baru. Rama harus tahu rasanya bagaimana jika keluarganya menjijikan seperti itu, dia harus membayar apa yang aku rasa
Last Updated: 2026-05-05
Chapter: Bab 46. Dosis terakhir di kamar sebelah
Rio melangkah menyusuri koridor lantai sembilan dengan seragam teknisi yang terasa sesak karena keringat dingin. Tangannya gemetar saat memasukkan kunci akses ke kamar 905, tempat Surya Gunawan biasa menghabiskan malam. Begitu pintu tertutup, ia bergerak cepat menuju vas bunga porselen di sudut ruangan. Modul lensa mikro itu ia selipkan di antara kelopak bunga plastik, memastikan posisinya condong ke arah ranjang dan sofa utama. Rio menahan napas saat jemarinya menyentuh dekorasi tersebut, telinganya tajam menangkap setiap deru langkah di lorong luar.​Setelah memastikan lampu indikator kecil pada modul itu padam, ia segera keluar dengan kepala tertunduk. Di kamar 907, Alvaro duduk tegak di depan tablet dengan pendar cahaya layar yang menyinari wajah datarnya. Aurel duduk disamping Alvaro menggenggam kedua tangannya sendiri dengan cemas. Layar itu berkedip sejenak sebelum menampilkan visual hitam putih yang jernih. Kamar di sebelah tampak sunyi dan megah, menunggu aktor utamanya datan
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 45. Mata yang tersembunyi
Alvaro melajukan motornya dengan kecepatan tinggi ke apartemen Aurel, setibanya disana dia langsung menuju unit Aurel. Sementara itu Aurel menunggu Alvaro sembari bermain ponsel tapi begitu dia akan membuka grup chat kantor, bel pintu terdengar. Aurel pun segera membukanya, terlihat Alvaro sampai di sana dengan terengah. “Varo… kamu kenapa… gak apa-apa kan?” “Ssstt…” Alvaro meletakkan jari telunjuknya di bibir Aurel, lalu menyusuri ruang apartemen Aurel. Posisi pengambilan gambar itu sangat strategis dan bisa merekam seluruh ruangan apartemen hingga akhirnya Alvaro menemukan titik posisi kamera tersembunyi itu. Kamera itu menyatu dengan vas bunga di bawah jam dinding tapi cukup dalam jangkauan Alvaro yang tinggi. Aurel menutup mulutnya tak percaya jika ada benda seperti itu di dalam apartemennya. Alvaro menarik paksa lensa mikro yang tertanam di antara sela bunga plastik itu. Tanpa kata, ia membantingnya ke lantai dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. Napasnya masih mend
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: Bab 44. Pinjaman nyawa
Tinju Alvaro menghantam besi pembatas jembatan layang hingga buku jarinya kembali pecah dan merembeskan darah. "Ini yang lo mau, hah?" desisnya pelan pada kesunyian malam. "Lo bilang ini soal keadilan, tapi yang gue dapet cuma sampah." ​Darian tetap tidak bergeming di dalam kepalanya. Keheningan entitas itu justru membuat Alvaro semakin muak. Ia merasa seperti pion retak yang baru saja dibuang setelah memenangkan satu petak bidak. Janji Darian untuk mengungkap kebenaran kini terasa seperti pintu masuk menuju neraka yang lebih dalam. Alvaro baru menyadari betapa tidak adilnya kesepakatan mereka; Darian mendapatkan kembali suaranya, sementara ia harus kehilangan dunianya. ​"Lo bener-bener hancurin hidup gue," bisik Alvaro sambil menyeka darah di tangannya ke celana denim yang kusam. ​Ia mengenakan helm kembali dengan gerakan mekanis. Besok pagi, ia harus tetap berangkat ke kantor, bersembunyi di balik kemeja rapi seolah tidak ada badai yang baru saja meratakan rumahnya. Namun, inst
Last Updated: 2026-05-02
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status