Chapter: Bab 92. Di balik senyuman"Ibu, kalau Rayan bangun, boleh Darian ajak main mobil-mobilan juga?" tanya Darian penuh harap."Nanti ya, Sayang. Tunggu adikmu besar sedikit lagi.” jawab Lestari yang duduk di sofa sambil mengayun pelan ayunan bayi tempat Rayan yang berusia satu tahun tertidur lelap. Rama berjalan menghampiri mereka, menatap bayi mungil itu dengan gemas. Lalu mencolek pipinya pelan. “Nanti kalau sudah gede kita main bareng ya.” Mengecup pelan pipi gempul Rayan lalu terkikik bersama Darian. Darian dan Rama masih kecil umur mereka hanya terpaut satu tahun. Lestari mencolek hidung Rama pelan. “Iya sayang, nanti saja kalau adeknya sudah besar,” Herlina melihat momen itu dari arah taman belakang yang bersekat kaca. Sorot matanya tajam, rahangnya sedikit mengeras Herlina menarik napas panjang, ia masuk ke dalam rumah lalu memasang senyum ketika Lestari menoleh ke arahnya. “Kalian terlihat bahagia sekali,” ucapnya sambil berjalan mendekat. Lestari tersenyum. “Darian memang senang sekali punya adik.” Her
Last Updated: 2026-10-27
Chapter: Bab 91. Anak yang seharusnya sudah mati"Nyonya Herlina... gawat... Nyonya!" Wibowo berlari tergesa-gesa memasuki ruang tengah, napasnya memburu dengan wajah sepucat kertas.Herlina yang sedang meletakkan cangkir porselennya mendongak, alisnya bertaut tajam melihat sikap kepala pelayan itu. "Ada apa, Wibowo? Jaga sikapmu.""Adik laki-laki Darian... masih hidup," ucap Wibowo setengah berbisik, tetapi sanggup meruntuhkan seluruh ketenangan Herlina dalam sekejap.Tubuh Herlina membeku. Cangkir di tangannya hampir saja terlepas jika ia tidak segera menahannya dengan jemari yang mendadak bergetar. Selama belasan tahun, ia hidup dengan keyakinan penuh bahwa Rayan sudah tewas di jalanan setelah dibuang, tepat seperti laporan yang dibawa Surya padanya kala itu.Batin Herlina berkecamuk hebat, dihantam rasa curiga dan kepanikan yang membakar dada. Jika Rayan masih bernapas hingga detik ini, lantas siapa jasad yang dimakamkan dulu? Atau lebih buruk lagi, siapa yang berani membohonginya selama bertahun-tahun ini?“Jangan bohong ka
Last Updated: 2026-08-09
Chapter: Bab 90. Akhir sebuah kekuasaanMatahari baru saja terbit tinggi saat iring-iringan sedan hitam mewah memasuki pelataran gedung utama Maheswara Group. Seketika itu juga, kesibukan di lobi mendadak lumpuh total. Seluruh karyawan menghentikan langkah mereka, sementara barisan satpam langsung berdiri tegap memberikan hormat paling khidmat. Bisik-bisik tegang mulai menjalar cepat di antara para pegawai yang saling melempar pandang.Pintu mobil terbuka. Maheswara turun perlahan, menumpu bobot tubuhnya pada tongkat snakewood berlapis emas miliknya. Langkahnya kini jauh lebih mantap dan berwibawa, memancarkan kepemimpinan yang absolut. “Tuan besar datang, pak maheswara kok bisa?” “Bukannya Tuan besar masih sakit?” “Beliau datang sendiri?” Mario berjalan di belakangnya setengah langkah. Langkah Maheswara tegap, tak memperdulikan bisik-bisik yang menggema di lobi Maheswara Group. Ia masuk ke lift eksekutif, naik ke lantai atas tempat ruang CEO berada. Kedatangan Maheswara ke kantor sudah menyebar hingga ke ruang wakil
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Bab 89. Panggung babak keduaFlashback “Mario…?” Darian menatap deburan ombak di depannya, ia menarik napas sejenak. “Ya… aku tahu Mario, dia mantan militer. Keluar dari militer karena bertentangan dengan hati nuraninya,” Lanjutnya. Alvaro menggeser duduknya menghadap Darian. “Maksud lo apa?” Darian menyandarkan tubuhnya di bawah pohon menatap langit. “Mario pernah menjadi anggota militer. Ia meninggalkan seragamnya karena menolak mengorbankan anak buah demi kepentingan komandannya. Saat atasannya diam-diam bersekongkol dengan pemberontak, justru prajurit di bawah komandonya yang dikirim menjadi tumbal.”Alvaro menegakkan tubuhnya, menatap ombak yang berdebur pelan. “Terus gimana dia bisa kerja sama bokap lo?” Darian tersenyum menatap Alvaro. “Kamu pasti ingat Sebastian kan, ketua tim The Cleaner?” Alvaro mengangguk cepat. “Sebastian yang mengajak Mario untuk bekerja dengan ayahku, sayang Sebastian justru berkhianat,” Darian menghembuskan napas pelan. Tatapannya kembali lurus k
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Bab 88. Jiwa yang kembali hidupAroma antiseptik kembali memenuhi lorong rumah sakit yang masih dipenuhi keheningan. Sinar matahari siang menembus jendela besar di ujung koridor, memantulkan cahaya hangat ke lantai mengkilap, namun tak sedikit pun mampu mengusir kecemasan yang menyelimuti ruang ICU. Di balik dinding kaca, tubuh Alvaro masih terbaring kaku dengan berbagai selang dan alat medis yang menopang hidupnya. Bunyi monitor jantung terdengar stabil, menjadi satu-satunya pertanda bahwa ia masih berjuang di antara batas sadar dan tidak sadar. Di samping tempat tidur, Aurel menggenggam erat tangan Alvaro tanpa pernah melepaskannya. Kelopak matanya sembab akibat kurang tidur, tetapi tatapannya tak pernah beralih dari wajah pria itu. Di luar ruangan, Mario baru saja tiba setelah meninggalkan gudang persembunyiannya. Ia berhenti sejenak di depan kaca ICU, menghembuskan napas panjang sebelum melangkah mendekat, menyadari bahwa pertarungan terbesar Alvaro saat ini bukan lagi melawan musuh, melainkan melawan dirinya
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Bab 87. Pengakuan yang dibungkamSuasana di dalam gudang persembunyian terasa begitu pengap. Yuda duduk terikat di sebuah kursi kayu dengan kondisi tubuh penuh lebam dan luka yang telah mengering. Ketika pintu besi berderit terbuka, Mario melangkah masuk dengan tenang sembari membawa selembar map hitam. Ia menarik kursi kayu lain, duduk tepat di hadapan mantan rival Alvaro tersebut tanpa menunjukkan ekspresi kemarahan sedikit pun.Mario melempar tiga lembar foto ke atas meja kecil di antara mereka. Gambar Sebastian, Feri, dan Rama mendarat dengan posisi terbuka. Yuda melirik sekilas ke arah foto-foto itu, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil mendengus remeh."Lo tuh buang-buang waktu tahu gak, kalau lo ngira gue bakal ngemis minta ampun sama lo," ujar Yuda.Mario menatapnya lurus. "Gue gak butuh tangisan lo, gue hanya pengen tahu siapa yang nyuruh lo buat menghancurkan kota,”Yuda tidak langsung menjawab, melainkan terkekeh pelan hingga bahunya berguncang. “Siapa yang meme
Last Updated: 2026-07-10