Chapter: Bab 78. Wajah tanpa topeng“Apa maksudmu, kita targetnya… bagaimana bisa?” Herlina mencengkram lengan Surya kuat. “Kita target Alvaro, kita sebenarnya dalam masalah,” Suara Surya sedikit meninggi. Herlina meremas rambutnya kasar, ia mondar-mandir di ruang tamu. “Kenapa bisa begini? Rencana kita gagal.” Herlina menghentikan langkahnya lalu menatap Surya dengan wajah pucat. “Bukankah selama ini semuanya berjalan sesuai keinginan kita?”“Semua ini karena anakmu terlalu gegabah,” ucap Surya, Herlina menatap Surya dengan tajam. “Apa maksudmu, jangan hanya menyalahkan anakku saja,” Suara Herlina mulai meninggi, ia tidak peduli jika Maheswara nanti bisa mencurigai mereka. “Kau juga sama saja…” “Sudah cukup, yang terpenting bagaimana caranya kita harus bertahan hidup,” Surya menatap ke arah Herlina memangkas jarak di antara mereka, lalu berbisik pada Herlina. “Tenang, aku sudah meminta seseorang untuk mengawasi mereka,” “Siapa?” Surya mengangkat bahu singkat. “Seseorang yang akan menghancurkan mereka secara pelan-
Terakhir Diperbarui: 2026-06-18
Chapter: Bab 77. memburu dan diburuBip! Pintu akses apartemen terbuka. Rudi melangkah masuk dan langsung menendang botol alkohol kosong di lantai hingga berdenting keras. Di sudut sofa, Rama tersentak bangun dengan tatapan liar dan rambut acak-acakan. Nyalinya menciut melihat rahang pamannya yang mengetat menahan amarah. "Paman, aku bisa jelaskan," bisik Rama parau, mencoba bangkit berdiri. PLAK! Tamparan keras Rudi mendarat di pipi kiri Rama hingga kepalanya terhentak ke samping. Sudut bibir Rama pecah seketika. Batinnya menjerit antara rasa sakit dan harga diri yang hancur, menyadari bahwa pelarian pengecutnya selama dua hari ini telah resmi berakhir di tangan keluarganya sendiri. “Bagus sekali kelakuanmu Rama,” Rama menunduk, kedua tangannya bertaut ke depan. Seperti sudah siap menerima semua konsekuensi dari pamannya. “Apa begini sikapmu setelah semua yang kekacauan yang telah kau lakukan pada keluarga Maheswara,” Rudi menatap tajam ke arah mata Rama. “Darian memang anak yang nakal, dia juga pernah
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 76. Perburuan bukti"Kita harus bungkam media secepatnya!" bentak Arman sebelum memutus panggilan secara sepihak. Pikirannya kalut. Ia segera menghubungi Surya, namun panggilannya terus dialihkan. Arman mondar-mandir di ruang kerjanya, sejak pagi tadi hidupnya mulai tidak tenang. Keringat dingin membasahi tubuhnya tiap kali kolega politik memakinya diseberang telpon. Istri dan anaknya yang sejak subuh tadi terus menelponnya tanpa henti meminta penjelasan darinya karena dirumah utamanya juga diserbu banyak wartawan. “Bagaimana ini… siapa yang berani membongkarnya,” Tiba-tiba dipikirannya terbesit satu nama. “Pasti dia… pasti anak ingusan itu, brengsek!” umpatnya. Arman membuka ponselnya mencari kontak seseorang dan melakukan ke nomor tersebut. Dalam satu kali dering, panggilan itu terangkat. “Halo! Bawa Sandy Setyawan ke hadapanku, bawa jaksa bangsat itu hidup-hidup jangan sampai dia bicara sepatah kata pun ke media sebelum aku mengintrogasinya!" perintah Arman dengan napas memburu."Dimengerti, Tuan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 75. Tembakan dan kehancura"Jangan bergerak," desis pria bertopeng itu. Mario mengenal suara itu. Rahangnya mengeras, menggertakkan giginya menahan amarah didadanya. Mario perlahan mengangkat kedua tangannya. Pemimpin anak buah Surya yang masih memegang ponsel langsung berteriak parau. "Habisi dia sekarang! Dia komplotan yang meretas data kita!" Pria bertopeng itu tidak bergeming. mengabaikan teriakan panik di sekelilingnya. “Lama tidak bertemu tuan,” Ucap pria bertopeng itu dingin, bersiap menarik pelatuk. Mario menurunkan tangannya berbalik arah dengan tenang. Sesuai dugaannya, orang itu berdiri di hadapannya tanpa rasa bersalah. “Bangsat!” Desis Mario. Orang itu menyunggingkan senyumnya. “Selesaikan pekerjaan kalian, biar aku urus orang ini,” Para anak buah Surya mulai menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu mengunci tatapan Mario. Mereka tidak saling bicara tapi dari sorot mata keduanya jelas terlihat bahwa pertemuan ini bukan yang pertama. Mario mengepalkan rahangnya. “Jadi benar kau masih hidup,”
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: Bab 74. Permainan balik dimulaiPintu kamar Rama dibanting keras. Tak lama kemudian terdengar suara pecahan gelas dari dalam. Napas Rama memburu, matanya nyalang. Telapak tangannya sudah berlumuran darah. Herlina masuk dengan raut wajah datar sambil bersedekap dada. “Puas kamu! Sudah membuat semua kacau,” Rama berbalik, menatap ibunya dengan malas. “Sudah mama katakan jangan kau sentuh sekretarismu itu, tapi coba lihat… apa yang kau lakukan. Kau benar-benar memalukan,” Lanjutnya. “Aku… aku tidak sadar mama, aku mabuk waktu itu,” Ucap Rama lemah. “Kau mabuk kenapa ke kantor, kenapa tidak pulang ke apartemen atau ke rumah ha…! Kau sendiri yang mencari masalah sekarang kau hancurkan rencana yang susah payah kita bangun,” Ujar Herlina. Rama menunduk, rahangnya mengeras. Darah dari telapak tangannya menetes ke lantai, tetapi ia seolah tidak merasakannya. “Jadi sekarang semua salahku?” tanyanya pelan. “Memang salahmu!” bentak Herlina. “Shintya membatalkan pertunangan, Maheswara mulai curiga, dan Alvaro semakin b
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: Bab 73. Runtuh perlahan“Rama…” Desis Alvaro yang langsung beranjak dari duduknya. Rama tersenyum miring berjalan pelan ke arah Alvaro, melirik ke arah layar monitor yang menampilkan grafik kasus suap dan deretan nama-nama pejabat yang terlibat. “Rupanya kau masih punya hati,” ucap Rama pelan. “Kalau benar ingin menghancurkanku, seharusnya sekalian saja nama Maheswara Group kau sebar di semua berita sejak kemarin,” Alvaro menatapnya datar.“Keluar dari ruang server gue.”Rama tertawa kecil. “Masih peduli pada perusahaan ini? Atau masih menginginkan uang dari Maheswara?” Rahang Alvaro mengeras.“Jangan bawa Maheswara ke dalam percakapan ini.”“Lalu apa maumu?” tanya Rama sambil mendekat. “Balas dendam? Pengakuan? Atau sekadar membuat hidupku berantakan?”Alvaro tersenyum tipis.“Gue cuma mau kebenaran muncul ke permukaan.”Tatapan Rama berubah dingin.“Kalau begitu berikan drive itu sekarang juga.”Hening.Alvaro melangkah maju hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.“Kenapa?” tanyanya pelan. “Takut?”S
Terakhir Diperbarui: 2026-05-31