LOGINSetelah selamat dari kecelakaan misterius, Alvaro mulai mendengar suara pria asing di dalam kepalanya—seorang pria yang mengaku telah dibunuh. Suara itu membuat Alvaro menyadari bahwa kematian tersebut terhubung dengan perusahaan besar tempatnya bekerja. Kini, tanpa sengaja Alvaro terjebak dalam rahasia berbahaya yang bisa membuatnya menjadi korban berikutnya.
View More"Kita harus bungkam media secepatnya!" bentak Arman sebelum memutus panggilan secara sepihak. Pikirannya kalut. Ia segera menghubungi Surya, namun panggilannya terus dialihkan. Arman mondar-mandir di ruang kerjanya, sejak pagi tadi hidupnya mulai tidak tenang. Keringat dingin membasahi tubuhnya tiap kali kolega politik memakinya diseberang telpon. Istri dan anaknya yang sejak subuh tadi terus menelponnya tanpa henti meminta penjelasan darinya karena dirumah utamanya juga diserbu banyak wartawan. “Bagaimana ini… siapa yang berani membongkarnya,” Tiba-tiba dipikirannya terbesit satu nama. “Pasti dia… pasti anak ingusan itu, brengsek!” umpatnya. Arman membuka ponselnya mencari kontak seseorang dan melakukan ke nomor tersebut. Dalam satu kali dering, panggilan itu terangkat. “Halo! Bawa Sandy Setyawan ke hadapanku, bawa jaksa bangsat itu hidup-hidup jangan sampai dia bicara sepatah kata pun ke media sebelum aku mengintrogasinya!" perintah Arman dengan napas memburu."Dimengerti, Tuan
"Jangan bergerak," desis pria bertopeng itu. Mario mengenal suara itu. Rahangnya mengeras, menggertakkan giginya menahan amarah didadanya. Mario perlahan mengangkat kedua tangannya. Pemimpin anak buah Surya yang masih memegang ponsel langsung berteriak parau. "Habisi dia sekarang! Dia komplotan yang meretas data kita!" Pria bertopeng itu tidak bergeming. mengabaikan teriakan panik di sekelilingnya. “Lama tidak bertemu tuan,” Ucap pria bertopeng itu dingin, bersiap menarik pelatuk. Mario menurunkan tangannya berbalik arah dengan tenang. Sesuai dugaannya, orang itu berdiri di hadapannya tanpa rasa bersalah. “Bangsat!” Desis Mario. Orang itu menyunggingkan senyumnya. “Selesaikan pekerjaan kalian, biar aku urus orang ini,” Para anak buah Surya mulai menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu mengunci tatapan Mario. Mereka tidak saling bicara tapi dari sorot mata keduanya jelas terlihat bahwa pertemuan ini bukan yang pertama. Mario mengepalkan rahangnya. “Jadi benar kau masih hidup,”
Pintu kamar Rama dibanting keras. Tak lama kemudian terdengar suara pecahan gelas dari dalam. Napas Rama memburu, matanya nyalang. Telapak tangannya sudah berlumuran darah. Herlina masuk dengan raut wajah datar sambil bersedekap dada. “Puas kamu! Sudah membuat semua kacau,” Rama berbalik, menatap ibunya dengan malas. “Sudah mama katakan jangan kau sentuh sekretarismu itu, tapi coba lihat… apa yang kau lakukan. Kau benar-benar memalukan,” Lanjutnya. “Aku… aku tidak sadar mama, aku mabuk waktu itu,” Ucap Rama lemah. “Kau mabuk kenapa ke kantor, kenapa tidak pulang ke apartemen atau ke rumah ha…! Kau sendiri yang mencari masalah sekarang kau hancurkan rencana yang susah payah kita bangun,” Ujar Herlina. Rama menunduk, rahangnya mengeras. Darah dari telapak tangannya menetes ke lantai, tetapi ia seolah tidak merasakannya. “Jadi sekarang semua salahku?” tanyanya pelan. “Memang salahmu!” bentak Herlina. “Shintya membatalkan pertunangan, Maheswara mulai curiga, dan Alvaro semakin b
“Rama…” Desis Alvaro yang langsung beranjak dari duduknya. Rama tersenyum miring berjalan pelan ke arah Alvaro, melirik ke arah layar monitor yang menampilkan grafik kasus suap dan deretan nama-nama pejabat yang terlibat. “Rupanya kau masih punya hati,” ucap Rama pelan. “Kalau benar ingin menghancurkanku, seharusnya sekalian saja nama Maheswara Group kau sebar di semua berita sejak kemarin,” Alvaro menatapnya datar.“Keluar dari ruang server gue.”Rama tertawa kecil. “Masih peduli pada perusahaan ini? Atau masih menginginkan uang dari Maheswara?” Rahang Alvaro mengeras.“Jangan bawa Maheswara ke dalam percakapan ini.”“Lalu apa maumu?” tanya Rama sambil mendekat. “Balas dendam? Pengakuan? Atau sekadar membuat hidupku berantakan?”Alvaro tersenyum tipis.“Gue cuma mau kebenaran muncul ke permukaan.”Tatapan Rama berubah dingin.“Kalau begitu berikan drive itu sekarang juga.”Hening.Alvaro melangkah maju hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.“Kenapa?” tanyanya pelan. “Takut?”S
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.