ログインSetelah selamat dari kecelakaan misterius, Alvaro mulai mendengar suara pria asing di dalam kepalanya—seorang pria yang mengaku telah dibunuh. Suara itu membuat Alvaro menyadari bahwa kematian tersebut terhubung dengan perusahaan besar tempatnya bekerja. Kini, tanpa sengaja Alvaro terjebak dalam rahasia berbahaya yang bisa membuatnya menjadi korban berikutnya.
もっと見る"Nyonya Herlina... gawat... Nyonya!" Wibowo berlari tergesa-gesa memasuki ruang tengah, napasnya memburu dengan wajah sepucat kertas.Herlina yang sedang meletakkan cangkir porselennya mendongak, alisnya bertaut tajam melihat sikap kepala pelayan itu. "Ada apa, Wibowo? Jaga sikapmu.""Adik laki-laki Darian... masih hidup," ucap Wibowo setengah berbisik, tetapi sanggup meruntuhkan seluruh ketenangan Herlina dalam sekejap.Tubuh Herlina membeku. Cangkir di tangannya hampir saja terlepas jika ia tidak segera menahannya dengan jemari yang mendadak bergetar. Selama belasan tahun, ia hidup dengan keyakinan penuh bahwa Rayan sudah tewas di jalanan setelah dibuang, tepat seperti laporan yang dibawa Surya padanya kala itu.Batin Herlina berkecamuk hebat, dihantam rasa curiga dan kepanikan yang membakar dada. Jika Rayan masih bernapas hingga detik ini, lantas siapa jasad yang dimakamkan dulu? Atau lebih buruk lagi, siapa yang berani membohonginya selama bertahun-tahun ini?“Jangan bohong ka
Matahari baru saja terbit tinggi saat iring-iringan sedan hitam mewah memasuki pelataran gedung utama Maheswara Group. Seketika itu juga, kesibukan di lobi mendadak lumpuh total. Seluruh karyawan menghentikan langkah mereka, sementara barisan satpam langsung berdiri tegap memberikan hormat paling khidmat. Bisik-bisik tegang mulai menjalar cepat di antara para pegawai yang saling melempar pandang.Pintu mobil terbuka. Maheswara turun perlahan, menumpu bobot tubuhnya pada tongkat snakewood berlapis emas miliknya. Langkahnya kini jauh lebih mantap dan berwibawa, memancarkan kepemimpinan yang absolut. “Tuan besar datang, pak maheswara kok bisa?” “Bukannya Tuan besar masih sakit?” “Beliau datang sendiri?” Mario berjalan di belakangnya setengah langkah. Langkah Maheswara tegap, tak memperdulikan bisik-bisik yang menggema di lobi Maheswara Group. Ia masuk ke lift eksekutif, naik ke lantai atas tempat ruang CEO berada. Kedatangan Maheswara ke kantor sudah menyebar hingga ke ruang wakil
Flashback “Mario…?” Darian menatap deburan ombak di depannya, ia menarik napas sejenak. “Ya… aku tahu Mario, dia mantan militer. Keluar dari militer karena bertentangan dengan hati nuraninya,” Lanjutnya. Alvaro menggeser duduknya menghadap Darian. “Maksud lo apa?” Darian menyandarkan tubuhnya di bawah pohon menatap langit. “Mario pernah menjadi anggota militer. Ia meninggalkan seragamnya karena menolak mengorbankan anak buah demi kepentingan komandannya. Saat atasannya diam-diam bersekongkol dengan pemberontak, justru prajurit di bawah komandonya yang dikirim menjadi tumbal.”Alvaro menegakkan tubuhnya, menatap ombak yang berdebur pelan. “Terus gimana dia bisa kerja sama bokap lo?” Darian tersenyum menatap Alvaro. “Kamu pasti ingat Sebastian kan, ketua tim The Cleaner?” Alvaro mengangguk cepat. “Sebastian yang mengajak Mario untuk bekerja dengan ayahku, sayang Sebastian justru berkhianat,” Darian menghembuskan napas pelan. Tatapannya kembali lurus k
Aroma antiseptik kembali memenuhi lorong rumah sakit yang masih dipenuhi keheningan. Sinar matahari siang menembus jendela besar di ujung koridor, memantulkan cahaya hangat ke lantai mengkilap, namun tak sedikit pun mampu mengusir kecemasan yang menyelimuti ruang ICU. Di balik dinding kaca, tubuh Alvaro masih terbaring kaku dengan berbagai selang dan alat medis yang menopang hidupnya. Bunyi monitor jantung terdengar stabil, menjadi satu-satunya pertanda bahwa ia masih berjuang di antara batas sadar dan tidak sadar. Di samping tempat tidur, Aurel menggenggam erat tangan Alvaro tanpa pernah melepaskannya. Kelopak matanya sembab akibat kurang tidur, tetapi tatapannya tak pernah beralih dari wajah pria itu. Di luar ruangan, Mario baru saja tiba setelah meninggalkan gudang persembunyiannya. Ia berhenti sejenak di depan kaca ICU, menghembuskan napas panjang sebelum melangkah mendekat, menyadari bahwa pertarungan terbesar Alvaro saat ini bukan lagi melawan musuh, melainkan melawan dirinya
Rumah besar keluarga Maheswara malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sejak kematian Darian, ruang makan yang dulu selalu ramai kini sering kosong. Lampu-lampu menyala redup, tirai tebal menutup sebagian jendela.Bel pintu berbunyi pelan.“Biar saya yang buka, Pak,” ujar kepala pelayan sebelum
Alvaro berdiri di dekat jendela koridor lantai tiga, menikmati sisa waktu istirahatnya. Dari atas sana, halaman belakang kantor terlihat jelas. Di dekat pagar belakang, Rama Wijaya berdiri bersama Surya Gunawan. Keduanya berbicara dengan suara pelan, wajah mereka terlihat serius.Alvaro menyipitkan
Pagi itu Alvaro berdiri beberapa detik di depan gedung Maheswara Group. Gedung kaca tinggi itu terlihat sama seperti biasanya—megah, sibuk, dan penuh orang yang terburu-buru. Tapi rasanya berbeda sekarang.“Ini perusahaanku,” suara Darian terdengar tenang di kepalanya.Alvaro menghela napas pelan l
Tiga hari setelah kecelakaan itu, Alvaro akhirnya diperbolehkan pulang. Langit sore menggantung kelabu di atas halaman rumah sakit, udara masih menyisakan bau hujan yang belum benar-benar pergi.Ayahnya berdiri di sampingnya, menggenggam lengan Alvaro dengan hati-hati, seolah tubuh anaknya itu bisa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー