เข้าสู่ระบบSetelah selamat dari kecelakaan misterius, Alvaro mulai mendengar suara pria asing di dalam kepalanya—seorang pria yang mengaku telah dibunuh. Suara itu membuat Alvaro menyadari bahwa kematian tersebut terhubung dengan perusahaan besar tempatnya bekerja. Kini, tanpa sengaja Alvaro terjebak dalam rahasia berbahaya yang bisa membuatnya menjadi korban berikutnya.
ดูเพิ่มเติม“Ada denyut! Cepat, angkat dia!”
Suara orang-orang terdengar samar di telinganya. Alvaro ingin membuka mata, tapi tubuhnya seperti tidak lagi miliknya. Dadanya terasa berat, napasnya pendek.
‘Kenapa… gue belum mati?’
Pikiran itu muncul begitu saja, bersamaan dengan rasa nyeri yang tiba-tiba meledak di kepalanya.
Alvaro tersentak bangun.
Lampu putih menyilaukan menyambutnya. Bau antiseptik menusuk hidung. Mesin di sekelilingnya berbunyi ritmis.
Rumah sakit.
“Dia sadar!” seseorang berteriak.
Alvaro mencoba bergerak, tapi tubuhnya kaku. Kepalanya masih berdenyut hebat. Ia ingin bertanya apa yang terjadi, tapi sebelum sempat membuka mulut, sebuah suara tiba-tiba terdengar jelas di dalam kepalanya.
“Tenang. Jangan panik.”
Alvaro membeku.
Suara itu bukan suaranya.
“Siapa…?” bisiknya pelan.
Hening sejenak.
Lalu suara itu menjawab dengan tenang.
“Namaku Darian.”
Alvaro terdiam, tubuhnya masih merespon apa yang sebenarnya terjadi. Kepalanya kembali berdenyut, bayangan kehidupan asing terus berputar di kepalanya.
“Si-siapa lo, terus kenapa gue ada disini?” gumam Alvaro.
“Tenangkan dirimu, kau baru saja kecelakaan lalu orang-orang yang menolongmu membawamu kesini,”
“Apa… kecelakaan, gimana bisa?” saat akan bangun untuk duduk tubuhnya terasa lemah, kepalanya kembali berdenyut. Alvaro hanya menghela napas lalu kembali berbaring.
“Gue tanya sekali lagi, siapa lo sebenarnya dan gimana bisa lo ada dalam tubuh gue?” Tanya Alvaro. Hening tak ada jawaban, sepertinya Darian juga bingung.
“Aku Darian Maheswara–CEO Maheswara Grub, aku… mati dibunuh,” Jawab Darian pelan. Alvaro terdiam. Kata itu seperti membawa kembali mimpi buruknya.
“Bagaimana lo yakin kalau lo dibunuh?” Tanya Alvaro pelan.
“Karena aku yakin ada yang menyabotase sistem keamanan mobilku,” jawab Darian.
“Lo belum jawab pertanyaan gue tadi, bagaimana lo ada dalam tubuh gue?” Tanya Alvaro pelan.
“Aku juga tidak tahu, semua terjadi begitu cepat. Mungkin ini kesempatanku untuk mencari tahu siapa pembunuhku yang sebenarnya,”
Alvaro kembali terdiam, dia masih tidak menyangka akan ada nama lain di dalam tubuhnya. “Terus mau lo apa?” Tanya Alvaro lirih.
“Aku mohon padamu, bantu aku untuk menemukan siapa pembunuhku,” Jawab Darian. Alvaro menghela napas panjang, menutup matanya sejenak.
“Bantu lo nyari pembunuh? hidup gue aja udah ribet malah dimintain tolong,”
“Pembunuhku masih berkeliaran diluar sana, aku ingin membuat mereka menderita,” Pinta Darian. Alvaro terdiam sejenak. “Kalau gue nolak apa yang terjadi?” Tanya Alvaro.
“Kalau kau menolak, aku akan hancur dan kau akan terseret ke dalamnya,” jawab Darian.
“Maksud lo apa sih sebenarnya?” tanya Alvaro. Belum sempat Darian menjawab, terdengar sebuah berita di televisi tentang kematian seorang CEO perusahaan besar yang menggema di lorong rumah sakit. Tubuh Alvaro menegang. “Kau dengar berita itu, berita tentang kematianku,” Kata Darian.
Alvaro menoleh ke arah televisi yang tergantung di dinding lorong. Suara penyiar itu terdengar jelas di tengah sepinya rumah sakit.
“Direktur utama Maheswara Grup, Darian Maheswara, dilaporkan tewas dalam kecelakaan mobil malam ini…”
Alvaro menelan ludah. Dadanya terasa sesak.
“Jadi… itu lo?” gumamnya pelan.
“Aku sudah bilang,” jawab Darian di kepalanya. Suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya. “Tubuhku memang mati. Tapi kematianku bukan kecelakaan.”
Alvaro mengusap wajahnya kasar. Kepalanya makin pusing.
“Gila… gue lagi ngomong sama orang mati sekarang?” katanya setengah tidak percaya.
“Aku tidak punya banyak waktu,” lanjut Darian. “Orang yang membunuhku masih di luar sana. Dan mereka tidak akan berhenti sampai semua bukti hilang.”
Alvaro mengerutkan kening. “Kenapa gue? Kenapa harus gue yang denger suara lo?”
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Hingga akhirnya Darian berkata pelan, “Karena kau satu-satunya yang selamat dari kecelakaan itu.”
Alvaro terdiam.
“Kecelakaan?” ulangnya lirih.
“Ya,” jawab Darian. “Mobilku menabrak motormu malam ini. Seharusnya kau juga mati.”
Jantung Alvaro berdetak lebih cepat.
“Kalau begitu…” napasnya tertahan. “Kenapa gue masih hidup?”
Hening. Tak ada jawaban.
“Mungkin ini kesempatanku untuk mencari pembunuhku,” Jawab Darian. Sebelum menjawab Alvaro menarik napasnya dalam-dalam lalu menatap langit-langit kamar ICU.
“Oke… gue akan bantu lo, sekarang kasih tahu gue, siapa yang lo curigai dalam kasus pembunuhan lo?” tanya Alvaro.
“Rama Wijaya, adik tiriku dan Helena Wijayanti—ibu tiriku,” Tegas Darian.
“Apa lo yakin, kalau lo asal tuduh aja bisa-bisa nanti gue yang jadi tersangka pencemaran nama baik,” kata Alvaro.
“Iya aku yakin,” jawab Darian mantap. “Aku mengenal mereka lebih dari siapa pun. Rama selalu menginginkan posisiku, sementara Helena… dia tidak pernah benar-benar menganggapku bagian dari keluarga.”
Alvaro mengerutkan kening. “Tapi itu belum terbukti. Banyak orang iri sama posisi lo, kan?”
“Benar,” balas Darian tenang. “Tapi hanya mereka yang punya akses penuh pada mobilku malam itu. Sistem keamanan mobilku tidak mungkin dimatikan dari luar.”
Alvaro terdiam. Kata-kata itu terasa masuk akal, tapi tetap saja sulit diterima.
“Terus… perusahaan lo itu apa tadi?” tanya Alvaro sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
“Maheswara Group.”
Alvaro yang semula berbaring di ranjang langsung menegakkan tubuhnya. Matanya melebar.
“Maheswara Group?” ulangnya tidak percaya.
“Ya.”
Alvaro menatap kosong ke depan beberapa detik, seolah mencoba memastikan dirinya tidak salah dengar.
“Tunggu dulu…” katanya pelan. “Maheswara Group itu… perusahaan tempat gue kerja.”
Hening sejenak.
Di dalam kepalanya, Darian juga tampak terdiam.
“Apa jabatanmu di sana?” tanya Darian akhirnya.
“Staf IT. Divisi sistem keamanan jaringan,” jawab Alvaro cepat.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lalu Darian berkata pelan, seolah baru menyadari sesuatu.
“Kalau begitu… ini bukan kebetulan.”
Alvaro menelan ludah.
“Justru dari dalam perusahaan itulah kita bisa mulai mencari kebenaran.” Ucap Darian, tapi bayangan Alvaro tidak semudah yang dikatakan Darian. Diperusahaan itu tentu ada banyak orang-orang penting yang harus dia lewati.
“Semua gak semudah yang lo katakan, gue hanya staff IT biasa dan lawan gue...” Alvaro menggantungkan kata-katanya lalu memejamkan matanya sejenak kemudian menghela napas dengan pelan. “Lawan gue bukan orang sembarangan... Apa yang bisa dilakukan sama staff IT posisi rendahan kayak gue, kalau pun bisa gue hanya mengantarkan nyawa,”
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lalu Darian berbicara lagi, suaranya tenang tapi terasa berat di kepala Alvaro.
“Alvaro… kau salah memahami situasinya.”
Alvaro membuka mata perlahan. “Maksud lo?”
“Ini bukan tentang apakah kau mampu atau tidak,” lanjut Darian. “Masalahnya… kau sudah terlibat.”
Alvaro mengernyit. “Terlibat gimana?”
“Ingat apa yang kau lihat tadi di televisi?” tanya Darian pelan. “Dunia percaya aku sudah mati.”
Alvaro menatap layar televisi yang kini menampilkan ulang berita kecelakaan itu.
“Terus?” tanyanya.
“Orang-orang yang membunuhku tidak akan berhenti sampai mereka yakin semuanya benar-benar bersih,” ujar Darian. “Jika mereka menemukan sesuatu yang janggal… mereka akan memastikan tidak ada saksi yang tersisa.”
Jantung Alvaro berdetak lebih cepat.
“Lo mau bilang apa sebenarnya?” gumamnya.
Suara Darian terdengar semakin rendah.
“Mulai sekarang, Alvaro… hidupmu juga ada di dalam permainan mereka.”
Alvaro membeku di tempatnya.
“Dan satu-satunya cara kau bisa tetap hidup…”
Suara Darian berhenti sejenak.
“…adalah menemukan siapa yang membunuhku lebih dulu.”
Rumah besar keluarga Maheswara malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Sejak kematian Darian, ruang makan yang dulu selalu ramai kini sering kosong. Lampu-lampu menyala redup, tirai tebal menutup sebagian jendela.Bel pintu berbunyi pelan.“Biar saya yang buka, Pak,” ujar kepala pelayan sebelum berjalan menuju pintu depan.Tak lama kemudian Aurel masuk sambil membawa tas makanan.“Om…” sapanya lembut.Pak Maheswara yang duduk di kursi roda mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari terakhir kali Aurel melihatnya.“Aurel… kamu masih sempat datang malam-malam begini?”Aurel tersenyum tipis. “Saya cuma khawatir Om belum makan.”Pak Maheswara meraih tangan Aurel, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya dengan tatapan tajam. “Aurel, om hanya ingin kamu berhati-hati… Darian… sebenarnya Darian…” “Eh… Aurel, kok gak bilang-bilang sih mau dateng kesini,” Kata Herlina yang tiba-tiba datang dari tangga memotong perkataan pak Maheswara. Pak Maheswara pun langsung melepask
Alvaro berdiri di dekat jendela koridor lantai tiga, menikmati sisa waktu istirahatnya. Dari atas sana, halaman belakang kantor terlihat jelas. Di dekat pagar belakang, Rama Wijaya berdiri bersama Surya Gunawan. Keduanya berbicara dengan suara pelan, wajah mereka terlihat serius.Alvaro menyipitkan mata, mencoba membaca gerak bibir mereka.“Kenapa mereka bicara di luar?” gumamnya.Di kepalanya, suara Darian muncul pelan.“Karena ada sesuatu yang tidak ingin mereka dengar di dalam gedung ini.”Alvaro teringat dengan kata-kata para rekan kerjanya tadi pagi. “Apakah Surya Gunawan salah satu orang yang kau curigai juga?” tanya Alvaro lalu menyesap kopinya yang sudah mulai dingin.“Entahlah… tapi sebelum kematianku, dia menjadi aneh,” Jawab Darian. Alvaro mengerutkan keningnya. “Maksudmu, aneh bagaimana?” Tanya Alvaro yang masih terus melihat interaksi Rama dan Surya Gunawan. “Sebulan sebelum hari kematianku, Surya Gunawan memanipulasi data keuangan,” lanjut Darian pelan.Alvaro menurunk
Pagi itu Alvaro berdiri beberapa detik di depan gedung Maheswara Group. Gedung kaca tinggi itu terlihat sama seperti biasanya—megah, sibuk, dan penuh orang yang terburu-buru. Tapi rasanya berbeda sekarang.“Ini perusahaanku,” suara Darian terdengar tenang di kepalanya.Alvaro menghela napas pelan lalu melangkah masuk.Lobi dipenuhi karyawan yang datang silih berganti. Beberapa orang menatap layar ponsel, sebagian lagi berjalan cepat menuju lift.“Pagi, Var!” sapa Dimas dari jauh.Alvaro mengangkat tangan seadanya. Biasanya semua terasa normal. Tapi hari ini tidak. Karena sekarang ia tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Pembunuh Darian mungkin ada di gedung ini.Alvaro berhenti di lobi membalas sapaan teman-temannya, menanyakan kabar setelah ia kecelakaan. TING! Pintu lift terbuka, Rama Wijaya keluar dari lift langkahnya tergesa seperti mengejar waktu disusul Surya Gunawan yang berjalan di belakangnya. “Itu Rama Wijaya–adik tiriku,” Ucap Darian lirih. Alvaro mengamati gerak-gerak
Tiga hari setelah kecelakaan itu, Alvaro akhirnya diperbolehkan pulang. Langit sore menggantung kelabu di atas halaman rumah sakit, udara masih menyisakan bau hujan yang belum benar-benar pergi.Ayahnya berdiri di sampingnya, menggenggam lengan Alvaro dengan hati-hati, seolah tubuh anaknya itu bisa roboh kalau dilepas.“Pelan-pelan, Le. Kata dokter kamu belum boleh banyak gerak,” ujar ayahnya.“Iya, yah. Ini juga udah pelan banget,” jawab Alvaro sambil tersenyum tipis.Disisi lain, Aris–kakak iparnya berjalan di sampingnya sambil sesekali melirik ke arah Alvaro, memastikan langkah laki-laki itu tetap stabil. Sejak kecelakaan itu, Alvaro memang kembali tinggal sementara di rumah orang tuanya.Alvaro menarik napas panjang saat berhenti di depan mobil.Tiga hari lalu ia hampir mati.Dan yang lebih aneh lagi… sekarang ada orang lain yang hidup di dalam kepalanya.*** Selama perjalanan pulang, suasana cukup hening. Alvaro memandang kearah luar kaca jendela mobil. “Hari ini pulang saja ke
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.