Chapter: Bab 13 - Permainan yang Terlihat“Pangeran, Yang Mulia memanggil Anda untuk segera ke istana.”Jingyi mengerutkan kening. Tatapan beralih pada pria yang berdiri beberapa langkah dari paviliun--- Murong, pengawal pribadi Ayahnya. Pria itu berdiri tegak dengan punggung lurus, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Mengenakan pakaian pengawal berwarna biru tua yang rapi dan sederhana.“Sekarang?” tanya Jingyi memastikan.“Ya, Pangeran.”Jingyi terdiam sesaat, ekspresinya seolah bingung. Kemudian Jingyi berdiri. Tatapannya kembali pada Qingran. Ekspresinya melunak.“Maaf, Qingran. Sepertinya aku harus pergi sekarang.”Qingran tersenyum lembut.“Tentu, Pangeran. Urusan Yang Mulia lebih penting. Qingran akan selalu menunggu.”Jingyi tersenyum dan mengangguk singkat, lalu menatap pengawal istana yang menunggunya.“Ayo!”Tanpa menunggu lebih lama, Jingyi melangkah keluar dari paviliun. Jubah putihnya berayun mengikuti langkahnya yang cepat dan tegas. Murong segera berbalik dan mengikuti Jingyi dari belakang.Aula istana terasa sunyi.
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Bab 12 - Teh Murahan di Dalam Cangkir Emas“Ayo, cepat! Jika tidak cepat, maka Nona akan mati!”Teriakan itu membuat Qingran berhenti. Langkahnya yang semula tenang mendadak terhenti di tengah koridor batu yang panjang. Qingran menoleh, matanya mencari sumber suara.“Nona, apa yang terjadi?”Dua pelayan di belakang Qingran ikut berhenti. Mereka mengikuti arah pandangnya. Di jalan bebatuan, mereka melihat sosok Luolan yang hampir tersandung saat menarik seorang tabib tua dengan penuh kepanikan. Wajah Luolan tampak pucat, napasnya tersengal.“Mengapa pelayan Paviliun Utara itu ada di sini?” gumam Qingran.Qingran menoleh sedikit. “Zuyin, pergi dan periksalah,” perintahnya.Zuyin mengangguk dan langsung pergi. Kemudian Qingran kembali melangkah. Angin berembus membuat pakaian sutra berwarna merah mudanya sedikit beterbangan. Sementara itu, satu pelayan lain tetap setia di belakangnya.Qingran kembali berjalan. Kali ini langkahnya sedikit lebih lambat, seolah ia sedang berpikir. Pelayan yang tersisa di sisinya, berjalan di belakan
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Bab 11 - Diet Gila di Hari Pertama“Masa depan terasa… sangat mengerikan.”Ucapan Luolan menggantung di udara. Wajahnya masih pucat, matanya berkaca-kaca, seolah baru saja melewati pengalaman hidup yang traumatis.Tanpa berkata apa-apa lagi, Luolan berdiri, meraih segelas air. Luolan meneguknya sampai habis dalam satu tarikan napas. Tangannya masih gemetar saat ia menatap kuali yang berisi sup hijau pekat itu.Shuyi terdiam sejenak. Lalu, ia mengangguk pelan.“Berarti ini berhasil.”“Ber-berhasil?” Luolan nyaris tersedak. “Nona, apakah saya salah dengar?”Shuyi mengangkat mangkuk itu. Menatap cairan hijau pekat yang masih mengepulkan uap tipis. Ekspresinya berubah serius, seolah sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar makanan.Luolan berdiri di samping meja, wajahnya pucat.“Nona, Anda yakin itu makanan?” tanya Luolan dengan ragu.Sedangkan Shuyi, kini ia duduk tegap. Memegang sendok seperti seorang jenderal memegang pedang. Ekspresinya serius seolah akan berperang.“Ini bukan makanan.”Shuyi menga
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Bab 10 - Sup Hijau yang MisteriusKembali ke beberapa saat sebelumnya.“Luolan, kau serius membeli ini semua?”Shuyi berdiri di depan meja dapur. Berkedip beberapa kali seolah tak percaya. Di hadapannya, tumpukan lobak, timun, bayam, dan kubis menjulang seperti gunung hijau kecil.Tidak ada daging. Tidak ada telur. Angin dari celah jendela membuat daun bayam bergoyang pelan. Seolah melambai tanpa rasa bersalah.Luolan berdiri di sampingnya dengan gelisah.“Nona ... bukankah Anda yang meminta bahan makanan untuk diet?” ucap Luolan yakin.Shuyi menoleh perlahan. Tersenyum tipis. Namun, tatapannya kosong.“Aku meminta bahan diet,” katanya pelan, “bukan bahan untuk menjadi kelinci percobaan.”“Apakah aku salah, Nona?” tanya Luolan polos.Shuyi menatap Luolan dari ujung kepala hingga kaki. Di dunia ini, hampir semua perempuan bertubuh ramping. Berbeda dengan dirinya yang beratnya lebih dari seratus kilogram.‘Shuyi ... mengapa kau sangat suka makanan, sih?’ Shuyi mengepalkan tangannya tidak terima.Ia tahu penyebabnya. Dal
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Bab 9 - CEO ini akan Berperang Melawan Takdirnya“Dasar pria aneh! Apakah di dunia ini tidak ada pria yang normal?”Suara kesal Shuyi pecah di tengah jalan setapak yang mulai gelap. Wajahnya masih memerah. Entah karena lelah berlari atau karena jengkel mengingat pertemuannya dengan kasim misterius tadi.“Aku rasa semenjak terbangun sebagai Shuyi, satu per satu masalah mulai menghampiriku.” Shuyi menghela napas panjang. “Ah, ayolah ... aku hanya ingin hidup tenang di kesempatan hidup ini.”Langkah Shuyi melambat. Ia menatap langit yang mulai berubah warna, jingga yang memudar digantikan biru gelap.“Sepertinya Luolan sudah kembali. Aku harus bergegas.”Tidak butuh waktu lama Shuyi kembali ke Paviliun Utara. Sejenak Shuyi terdiam menatap Paviliunnya. Sepi, sunyi, dan menyedihkan.“Walaupun sudah melihatnya berkali-kali, sepertinya aku belum terbiasa dengan paviliun buruk ini,” gumam Shuyi sambil berkacak pinggang.Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.“Nona, Anda sudah kembali!”Luolan muncul dengan wajah sedikit berkeringat.“Saya suda
Last Updated: 2026-03-28
Chapter: Bab 8 - Bayangan di Balik Tembok Istana“Kalau orang istana melihat wajahmu sekarang, mereka pasti akan mengira kau anak bangsawan yang tersesat ke rumah minum arak.”Seorang pria duduk santai di ambang jendela kayu sambil menggoyangkan kakinya. Ia menggigit apel di tangannya. Dari bawah terdengar riuh tawa para tamu, dentingan cangkir, dan musik kecapi. Namun, ruangan mereka tetap sunyi."Jianyu, jika kau masih ingin duduk di sana dengan nyaman, sebaiknya kau berhenti mengomentari wajahku.”Jianyu tersedak. "Minghan, kau terlalu kejam pada sahabatmu sendiri."Minghan berdiri di depan meja kayu dengan jubah hitam sederhana. Tali pita berwarna hitam mengikat rapi setengah rambut panjangnya. Memperlihatkan wajah tampan dengan mata yang tenang.“Kau terlalu banyak bicara,” jawabnya datar.Jianyu melompat turun dengan ringan. Menatap Minghan yang bersandar santai di kursi kayu. Jianyu berjalan mengitari Minghan seperti pedagang yang sedang menilai barang.“Bukankah itu laporan dari setiap wilayah?” tanya Jianyu.Minghan mengel
Last Updated: 2026-03-28