MasukYishu seharusnya mati karena kecelakaan setelah berpesta semalaman. Namun, Ia malah terbangun sebagai Lu Shuyi, tokoh perempuan gendut yang mati karena kebodohannya. Tidak ingin berakhir menyedihkan ia memutuskan mengubah takdirnya. Difitnah, diremehkan, dan hampir dihancurkan, ia tetap melawan. Saat kebenaran terungkap dan perceraian disahkan di depan raja, seluruh istana sadar bahwa perempuan gendut yang mereka hina adalah orang yang akan berdiri di puncak kekuasaan.
Lihat lebih banyak“Aku tidak percaya ada wanita sebodoh itu!”
Yishu, 29 tahun. Ia membanting gelas berisi bir ke atas meja. Ia duduk di depan Liyun — sahabat masa kecilnya.
Sekarang sudah larut malam. Namun, suara musik masih bergema. Banyak orang yang berpesta atau hanya sekadar minum bir seperti mereka.
“Drama apa lagi sekarang?” Liyun dengan santai meminum birnya.
Yishu menatap layar ponselnya dengan kesal. “Wanita gendut yang berakhir karena kebodohannya sendiri.” Yishu meminum birnya lagi. “Setelah dicampakkan suaminya, ia masih saja menunggunya, sungguh bodoh!” maki Yishu.
Liyun tertawa kecil. “Kamu terlalu terbawa perasaan hanya karena sebuah drama.”
“Aku tidak terbawa perasaan.” Yishu mendengus kesal. “Aku hanya tidak tahan melihat wanita bodoh yang berakhir menderita karena cinta. Jika aku adalah dia, maka aku tidak akan berakhir sepertinya.”
Liyun menunjuk wajah Yishu. “Itu karena kamu adalah Yishu. Dua puluh sembilan tahun, CEO cantik yang berhasil membangun kerajaan bisnis.” Liyun tersenyum tipis. “Jangan bandingkan dirimu dengan karakter fiksi.”
Yishu terdiam sejenak. Ia menatap kedua gelas bir kosong di depannya. Pantulan lampu klub berkilau di permukaan meja yang basah karena embun air. Yishu tersenyum miris mengingat Shuyi — tokoh wanita bodoh yang ia tonton dalam drama pendek.
“Baiklah-baiklah, aku mengerti.” Yishu berdiri. “Aku harus pulang.”
Ekspresi Liyun tidak rela. “Cepat sekali?”
“CEO kan sibuk.” Yishu memberikan kedipan mata sebelum berbalik dan berjalan pergi.
Yishu berjalan dengan terhuyung-huyung. Tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk. Yishu meraih ponsel dari dalam tasnya. Baru saja akan mengangkat teleponnya. Sbuah cahaya menyilaukan penglihatannya. Lalu, terdengar suara teriakan bersamaan dengan suara klakson mobil yang nyaring.
“Yishu! Awas!”
Semua terjadi dalam sekejap. Yishu merasakan tubuhnya melayang dan menghantam sesuatu dengan keras. Dunia seperti berputar. Ponselnya terjatuh tidak jauh dari wajahnya. Layarnya yang retak menampilkan sebuah notifikasi drama pendek.
‘Istri Gendut akan Mengubah Takdirnya!’
“Apa-apaan ini?” guman Yishu.
Sedetik kemudian pandangannya berubah menjadi gelap.
“Nona ….”
Suara tangisan samar-samar mulai terdengar dalam kegelapan. Perlahan Yishu mencoba membuka matanya. Langit-langit kayu dan kain sutra memenuhi pandangannya.
Yishu berkedip beberapa kali. Ia mencoba bangun. Namun, tubuhnya terasa sangat berat.
“Nona, syukurlah Anda bangun!”
Seorang gadis muda berlutut di samping Yishu. Wajahnya sembab.
Yishu mengerutkan keningnya. “Nona?”
“Nona, apakah kepala Anda masih sakit?” tanya gadis itu panik. “Tabib istana bilang Anda hampir kehilangan nyawa karena tertabrak kereta kuda.”
“Hah? Apa maksudmu dengan kereta kuda?” heran Yishu.
Yishu menggeleng. Yishu ingat terakhir kali ia memang tertabrak. Namun, tertabrak mobil van, bukan kereta kuda.
“Nona ... apakah luka di kepala Anda sangat serius hingga tidak mengingatnya?” suaranya gemetar.
Yishu makin kebingungan. Ia menatap sekelilingnya. Ruangan yang terlihat seperti Paviliun Istana. Tirai sutra berwarna biru muda yang menggantung di pinggir kasurnya.
“Mengapa aku di sini? Apakah kita sedang syuting film?” tanya Yishu.
“Nona ... apakah perlakukan Pangeran Jingyi benar-benar melukai Anda?” rengeknya.
Yishu mengerjapkan matanya. “Jingyi? Siapa?”
Yishu menatap gadis di depannya. Pakaian yang digunakan bukanlah pakaian modern tetapi seperti pakaian pelayan dengan hanfu berwarna hijau muda.
“Tunggu, kenapa tanganku jelek sekali?”
Yishu menarik tangannya. Menatap jemarinya yang besar dan gendut. Dadanya semakin terpacu saat Yishu menyentuh pipinya.
“Tolong ambilkan aku cermin,” pinta Yishu.
Pelayan itu terlihat ragu. Namun, ia tetap mengambilkan sebuah cermin perunggu kecil. Begitu melihat pantulan cermin, Yishu merasa seperti tersambar petir.
“Mengapa ….” Suaranya gemetar. “Mengapa aku menjadi wanita bodoh ini!?” seru Yishu.
Yishu membeku. Pipi bulat. Hidung sedikit lebar. Perban yang melilit kepalanya dengan asal-asalan.
Itu bukan wajah Yishu. Itu adalah wajah wanita gendut bodoh yang ada di drama pendek, Shuyi. Istri sah yang dicampakkan suaminya sendiri.
Ingatan yang bukan miliknya menyerbu kepalanya. Pernikahan yang dipaksakan, sifat dingin suaminya, adik tirinya yang mencoba merebut posisinya, bahkan tatapan hina dari para pelayan.
Wajah Yishu tampak memelas. Kemudian menatap pelayan di sampingnya. Berdasarkan ingatan Shuyi, gadis di depannya ini adalah satu-satunya pelayan Shuyi.
“Luolan?” tanya Yishu ragu.
“Ya?” Luolan memiringkan kepalanya.
“Sudah berapa lama sejak aku tidak sadarkan diri?”
Luolan berpikir sejenak. “Tiga hari setelah Anda menikah dengan Pangeran Jingyi, Anda menghadiri sebuah jamuan di istana. Lalu, Anda tidak sengaja tertabrak kereta kuda saat mengejar Pangeran Jingyi dan tidak sadarkan diri selama sehari penuh,” jelas Luolan panjang lebar.
‘Shuyi ... kamu benar-benar wanita bodoh!’ maki Yishu dalam hati.
Yishu tersenyum miris, memegang kepalanya yang pusing. Tiba-tiba terdengar keributan di depan kamarnya. Tidak lama terdengar suara lembut perempuan yang seperti akan menangis.
“Ah ... adegan ini. Aku tidak menyangka benar-benar akan memainkan peran wanita bodoh ini,” gumam Yishu.
Yishu beranjak dari ranjangnya. Membuat Luolan terkejut dan dengan cepat mengikuti Yishu. Kini, Yishu berdiri tepat di belakang pintu kamarnya. Yishu menempelkan telinganya pada celah pintu, berusaha mendengar percakapan lebih jelas.
“Kakak belum keluar juga? Apakah dia benar-benar tidak mau menerimaku?”
‘Ah! Apakah itu adik selir kita yang polos?’
Yishu tahu suara siapa itu. Tidak lain adalah Lu Qingran. Adik tiri sekaligus selir suaminya. Lalu, tidak lama terdengar suara yang rendah dan dingin.
“Shuyi, jika kamu tidak segera membuka pintu maka jangan salahkan aku jika pintu ini rusak,” ancamnya.
‘Jingyi? Apakah pangeran berkuda putih kita sudah sampai?’
Yishu memegang dagunya. Kedua alisnya mengerut. Seolah ia berpikir bagaimana caranya ia akan tampil kali ini.
“Nona, apa yang akan Anda lakukan sekarang?” bisik Luolan dari belakangnya.
Yishu merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan. Tangannya memegang gagang pintu. Bibirnya menyeringai tipis.
“Sebelum mengacak-acak jalan cerita, mari kita sapa suami dan selir tercinta!”
“Anda bercanda kan, Nona?”Luolan menghela napas. “Saya tahu Yujin sudah bertindak keterlaluan tetapi saya rasa ini sedikit berlebihan jika harus membuatnya merasakan sup hijau mengerikan itu.”Luolan bergedik ngeri membayangkan kembali sup hijau buatan Shuyi. Sup dengan warna hijau pekat dan yang sangat sulit dijelaskannya. Bahkan, ingatan saat Shuyi pingsan di halaman paviliun masih terekam jelas di kepalanya. Shuyi mendengus. “Luolan, apakah aku terlihat bercanda?”Shuyi mulai meletakan sisa kubis, wortel, dan telur di atas meja.“Nona? Anda benar-benar akan membuat sup mengerikan itu?”Luolan mulai panik, tangannya bergerak gelisah seolah ingin merebut sayuran itu dari tangan Shuyi.“Tentu saja. Mengapa tidak?” jawab Shuyi dengan penuh percaya diri.Luolan ingin sekali menghentikan Shuyi. Namun, Shuyi sudah dengan cepat mengupas wortel.“Bantu aku memotongnya agar makanan segera selesai.” Shuyi memberikan sebuah kubis segara kepada Luolan.Luolan mengambilnya dengan pasrah. Sese
"Satu kali lagi, Nona! Angkat lutut Anda lebih tinggi, pertahankan posisinya!" seru Luolan dengan penuh semangat.“Ayo, Nona! Satu, dua, angkat!”Luolan bergerak ke sana ke mari. Tangannya bergerak naik turun. Seolah memberikan komando pada Shuyi.“Akh! Aku sudah tidak tahan lagi!”Shuyi menggeram. Keringat bercucuran deras membasahi dahi dan lehernya yang gempal. Dengan napas yang sudah putus-putus, Shuyi berusaha mengangkat tubuhnya untuk melakukan squat yang ke enam kalinya.Luolan berdiri depan Shuyi. “Nona, bertahanlah! Bayangkan bagaimana penampilan Anda dengan tubuh kurus dan cantik!”Ucapan Luolan berhasil membakar kembali semangat Shuyi yang hampir padam. Shuyi memejamkan matanya. Lalu, dengan sekuat tenaga Shuyi menurunkan tubuhnya, membuat lututnya tertekuk 90 derajat.“Ayo, Nona! Anda pasti bisa!” Luolan melompat-lompat kecil memberi semangat.Shuyi membuka matanya. “Satu kali lagi! Akh!”Shuyi langsung jatuh terlentang di atas rumput saat berhasil melakukan squat yang ke
“Bukankah hanya seekor kucing gendut? Mengapa aku harus berhati-hati?”Jianyu berdiri di tepi danau. Memandang Paviliun Utara yang tidak jauh dari pandangannya. Tidak ingin membuang waktu, Jianyu melangkah mendekati Paviliun Utara.“Baiklah, waktunya bekerja.”Setelah memastikan situasi aman, Jianyu bergerak cepat melompati tembok paviliun yang terlihat rapuh. Pandangannya langsung terpaku pada sebuah pohon willow tua yang tumbuh di belakang Paviliun Utara.Dengan lihai, Jianyu melompat ke dahan pohon willow. Matanya memandang Paviliun Utara dari balik dedaunan. Paviliun itu tampak sunyi.‘Aku penasaran apakah wanita itu masih hidup,’ batin Jianyu.Kemudian dengan pelan, Jianyu naik ke atap paviliun utara.‘Aku rasa ini jalur yang aman untuk menyusup ke Paviliun Qilin,’ batin Jianyu lagi.Namun, saat Jianyu hendak melangkah pergi. Telinganya menangkap beberapa suara tepat di bawahnya. Perlahan Jianyu mencondongkan tubuhnya agar bisa mendengar lebih jelas.“Nona, ini luar biasa! Siapa
“Apakah kepala pelayan sudah kehilangan akal?”Luolan membanting nampan makanan ke meja kayu. Benturannya menggema di paviliun yang sunyi. Dadanya terlihat naik turun, menahan emosi yang meluap.“Lihat ini, Nona!” serunya kesal.Di dalam keranjang itu hanya ada tumpukan sawi menguning. Beberapa buah umbi bahkan sudah mengeluarkan lendir busuk. Baunya yang menyengat langsung menusuk hidung Shuyi saat itu juga.“Apakah mereka pikir Paviliun Utara hanya dihuni oleh tikus?” sindir Luolan.Namun, Shuyi hanya duduk termenung. Memandang Paviliun Qilin dari balik jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Wajahnya terlihat pucat, seperti sebuah raga yang telah kehilangan nyawanya.“Nona ...,” panggil Luolan dengan lemah.Pelayan dapur berdiri dengan canggung. “Nona ... jika tidak ada yang lain, saya–““Pergilah,” potong Shuyi.Suaranya terdengar pelan dan sangat lelah, seolah-olah ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk memperpanjang masalah. Kemudian pelayan itu buru-buru keluar. Setelah pint
“Luar biasa! Aku penasaran siapa yang berani membuat Pangeran Mahkota kita babak belur,” ejek Jianyu sambil menahan tawa.Jianyu duduk di pinggir jendela dengan santai. Mengayunkan kakinya sambil menatap geli ke arah Minghan. Seolah sedang menonton sebuah hiburan.Minghan tidak langsung menjawab. T
“Nona ... Anda baik-baik saja?”Luolan menatap Shuyi dengan khawatir. Semenjak kejadian di dapur tadi, suasana hati Shuyi terlihat sangat kacau. Shuyi terus saja mondar-mandir di dalam kamar dengan raut wajah masam.“Mengapa aku tidak ingat sama sekali?” Shuyi berhenti dan memijat pelipisnya. “Sebe
“Apakah kau gila?!”Bola mata Shuyi hampir saja keluar dari kelopak matanya. Jantungnya seakan bisa berhenti berdetak kapan saja. Bahkan, kini kedua tangan Shuyi telah tertahan di atas kepalanya. Shuyi mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri, tetapi cengkeraman Minghan justru semakin kuat.“Das
“Aku tidak menyangka ... aku hampir mati karena kebodohan sendiri.”Suara itu lirih. Serak. Seolah kata-kata pun masih berat untuk keluar dari mulutnya.Shuyi membuka mata perlahan. Pandangannya buram sesaat sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamarnya. Ingatan itu kembali. Rasa lemas. Dunia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan