Pembalasan Sang Siren
"Mereka bilang ada lima tahapan berduka — penyangkalan, amarah, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Namun aku ingin menambahkan satu hal, pembalasan"
Sepuluh tahun sejak kematian sang ayah, Kiara Snow kembali ke Kota Valencia untuk menagih hutangnya. Untuk setiap kekejaman yang dilakukan oleh Ibu dan Kakak tirinya, dan ia akan membuat mereka membayar sepuluh kali lipat.
Dan senjata yang akan dia gunakan untuk membalas denadam? Seorang pria yang penuh dengan pengaruh dan kekuasaan. Suami dari Kakak tiri tercintanya, CEO dari Inovara Corp. Elvano Arvan Pramana.
Kiara akan membuat pria itu menjadi miliknya. Cara terkejam yang akan ia lakukan adalah dengan mengandung anak dari pria tersebut. Hal yang tidak akan pernah bisa sang Kakak lakukan.
Basahin
Chapter: Bab 50 — Nama Nadia SuryaniPagi datang terlalu cepat, namun tidak membawa kelegaan apa pun. Di apartemen Kiara, layar besar masih menyala sejak malam sebelumnya. Nama-nama itu tetap berada di sana, tersusun dalam lingkaran yang tidak sepenuhnya rapi, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan satu hal— semua jalan kini mulai mengarah pada seseorang yang selama sepuluh tahun tidak pernah muncul. Nadia Suryani. Nama itu berdiri di antara masa lalu dan masa sekarang. Tidak sebesar Vivienne. Tidak sekuat Adrian. Tidak sedekat Elvano. Namun justru karena itu, kehadirannya terasa jauh lebih berbahaya. Orang-orang seperti Nadia biasanya tidak terlihat karena mereka memang tidak ingin dilihat, atau karena seseorang memastikan mereka tidak pernah bisa terlihat. Kiara berdiri di depan layar dengan secangkir kopi yang belum disentuh. Rambutnya dibiarkan jatuh di bahu, wajahnya tetap tenang, tetapi matanya menunjukkan bahwa pikirannya sudah bekerja sejak lama. Ia belu
Huling Na-update: 2026-05-19
Chapter: Bab 49 — Arsip yang DitinggalkanKlinik Saint Orla menghilang dari pandangan, tetapi tidak benar-benar tertinggal di belakang. Mobil melaju menembus jalanan yang semakin sepi, membawa mereka kembali ke pusat Valencia dengan keheningan yang terlalu padat untuk disebut tenang. Lampu-lampu jalan bergeser cepat di balik kaca, membentuk garis-garis panjang yang samar, seperti ingatan yang tidak pernah benar-benar utuh. Kiara duduk di sisi jendela, diam sejak mereka meninggalkan klinik. Tangannya berada di pangkuan, jemarinya saling bertaut, namun tidak setenang wajahnya. Tatapannya lurus ke luar, tetapi Elvano tahu ia tidak sedang melihat jalan. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih lama. Sesuatu yang baru saja dibuka kembali. D.S. Inisial itu bukan nama. Belum. Namun cukup untuk membuat ruang yang selama ini Kiara kunci rapat mulai bergerak dari dalam. Ia tidak perlu mengatakan apa pun untuk membuat Elvano memahami. Kadang diam seseorang jauh lebih jelas daripada kalimat panjang yang dipaksakan. Elvano
Huling Na-update: 2026-05-18
Chapter: Bab 48 — Pintu yang Tidak TerkunciNama itu tidak pergi setelah layar ponsel menggelap.Klinik Saint Orla.Kiara berdiri diam di tengah apartemennya, ponsel masih berada dalam genggamannya. Ruangan di sekelilingnya sunyi, terlalu sunyi untuk sesuatu yang baru saja mengguncang bagian terdalam dari ingatannya. Tidak ada suara selain napasnya sendiri yang perlahan ia paksa tetap stabil.Saint Orla.Nama itu tidak asing.Ia pernah mendengarnya bertahun-tahun lalu, ketika dirinya masih terlalu kecil untuk memahami arti percakapan orang dewasa, tetapi cukup peka untuk merasakan bahwa sesuatu sedang tidak benar. Malam itu, pintu ruang kerja ayahnya tidak tertutup rapat. Cahaya lampu jatuh tipis ke lantai lorong, dan Kiara kecil berdiri di balik dinding, memegang boneka usangnya dengan kedua tangan.Suara ayahnya terdengar rendah. Tidak seperti biasanya."Jangan bawa nama Saint Orla lagi."Kalimat itu terpotong oleh suara lain yang tidak bisa ia ingat sepenuhnya. Ada nada mendesak. Ada sesuatu yang tertahan. Lalu suara ayahnya
Huling Na-update: 2026-05-12
Chapter: Bab 47 — Potongan yang HilangTidak semua kehilangan terjadi sekaligus.Ada yang diambil perlahan, sedikit demi sedikit, hingga pada akhirnya yang tersisa hanya ruang kosong yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Dan justru ruang kosong itulah yang paling berbahaya, karena ia tidak hanya menunjukkan apa yang hilang, tetapi juga siapa yang memiliki alasan untuk menghilangkannya.Kiara memahami itu lebih baik daripada siapa pun.File yang masuk malam sebelumnya masih terbuka di layar. Tidak besar. Tidak lengkap. Hanya beberapa baris catatan lama yang tampak seperti sisa dari sesuatu yang pernah lebih utuh. Namun bagi Kiara, sisa seperti itu tidak pernah sederhana.Ia duduk di depan meja kerja, wajahnya tenang, matanya tidak lepas dari tiga nama yang terus menarik perhatian.Vivienne Ardhani.Adrian Pramana.Dan nama ayahnya.Tiga nama itu seharusnya tidak pernah berdiri dalam satu catatan yang sama. Tidak pada tahun itu. Tidak pada masa ketika ayahnya mulai melemah. Tidak pada periode ketika hidupnya perlahan di
Huling Na-update: 2026-05-09
Chapter: Bab 46 — Nama yang Tidak Seharusnya MunculMasa lalu tidak pernah benar-benar mati.Ia hanya diam cukup lama, menunggu seseorang cukup berani untuk menyentuh tanah tempat ia dikubur. Dan ketika satu celah kecil terbuka, yang kembali bukan hanya ingatan, tetapi juga nama-nama yang seharusnya tetap hilang.Celine masih berdiri di tempat yang sama setelah panggilan itu berakhir. Ponsel berada di genggamannya, layarnya sudah menggelap, namun pikirannya justru bergerak semakin jauh. Ia tidak lagi hanya memikirkan Kiara, Elvano, atau pewaris. Semua itu masih penting, tetapi kini ada sesuatu yang lebih tua di baliknya. Sesuatu yang pernah disimpan terlalu rapi hingga hampir tampak seperti tidak pernah ada.Namun reaksi Vivienne tadi mengubah semuanya.Ibunya tidak terkejut.Itu yang paling mengganggu.Bukan isi berkas yang baru saja ia baca. Bukan nama Kiara yang muncul dalam jalur lama. Bukan pula tanggal sepuluh tahun lalu yang terlalu dekat dengan kematian ayah Kiara. Semua itu masih bisa disusun sebagai pola, dicurigai sebagai um
Huling Na-update: 2026-05-07
Chapter: Bab 45 — Umpan PertamaPagi berikutnya tidak datang dengan suara yang keras. Ia hanya menyelinap pelan melalui celah tirai, membawa cahaya pucat yang jatuh di atas meja kerja Elvano seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya ingin masuk. Ruangan itu tetap sama seperti hari-hari sebelumnya— rapi, dingin, dan terlalu teratur untuk menyimpan kekacauan yang sedang bergerak di bawah permukaannya.Elvano berdiri di dekat meja, menatap layar yang menyala tanpa benar-benar membaca apa pun di dalamnya. Beberapa laporan sudah terbuka. Beberapa pesan belum dibalas. Beberapa keputusan menunggu tanda tangannya. Namun pikirannya tidak berada pada angka, jadwal, atau nama-nama yang berbaris rapi di layar.Pikirannya tertinggal pada percakapan terakhirnya dengan Celine.Bukan pada nada suaranya. Bukan pula pada kalimat-kalimat yang ia ucapkan dengan ketenangan yang hampir sempurna. Melainkan pada satu hal yang lebih sulit diabaikan— cara Celine mulai melihat semuanya dengan arah yang terlalu jelas.Ia tidak lagi menebak. Ia mul
Huling Na-update: 2026-05-06