Chapter: BAB 20 AKU INGIN DI SINIBeberapa hari terakhir, ada hal baru yang selalu kulakukan ketika memasuki kelas. Pandanganku mengarah ke tempat Raven sebelum memikirkan hal lain. Pagi itu Raven sedang di sana dan membuka laptop dengan beberapa lembar dokumen di sampingnya. Entah kenapa, melihatnya membuat langkahku terasa lebih ringan.Aku hampir berjalan melewatinya ketika Raven mengangkat wajah. “Selamat pagi.”“Pagi.” Aku berusaha membuka percakapan, “Kamu datang lebih awal?”“Iya.”Aku melirik tumpukan kertas di mejanya. “Masih proyek dosen yang sama?”“Masih. Entah kenapa yang kukerjakan sangat banyak.”Aku tertawa kecil. “Bukannya kamu sendiri yang selalu nerima kalau diminta?”Raven menutup salah satu dokumen. “Kalau aku tolak, nanti mereka cari korban lain.”“Kasihan ya…”“Bukan kasihan. Aku cuma malas karyaku dirusak.&rdquo
Last Updated: 2026-09-15
Chapter: BAB 19 PERASAAN YANG TAK LAGI BISA KUABAIKANRuanganku malam itu terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Bukan karena jumlah orang yang memenuhi ruangan, melainkan karena Raven duduk di tepi tempat tidurku dengan wajah penuh luka. Luka kecil di sudut bibirnya, lebam tipis di pipi, dan beberapa bagian wajahnya tampak memerah. Tanganku yang memegang kapas berhenti sesaat di depan bibirnya sebelum akhirnya menyentuh luka itu perlahan.“Jangan bergerak,” kataku pelan.Raven menatapku. “Aku nggak bergerak.”“Mulutmu bergerak.”“Itu namanya ngomong.”Aku menahan napas sebentar, lalu lanjut membersihkan darah di sudut bibirnya. Beberapa penghuni kos sudah berkumpul di sekitar pintu, sementara Nadia dan Selin berdiri tidak jauh dariku dengan tatapan yang sejak tadi sulit kuabaikan. Aku tahu mereka sedang memperhatikan sesuatu, tetapi aku memilih pura-pura tidak tahu.“Aww!” Raven tiba-tiba meringis ketika kapas menyentuh lukanya.Tanganku langsung berhenti. “Ya gimana dong? Namanya juga luka.”Raven mengangkat sudut bibirnya, meskipun g
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: BAB 18 THE SIDE OF HIM I HAD NEVER SEEN"Raven...?"Suaraku keluar lebih pelan daripada yang kuinginkan. Sosoknya berdiri di belakang kelima pria itu. Menatap tenang mereka satu-persatu.Raven berjalan mendekat. Begitu jaraknya cukup dekat, dia berhenti tepat di antara kami. Tangannya terangkat ke belakang tanpa menoleh, menyuruhku tetap berada di belakangnya."Pergilah! Dia sudah bilang tidak."Pria paling tinggi di antara mereka mendengus. Dari cara keempat orang lainnya memberi ruang ketika dia bergerak, kutebak dialah yang memimpin kelompok itu."Ini bukan urusanmu."Raven tidak menjawab. Dia justru menoleh kepadaku."Kamu nggak apa-apa?"Aku mengangguk cepat."Sekarang ini urusanku, pergilah!"Tidak ada teriakan atau ancaman dari mulutnya, tetapi Raven berdiri seolah lima orang di depannya bukan ancaman.Pria paling tinggi itu tertawa kecil."Hanya sendirian?"Raven mengangguk."Iya."Mereka tertawa. Salah satunya, pria bertubuh kekar yang berdiri paling dekat dengan pemimpin mereka melangkah maju."Berani juga."Raven
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: BAB 17 A MISSED INVITATIONPagi itu, langkahku melambat begitu melihat sosok yang berdiri di dekat gedung perkuliahan. Raven sedang berbicara dengan beberapa mahasiswa, satu tangannya memegang beberapa lembar kertas sementara tangan lainnya sesekali menunjuk bagian tertentu pada gambar yang mereka bahas. Aku hanya berniat melewatinya, tetapi entah kenapa pandanganku justru berhenti sebelum kuarahkan pada layar ponsel."Vara."Aku mengangkat wajah. Raven sudah berdiri beberapa langkah di depanku."Selamat pagi.""Selamat pagi."Senyumnya muncul sebentar sebelum dia kembali menoleh ke arah teman-temannya. Aku ikut berjalan, tetapi baru beberapa langkah aku sadar sudut bibirku ikut terangkat. Tanganku langsung menyentuh pipi sendiri.Kenapa aku malah senyum?Aku buru-buru menurunkan tangan dan berpura-pura sibuk membuka ponsel.Beberapa menit sebelum kelas dimulai, Raven kembali menghampiriku. Kali ini Nadia dan Selin berada di sebelahku, sehingga
Last Updated: 2026-08-25
Chapter: Bab 16 A SUSPICIOUS FEELINGPagi itu, pertanyaan yang sama kembali muncul bahkan sebelum aku tiba di kampus. Aku sudah beberapa kali mencoba mengabaikan pertanyaan ini sejak turun dari kendaraan. Tetapi setiap kali teringat perjalanan kemarin, wajah Raven kembali muncul begitu saja di kepalaku. Mobilnya berhenti tepat di depan kos, padahal aku tidak pernah memberitahunya alamatku. Bahkan selama perjalanan dia sama sekali tidak bertanya ke mana harus berbelok.Sesampainya di depan gedung perkuliahan, aku mengeluarkan ponsel dan membuka percakapan dengan Raven. Jariku bergerak mengetik sebuah kalimat.‘Kemarin kamu kok bisa tahu aku tinggal di mana?’Aku menatapnya beberapa detik.Kemudian menghapusnya.Nggak penting.Ponsel kembali kumasukkan ke dalam tas, tetapi baru beberapa langkah berjalan aku malah mengambilnya lagi. Nama Raven masih terpampang di daftar kontak. Jariku sempat berhenti di atasnya sebelum akhirnya layar kembali kumatikan."Ke
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: BAB 15 HOW DID HE KNOW?Jam dinding perpustakaan baru saja menunjukkan pukul satu siang ketika aku mengembalikan buku terakhir ke raknya. Aku melangkah meninggalkan perpustakaan menuju gedung perkuliahan. Akhirnya hari ini aku bisa mengembalikan payung yang telah kupinjam.Ketika memasuki ruang kuliah, sebagian besar kursi sudah terisi. Pandanganku tanpa sadar mencari Raven.Tidak ada…Aku sempat mengerutkan kening.Biasanya dia memang tidak datang terlalu awal, tapi tidak pernah terlambat.Tak lama kemudian dosen memasuki ruangan."Baik, hari ini kita lanjutkan materi."Aku mengambil buku catatan dan mulai menulis.Tok."Maaf, Pak."Raven berdiri di depan pintu dengan kedua tangannya membawa beberapa map tebal dan sebuah laptop. Napasnya terengah-engah.Dosen hanya menatapnya sekilas."Proyeknya selesai?"Tidak ada pertanyaan lain.Raven mengangguk singkat sebelum melangkah masuk. Tatapannya menyapu ruangan,
Last Updated: 2026-08-11