Aku Kembali ke Masa Lalu dengan System Ciptaanku Sendiri

Aku Kembali ke Masa Lalu dengan System Ciptaanku Sendiri

last updateLast Updated : 2026-06-04
By:  AetherionOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
15views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Hari kelulusan seharusnya menjadi awal kehidupan baru bagi Raven. Namun sebuah fitnah penghamilan gadis popular menghancurkan masa depannya dalam sekejap. Saat hidupnya berada di titik terendah, dunia justru memasuki kiamat. Monster bermunculan, peradaban runtuh, dan setelah bertahun-tahun bertarung hingga menjadi manusia terkuat yang menyelamatkan umat manusia, Raven justru berakhir dikhianati oleh orang-orang yang paling dipercayainya. Di ambang kematian, Raven mendapat kesempatan yang mustahil: kembali ke masa lalu sebelum semuanya dimulai. Dengan ingatan tentang masa depan dan kekuatan Creation yang tidak seharusnya dimiliki manusia, kali ini ia akan mengungkap dalang di balik semua tragedi, dan membalas setiap orang yang pernah menghancurkan hidupnya.

View More

Chapter 1

BAB 1 THE BETRAYAL TO THE EMPEROR

Api memenuhi cakrawala. Langit yang seharusnya biru kini retak hitam sejauh mata memandang. Gunung runtuh, lautan bergolak, dan kota-kota yang dulu menjadi simbol kejayaan manusia kini berubah menjadi puing-puing. Bau darah dan kematian memenuhi udara, sementara jeritan manusia yang tersisa perlahan menghilang satu per satu.

Namun semua itu tidak lagi penting.

Perang terakhir akhirnya tiba.

Aku berdiri di atas gunung mayat monster sambil menggenggam pedang hitam yang telah menemaniku bertahun-tahun. Tubuhku dipenuhi luka, dan darah masih menetes dari hampir setiap bagian tubuhku. Tetapi dibandingkan makhluk yang berdiri di hadapanku, kondisiku masih jauh lebih baik.

Monster itu menjulang seperti bencana hidup. Sisik hitam menutupi seluruh tubuhnya seperti baja yang tak mungkin ditembus, sementara setiap napasnya berubah menjadi badai yang mampu menghancurkan kota. Hanya keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat manusia kehilangan harapan.

Ia adalah awal sekaligus akhir dari kiamat.

Monster terakhir.

Pemimpin seluruh monster yang telah memusnahkan dunia.

Aku melangkah maju, dan monster itu meraung.

Gelombang kejut yang tercipta menyapu segala sesuatu di sekitarnya. Gunung runtuh. Tanah terbelah. Awan di langit tercerai-berai. Namun langkahku tidak berhenti. Aku terus berjalan sambil mengangkat pedang yang telah dipenuhi darah.

Saat cakar raksasanya turun seperti meteor yang hendak menghancurkan bumi, aku menghindar lalu melompat dan mengayunkan pedangku. Cahaya hitam melintas di udara. Untuk pertama kalinya, sisik yang selama bertahun-tahun tidak mampu ditembus siapa pun akhirnya retak.

Monster itu meraung marah dan membalas dengan serangan yang jauh lebih brutal.

Ledakan demi ledakan memenuhi dunia. Langit berubah warna berkali-kali, lautan mengering, dan pegunungan runtuh. Waktu seolah tak lagi punya arti.

Aku tidak tahu berapa lama pertarungan itu berlangsung.

Mungkin beberapa jam.

Mungkin beberapa hari.

Yang kutahu hanya satu.

Salah satu dari kami harus mati.

Monster itu kembali menerjang, dan aku menerjang balik.

Darah mengalir. Tulang patah. Daging terkoyak. Tetapi tidak ada satu pun dari kami yang mundur.

Sampai akhirnya kesempatan itu muncul.

Hanya sepersekian detik.

Sangat singkat.

Namun cukup.

Aku mengerahkan seluruh kekuatan yang masih tersisa ke dalam pedangku, lalu mengayunkannya dengan seluruh tenaga yang kumiliki.

Dunia seakan berhenti bergerak.

Lalu kepala monster itu terlepas dari tubuhnya.

Raungan terakhir menggema ke seluruh dunia. Tubuh raksasanya jatuh menghantam bumi dan menciptakan ledakan yang membuat benua berguncang. Debu memenuhi langit selama beberapa saat sebelum perlahan menghilang.

Keheningan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada monster, tidak ada perang, dan tidak ada kematian.

Semuanya berakhir.

Aku berdiri diam menatap tubuh monster terakhir yang telah kehilangan nyawanya. Pedang di tanganku terasa semakin berat, dan seluruh tubuhku dipenuhi rasa sakit yang hampir tak bisa lagi kutahan.

Namun aku tetap tersenyum.

Manusia menang.

Dari miliaran manusia yang pernah hidup di dunia ini, hanya tersisa sedikit. Namun mereka berhasil bertahan, dan dunia akhirnya diselamatkan.

Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa mereka. Orang-orang yang telah bertarung bersamaku selama bertahun-tahun.

“Benar-benar selesai ya...” seseorang berkata sambil tertawa lelah.

“Masih terasa tidak nyata,” sahut yang lain.

“Aku bahkan lupa rasanya hidup tanpa monster.”

Aku tersenyum tipis.

“Kalau begitu biasakan diri kalian mulai besok.”

“Besok, huh...”

Seseorang tertawa.

“Dulu kita selalu bicara soal hari setelah kemenangan. Sekarang hari itu benar-benar datang.”

Langkah mereka semakin dekat hingga berhenti beberapa meter di belakangku.

“Lalu bagaimana?” tanya seseorang.

“Apa rencanamu setelah ini?”

Aku memandang langit yang dipenuhi retakan hitam.

“Tidur.”

Mereka tertawa.

“Tetap saja sama.”

“Aku serius.”

“Setelah itu?”

Aku terdiam sejenak.

“Entahlah. Mungkin membangun kembali dunia.”

“Dan menjadi Kaisar dunia baru?”

Aku mengernyit.

“Tidak tertarik.”

“Benarkah…?”

Nada suaranya terdengar aneh.

Seketika rasa sakit luar biasa menghantam punggungku.

CRAAK!

Mataku membelalak.

Ujung pedang berlumuran darah menembus dadaku.

Untuk sesaat aku tidak mengerti apa yang terjadi.

Lalu seseorang tertawa.

Seseorang yang pernah bertarung di sisiku selama bertahun-tahun.

Pedang itu ditarik keluar.

Belum sempat aku bergerak, serangan kedua datang.

Kemudian ketiga...

Keempat...

“Jangan beri dia kesempatan!”

“Habisi sekarang!”

“Cepat!”

“Dia masih bisa membunuh kita!”

Darah menyembur dari mulutku.

Lututku menghantam tanah.

Aku menoleh perlahan.

Wajah-wajah yang kukenal berdiri di sana…

Penyihir yang pernah menyelamatkanku dari kutukan mematikan. Pria besar yang pernah menggendongku keluar dari medan perang. Semuanya ada di sana...

Semuanya memegang senjata yang berlumuran darahku…

“Kenapa...?”

Salah seorang dari mereka tersenyum pahit.

“Kau benar-benar tidak tahu?”

“Kami tidak ingin hidup di bawah bayanganmu.”

“Selama kau ada, dunia hanya akan mengingatmu.”

“Kau terlalu kuat.”

“Kau terlalu berbahaya.”

“Kau terlalu sempurna.”

“Terlalu sempurna...” aku tertawa pelan.

Lucu…

Monster terakhir gagal membunuhku.

Namun…

Manusia berhasil melakukannya hanya beberapa menit setelah dunia kuselamatkan.

Tubuhku semakin lemah…

Penglihatanku mulai kabur…

Suara mereka perlahan menghilang…

Aku mendongak ke langit yang retak untuk terakhir kalinya.

Emosi… marah…

Setelah semua yang telah kulakukan…

Aku tidak bisa mati seperti ini…

Namun…

Kelopak mataku perlahan menutup.

Lalu semuanya menjadi gelap.

****

Aku terbangun sambil menarik napas kasar.

Tubuhku dipenuhi keringat dingin, sementara jantungku berdetak begitu cepat hingga terasa menyakitkan. Butuh beberapa saat sebelum aku menyadari bahwa aku berada di kamar kosku sendiri.

Tidak ada monster.

Tidak ada medan perang.

Tidak ada lautan darah.

Hanya suara kipas angin yang berputar pelan di langit-langit kamar.

Aku mengusap wajahku sambil mencoba menenangkan napas.

Aku bangkit dari tempat tidur, tetapi langkahku terhenti ketika dadaku tiba-tiba terasa nyeri.

Tepat di tempat pedang itu menusukku.

Aku panik…

Meronta-ronta kesakitan…

Aku menekan dada beberapa kali.

Rasa sakitnya menghilang.

Namun sensasinya masih terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.

Sudah berkali-kali aku mengalaminya. Dan setiap kali terbangun, perasaan yang sama selalu muncul. Seolah aku tidak sedang melihat mimpi seseorang, melainkan kenangan seseorang.

Aku berjalan ke kamar mandi lalu menatap bayanganku di cermin.

Untuk sesaat.

Hanya sepersekian detik.

Aku merasa pria yang menatap balik dari sana bukan diriku.

Melainkan pria lain.

Pria yang berdiri di tengah lautan mayat sambil menggenggam pedang hitam.

Aku memejamkan mata.

Ketika membukanya kembali, bayangan itu sudah menghilang.

“Kurang tidur...” gumamku.

Namun entah kenapa, aku sendiri tidak mempercayai alasan itu.

Karena jauh di dalam diriku, ada perasaan aneh yang terus tumbuh setiap kali mimpi itu muncul.

Perasaan bahwa sesuatu sedang berubah.

Dan untuk pertama kalinya...

Aku mulai bertanya-tanya.

Bagaimana jika itu bukan mimpi?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status