Chapter: 87 | Tempat PelarianArash berdiri di depan ruang pemeriksaan dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah akibat hujan yang baru saja ia lewati saat membawa Laras ke klinik.Beberapa menit kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang dokter keluar dan menghampirinya.“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Arash.Dokter itu tersenyum tipis untuk menenangkannya. “Kondisi pasien tidak apa-apa, Pak. Mual, muntah, dan sakit perut yang tadi dialaminya kemungkinan disebabkan oleh reaksi alergi.”Kening Arash berkerut. “Alergi?”“Ya. Dari pemeriksaan yang kami lakukan, gejala yang dialaminya mengarah pada reaksi alergi. Kemungkinan ada sesuatu yang dikonsumsi sebelumnya memicu reaksinya."Arash terdiam sejenak. “Berarti sudak tidak kenapa-kenapa ya, Dok?”“Untuk saat ini sudah tidak. Reaksinya berhasil ditangani sebelum menimbulkan masalah yang lebih serius. Kami sudah memberikan obat untuk meredakan alerginya serta cairan infus untuk mengganti cairan yang banyak hilang akibat muntah.”Dokter itu berhent
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 86 | Tatapan CurigaArash akhirnya menarik salah satu kursi di dekat meja dan duduk di sana. Ia meraih salah satu cangkir teh yang tadi diletakkan Gisel di atas meja, lalu meminumnya perlahan. Uap hangat dari cangkir teh perlahan menghilang di udara. Suasana di antara mereka masih terasa canggung, sementara suara hujan terdengar jelas dari luar restoran.Gisel duduk bersandar, menatap lurus ke arah kabut yang mulai menyelimuti pepohonan dan perbukitan di ujung restoran. Sesekali ia menyesap teh di tangannya, membiarkan kehangatan minuman itu mengusir dingin yang menusuk kulit.Derap langkah kaki dari arah lorong memecah keheningan di antara mereka. Laras berjalan menghampiri dengan pakaian yang sudah berganti. Kini ia mengenakan sweater rajut longgar yang cukup hangat. Rambutnya yang tadi setengah basah sudah dikeringkan dan diikat rapi ke belakang.“Tehnya masih hangat, kan, Sel?” tanya Laras pelan sambil tersenyum tipis.Gisel hanya mengangguk.Laras kemudian duduk di kursi kosong tepat di hadapan Gise
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 85 | Hujan Dan Rasa CanggungLangit di atas kawasan pegunungan Pramudita Hill Resort yang semula cerah perlahan berubah mendung. Awan kelabu bergerak cepat, membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Tak lama kemudian, hujan mulai turun, membasahi dedaunan dan material bangunan yang belum tersusun rapi.Arash berdiri di bawah naungan atap beton yang belum sepenuhnya selesai, memperhatikan situasi di sekitarnya dengan tenang. Di sampingnya, Rian sibuk menerima panggilan telepon dari tim operasional, sementara beberapa pengawal tetap berjaga tidak jauh dari mereka.“Pak Arash, hujannya sepertinya bakal makin deras,” ujar Rian setelah mematikan panggilan. “Pak Bramantyo dan Bu Dara sudah di villa utama.”Arash mengangguk singkat. Ia membetulkan posisi jam tangannya, kemudian melirik ke sekitar area proyek yang perlahan mulai kosong.“Laras sama Gisel di mana? Mereka ikut ke villa utama?”Rian menggeleng. “Tadi saya sempat lihat Bu Gisel ke arah restoran semi-outdoor, Pak. Kalau Bu Laras, sepertinya jalan ke taman bela
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: 84 | Udara Yang BerbedaLima hari telah berlalu sejak acara Exclusive Preview & Gala Dinner Pramudita Luxury.Berita mengenai produk Aetheria Parfums yang muncul hampir bersamaan dengan produk terbaru Pramudita Luxury memang sempat menjadi sorotan selama beberapa hari terakhir. Namun, setelah pihak perusahaan memberikan klarifikasi resmi dan mulai menangani persoalan tersebut, pemberitaan di berbagai media bisnis mulai berkurang meskipun isu mengenai kebocoran formula masih menjadi perhatian.Masalah kebocoran formula juga belum sepenuhnya terungkap. Tim R&D masih memeriksa riwayat akses dokumen internal, sementara tim terkait melakukan pengecekan ulang terhadap penyimpanan sampel.Meski begitu, kondisi perusahaan tidak sampai mengganggu kegiatan operasional secara keseluruhan. Proses produksi tetap berjalan sesuai prosedur, kerja sama dengan distributor utama masih berlangsung, dan agenda perusahaan yang sebelumnya telah dijadwalkan tetap dilaksanakan tanpa penundaan.Salah satunya adalah kunjungan ke proye
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: 83 | Tak Sesederhana ItuMalam sudah semakin larut ketika mobil Arash memasuki kawasan perumahan. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat kerumunan di depan mansion. Beberapa mobil media terparkir di pinggir jalan, sementara sejumlah wartawan berdiri di balik pagar sambil menunggu siapa pun yang keluar atau masuk ke rumah itu. Begitu mobil Arash mendekati gerbang, beberapa kamera langsung terarah ke arahnya. Para pengawal segera bergerak dan memastikan tidak ada wartawan yang mendekati kendaraan. Mobil itu pun terus melaju sampai akhirnya masuk ke halaman mansion. Rian yang duduk di kursi penumpang depan menoleh ke belakang dengan wajah tegang. “Berita mengenai Aetheria Parfums sudah jadi topik utama di beberapa portal media bisnis sejak setengah jam lalu, Pak. Masalahnya bukan cuma soal kemiripan produk. Beberapa jurnalis mulai mengaitkan kebocoran formula ini dengan status Pak Lukman yang sekarang jadi DPO. Spekulasi yang beredar, Pak Lukman sengaja menjual rahasia Pramudita sebelum melarikan diri.” Ar
Last Updated: 2026-09-17
Chapter: 82 | Jejak PenghianatanBeberapa detik berlalu tanpa ada satu pun dari mereka yang berbicara. Arash kembali menatap layar ponsel di tangannya, membaca ulang informasi yang baru saja diberikan Rian. Kemudian, ia mengangkat wajah dan menatap Rian. Wajah asistennya masih dipenuhi kecemasan yang nyata. Arash terdiam sejenak. Setelah itu, ia mematikan layar ponsel dan mengembalikannya kepada Rian. “Ambil ini,” bisik Arash singkat. Suaranya terdengar tenang dan teratur, tanpa sedikit pun kepanikan. “Acara harus terus tetap berjalan.” Rian sempat menatapnya ragu. “Tapi, Pak, mereka sudah—” “Rian,” potong Arash pelan namun tegas. “Kalau kita tunda, para investor akan berpikir perusahaan kita sedang goyah. Jangan kasih mereka alasan untuk meragukan kita.” Arash membenarkan letak jas hitamnya, lalu mengubah raut wajahnya kembali menjadi sosok pimpinan yang dingin dan percaya diri. Setelah itu, ia melangkah menuju panggung utama. Di hadapan puluhan investor, pemegang saham, dan awak media, Arash berdiri dengan te
Last Updated: 2026-09-16
Chapter: Bab 34 | Lily HitamKetegangan di perempatan jalan besar itu sudah tidak bisa ditahan lagi. Udara malam yang sedingin es seolah ikut membeku menyaksikan kedua kubu yang saling mengunci pandangan.Pria raksasa bertopeng singa emas itu tidak membalas ucapan Kael dengan kata-kata. Sebagai jawaban, ia menarik kembali kapak ganda raksasanya dari dalam retakan tanah, lalu mengayunkannya membentuk lingkaran di udara, menciptakan suara deru angin yang memekakkan telinga."Pasukan Emas! Hancurkan para pemberontak ini!" teriak sang panglima bertopeng singa dengan suara menggelegar."Serang!" lolong pasukan zirah emas secara serentak.Dalam hitungan detik, pertempuran besar pecah di tengah perempatan jalan. Pasukan zirah emas melesat maju dengan tombak dan pedang panjang mereka yang berkilau. Namun, klan Nightvale bukanlah klan sembarangan. Mereka adalah para vampir berdarah murni yang telah bertahan hidup dari ratusan perang selama ratusan tahun.Lucien bergerak lebih dulu. Gerakannya begitu cepat hingga matanya h
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Bab 33 | Kepungan Ibu KotaGelombang energi hitam kemerahan yang meledak dari Menara Jam Kuno menciptakan tekanan besar di langit ibu kota. Selena, yang sempat tak sadarkan diri selama beberapa saat, tiba-tiba terbangun dengan napas terengah-engah.Clang!Suara logam yang menghantam lantai batu membuat kesadarannya pulih sepenuhnya.Kunci Perak Kuno yang sebelumnya terpasang di lempengan mesin tiba-tiba terlepas dan melayang tepat di depan nya. Benda itu bergetar hebat, seolah ada kekuatan besar yang menariknya keluar dari menara. Cahaya keperakan yang memancar darinya kini hanya tersisa samar.Dengan sisa tenaga yang ada, Selena merangkak menghampiri kunci itu. Tangannya yang dingin gemetar saat menggenggamnya, lalu buru-buru memasukkannya kembali ke kantung bajunya."Tarikannya sangat kuat. Kalau tidak kupegang erat, kunci ini bisa saja terbang sendiri," batin Selena sambil mengatur napasnya.Wajahnya semakin pucat. Udara di dalam ruangan terasa semakin tipis akibat gelombang sihir yang dikeluarkan mesin jam.
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 32 | Awal Berakhirnya Kegelapan"Tetap menunduk, Selena. Ikuti langkahku," bisik Kael pelan. Tangannya memegang siku Selena, membimbingnya berjalan di sepanjang dinding aula yang tertutup tirai beludru besar.Selena merapatkan jubah tipis yang menutupi gaunnya. Kunci Perak di balik lipatan gaun terus bergetar semakin kuat, seolah tahu mereka sedang menuju tempat yang seharusnya."Kael..." bisik Selena pelan. "Penjaga di dekat pintu samping itu... mereka melihat ke arah kita." Ia sempat melirik dua prajurit berbaju zirah perak yang mulai memperhatikan mereka."Jangan tatap mata mereka, terus berjalan" jawab Kael tenang.Saat mereka tinggal beberapa langkah lagi dari pintu keluar darurat di sudut aula, Rowan tiba-tiba muncul dari balik sebuah pilar batu. Tanpa ragu, ia menyenggol seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi gelas. Semua gelas jatuh ke lantai marmer dan pecah berantakan. Prang!Suara keras itu langsung menarik perhatian para penjaga."Hei! Apa yang kau lakukan? Jalannya luas begini kenapa bisa me
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab 31 | Penjamuan Bulan MerahSuasana di ruang tengah Paviliun Nightvale langsung berubah tegang setelah para pengawal istana pergi. Kabar bahwa perjamuan dimajukan menjadi malam ini benar-benar menghancurkan rencana yang telah mereka susun.Kael menjadi orang pertama yang memecah keheningan. Tinju pria itu menghantam meja kayu hingga menimbulkan suara keras.Brak!"Sial!" bentaknya dengan wajah penuh amarah. "Mereka sengaja melakukan ini! Bajingan-bajingan tua itu pasti tahu jika kita merencanakan sesuatu!"Rowan yang berdiri di dekat jendela besar tampak melipat kedua tangannya. Matanya yang merah menatap langit malam yang mulai diselimuti oleh kabut tipis. "Jika Selena tidak muncul di aula perjamuan bersama kita, Dewan Pusat pasti langsung curiga. Mereka akan mengirim Ordo Bayangan untuk menggeledah seluruh kawasan penginapan dan tempat pertama yang akan mereka datangi adalah Menara Jam Kuno. Jika itu terjadi, rencana kita akan gagal sebelum sempat dimulai."Selena yang sejak tadi duduk di sudut ruangan hanya b
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: Bab 30 | Rencana Gagal?Pakaian Selena masih terasa agak lembap akibat uap air dari jalur pembuangan bawah tanah ketika mereka akhirnya berhasil keluar di pinggiran sungai, tepat di luar tembok pembatas Ibu Kota. Saat itu, rasa cemas sempat melanda dada Selena. Ia terus menoleh ke arah Menara Jam Kuno yang berdiri menjulang di kejauhan, memikirkan Lucien yang tadi memilih tetap tinggal di dalam ruangan inti untuk mengunci jalur pelarian mereka.Namun, kekhawatiran Selena tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, sesosok bayangan hitam melesat dari balik pepohonan dan mendarat tepat di hadapan mereka.Itu Lucien.Jubah hitamnya sedikit berdebu, tetapi tak terlihat sedikit pun luka di tubuhnya.Selena mengembuskan napas lega begitu melihat Lucien muncul di hadapan mereka. Tanpa sadar, ia segera menghampirinya."Lucien... akhirnya kau keluar juga." Tatapannya menyusuri wajah hingga tubuh pria itu, memastikan tidak ada luka sedikit pun. "Kau tidak apa-apa, kan?"Lucien menatap Selena beberapa saat. Senyum
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Bab 29 | Ordo BayanganBagi Selena, genggaman tangan Lucien yang dingin justru menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap tenang di tengah situasi yang semakin kacau."Cassian, Rowan! Lewat jalur bawah tanah. Cepat!" perintah Lucien. Suaranya rendah, tetapi tegas dan tidak memberi ruang untuk dibantah.Rowan langsung bergerak paling depan sambil mengangkat obor sihirnya. Mereka berempat berlari menuruni tangga batu yang melingkar. Selena berusaha mengikuti langkah mereka yang cepat. Kakinya masih sedikit gemetar, sehingga ia mencengkeram jubah Lucien agar tidak terpeleset di anak tangga yang licin.Namun, saat mereka hampir mencapai jalan menuju ruang arsip bawah tanah, Rowan tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat satu tangan sebagai isyarat agar yang lain tidak bergerak. "Ada apa?" bisik Cassian.Rowan tidak langsung menjawab. Matanya yang merah menatap lurus ke lorong gelap di depan mereka. Beberapa detik kemudian, semua orang mulai mendengarnya.Itu suara langkah kaki, tapi bukan hanya satu atau dua ora
Last Updated: 2026-07-04