Chapter: Bab 14 | Pesan Dari Buku MisteriusBel di gerbang luar kastil baru saja berhenti berbunyi, tetapi gema dentingannya masih terasa samar di lantai batu.Di ruang makan, suasana tenang yang sempat tercipta setelah Lucien mencicipi pai apel buatan Selena langsung menghilang. Dalam hitungan detik, atmosfer ruangan berubah menjadi jauh lebih serius.Lucien meletakkan garpu peraknya di atas meja.Bunyi logam yang pelan itu entah mengapa terdengar sangat tegas, seolah menjadi tanda bahwa waktu bersantai telah berakhir.Wajahnya kembali menunjukkan wibawa dingin seorang Lord yang memimpin Kastil Nightvale.Di sudut meja, Nyx yang menyadari pakaiannya masih berantakan segera mengangkat tangan. Dengan satu jentikan jari, sihir hitam mengalir di sekeliling tubuhnya, membersihkan sisa tepung yang menempel di wajah dan pakaiannya dalam sekejap. Penampilannya kembali rapi seperti biasa."Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku," ujar Elian. Kali ini, senyum cerianya tidak terlihat. Tatapannya lurus mengarah ke pintu dengan ekspres
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Bab 13 | Rasa Yang Tak AsingSetelah ketegangan saat sarapan mereda, ruang makan kembali tenang. Ketujuh vampir itu segera pergi untuk melanjutkan urusan mereka masing-masing yang sempat tertunda akibat serangan serigala bayangan semalam. Lucien dan Kael menuju ruang kerja utama untuk memeriksa keadaan pertahanan Gerbang Barat, sementara lima vampir lainnya pergi ke sayap timur untuk mengurus berbagai kerusakan yang masih tersisa.Selena yang awalnya berniat kembali ke kamarnya tiba-tiba menghentikan langkah di persimpangan lorong.Membayangkan dirinya harus menghabiskan waktu sendirian di dalam kamar yang sepi membuat kepalanya terasa semakin penat. Ia membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Sesuatu yang terasa normal dan tidak berhubungan dengan dunia vampir yang masih sulit diterimanya.Selena berpikir sejenak.Lalu sebuah ide muncul.Dapur.Mengingat aroma bahan makanan yang tercium saat sarapan tadi, ia segera berjalan menuju sayap bawah kastil tempat dapur utama berada.Untungnya, area itu sedang
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: Bab 12 | Mencoba Menerima KenyataanTok.. Tok.. Tok..Ketukan beruntun di pintu kayu kamarnya memaksa kesadaran Selena kembali. Ia mengerang pelan, mengerjapkan mata yang terasa berat setelah semalaman dihantui berbagai teori tentang dunia novel fiksi ini."Nona Selena? Anda sudah bangun?" Suara Martha terdengar dari balik pintu.Selena menghela napas, lalu mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur yang terletak di lantai. Ia merapikan gaun tidurnya sejenak sebelum menyahut, "Ya, Martha. Masuk saja."Pintu terbuka, memperlihatkan Martha yang datang bersama dua pelayan kastil lainnya. Mereka membawa nampan berisi perlengkapan mandi, handuk bersih, serta sehelai gaun baru yang tampak elegan. "Selamat pagi, Nona. Kami datang untuk membantu Anda bersiap dan merapikan kamar," ucap Martha ramah, memberikan kain bersih kepada Selena."Terima kasih, Martha. Aku akan mandi sekarang," ujar Selena. Ia segera bangkit dan melangkah menuju kamar mandi dalam.Sekitar dua puluh menit kemudian, Selena keluar dengan tubuh yang jauh
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: Bab 11 | Kesadaran yang TerlambatDi tengah reruntuhan rumah kaca yang berantakan, Selena masih terduduk membeku sementara pikirannya dipenuhi begitu banyak hal hingga sulit mencerna satu pun di antaranya. Ia bahkan tidak yakin dengan apa yang baru saja disaksikan matanya sendiri. Semua itu terlalu mustahil. Sebagian dirinya masih bertanya-tanya apakah ia sedang bermimpi, berhalusinasi, atau perlahan mulai kehilangan akal sehat. Pelukan Adrian yang sebelumnya menopang tubuhnya perlahan terlepas ketika Lucien berjalan mendekat. Aura dingin yang selalu mengelilingi Lucien masih ada, tetapi kali ini terasa berbeda tidak setajam biasanya, meski tetap membuat atmosfer terasa mencekam. Lucien berjongkok hingga sejajar dengan Selena. Tangannya yang besar dan pucat terangkat perlahan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menyentuh pipi Selena. Jemarinya yang sedingin es mengusap kulit wajah gadis itu dengan lembut, seolah takut membuatnya terluka. Selena tidak bergerak maupun menghindar. Matanya hanya menatap luru
Last Updated: 2026-06-19
Chapter: Bab 10 | Ikatan Darah Yang TerusikMakhluk berbulu hitam pekat yang berdiri di atas rangka besi itu mendongakkan kepala, lalu melolong begitu keras hingga sisa panel kaca yang menggantung di atap bergetar dan pecah berjatuhan. Asap pekat terus keluar dari sela-sela bulunya, bergulung seperti bayangan hidup yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sepasang mata kuning menyala milik monster itu terus menatap lurus ke arah Selena, sebuah tatapan yang dipenuhi rasa lapar yang mengerikan. Di mata makhluk tersebut, Selena tak lebih dari sekadar mangsa empuk yang siap disantap.Bruk.Seluruh tenaga di kaki Selena mendadak lenyap. Ia jatuh terduduk di atas tanah dingin rumah kaca. Selama ini, pikirannya selalu berusaha mencari penjelasan yang masuk akal untuk setiap kejanggalan di Kastil ini. Namun detik ini, semua benteng logika yang dipertahankannya runtuh tanpa sisa."Itu... itu bukan anjing biasa," bisik Selena dengan bibir gemetar, matanya terpaku pada sosok mengerikan di hadapannya. "Itu monster. Makhluk apa sebenarnya itu?"
Last Updated: 2026-06-18
Chapter: Bab 9 | Pelindung Dalam BayanganSetelah menerima surat darurat tentang serangan Serigala Bayangan di Gerbang Barat, Kael langsung pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan embusan angin dingin yang membuat ujung gaun Selena sedikit tersingkap.Aula utama kastil seketika diliputi keheningan yang menegangkan. Martha dan para pelayan lainnya bergegas menutup serta mengunci pintu-pintu besar. Melihat kepanikan yang sunyi itu, rasa cemas perlahan merayap di benak Selena. Jantungnya mulai bertingkah lagi.Namun suasana mencekam itu tidak berlangsung lama. Pintu samping aula terbuka perlahan, menampilkan seorang pria berambut pirang pucat yang melangkah masuk dengan tenang.Adrian Voss.Pria itu berjalan mendekat tanpa sedikit pun tanda kepanikan di wajahnya, seolah keadaan siaga kastil hanyalah angin lalu. Begitu sampai di hadapan Selena, Adrian sedikit menundukkan kepala."Selamat siang, Nona Selena," sapanya lembut. Suaranya yang bariton terdengar sangat menenangkan. "Karena Ka
Last Updated: 2026-06-17