Chapter: Bab 161Gisel terdiam setelah mendengar pertanyaan Bhaskar. Ia tidak menyangka pria itu akan mengajaknya memulai hubungan yang lebih serius. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi ia membutuhkan waktu untuk menyusun kata-katanya. Gisel menarik napas perlahan sebelum akhirnya menatap Bhaskar. "Kak..." panggil Gisel pelan. "Selama ini... Kak Bhaskar sudah menjadi seseorang yang sangat penting bagiku. Bersama Kakak, aku merasa nyaman, aku merasa aman, dan setelah semua yang terjadi, perlahan aku mulai bisa membayangkan masa depan yang lebih baik kalau ada Kakak di sampingku.” “Tapi, aku juga mau Kakak tahu kalau aku masih belajar membuka hati lagi. Bukan karena aku masih mengharapkan Arash. Sama sekali bukan karena itu. Aku hanya nggak mau mengambil keputusan sebesar ini karena sedang merasa bahagia atau karena Kakak sudah banyak membantuku. Aku ingin yakin dengan perasaanku sendiri sebelum melangkah lebih jauh.” “Jadi, Kakak benar-benar yakin ingin bersama aku? Dengan segala keru
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 160Laras berdiri di ambang pintu. Ia membalas keterkejutan Gisel dengan senyum tipis. “Hai, Gisel. Apa kabar?” tanyanya pelan. “Baik, Mbak." Ia menggeser tubuhnya, memberikan jalan agar Laras bisa masuk. "Silakan masuk.” Laras mengangguk dan melangkah masuk ke dalam rumah. Dari arah dapur, Dara yang mendengar suara tamu segera menghampiri. Namun, langkahnya sempat terhenti ketika melihat siapa yang datang. “Laras?” Laras langsung menghampiri Dara dan menyalami tangannya dengan sopan. “Ayo, duduk dulu, Ras.” Setelah Laras duduk di sofa, Dara menoleh kepada Gisel. “Gisel, temani Laras sebentar, ya. Mama mau panggil Papa dulu.” Gisel mengangguk. Dara kemudian beranjak meninggalkan mereka untuk memanggil Bramantyo. Selama menunggu, tidak ada percakapan diantara mereka. Laras duduk dengan gelisah sambil sesekali meremas jemarinya sendiri. Gisel pun tidak langsung bertanya tentang kedatangannya. Ia memilih menunggu sampai Laras sendiri yang membuka pembicaraan. Tak lama
Last Updated: 2026-11-03
Chapter: Bab 159Suara langkah kaki yang mendekat membuat Gisel dan Bhaskar serentak menoleh. Keheningan di antara mereka pun terpecah ketika beberapa orang menghampiri mereka. Orang pertama yang terlihat adalah Bramantyo. Pria paruh baya itu berjalan tanpa bantuan kursi roda yang sebelumnya masih sering digunakannya setelah mengalami masalah kesehatan. Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi ia sudah mampu berjalan sendiri. Di belakangnya, Dara mengikuti dengan wajah cemas. Namun, bukan hanya kedua orang tua Gisel yang datang. Irawan dan Melati, juga ikut datang. Begitu melihat Gisel, Dara segera menghampirinya. Ia memeriksa kondisi putrinya. "Ya Allah, Gisel... Mama cemas sekali, Nak. Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Arash nggak ngapa-ngapain kamu kan, Sel? Bilang sama mama mana yang sakit?" Gisel berusaha tersenyum untuk menenangkan sang mama. "Gisel nggak apa-apa, Ma. Cuma ada beberapa luka lecet. Mama jangan khawatir lagi, ya." Dara tidak puas dengan jawaban itu, ia memeriksa
Last Updated: 2026-11-03
Chapter: Bab 158"Kenapa dari tadi kamu terus-terusan melihat saya seperti itu, Sel?" tanya Bhaskar, memecah keheningan di ruang tunggu rumah sakit.Gisel tersentak kecil. Ia baru menyadari bahwa sejak tadi pandangannya terus tertuju pada Bhaskar. Sekitar satu jam lalu, perawat telah selesai membersihkan dan mengobati luka luka mereka. Kini, keduanya duduk berdampingan di kursi ruang tunggu, menanti kedatangan orang tua Gisel dan Arash.Mendengar pertanyaan Bhaskar, Gisel mengalihkan pandangannya."Aku cuma mau memastikan Kak Bhaskar benar-benar nggak mengalami luka yang serius," jawab Gisel pelan. "Dari tadi aku memperhatikan kakak, takutnya ada luka lain yang belum diobatin."Bhaskar terkekeh kecil. Ia menggelengkan kepalanya, lalu melirik luka di siku Gisel yang sudah diobati."Kamu ini malah sibuk memperhatikan saya. Padahal, luka di tubuh kamu lebih banyak. Seharusnya kamu lebih memperhatikan kondisi sendiri daripada terus mengkhawatirkan saya."Gisel tidak menjawab, dia hanya terdiam. Pandangann
Last Updated: 2026-11-01
Chapter: Bab 157Suasana di dalam mobil itu terasa tegang. Arash mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Sesekali ia melirik Gisel yang duduk dengan tidak tenang. Kedua pergelangan tangan perempuan itu masih terikat, membuatnya kesulitan bergerak bebas. Gisel terus berusaha melepaskan ikatan tersebut. Namun, semakin keras ia menariknya, semakin terasa sakit kulit di sekitar pergelangan tangannya. Ia tidak punya banyak pilihan selain menunggu kesempatan untuk meloloskan diri. "Lepasin aku, Arash! Kamu sudah keterlaluan! Kita sudah resmi bercerai. Aku bukan istri kamu lagi, jadi berhenti mengganggu hidupku!" Arash meliriknya sekilas. Rahangnya mengeras mendengar ucapan itu. "Perceraian kita cuma urusan hukum, Gisel. Itu nggak mengubah apa pun. Kamu tetap milikku!" "Jangan bicara seolah-olah aku masih punya hubungan sama kamu! Kamu sendiri yang menghancurkan semuanya. Setelah semua yang kamu lakukan, kamu masih merasa berhak mengatur hidupku?"
Last Updated: 2026-10-31
Chapter: Bab 156Suara benturan dan gesekan ban dengan aspal memecah keheningan malam. Motor itu terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti. Bhaskar dan Gisel ikut terjatuh bersama kendaraan tersebut. Keduanya sempat terguling di atas aspal, tetapi beruntung tidak terseret terlalu jauh. Meski begitu, beberapa bagian tubuh mereka mengalami luka lecet akibat bergesekan dengan permukaan jalan. Rasa nyeri juga mulai terasa di siku, lutut, dan bagian tubuh lainnya. Gisel segera bangkit setelah terjatuh. Ia menoleh ke arah Bhaskar yang berada tidak jauh darinya, lalu buru-buru menghampiri pria itu. "Kak Bhaskar! Kakak nggak apa-apa?" Belum sempat Bhaskar menjawab, mobil hitam yang tadi menyerempet mereka tiba-tiba berhenti beberapa meter di depan mereka. Lampu belakangnya masih menyala, menerangi sebagian jalan yang gelap. Pintu pengemudi kemudian terbuka dan seorang pria berbadan tegap keluar dengan langkah cepat. Wajah pria itu terlihat kusut. Tatapannya tajam, sementara sorot matanya menunjukk
Last Updated: 2026-10-31
Chapter: Bab 34 | Lily HitamKetegangan di perempatan jalan besar itu sudah tidak bisa ditahan lagi. Udara malam yang sedingin es seolah ikut membeku menyaksikan kedua kubu yang saling mengunci pandangan.Pria raksasa bertopeng singa emas itu tidak membalas ucapan Kael dengan kata-kata. Sebagai jawaban, ia menarik kembali kapak ganda raksasanya dari dalam retakan tanah, lalu mengayunkannya membentuk lingkaran di udara, menciptakan suara deru angin yang memekakkan telinga."Pasukan Emas! Hancurkan para pemberontak ini!" teriak sang panglima bertopeng singa dengan suara menggelegar."Serang!" lolong pasukan zirah emas secara serentak.Dalam hitungan detik, pertempuran besar pecah di tengah perempatan jalan. Pasukan zirah emas melesat maju dengan tombak dan pedang panjang mereka yang berkilau. Namun, klan Nightvale bukanlah klan sembarangan. Mereka adalah para vampir berdarah murni yang telah bertahan hidup dari ratusan perang selama ratusan tahun.Lucien bergerak lebih dulu. Gerakannya begitu cepat hingga matanya h
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Bab 33 | Kepungan Ibu KotaGelombang energi hitam kemerahan yang meledak dari Menara Jam Kuno menciptakan tekanan besar di langit ibu kota. Selena, yang sempat tak sadarkan diri selama beberapa saat, tiba-tiba terbangun dengan napas terengah-engah.Clang!Suara logam yang menghantam lantai batu membuat kesadarannya pulih sepenuhnya.Kunci Perak Kuno yang sebelumnya terpasang di lempengan mesin tiba-tiba terlepas dan melayang tepat di depan nya. Benda itu bergetar hebat, seolah ada kekuatan besar yang menariknya keluar dari menara. Cahaya keperakan yang memancar darinya kini hanya tersisa samar.Dengan sisa tenaga yang ada, Selena merangkak menghampiri kunci itu. Tangannya yang dingin gemetar saat menggenggamnya, lalu buru-buru memasukkannya kembali ke kantung bajunya."Tarikannya sangat kuat. Kalau tidak kupegang erat, kunci ini bisa saja terbang sendiri," batin Selena sambil mengatur napasnya.Wajahnya semakin pucat. Udara di dalam ruangan terasa semakin tipis akibat gelombang sihir yang dikeluarkan mesin jam.
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 32 | Awal Berakhirnya Kegelapan"Tetap menunduk, Selena. Ikuti langkahku," bisik Kael pelan. Tangannya memegang siku Selena, membimbingnya berjalan di sepanjang dinding aula yang tertutup tirai beludru besar.Selena merapatkan jubah tipis yang menutupi gaunnya. Kunci Perak di balik lipatan gaun terus bergetar semakin kuat, seolah tahu mereka sedang menuju tempat yang seharusnya."Kael..." bisik Selena pelan. "Penjaga di dekat pintu samping itu... mereka melihat ke arah kita." Ia sempat melirik dua prajurit berbaju zirah perak yang mulai memperhatikan mereka."Jangan tatap mata mereka, terus berjalan" jawab Kael tenang.Saat mereka tinggal beberapa langkah lagi dari pintu keluar darurat di sudut aula, Rowan tiba-tiba muncul dari balik sebuah pilar batu. Tanpa ragu, ia menyenggol seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi gelas. Semua gelas jatuh ke lantai marmer dan pecah berantakan. Prang!Suara keras itu langsung menarik perhatian para penjaga."Hei! Apa yang kau lakukan? Jalannya luas begini kenapa bisa me
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Bab 31 | Penjamuan Bulan MerahSuasana di ruang tengah Paviliun Nightvale langsung berubah tegang setelah para pengawal istana pergi. Kabar bahwa perjamuan dimajukan menjadi malam ini benar-benar menghancurkan rencana yang telah mereka susun.Kael menjadi orang pertama yang memecah keheningan. Tinju pria itu menghantam meja kayu hingga menimbulkan suara keras.Brak!"Sial!" bentaknya dengan wajah penuh amarah. "Mereka sengaja melakukan ini! Bajingan-bajingan tua itu pasti tahu jika kita merencanakan sesuatu!"Rowan yang berdiri di dekat jendela besar tampak melipat kedua tangannya. Matanya yang merah menatap langit malam yang mulai diselimuti oleh kabut tipis. "Jika Selena tidak muncul di aula perjamuan bersama kita, Dewan Pusat pasti langsung curiga. Mereka akan mengirim Ordo Bayangan untuk menggeledah seluruh kawasan penginapan dan tempat pertama yang akan mereka datangi adalah Menara Jam Kuno. Jika itu terjadi, rencana kita akan gagal sebelum sempat dimulai."Selena yang sejak tadi duduk di sudut ruangan hanya b
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: Bab 30 | Rencana Gagal?Pakaian Selena masih terasa agak lembap akibat uap air dari jalur pembuangan bawah tanah ketika mereka akhirnya berhasil keluar di pinggiran sungai, tepat di luar tembok pembatas Ibu Kota. Saat itu, rasa cemas sempat melanda dada Selena. Ia terus menoleh ke arah Menara Jam Kuno yang berdiri menjulang di kejauhan, memikirkan Lucien yang tadi memilih tetap tinggal di dalam ruangan inti untuk mengunci jalur pelarian mereka.Namun, kekhawatiran Selena tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, sesosok bayangan hitam melesat dari balik pepohonan dan mendarat tepat di hadapan mereka.Itu Lucien.Jubah hitamnya sedikit berdebu, tetapi tak terlihat sedikit pun luka di tubuhnya.Selena mengembuskan napas lega begitu melihat Lucien muncul di hadapan mereka. Tanpa sadar, ia segera menghampirinya."Lucien... akhirnya kau keluar juga." Tatapannya menyusuri wajah hingga tubuh pria itu, memastikan tidak ada luka sedikit pun. "Kau tidak apa-apa, kan?"Lucien menatap Selena beberapa saat. Senyum
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Bab 29 | Ordo BayanganBagi Selena, genggaman tangan Lucien yang dingin justru menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap tenang di tengah situasi yang semakin kacau."Cassian, Rowan! Lewat jalur bawah tanah. Cepat!" perintah Lucien. Suaranya rendah, tetapi tegas dan tidak memberi ruang untuk dibantah.Rowan langsung bergerak paling depan sambil mengangkat obor sihirnya. Mereka berempat berlari menuruni tangga batu yang melingkar. Selena berusaha mengikuti langkah mereka yang cepat. Kakinya masih sedikit gemetar, sehingga ia mencengkeram jubah Lucien agar tidak terpeleset di anak tangga yang licin.Namun, saat mereka hampir mencapai jalan menuju ruang arsip bawah tanah, Rowan tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat satu tangan sebagai isyarat agar yang lain tidak bergerak. "Ada apa?" bisik Cassian.Rowan tidak langsung menjawab. Matanya yang merah menatap lurus ke lorong gelap di depan mereka. Beberapa detik kemudian, semua orang mulai mendengarnya.Itu suara langkah kaki, tapi bukan hanya satu atau dua ora
Last Updated: 2026-07-04