로그인Selena Ashbourne tidak pernah menyangka bahwa kematiannya akan menjadi awal dari mimpi buruk sekaligus keajaiban terbesar dalam hidupnya. Saat membuka mata, ia terbangun di dunia novel vampir favoritnya. Masalahnya, ia bukan sang heroine, melainkan karakter yang seharusnya tidak memiliki peran penting dalam cerita. Namun sejak kemunculannya, tujuh vampir paling berkuasa justru terus mengawasinya seolah mereka telah mengenalnya sejak lama. Semakin keras Selena berusaha menghindari mereka, semakin banyak rahasia yang terungkap. Tentang masa lalu yang hilang, takhta kuno yang terlupakan, dan sebuah takdir yang telah menunggu selama 700 tahun. Karena tanpa Selena sadari, dunia ini bukanlah tempat asing baginya. Dan tujuh vampir itu... tidak pernah berhenti menunggunya.
더 보기Kesadaran Selena kembali perlahan, seperti kabut yang dipaksa menyatu dari kegelapan. Hal pertama yang menyadarkannya bukanlah cahaya, melainkan aroma asing yang pekat seperti bau lilin lebah, kayu tua yang lembap, serta hawa dingin yang merayap hingga ke tulang.
Tangan Selena bergerak refleks menyentuh permukaan di bawah tubuhnya. Kain itu terasa begitu halus dan dingin. Jelas bukan seprai murahan yang biasa dipakainya di kamar kos sempit sudut kota, melainkan kelembutan sutra mahal yang asing di kulitnya. Jantungnya mulai berdegup kencang. Saat membuka mata, rasa pusing yang luar biasa langsung menyerang pelipisnya, seolah baru saja dihantam besi tumpul. Namun rasa sakit itu terlupakan begitu matanya fokus pada pemandangan di atas sana. Bukan tripleks kusam penuh noda rembesan air yang biasa dilihatnya setiap pagi. Di hadapannya terbentang langit-langit bergaya gotik dengan ukiran kayu hitam yang megah. Kelambu putih menjuntai mengelilingi ranjang besar tempatnya terbaring, membuat ruangan itu tampak seperti kamar tidur bangsawan dalam kisah fantasi kuno. Ia buru-buru bangkit duduk, mengabaikan pusing yang kembali mendera. Napasnya tercekat ketika matanya menelusuri ruangan asing itu sebelum akhirnya jatuh pada penampilannya sendiri. “Apa… ini?” bisik Selena, nyaris tak percaya. Pakaiannya pun telah berubah. Ia tidak lagi mengenakan kaus longgar dan celana jins lusuh yang dipakainya semalam. Kini tubuhnya dibalut gaun pelayan bergaya Victoria berwarna hitam putih, lengkap dengan celemek renda dan kerah tinggi yang terasa mencekik leher. Kain itu begitu rapat hingga membuatnya sulit bernapas. Selena menelan ludah pelan. Dengan tangan gemetar, ia segera memeriksa pakaian itu, meraba bagian pinggang hingga lipatan roknya dengan panik. Ia mencari satu hal yang paling masuk akal untuk ditemukan. "Ponselku... setidaknya ponselku masih ada," gumamnya cemas. Namun semakin lama tangannya mencari, semakin dingin pula tubuhnya dibuatnya. Tidak ada apa-apa. Tidak ada telepon genggam, tidak ada dompet, bahkan tidak ada benda apa pun yang bisa memberi nya petunjuk. Dadanya mulai sesak. Pikiran Selena dipaksa bekerja keras dalam keadaan setengah panik. Berbagai kemungkinan buruk langsung bermunculan tanpa henti. “Apa aku diculik? Atau ini semacam acara lelucon sinting berkedok kamera tersembunyi?” Ia memegangi kepala yang masih terasa berat. “Tunggu… siapa juga yang kurang kerjaan buat membius orang hanya karena keluar tengah malam?” Selena berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi sebelum semuanya berubah asing seperti ini. Ingatan terakhirnya muncul samar-samar. Ia keluar dari kamar kos sekitar pukul sebelas malam, berjalan menuju minimarket di ujung gang yang buka dua puluh empat jam. Jalanan saat itu sepi, hanya ada suara motor sesekali melintas dan lampu jalan yang berkedip redup. Lalu—gelap. Hanya itu yang diingatnya. Seolah seluruh ingatannya setelah itu dipotong begitu saja dan ditelan kegelapan tanpa meninggalkan jejak. Perasaan tidak enak mulai merayapi dadanya ketika disadarinya satu hal mengerikan, ia sama sekali tidak tahu di mana kini ia berada. Ketakutan yang semakin besar membuat jantung Selena berdebar tidak karuan. Tanpa pikir panjang, ia segera turun dari ranjang mewah itu. Begitu telapak kakinya yang tanpa alas menyentuh lantai batu, rasa dingin seperti es langsung menjalar hingga ke betis. Ia tersentak, namun tidak punya waktu untuk memedulikannya. Yang ada di kepalanya hanya satu yaitu keluar dari sini. Selena berlari secepat mungkin menuju sepasang pintu kayu besar di ujung kamar. Pintu itu menjulang tinggi dan tampak sangat berat. Ia langsung meraih gagang kuningan berbentuk kepala singa dan memutarnya berkali-kali. Tidak bergerak. Ia mencoba lagi. Tetap tidak bergerak. Pintu itu terkunci. Rasa panik yang terus menumpuk membuatnya hampir kehilangan akal. Ia mulai menggedor pintu itu dengan kedua tangan, menghasilkan suara keras yang memantul ke seluruh ruangan. "Halo?! Ada orang di luar?!" teriaknya. Ia memukul pintu itu lagi. "Tolong buka pintunya! Ini tidak lucu sama sekali, ya! Kalau kalian sekelompok penjahat yang minta uang tebusan, kalian benar-benar salah orang! Aku cuma mahasiswi kere yang hidup sebatang kara!!" "Tolong buka pintunya!" teriaknya sekali lagi, kali ini dengan nada yang nyaris putus asa. Sunyi. Tidak ada jawaban sama sekali dari balik pintu itu. Seluruh tempat ini terasa terlalu hening. Tidak terdengar langkah kaki, suara orang berbicara, atau suara apa pun. Tempat ini terasa seperti bangunan tua yang sudah lama ditinggalkan, terpisah dari dunia luar. Karena tidak mendapat respons dan sadar mustahil mendobrak pintu sebesar itu dengan tenaganya yang pas-pasan, Selena akhirnya berbalik. Pandangannya jatuh pada sebuah jendela lengkung besar di sisi lain kamar yang dibingkai tirai beludru merah marun. "Mungkin ada jalan keluar... atau setidaknya petunjuk," bisiknya penuh harap. Selena segera berlari ke sana. Tanpa ragu, ia menarik tirai tebal itu lalu membukanya dengan satu tarikan kuat. Ia langsung terdiam. Napas yang baru saja dihirupnya tertahan di tenggorokan. Tubuhnya membeku. Pemandangan di balik kaca jendela itu membuat seluruh pikirannya kosong dalam sekejap. Di luar sana tidak ada apa-apa yang dikenalnya. Tidak ada lampu jalan, tiang listrik, atau suara kendaraan dari kejauhan. Tidak ada papan iklan, bangunan, atau tanda-tanda kehidupan modern. Yang terbentang di hadapannya hanyalah hutan pinus hitam yang sangat luas, seolah tidak memiliki batas. Kabut tebal menyelimuti pepohonan itu, bergerak perlahan di antara batang-batang gelap seperti sesuatu yang hidup. Di atasnya terbentang langit malam yang pekat, tanpa satu pun bintang. Selena menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Semakin lama melihatnya, semakin kuat perasaan aneh yang merayap di dalam dadanya. Tempat ini bukan tempat yang pernah dilihatnya sebelumnya. Bahkan tidak terasa seperti bagian dari dunia yang dikenalnya. Meski rasa panik terus membesar, Selena berusaha tetap berpikir jernih. Ia tidak bisa hanya berdiri diam dan ketakutan. Ia harus mencari jalan raya, pos polisi, atau apa pun yang bisa membawanya pulang. Ia tidak mau mati konyol di tempat asing seperti ini. Selena berputar cepat di tengah kamar. Matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan gelisah, mencari benda yang cukup kuat untuk mencongkel kunci pintu atau memecahkan jendela besar di belakangnya. Pandangannya berhenti pada sebuah meja rias tua di sudut kamar. Di atasnya terdapat sebuah vas perak yang berisi beberapa tangkai mawar merah tua yang mekar indah. Dengan tangan yang gemetar hebat, Selena melangkah lebar dan menyambar vas tersebut. Namun, gerakannya yang terburu-buru justru membawa petaka. Alih-alih memegang badan vas, telapak tangan kanannya tanpa sengaja mencengkeram erat seikat batang mawar yang dipenuhi duri-duri hitam yang besar dan tajam. "Awshh!" Rintihan pelan langsung lolos dari bibirnya. Selena refleks menarik tangan secepat mungkin, namun gerakan mendadak itu justru menyenggol vas perak di depannya. Tang! Vas itu jatuh ke lantai batu dengan suara keras yang menggema. Air di dalamnya tumpah ke mana-mana, membasahi lantai dan bagian bawah gaun pelayannya. Namun, perhatiannya sepenuhnya teralih pada telapak tangan kanannya. Duri-duri itu telah menggores kulitnya cukup dalam. Sebuah luka memanjang terlihat jelas di tengah telapak tangannya, dan darah merah segar mulai keluar perlahan dari sana. Selena mengernyit. Ada sesuatu yang aneh. Sangat aneh. Biasanya darah memiliki bau anyir yang khas, tapi darah yang keluar dari lukanya justru mengeluarkan aroma manis yang kuat. Aromanya mengingatkannya pada madu hangat dan bunga-bunga yang mekar pada malam hari. Semakin banyak darah yang keluar, semakin kuat pula aroma itu memenuhi ruangan hingga membuatnya sedikit pusing. Satu tetes darah mengumpul di ujung telapak tangannya, membesar, lalu jatuh. Tes. Tetesan merah itu mendarat di lantai batu putih yang basah. Dan pada saat yang sama, sebuah cahaya merah keemasan tiba-tiba menyala dari titik tempat darah itu jatuh. Selena membelalak. Belum sempat memahami apa yang dilihatnya, cahaya itu menyebar dengan kecepatan mengerikan ke seluruh permukaan lantai. Garis-garis bercahaya bermunculan dari balik batu, membentuk pola rumit seperti lingkaran sihir. Lantai di bawah kakinya mulai bergetar. Semakin lama getarannya semakin kuat dan keras. Lalu— BUM!!! Sebuah dentuman aneh yang sangat keras mengguncang seluruh tempat itu, seolah ada petir yang meledak jauh di dalam fondasi bangunan. Getarannya begitu kuat sampai kaca-kaca jendela di belakangnya bergetar hebat dan mengeluarkan suara berderit yang menyakitkan telinga. Namun yang paling membuatnya merinding bukanlah dentuman itu, melainkan suara yang muncul sesudahnya. Dari balik dinding-dinding batu yang tebal, terdengar beberapa suara pria mengerang kesakitan. "Ughh..." "Argh..." Suaranya berat, dalam, dan dipenuhi penderitaan. Itu bukan suara satu orang. Ada beberapa suara berbeda yang terdengar hampir bersamaan, seolah mereka semua merasakan sakit yang sama. Mendengar erangan itu membuat dada Selena ikut terasa sesak. Selena langsung melangkah mundur sambil memegangi telapak tangannya yang terluka. Napasnya dihembuskan dengan tidak teratur. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dan tempat macam apa ini? Sebelum ia sempat mencari sesuatu untuk membalut lukanya, suara keras tiba-tiba menggelegar dari arah pintu. BRAAAKKK! Pintu kayu raksasa yang sebelumnya terkunci rapat mendadak hancur berkeping-keping akibat hantaman luar biasa kuat dari sisi seberang. Potongan kayu beterbangan ke dalam kamar dan debu langsung memenuhi udara. Selena refleks mengangkat kedua lengan untuk melindungi wajahnya sambil terbatuk-batuk. Dari balik debu yang perlahan menipis, tiga pria masuk ke dalam kamar dengan langkah tergesa-gesa. Tubuh mereka sangat tinggi, berbau tegap, dan wajah mereka... astaga, mereka terlalu tampan untuk terlihat nyata. Seolah tanpa ada satu pun kekurangan. Namun, kondisi mereka saat ini sama sekali tidak mencerminkan keanggunan. Mereka tampak mengerikan, bernapas terengah-engah seperti binatang buruan yang terluka parah. Pria yang berdiri paling depan mengenakan kemeja putih bergaya bangsawan dengan beberapa kancing atas terbuka. Wajahnya tampak menegang hebat. Satu tangannya mencengkeram dada kiri tepat di atas jantungnya dengan sangat kuat, sampai buku-buku jarinya memutih. Namun yang paling membuat Selena merinding adalah matanya. Sepasang mata gelap itu perlahan berubah warna menjadi merah menyala tepat saat pandangannya terkunci pada Selena. Pria itu adalah Lucien Nightvale. Di sampingnya, seorang pria berambut gelap dengan aura yang jauh lebih mengerikan tampak bertumpu pada satu lutut di lantai batu. Kael Draven. Satu tangannya menggenggam gagang pedang di pinggangnya begitu erat hingga urat-urat di lengannya terlihat jelas. Tatapannya yang tajam dan dingin tertuju lurus kepada Selena, penuh dengan kemarahan seolah Selena adalah musuh yang paling ingin ia singkirkan. Sementara itu, di belakang Lucien berdiri seorang pria yang tubuhnya sedikit lebih ramping, meski tetap jauh lebih tinggi dari Selena. Nyx Aurelian. Matanya yang besar tampak berkaca-kaca, sesekali ia memegangi dada lalu berpindah ke perutnya, menahan rasa sakit yang luar biasa. Berbeda dengan Kael, Nyx tidak menatap Selena dengan marah. Tatapannya justru dipenuhi kesedihan yang dalam dan kerinduan yang begitu kuat. Rasa takut langsung mencengkeram seluruh tubuh Selena. Ia terus mundur dengan langkah gemetar sampai akhirnya punggungnya membentur dinding batu di belakang ranjang. Tidak ada jalan lagi untuk kabur. Selena merapatkan telapak tangannya yang terluka ke dada, berusaha menyembunyikan darah yang masih menetes. Aroma manis itu masih memenuhi udara. Lucien yang berdiri paling depan tiba-tiba mengangkat kepalanya, hidungnya bergerak pelan menghirup udara di dalam kamar. Dan saat aroma darah Selena mencapainya, mata merahnya membelalak dengan pupil yang melebar drastis. Selena bahkan belum sempat bereaksi. Dalam satu kedipan mata, Lucien menghilang. Ia hanya sempat melihat bayangan samar sebelum sosok Lucien tiba-tiba sudah berada tepat di depannya. Selena menahan napas saat jarak mereka hanya beberapa senti dan ia bisa merasakan hawa dingin yang membeku keluar dari tubuh pria itu. "Aaa—" Sebelum Selena sempat berteriak, sebuah tangan besar yang terasa sangat dingin menangkap pergelangan tangan kanannya yang terluka. Selena langsung memejamkan mata rapat, yakin Lucien akan menghancurkan tulang tangannya. Namun rasa sakit itu tidak pernah datang. Sebaliknya, genggaman Lucien terasa sangat hati-hati dan lembut, melingkari pergelangan tangannya tanpa memberi tekanan yang menyakitkan, seolah takut Selena akan hancur jika dia terlalu kuat menggenggamnya. Hal itu justru membuatnya semakin bingung. Lucien perlahan menundukkan kepalanya, mendekatkan hidungnya ke telapak tangan Selena yang berdarah. Ia menutup matanya sejenak, menghirup aroma manis itu dengan rakus seolah darah Selena adalah oksigen yang selama ini menopang hidupnya. Ketika membuka mata kembali, kilatan merah di dalamnya tampak meredup, digantikan oleh badai emosi yang rumit. Lucien menatap lurus ke dalam mata Selena yang dipenuhi ketakutan, lalu berbisik dengan suara rendah yang berat dan bergetar. "Kau..." Dia berhenti sesaat, menatapnya tajam sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Akhirnya kau kembali, Selene."Ketegangan di perempatan jalan besar itu sudah tidak bisa ditahan lagi. Udara malam yang sedingin es seolah ikut membeku menyaksikan kedua kubu yang saling mengunci pandangan.Pria raksasa bertopeng singa emas itu tidak membalas ucapan Kael dengan kata-kata. Sebagai jawaban, ia menarik kembali kapak ganda raksasanya dari dalam retakan tanah, lalu mengayunkannya membentuk lingkaran di udara, menciptakan suara deru angin yang memekakkan telinga."Pasukan Emas! Hancurkan para pemberontak ini!" teriak sang panglima bertopeng singa dengan suara menggelegar."Serang!" lolong pasukan zirah emas secara serentak.Dalam hitungan detik, pertempuran besar pecah di tengah perempatan jalan. Pasukan zirah emas melesat maju dengan tombak dan pedang panjang mereka yang berkilau. Namun, klan Nightvale bukanlah klan sembarangan. Mereka adalah para vampir berdarah murni yang telah bertahan hidup dari ratusan perang selama ratusan tahun.Lucien bergerak lebih dulu. Gerakannya begitu cepat hingga matanya h
Gelombang energi hitam kemerahan yang meledak dari Menara Jam Kuno menciptakan tekanan besar di langit ibu kota. Selena, yang sempat tak sadarkan diri selama beberapa saat, tiba-tiba terbangun dengan napas terengah-engah.Clang!Suara logam yang menghantam lantai batu membuat kesadarannya pulih sepenuhnya.Kunci Perak Kuno yang sebelumnya terpasang di lempengan mesin tiba-tiba terlepas dan melayang tepat di depan nya. Benda itu bergetar hebat, seolah ada kekuatan besar yang menariknya keluar dari menara. Cahaya keperakan yang memancar darinya kini hanya tersisa samar.Dengan sisa tenaga yang ada, Selena merangkak menghampiri kunci itu. Tangannya yang dingin gemetar saat menggenggamnya, lalu buru-buru memasukkannya kembali ke kantung bajunya."Tarikannya sangat kuat. Kalau tidak kupegang erat, kunci ini bisa saja terbang sendiri," batin Selena sambil mengatur napasnya.Wajahnya semakin pucat. Udara di dalam ruangan terasa semakin tipis akibat gelombang sihir yang dikeluarkan mesin jam.
"Tetap menunduk, Selena. Ikuti langkahku," bisik Kael pelan. Tangannya memegang siku Selena, membimbingnya berjalan di sepanjang dinding aula yang tertutup tirai beludru besar.Selena merapatkan jubah tipis yang menutupi gaunnya. Kunci Perak di balik lipatan gaun terus bergetar semakin kuat, seolah tahu mereka sedang menuju tempat yang seharusnya."Kael..." bisik Selena pelan. "Penjaga di dekat pintu samping itu... mereka melihat ke arah kita." Ia sempat melirik dua prajurit berbaju zirah perak yang mulai memperhatikan mereka."Jangan tatap mata mereka, terus berjalan" jawab Kael tenang.Saat mereka tinggal beberapa langkah lagi dari pintu keluar darurat di sudut aula, Rowan tiba-tiba muncul dari balik sebuah pilar batu. Tanpa ragu, ia menyenggol seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi gelas. Semua gelas jatuh ke lantai marmer dan pecah berantakan. Prang!Suara keras itu langsung menarik perhatian para penjaga."Hei! Apa yang kau lakukan? Jalannya luas begini kenapa bisa me
Suasana di ruang tengah Paviliun Nightvale langsung berubah tegang setelah para pengawal istana pergi. Kabar bahwa perjamuan dimajukan menjadi malam ini benar-benar menghancurkan rencana yang telah mereka susun.Kael menjadi orang pertama yang memecah keheningan. Tinju pria itu menghantam meja kayu hingga menimbulkan suara keras.Brak!"Sial!" bentaknya dengan wajah penuh amarah. "Mereka sengaja melakukan ini! Bajingan-bajingan tua itu pasti tahu jika kita merencanakan sesuatu!"Rowan yang berdiri di dekat jendela besar tampak melipat kedua tangannya. Matanya yang merah menatap langit malam yang mulai diselimuti oleh kabut tipis. "Jika Selena tidak muncul di aula perjamuan bersama kita, Dewan Pusat pasti langsung curiga. Mereka akan mengirim Ordo Bayangan untuk menggeledah seluruh kawasan penginapan dan tempat pertama yang akan mereka datangi adalah Menara Jam Kuno. Jika itu terjadi, rencana kita akan gagal sebelum sempat dimulai."Selena yang sejak tadi duduk di sudut ruangan hanya b
Selena berusaha sekuat tenaga memalingkan wajah, merapatkan bibir rapat-rapat saat sendok berisi sup krim jagung kembali disodorkan Lucien. Namun usahanya sia-sia. Rasa perih hebat tiba-tiba kembali menghantam lambungnya, membuat seluruh tubuhnya seketika lemas tak bertenaga.Di sisi lain, kesabara
Selena duduk di tengah kasur yang terletak langsung di atas lantai sambil memeluk kedua lututnya erat-erat. Tatapannya tertuju pada jeruji besi yang kini menutupi jendela kamarnya. Wajahnya terlihat cemberut dan penuh kekesalan.Pikirannya masih menolak segala hal berbau takhayul atau sihir. Karena
Cahaya matahari pagi yang redup perlahan masuk lewat celah jendela lengkung. Bukannya terasa hangat, sinarnya justru pucat dan suram karena terhalang kabut tebal yang menyelimuti tempat ini.Semalaman Selena sama sekali tidak bisa menikmati empuknya ranjang sutra mewah itu. Memejamkan mata pun rasa
Pada saat itu juga, naluri bertahan hidup Selena sebagai anak kos yang terlalu sering menonton berita kriminal langsung bekerja. Otaknya yang terbiasa berpikir dengan logika dunia modern segera menarik satu kesimpulan paling masuk akal.Pria pucat berpakaian bangsawan di depannya ini kalau bukan pr






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰