Chapter: Bab 143 Ancaman Tuan Hu"Benar sekali dan kau adalah sandera paling berharga yang jatuh ke tangan kami. Raja Wang Ming akan melakukan apa saja untuk menyelamatkanmu. Termasuk menyerahkan seluruh Kerajaan Langit kepada kami."Pria itu tertawa lebar, langkahnya berat mendekat ke tempat Li Jing terbaring. "Namaku Tuan Hu. Teman lama Perdana Menteri Pong. Orang yang mengurus segala urusan gelapnya di perbatasan ini. Kau Ratu Li Jing... kau adalah kunci yang akan membuka pintu istana itu tanpa perlawanan sedikit pun, karena mau memang Ratu yang pemberani swhingga membuat kami selalu kalah di depanmu. Tapi kali ini, kami pasti akan menang hahahaha..." Li Jing menarik napas pelan, tubuhnya masih terasa lemas namun matanya tetap menatap tajam. "Kau pikir Yang Mulia Raja Wang Ming yang setia, putra naga sejati itu akan menyerahkan kerajaannya begitu saja hanya karena diriku?""Bukan menyerahkan." Tuan Hu berlutut di depannya, senyumnya lenyap digantikan tatapan tajam. "Melainkan menukarnya. Nyawamu sebagai tebusan a
Terakhir Diperbarui: 2026-09-17
Chapter: Bab 142 Menjadikan Diri SanderaTuan Tang tersungkur di lantai tepat di depan kaki Li Jing, kedua tangannya mencengkeram ujung jubah ratu itu dengan gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca namun tatapannya masih berusaha tampak tak bersalah."Mengapa Yang Mulia juga berpikir demikian?" suaranya parau dan bergetar, "Hamba telah melayani Kerajaan Langit selama lebih dari sepuluh tahun! Setiap hari hamba mencatat, menulis, dan melayani Raja serta Ratu dengan setia! Dari mana tuduhan ini datangnya? Siapa yang memfitnah hamba begini?"Li Jing melepaskan ujung jubahnya dari genggaman pria itu perlahan, menatapnya tanpa amarah yang meledak, melainkan dengan tatapan sedih sekaligus tegas yang tak bisa dibantah."Kesetiaan tak perlu dibuktikan dengan kata-kata Tuan Tang. Ia terlihat dari ketenangan hati yang tak menyembunyikan apa pun." Li Jing mundur selangkah, "Sayangnya ketenangan itu tak ada padamu sejak awal. Kau tahu kebenarannya sama seperti aku."Li Jing berbalik perlahan, melangkah keluar dari ruan
Terakhir Diperbarui: 2026-09-17
Chapter: Bab 141 Rasa Bersalah Membawa KekacauanSidang lagi di aula Kerajaan Langit pagi itu terasa tak biasa dan membuat kaki para pejabat istana pun lelah berdiri hanya karena sikap Raja Wang Ming yang tidak seperti biasanya. "Kau itu salah menyalin nama daerah ini Tuan Tang." Wang Ming meletakkan gulungan kertas itu di meja perlahan, suaranya tenang namun setiap kata menekan tajam ke dada pria yang berdiri tertunduk di hadapannya. "Bukan Jalur Utara, melainkan Jalur Selatan. Ini sudah kesalahan ketiga kalinya dalam sehari. Apa yang sedang terjadi padamu?"Tuan Tang meneguk salivanya, jemarinya meremas ujung lengan jubah yang basah oleh keringat dingin. "Maafkan hamba Yang Mulia, hamba kurang tidur belakangan ini. Mata hamba terasa kabur...""Kurang tidur?" Wang Ming menatapnya lekat-lekat, tatapan itu seakan menembus kedok kesopanan yang dipakai pria itu selama sepuluh tahun. "Bukankah tugasmu hanya duduk dan menulis? Mengapa begitu berat hingga membuatmu sering salah mencatat, salah menyalin, bahkan lupa membawa dokumen penti
Terakhir Diperbarui: 2026-09-17
Chapter: Bab 140 Bukti yang disimpan rapi"Aku harus segera melaporkan hal ini pada Tuanku," gumam di hati Tuan Tang.Ia berjalan cepat menuju halaman belakang istana yang sepi, tangan kanannya meremas selembar kertas kecil tersembunyi di balik lengan jubah. Matanya melirik ke kiri dan kanan memastikan tak ada siapa pun yang melihat. Ia mengeluarkan seekor burung merpati dari keranjang anyaman yang dibawanya, lalu mengikat gulungan pesan di kaki salah satunya. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meloncat keluar dari dadanya. Tangannya melepaskan burung itu langsung ditarik dan terhenti mendadak saat terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah semak belukar."Siapa di sana?"Tuan Tang tersentak hebat, burung merpati itu telah terlepas dari genggamannya, namun ternyata ada yang datang. Ia berbalik perlahan mencoba menetralkan sikap dan wajahnya. Di hadapannya berdiri dua prajurit yang mengenakan seragam patroli keamanan istana, A Chen dan A Xiong yang menyamar menjadi petugas patroli. Wajah mereka
Terakhir Diperbarui: 2026-09-16
Chapter: Bab 139 Petisi yang menumpuk di meja Raja"Ada apakah ini? Kenapa aku merasa ada yang berbeda? Semua menjadi tidak seperti biasanya?" Tuan Tang bergumam pelan, jemarinya meremas ujung lengan jubahnya yang halus. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia berjalan mendekati pintu, mengintai celah kecil ke arah lorong istana yang sepi namun terasa tegang.Di ruang sidang utama, ketegangan sudah memuncak sedari pagi. Suara bentakan terdengar hingga ke ambang pintu."Katakan padaku! Siapa yang berani menimbun beras hingga harga naik tiga kali lipat dalam seminggu!" Raja Wang Ming berdiri dari kursi takhtanya, telapak tangannya menghantam meja berat hingga piala di atasnya bergemerincing. "Rakyat di desa perbatasan mulai kelaparan! Pedagang dari Kerajaan Timur menolak masuk jalur perdagangan! Kerajaan tetangga mengancam akan memutus hubungan dagang sepenuhnya!""Ampun Yang Mulia. Kami tak tahu Yang Mulia!" Salah seorang pejabat daerah berlutut dengan wajah pucat. "Setiap pagi pasar kosong melompong. Barang-barang diangkut p
Terakhir Diperbarui: 2026-09-16
Chapter: Bab 138 Kabar yang telah sampaiDi Kerajaan Langit saat sidang pagi akan dimulai seorang utusan berteriak lantang," Laporrr! Yang Mulia! Pesan rahasia dari Komandan Gun!" Raja Wang Ming menyambut burung merpati itu dengan tangan gemetar. Ia membuka gulungan kecil yang terikat di kaki burung itu seketika, membaca setiap baris tulisan di bawah cahaya pelita yang bergetar. Di sampingnya berdiri Ratu Li Jing, menatap wajah suaminya yang perlahan berubah serius seketika. "Ada kabar dari Kakakku?" tanya Li Jing pelan, napasnya tertahan. Raja Wang Ming mengangguk mantap namun matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Kakakku telah selamat. Ia telah diselamatkan dan kini disembunyikan di tempat aman yang tak diketahui siapa pun. Namun kabar yang dibawanya jauh lebih mengerikan dari apa pun yang kita duga selama ini." Raja Wang Ming menatap istrinya, suaranya rendah namun bergema penuh keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. "Li Jing... mata-mata terbesar Kerajaan Angin bukan orang asing. Ia berdiri di samping k
Terakhir Diperbarui: 2026-09-16