Chapter: Bab 8 — Malam TerakhirPagi itu datang bersama suara kunci dari balik pintu besi. Ceklek. Amaris membuka mata. Kedua tangannya masih bertaut dalam doa kepada Dewi Bulan. Pendeta Rigel masuk membawa nampan kayu berisi roti, semangkuk sup hangat, dan secangkir teh seperti biasanya. “Selamat pagi.” Amaris segera berdiri. “Selamat pagi, Kek.” Rigel mengangguk kecil. Ia meletakkan nampan itu di atas meja, lalu menarik napas panjang. “Bagaimana keadaanmu?” “Aku baik-baik saja.” Amaris tersenyum tipis, meski sorot matanya masih menyimpan kesedihan. Rigel menoleh. “Kau yakin?” Amaris terkekeh pelan. “Setidaknya aku sudah tidak menangis lagi sepanjang hari.” Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Rigel hanya memandang gadis di hadapannya tanpa mampu berkata apa-apa. Amaris menyadari perubahan itu. “Kek, ada apa?” Rigel terdiam. Tatapan Amaris perlahan meredup. “Mereka sudah memutuskannya, ya?” Tak ada jawaban. Namun keheningan itu sudah lebih dari cukup. Amaris menundukkan kepala. “Aku mengerti.” Je
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Bab 7 — Kegelapan Di Balik DoaSudah lima hari sejak Amaris ditahan di kuil. Ia mulai makan sedikit demi sedikit. Bukan karena lapar, melainkan karena ingin tetap hidup. Jauh di dalam hatinya, masih tersisa secercah keyakinan bahwa Dewi Bulan tidak akan meninggalkannya. Setiap pagi dan malam, ia masih menangkupkan kedua tangannya dalam doa, seperti yang selalu diajarkan sejak kecil. “Dewi Bulan Nythera...” bisiknya lirih. “Jika aku telah melakukan kesalahan, tolong tunjukkan padaku. Jika ini adalah ujian, berilah aku kekuatan untuk melewatinya.” Ia menunggu. Berharap mendengar sesuatu—bisikan, angin, atau sekadar kehangatan yang dulu selalu ia rasakan saat berdoa di altar. Namun yang datang hanyalah dinginnya lantai batu dan kegelapan yang tak pernah bergeser. “Aku tahu aku tidak sempurna,” lanjutnya, suaranya mulai bergetar. “Tapi aku tidak pernah berniat menyakiti siapa pun. Aku hanya ingin menjadi bagian dari desa ini. Menjadi seperti mereka.” Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang memenuhi sel batu.
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Bab 6 — Sang Alpha UtaraAngin musim dingin berhembus di atas benteng es Frostland. Bendera bergambar kepala serigala perak berkibar di puncak menara. Setiap prajurit yang berjaga berdiri tegak. Tak seorang pun berani berbicara keras. Suasana hening menyelimuti setiap sudut bangunan, seolah tempat ini lebih mirip kuil daripada istana. Di aula latihan, dentuman pedang kayu saling beradu memecah kesunyian. “Lagi!” Puluhan kesatria kembali mengangkat senjata mereka. Keringat bercucuran di dahi mereka, namun tak satu pun berhenti. Latihan di Frostland adalah ujian hidup dan mati. Namun, langkah kaki dari lorong utama membuat seluruh aula mendadak sunyi. Semua orang berhenti. Tanpa diperintah, para kesatria serempak menundukkan kepala. Bahkan instruktur yang terkenal keras ikut membungkuk. “Yang Mulia...” Tak ada mahkota di kepalanya. Tak ada jubah kebesaran. Hanya mantel hitam panjang berlapis bulu serigala putih yang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai. Rambut hitamnya tersisir rapi, sementara sepasa
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Bab 5 — Sang TahananAmaris terbangun oleh dinginnya lantai batu. Langit-langit yang lembap menyambut pandangannya. Sejenak ia hanya menatap kosong, mencoba mengingat mengapa ia berada di tempat yang asing.Lalu semuanya kembali. Purnama Merah. Ritual Kebangkitan. Tidak ada lolongan. Anak Celaka. Jeruji besi di hadapannya. Dadanya seakan diremas.Amaris buru-buru bangkit. Tatapannya menyapu ruangan sempit itu. Dinding batu dingin. Sebuah ranjang kayu sederhana. Selimut tipis. Sebuah kendi air di sudut ruangan. Tidak ada jendela. Tidak ada jalan keluar. Namun dari celah-celah batu di atas, suara-suara dari halaman kuil masih terdengar samar.Ia memejamkan mata rapat.“Tolong... biarlah ini mimpi,” batinnya. “Biarlah saat kubuka mata nanti, aku masih berada di kamarku. Masih mendengar Ibu memanggilku untuk sarapan. Masih bisa tertawa bersama Fiona dan Cedric. Masih—”Amaris membuka mata. Jeruji besi itu masih berada di sana. Tangannya perlahan jatuh ke pangkuan. Jadi, ini benar-benar nyata.Suara langkah ka
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Bab 4 — Anak Yang Celaka“Anak Celaka.”Kata itu jatuh seperti palu di tengah keheningan malam. Seisi alun-alun membisu, tak seorang pun berani membantah vonis itu.Amaris merasa dadanya kosong. Ia mendengar kata itu, tapi otaknya menolak meresponnya.Anak Celaka. Sejak kapan senyum yang ia berikan setiap pagi berubah menjadi kutukan? Sejak kapan ia menjadi sesuatu yang harus ditakuti?“Ini belum pernah terjadi sebelumnya...” Salah seorang Pendeta Agung menutup Kitab Lunastra perlahan. “Kita tidak memiliki hukum yang mengatur kejadian seperti ini.”Pendeta lain segera menyahut. “Justru karena itulah gadis itu harus segera dibawa ke Kuil Pusat di Frostland.”“Benar. Seluruh Dewan Pendeta harus mengetahui peristiwa ini.”“Tidak.” Suara Rigel memotong.Seluruh tatapan beralih kepadanya.Rigel melangkah maju. “Dia masih seorang anak. Anak yang lahir dan dibesarkan di Desa Elvmond.”Pendeta Agung menatapnya tajam. “Rigel... kau mengerti apa yang sedang kita hadapi?”“Aku mengerti.” Tatapan Rigel tak bergeming. “Ka
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Bab 3 — Yang TertinggalKalimat Pendeta Rigel masih menggantung di udara. Amaris berdiri membeku di tengah lingkaran batu. Tatapannya kosong.“...Apa?” Suaranya nyaris tak terdengar. Ia tertawa kecil—tawa yang terdengar lebih seperti usaha terakhir untuk meyakinkan dirinya sendiri. “Hahaha... Pendeta... ini bercanda, kan?”Tak ada jawaban. Rigel hanya menundukkan kepalanya.Saat itulah, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun sejarah bangsa werewolf, seorang anak dinyatakan tidak memiliki serigala.Orang-orang mulai berbisik.“Apa katanya...?”“Tidak punya serigala?”“Itu mustahil!”“Apa ritualnya gagal?”Semakin lama, bisikan itu semakin bergema.“Belum pernah terjadi...”“Apa dia dikutuk?”“Apa Dewi meninggalkannya?”“Kasihan...”Keterkejutan menyelimuti seluruh alun-alun. Tak ada yang mengejek. Tak ada yang menertawakan. Karena terkadang, takdir yang paling kejam pun mampu membuat semua orang kehilangan kata-kata.Fiona langsung berlari menghampiri altar. “Pendeta Rigel! Pasti ada kesalahan! Amaris tidak
Last Updated: 2026-07-21