100 Hari Diet Bersama Guru Dingin
Setelah tidak sengaja memukul seorang pria asing yang dikiranya pencuri, Zeeya berharap kejadian memalukan itu tidak akan pernah terungkit lagi.
Sayangnya, harapan itu hancur keesokan harinya.
Pria tersebut muncul di kelas sebagai guru pengganti baru.
Archer.
Tampan, tegas, dan entah kenapa selalu bersikap seolah Zeeya memiliki utang padanya.
Bagi Zeeya, hidupnya selama ini baik-baik saja. Ia menikmati makanan favoritnya, menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dan berusaha menjalani hari tanpa terlalu banyak drama.
Namun sejak kehadiran Archer, hidup yang tenang itu perlahan berubah.
Pertemuan-pertemuan tak terduga, sebuah rumah tua yang menyimpan rahasia, serta berbagai peristiwa yang membuat mereka terus terlibat satu sama lain dan perasaan yang tak seharusnya muncul perlahan tumbuh di antara mereka.
Sebuah kisah tentang persahabatan, keluarga, rahasia masa lalu, dan perjalanan menemukan bahwa nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh angka.
Basahin
Chapter: BAB 60 - MengupingPagi itu, hujan baru saja berhenti.Tetesan air masih menggantung di ujung dedaunan yang terlihat dari jendela ruang guru. Langit berwarna abu-abu pucat, sementara udara dingin masuk melalui jendela yang terbuka sedikit.Beberapa guru sudah lebih dulu datang.Suara halaman buku yang dibalik, ketukan papan ketik, serta percakapan pelan memenuhi ruangan yang biasanya ramai menjelang jam pelajaran pertama.Meski begitu, pagi itu suasana ruang guru terasa cukup tenang. Tidak ada suara siswa yang berlarian di koridor. Tidak ada bel masuk yang memecah kesunyian.Hanya orang-orang dewasa dengan pekerjaan masing-masing.Archer duduk di mejanya sambil memeriksa beberapa lembar tugas siswa.Pulpen hitam bergerak perlahan di antara angka dan tulisan. Sesekali ia memberikan tanda merah pada jawaban yang salah sebelum membuka lembar berikutnya.Semuanya terlihat seperti pagi biasa.Setidaknya sampai sese
Huling Na-update: 2026-09-19
Chapter: BAB 59 - Hal Yang Tidak Perlu Di KetahuiArcher berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Albert. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Pandangan keduanya bertemu.Tatapan Archer dingin dan tajam, sementara Albert tetap berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku celana.“Kenapa kau membawanya ke sini?” tanya Archer dengan suara berat.Albert menyunggingkan senyum tipis. “Hanya ingin berkenalan dengannya.”“Berkenalan?” Archer melirik Zeeya sekilas sebelum kembali menatap Albert. “Kau bahkan tidak perlu membawanya ke rumahmu untuk sekadar berkenalan.”Albert terkekeh pelan. “Aku melihat kalian sepertinya sangat dekat.” Pandangannya beralih kepada Zeeya. “Murid kesayangan biasanya memang mendapatkan tempat khusus di hati gurunya.”Zeeya langsung mengerutkan kening.Sementara Archer tidak menunjukkan perubahan ekspresi. “Apa yang kau katakan padanya?”Albert mengangkat sebelah alis. “Kenapa?” Ia sedikit memiringkan tubuh ke arah
Huling Na-update: 2026-09-19
Chapter: BAB 58 - Foto KeluargaMobil Albert akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar di kawasan Distrik Timur.Zeeya menatap bangunan di hadapannya melalui jendela mobil. Dinding berwarna krem, jendela-jendela tinggi, pagar besi hitam, serta taman yang tertata rapi membuat rumah itu terlihat seperti kediaman keluarga kaya dalam film.Albert mematikan mesin. “Sudah sampai.”Zeeya masih belum membuka sabuk pengamannya. Ia menoleh perlahan. “Paman benar-benar tinggal di sini?”Albert mengangkat sebelah alis. “Kenapa? Kau mengira aku tinggal di kontrakan?”“Bukan begitu.”“Lalu?”“Rumahnya terlalu besar.”Albert terkekeh. “Itu pujian atau sindiran?” Ia membuka pintu dan turun lebih dulu.Zeeya masih duduk beberapa detik. Entah kenapa, sejak tadi ada perasaan aneh yang terus mengganggunya.Ia memang mengenal Albert. Setidaknya, Albert adalah sepupu Archer. Namun selain itu… Ia tidak tahu apa-apa tentang p
Huling Na-update: 2026-09-18
Chapter: BAB 57 - TebakSepanjang perjalanan, Zeeya beberapa kali melirik Albert yang duduk di balik kemudi mobil mewah itu.Albert tampak terlalu santai.Musik mengalun dari layar dashboard. Pria itu bersenandung mengikuti irama lagu sambil sesekali menggerakkan jarinya di udara. Tangan satunya mengetuk-ngetuk setir, sementara kepalanya ikut mengangguk mengikuti musik.Zeeya memandangnya datar. ‘Sedarah, tapi mereka benar-benar berbeda.’ batinnya.Archer tenang, kaku, dan menyebalkan. Albert? Berisik. Bahkan suaranya sumbang.“Kau suka bernyanyi?”Zeeya menoleh. “Kadang.”“Mau bernyanyi bersama?”“Tidak.”Albert tidak tersinggung. Ia hanya mengangguk santai sambil tetap memandang jalan.“Aku penasaran dari tadi,” ucap Zeeya. “Bagaimana Paman tahu aku ada di sana? Dan seingatku, aku tidak pernah memperkenalkan diri.”“Karena aku mencari tahu.”Zeeya langsung teringat suara kam
Huling Na-update: 2026-09-18
Chapter: BAB 56 - Jangan Bilang Siapa-SiapaToko olahraga itu dipenuhi berbagai perlengkapan dari ujung ke ujung.Rak-rak tinggi di sepanjang dinding memajang berbagai jenis bola, mulai dari bola sepak, bola basket, hingga bola voli. Di sisi lain, raket tenis dan bulu tangkis tersusun rapi berdasarkan ukuran dan merek.Beberapa alat olahraga rumahan juga dipajang di bagian tengah toko. Dumbel, matras yoga, resistance band, hingga berbagai alat latihan kecil memenuhi rak-rak khusus.Tak jauh dari sana, deretan tumbler dan botol minum olahraga tersusun berdasarkan warna. Sementara di bagian lain, berbagai sepatu lari, sepatu sepak bola, dan pakaian olahraga digantung rapi di atas rak pajangan.Zeeya berjalan perlahan sambil memandangi sekeliling. “Banyak sekali…”Dean yang berjalan di sampingnya melirik sekilas. “Ini toko olahraga, bukan toko roti.”Zeeya langsung menoleh. “Aku juga tahu.”Dean berhenti di depan rak sepatu. Kepalanya mendongak, m
Huling Na-update: 2026-09-17
Chapter: BAB 55 - Kencan KecilKerumunan orang berlalu-lalang di sepanjang jalan pertokoan.Zion berdiri seorang diri di tengah keramaian dengan pakaian kasual yang rapi. Sweater cokelat, celana pendek krem, dan sepatu sport putih.Ia beberapa kali melihat jam di pergelangan tangannya. Semakin mendekati waktu yang dijanjikan, semakin gugup pula dirinya.Zion menoleh ke berbagai arah, mencari sosok yang sejak tadi ditunggunya. Beberapa menit kemudian, senyumnya muncul. Dari kejauhan, Luna berjalan menghampirinya. Gadis itu mengenakan terusan krem dengan rambut dikuncir setengah dan dihiasi pita yang menjuntai. Hembusan angin membuat aroma parfumnya samar-samar sampai ke tempat Zion berdiri.Luna berhenti tepat di hadapannya. “Hai, Kak. Lama menunggu?”Zion sempat melongo. “Tidak terlalu. Aku juga baru sampai.”Luna terkekeh kecil. “Kalau begitu ayo.”Ia langsung menarik lengan baju Zion dan mengajaknya berjalan menuju gedung b
Huling Na-update: 2026-09-17