MasukSetelah tidak sengaja memukul seorang pria asing yang dikiranya pencuri, Zeeya berharap kejadian memalukan itu tidak akan pernah terungkit lagi. Sayangnya, harapan itu hancur keesokan harinya. Pria tersebut muncul di kelas sebagai guru pengganti baru. Archer. Tampan, tegas, dan entah kenapa selalu bersikap seolah Zeeya memiliki utang padanya. Bagi Zeeya, hidupnya selama ini baik-baik saja. Ia menikmati makanan favoritnya, menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dan berusaha menjalani hari tanpa terlalu banyak drama. Namun sejak kehadiran Archer, hidup yang tenang itu perlahan berubah. Pertemuan-pertemuan tak terduga, sebuah rumah tua yang menyimpan rahasia, serta berbagai peristiwa yang membuat mereka terus terlibat satu sama lain dan perasaan yang tak seharusnya muncul perlahan tumbuh di antara mereka. Sebuah kisah tentang persahabatan, keluarga, rahasia masa lalu, dan perjalanan menemukan bahwa nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh angka.
Lihat lebih banyakArcher baru saja tiba di Rumah Sakit Aruni. Ia langsung bergegas menuju ruang rawat kakeknya.Di hadapannya terdapat pintu bermotif kayu dengan tulisan emas “VIP” di tengahnya.Archer menggeser pintu tersebut. Di dalam, Pak Dalton sudah menunggu di sofa dan segera berdiri ketika melihatnya.“Bagaimana keadaan Kakek?” tanya Archer.Pak Dalton mengisyaratkan ke arah ranjang.“Archer?” Suara renta itu membuat Archer langsung menoleh. Ia segera berjalan mendekati ranjang.Kakek berusaha duduk dengan bantuan Pak Dalton.“Tidak perlu memaksakan diri. Tiduran saja,” ujar Archer.Kakeknya tertawa kecil. “Aku sudah tidak apa-apa. Tadi hanya tidur.”“Apa yang sebenarnya terjadi?”Pak Dalton menjawab, “Tuan pingsan karena kelelahan. Beberapa hari terakhir beliau banyak bertemu tamu penting. Selain itu, tidak ditemukan masalah serius.”Archer menghela napas. “Maaf
Elena menyesap kopi yang baru saja disajikan. Di seberangnya, Archer duduk dengan wajah datar seperti biasa, kedua tangannya bertumpu di atas meja.“Sepertinya kau tidak senang kuajak ke sini,” ujar Elena sambil meletakkan kembali cangkirnya.“Aku tidak punya banyak waktu untuk ini. Cepat katakan apa tujuanmu.”Elena menghela napas panjang. “Apa kau benar-benar tidak nyaman berduaan denganku? Aku sedikit kecewa.”“Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku sebagai guru. Waktuku untuk menjadi guru sementara juga tinggal sebentar lagi.”“Benarkah?” Elena tersenyum tipis. “Bukankah itu bagus? Kau bisa kembali ke tempatmu.”Archer terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menatap ke ruang terbuka. “Entahlah…”Elena mengangkat sebelah alis.“Sepertinya aku cukup cocok dengan pekerjaan ini.” Archer tertawa tipis. “Aku tidak menyangka akan mengatakan itu.”Elena memperhatikan
Pagi itu, hujan baru saja berhenti.Tetesan air masih menggantung di ujung dedaunan yang terlihat dari jendela ruang guru. Langit berwarna abu-abu pucat, sementara udara dingin masuk melalui jendela yang terbuka sedikit.Beberapa guru sudah lebih dulu datang.Suara halaman buku yang dibalik, ketukan papan ketik, serta percakapan pelan memenuhi ruangan yang biasanya ramai menjelang jam pelajaran pertama.Meski begitu, pagi itu suasana ruang guru terasa cukup tenang. Tidak ada suara siswa yang berlarian di koridor. Tidak ada bel masuk yang memecah kesunyian.Hanya orang-orang dewasa dengan pekerjaan masing-masing.Archer duduk di mejanya sambil memeriksa beberapa lembar tugas siswa.Pulpen hitam bergerak perlahan di antara angka dan tulisan. Sesekali ia memberikan tanda merah pada jawaban yang salah sebelum membuka lembar berikutnya.Semuanya terlihat seperti pagi biasa.Setidaknya sampai sese
Archer berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Albert. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Pandangan keduanya bertemu.Tatapan Archer dingin dan tajam, sementara Albert tetap berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku celana.“Kenapa kau membawanya ke sini?” tanya Archer dengan suara berat.Albert menyunggingkan senyum tipis. “Hanya ingin berkenalan dengannya.”“Berkenalan?” Archer melirik Zeeya sekilas sebelum kembali menatap Albert. “Kau bahkan tidak perlu membawanya ke rumahmu untuk sekadar berkenalan.”Albert terkekeh pelan. “Aku melihat kalian sepertinya sangat dekat.” Pandangannya beralih kepada Zeeya. “Murid kesayangan biasanya memang mendapatkan tempat khusus di hati gurunya.”Zeeya langsung mengerutkan kening.Sementara Archer tidak menunjukkan perubahan ekspresi. “Apa yang kau katakan padanya?”Albert mengangkat sebelah alis. “Kenapa?” Ia sedikit memiringkan tubuh ke arah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan