ログインSetelah tidak sengaja memukul seorang pria asing yang dikiranya pencuri, Zeeya berharap kejadian memalukan itu tidak akan pernah terungkit lagi. Sayangnya, harapan itu hancur keesokan harinya. Pria tersebut muncul di kelas sebagai guru pengganti baru. Archer. Tampan, tegas, dan entah kenapa selalu bersikap seolah Zeeya memiliki utang padanya. Bagi Zeeya, hidupnya selama ini baik-baik saja. Ia menikmati makanan favoritnya, menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dan berusaha menjalani hari tanpa terlalu banyak drama. Namun sejak kehadiran Archer, hidup yang tenang itu perlahan berubah. Pertemuan-pertemuan tak terduga, sebuah rumah tua yang menyimpan rahasia, serta berbagai peristiwa yang membuat mereka terus terlibat satu sama lain dan perasaan yang tak seharusnya muncul perlahan tumbuh di antara mereka. Sebuah kisah tentang persahabatan, keluarga, rahasia masa lalu, dan perjalanan menemukan bahwa nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh angka.
もっと見る“Anak-anak cepat turun ! Ayo sarapan.”
Suara ibu yang memekik dari lantai bawah terdengar cukup nyaring hingga mengalahkan suara musik yang diputar dari ponsel Zeeya.
Pagi itu, Zeeya bersiap-siap seperti biasa. Setelah menggunakan seragam dan merapikan buku-buku ke dalam tas, dan memakai jaket di luar seragam karena cuaca cukup dingin di luar, gadis itu berdiri di depan cermin merapikan poni yang menutup dahinya. Jari-jari tangan kirinya menyisir rambut yang sedikit berantakan, sementara tangan kanan merapikan kerah seragam.
Ia meraih ransel yang tergeletak di meja belajar dan berjalan menuju pintu kamar.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu, langkahnya terhenti. Zeeya memiringkan kepala. Ada sesuatu yang terasa kurang.
Matanya bergerak ke atas seolah sedang memaksa otaknya mengingat sesuatu. Lalu ia menepuk keningnya sendiri.“Ah, HP-ku !.” Ia segera berbalik
Ponselnya masih tergeletak di atas kasur. Dengan cepat Zeeya mengambil benda itu dan memasukkannya ke dalam saku jaket, lalu kembali melangkah menuju pintu kamar.
Hampir saja ia meninggalkan barang yang sangat penting.
Baginya, ponsel bukan sekadar alat komunikasi. Benda itu sudah seperti bagian dari tubuhnya.
Saat makan, saat rebahan, bahkan ketika ke kamar mandi sekalipun, ponsel hampir tidak pernah jauh dari jangakaunnya.
Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mendengarkan musik, menonton video, menggulir media sosial, atau melihat-lihat barang di markerplace yang pada akhirnya tidak pernah ia beli.
Begitu pintu kamar terbuka, Zeeya melihat pintu kamar di seberang juga ikut terbuka.
Seseorang keluar dari sana.
Seorang pria tinggi dengan rambut hitam yang masih sedikit berantakan dan memakai kemeja biru garis putih yang belum di kancingkan.
Zion, kakak Zeeya.
Pria yang menurut Zeeya pantas memenangkan penghargaan sebagai manusia paling menyebalkan dan kekanakan di muka bumi.
Usia Zion 26 tahun, delapan tahun lebih tua dari Zeeya. Saat ini bekerja sebagai anggota tim IT di sebuah perusahaan.
Sayangnya, pekerjaan itu tidak membuat kepribadiannya menjadi dewasa.
“Pagi, gendut.”
Dan benar saja. Belum lima detik keluar kamar, mulutnya sudah mulai mencari masalah.
Zeeya mendengus kesal.
Zion menyeringai tipis. “Bukankah semakin hari kau makin gendut? Wah, kau harus diet.”
Zeeya langsung mengerutkan alis.
Zion melanjutkan dengan santai. “Lihatlah Luna, nama dan wajahnya seperti bulan yang bersinar terang” Zion menunjuk wajah adiknya, “Tidak sepertimu, kau malah semakin mirip babi.”
Zion tertawa terbahak-bahak. “Hahahah! Lucu juga.” Bahkan sampai menepuk-nepuk tembok karena terlalu puas dengan leluconnya sendiri.
Kesebaran Zeeya langsung menguap, ia mengerutkan alis dan mengerucutkan bibirnya.
‘Dasar idiot.’
Tanpa berpikir panjang, kakinya melayang menghantam betisnya.
DUK !
“Aduhhh ! Aahh.” Zion seketika terhenti tertawa. Ia melompat-lompat sambil memegangi betisnya.
“Zeeyaaa! Kau —“ Ia menunjukku dengan wajah merah menahan sakit. “Bisa-bisanya kau menendangku!”
Zeeya mendengus puas. “Hmph, Rasakan !”
Tanpa memberi kesempatan Zion membalas, Zeeya memalingkan wajah dan segera berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah.
***
Di sekolah.
Bel masuk sudah berbunyi. Seluruh siswa berada di dalam kelas masing-masing.
Namun, guru belum juga datang ke kelas Zeeya.
Zeeya memanfaatkan waktu itu untuk mengobrol dengan Luna yang duduk sebangku dengannya, serta dua teman yang duduk tepat di depan mereka.
Suasana kelas masih kacau.
Anak laki-laki berteriak ke sana kemari. Beberapa melempar bola basket di dalam kelas, sementara yang lain duduk di atas meja sambil tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka.
Seolah ada tombol ajaib yang ditekan, seluruh kelas langsung terdiam. Mereka yang tadi berdiri buru-buru kembali ke kursi masing-masing. Bola basket yang sempat melayang pun segera disembunyikan.
Seorang guru melangkahkan masuk.
Itu Bu Donna, guru Ilmu Sosial.
Beliau berjalan menuju meja guru lalu menatap mereka satu per satu. “Anak-anak, Ibu ingin memberitahu sesuatu.”
Suasana kelas mendadak tenang.
“Pak Eric tidak bisa mengajar untuk sementara waktu.”
Seorang siswi berkepang yang duduk di barisan depan langsung mengangkat tangan. “Apa yang terjadi dengan Pak Eric, Bu ?”
Bu Donna menghela napas pelan. “Kemarin, Pak Eric mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari sekolah menuju rumahnya. Saat ini beliau sudah berada di rumah sakit.”
Kelas sontak dipenuhi suara gumaman.
“Wah, serius?”
“Kasihan sekali..…”
“Parah ngga, Bu?”
Beberapa murid saling bertukar pandang.
“Lalu siapa yang akan mengajar kami?” tanya seseorang dari belakang.
“Kalian akan mendapatkan guru pengganti sementara,” jawab Bu Donna. “Tapi, beliau baru mulai besok lusa.”
Bu Donna tersenyum tipis.
“Jadi untuk jam pelajaran sekarang, kalian bebas.”
Seketika kelas meledak.
“YESSS!”
Sorak-sorai memenuhi ruangan.
Beberapa anak bahkan melompat dari kursinya seolah baru memenangkan lotre.
Zeeya dan Luna saling berpandangan.
“Jika ada butuh sesuatu kalian bisa ke ruang guru menemuiku.” Ucap Bu Donna.
“Baik, Bu!” Ucap serentak aku dan teman-teman sekelas.
Bu Donna melangkah menuju pintu kelas. Sebelum benar-benar keluar, langkahnya kembali terhenti. Ia menoleh ke arah seluruh siswa yang masih sibuk bersorak karena jam pelajaran kosong.
“Oh iya, hampir lupa.”
Suasana kelas kembali sedikit tenang.
“Ada satu hal lagi yang ingin Ibu sampaikan.”
Beberapa siswa langsung memperhatikan.
“Guru pengganti yang akan mengajar kalian nanti usianya masih cukup muda.”
Seketika terdengar suara riuh di berbagai sudut kelas.
“Serius, Bu?”
“Masih muda?”
“Jangan-jangan ganteng!”
Beberapa siswi langsung saling berbisik sambil tertawa kecil.
Bu Donna hanya tersenyum melihat tingkah murid-muridnya. “Yang jelas…” ujarnya pelan, “beliau bukan guru biasa.”
Kelas kembali dipenuhi gumaman penasaran.
“Kalau begitu beliau hebat dong?”
“Guru baru dari mana ya?”
“Jangan galak, deh…”
Bu Donna tidak menjawab lagi. Ia hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya keluar meninggalkan kelas.
Begitu pintu tertutup, suasana langsung kembali ramai.
Zeeya ikut menoleh ke arah Luna. “Kira-kira seperti apa ya guru barunya?”
Luna mengangkat bahu. “Entahlah, yang penting jangan banyak tugas.”
Zeeya terkekeh pelan dan mengangguk setuju.
Saat itu, ia sama sekali tidak menyangka…bahwa kedatangan guru baru tersebut akan mengubah hidupnya sedikit demi sedikit.
Dan semuanya…berawal dari sebuah kesalahpahaman.
Archer menghentikan langkahnya di koridor menuju ruang guru.Tangannya terangkat perlahan menyentuh plester yang masih menempel di keningnya. Ujung jarinya menekan bagian itu sedikit lebih keras. Rasa perih yang samar masih tertinggal. Ia mengembuskan napas panjang, lalu mendecak pelan. “Hebat.” gumamnya dengan nada jengkel. “Sudah membuat orang terluka, malah tidak ingat sama sekali.”Archer menurunkan tangannya. Tatapan kosong mengarah ke depan, tetapi pikirannya masih tertuju pada gadis yang baru saja ditinggalkannya di lapangan.Wajah kebingungan Zeeya tadi tampak begitu nyata. Bukan pura-pura.Dan justru itu yang membuatnya semakin kesal.Ia kembali menyentuh plester di keningnya sekilas.Lalu berbalik dan melanjutkan langkah menuju ruang guru tanpa menoleh lagi.****Setelah seharian mengajar, Archer akhirnya kembali ke rumah.Saat membuka paga
Waktu berjalan begitu cepat. Jarum jam kini menunjukkan pukul tiga sore.Lapangan sekolah mulai dipenuhi para murid yang sudah berganti pakaian olahraga.Di bawah sinar matahari yang mulai meredup, Archer berdiri di tepi lapangan.Kemeja rapi yang tadi di kenakannya telah berganti menjadi Jersey olahraga hitam dengan celana training panjang.Lengan bajunya sedikit tergulung memperlihatkan lengan yang berotot dengan urat-urat menonjol.Beberapa siswi langsung berbisik.“Ya ampun..…”“Guru olahraga kok ganteng begitu?”“Aku rela lari sepuluh putaran deh.”Zeeya yang mendengar itu hanya menggeleng pelan. ‘Dasar..…’Archer menyapu seluruh lapangan dengan pandangannya. “Apa semuanya sudah berkumpul?”Beberapa murid mengangguk.“Bagus” Ia melangkah satu langkah ke depan. “Hari ini kita mulai dengan lari mengelilingi lapangan.” Murid-murid tampak s
“Angelina Golding.”“Iya, Pak” Luna mengangkat tangannya dengan cepat.Archer mengangguk kecil, lalu kembali melihat buku absennya.Satu per satu nama di panggil. Murid yang dipanggil akan menjawab, kemudian Archer akan mengangguk dan berpindah ke nama berikutnya.Sampai akhirnya..… nama terakhir dari buku absen.“Zeeya Beverly”“Iya, Pak” Zeeya mengangkat tangannya.Matanya terangkat dari buku absen. Ia memandang ke arah Zeeya.Memastikan… Gadis yang duduk di bangku paling belakang masih orang yang sama, gadis dengan tongkat kayu, gadis yang membuatnya terluka semalam.Mata Archer bertemu dengannya. Kali ini tidak ada keterkejutan, tidak ada keraguan, karena dia sudah tahu, gadis itu memang Zeeya Beverly.Archer hanya diam beberapa detik, memperhatikan wajah yang sekarang terlihat jauh berbeda dari malam tadi.Tanpa ketakutan, tanpa kepanikan.Hanya se
Pagi itu suasana di SMA Arunika terasa lebih ribut dari biasanya.Beberapa siswi berlarian menyusuri lorong sekolah sambil berbisik-bisik dan tertawa heboh. Wajah mereka berbinar, seolah baru saja mendapat kabar bahwa idola favorit mereka datang berkunjung.“Ayo, cepat!”“Dia masih di ruang guru!”“Ya ampun, serius ganteng banget!”Zeeya yang baru tiba di sekolah hanya bisa mengernyit bingung melihat pemandangan itu. Dengan tas yang masih menggantung di bahunya, ia berjalan pelan menuju kelas sambil memperhatikan para siswi yang berlalu-lalang.Tiba-tiba seseorang menabraknya dari samping.“Maaf!”Gadis itu bahkan tidak berhenti dan terus berlari bersama teman-temannya.Zeeya sampai terdorong ke dinding lorong.Ia memijat pelan bahunya yang sedikit sakit, lalu menoleh mengikuti arah mereka berlari.‘Ada apa, sih? Kenapa heboh sekali? Apa ada idol pria yang datang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー