author-banner
Yeyeng Feronika
Author

Novels by Yeyeng Feronika

Sangkar Emas Nyonya Arlando

Sangkar Emas Nyonya Arlando

Hazel, 21 tahun, baru lulus kuliah, terpaksa menikahi Arlando Wijaya — duda kaya, tampan, dan arogan — demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang di ambang kebangkrutan. Malam pertama yang seharusnya sakral berubah menjadi trauma karena Arlando memaksakan haknya sebagai suami. Hazel berkali-kali mencoba kabur dari rumah mewah yang terasa seperti penjara, hingga sebuah kecelakaan saat pelariannya mempertemukannya dengan dr. Raka, dokter yang diam-diam jatuh hati padanya.
Read
Chapter: Keputusan yang Menyakitkan
Dua hari berlalu sejak pertemuan Hazel dengan Arlando di restoran itu, namun jawaban yang ditunggu-tunggu belum juga keluar dari mulut Hazel. Ia mengurung diri di kamar, hanya keluar sesekali untuk makan seadanya, menghindari tatapan penuh harap sekaligus cemas dari kedua orang tuanya. Melati datang berkunjung sore itu, membawa dua cangkir bubble tea kesukaan mereka berdua sejak SMA, berharap bisa sedikit mencairkan suasana hati sahabatnya yang sedang berantakan. "Lo udah mikirin baik-baik?" tanya Melati, duduk bersila di atas kasur Hazel, menyerahkan salah satu cangkir bubble tea itu. Hazel menerima minuman itu tanpa semangat, menyesapnya pelan sebelum menjawab, "Gue udah mikir sampai nggak tidur dua hari ini, Mel. Tapi tetep aja gue nggak nemu jawaban yang bikin gue lega." "Gimana orangnya?" Melati bertanya penasaran, teringat cerita singkat Hazel semalam lewat telepon tentang pertemuan mereka. "Lebih parah," Hazel menghela napas berat, teringat kembali tatapan dingin Arlando
Last Updated: 2026-10-03
Chapter: Tatapan Pertama yang Dingin
Arlando menjabat tangan itu sekilas, singkat dan formal, sebelum duduk di kursi seberangnya tanpa menunggu Hazel duduk kembali terlebih dahulu. Sikap itu langsung membuat Hazel merasakan ketidaknyamanan yang menusuk—seolah kesopanan dasar pun tidak dianggap penting oleh pria ini. Seorang pelayan datang menawarkan menu, namun Arlando langsung menepisnya. "Saya sudah pesan lewat telepon sebelumnya. Kita langsung ke pembicaraan utama saja." Hazel mengangguk kaku, meletakkan kedua tangannya di pangkuan untuk menyembunyikan getaran yang tak bisa ia kendalikan. "Saya yakin orang tua Anda sudah menjelaskan situasinya," Arlando membuka pembicaraan tanpa basa-basi, matanya menatap lurus tanpa berkedip. "Saya butuh menikah dalam waktu dekat. Anda butuh dana untuk menyelamatkan bisnis keluarga. Sederhana, bukan?" "Sederhana bagi Anda, mungkin," Hazel menjawab, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya panas oleh emosi yang membuncah. "Tapi ini kehidupan saya yang sedang diperta
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Kabar yang Sama
Pak Suryo menoleh, mengangguk pelan meski hatinya semakin berat. "Akan saya sampaikan, Pak." Dalam perjalanan pulang, Pak Suryo duduk di kursi belakang taksi, menatap kosong ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu seiring senja yang mulai turun, namun tak satu pun cahaya itu mampu menerangi kegelapan yang bersarang di dalam hatinya. Ia teringat wajah Hazel semasa kecil, tertawa riang berlari mengejar layang-layang di halaman rumah mereka yang dulu masih sederhana. Ia teringat betapa bangganya ia saat Hazel diterima di universitas ternama dengan beasiswa penuh berkat kecerdasannya sendiri. Dan sekarang, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya sendirilah yang mungkin akan menghancurkan seluruh mimpi dan masa depan yang telah dibangun putrinya dengan susah payah. Apakah aku ayah yang gagal? batinnya perih, tangannya mengepal erat di atas paha. Membiarkan anakku sendiri menanggung dosa dan kesalahanku dalam mengelola bisnis... Namun di sisi lain, ba
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Pertemuan di Tower Wijaya
Gedung Wijaya Tower menjulang tinggi di tengah jantung kota, kaca-kaca hitamnya memantulkan cahaya matahari sore dengan begitu angkuh, seolah menegaskan kekuasaan pemiliknya atas segala yang ada di bawahnya. Pak Suryo berdiri di depan lobi megah itu, tangannya menggenggam map berisi dokumen perusahaan yang sudah lecek karena keringat dingin yang terus mengalir sejak tadi. "Bapak sudah ditunggu di lantai 42," ujar resepsionis dengan senyum profesional, mengarahkan Pak Suryo menuju lift khusus eksekutif. Selama perjalanan naik, Pak Suryo menatap pantulan dirinya di dinding lift berbahan kaca. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya, garis-garis lelah membekas jelas di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ini demi keluarga. Demi Hazel juga, batinnya berulang kali, meski hatinya sendiri dipenuhi keraguan besar tentang apa yang akan ia bicarakan sebentar lagi. Pintu lift terbuka, menampilkan ruang tunggu eksek
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Bimbang
Malam harinya, Hazel menghubungi Melati, satu-satunya orang yang bisa ia percaya untuk berbagi kekacauan pikirannya. "Lo serius, Hazel?" suara Melati di seberang telepon terdengar tak percaya. "Dijodohin buat nutup utang? Ini bukan sinetron, kan?" "Gue juga berharap ini cuma mimpi buruk," jawab Hazel lemas, suaranya juga sedikit serak karena kebanyakan menangis, matanya masih sembab. "Tapi ini nyata, Mel. Papa bisa masuk penjara kalau utangnya nggak lunas." "Terus lo mau terima?" Nada suara Melati naik satu oktaf. Hazel terdiam lama sebelum menjawab, "Gue nggak tahu. Di satu sisi, gue nggak rela hidup gue diatur kayak gini. Tapi di sisi lain... gue nggak bisa bayangin Papa dipenjara, atau Mama harus nanggung malu karena rumah kita disita." "Lo tau apa-apa soal orang ini? Arlando itu?" tanya Melati hati-hati. "Cuma tau dia CEO perusahaan besar, duda, nggak punya anak. Itu doang," Hazel menghela napas berat. "Bahkan gue nggak tau gimana wajahnya." Melati terdiam sejenak di
Last Updated: 2026-09-30
Chapter: Retak yang Tersembunyi
Tiga hari setelah kepulangan Pak Suryo dari rumah sakit, rumah terasa berbeda. Hazel duduk di meja makan, menatap semangkuk sup ayam yang baru saja ia buatkan untuk ayahnya. Sejak pulang dari rumah sakit, Pak Suryo lebih banyak diam, menghabiskan waktu di kamar dengan tirai tertutup rapat, seolah cahaya matahari pun terlalu menyilaukan untuk masalah yang sedang ia hadapi. "Pa, makan dulu, ya," ujar Hazel lembut, meletakkan nampan di atas meja kecil dekat ranjang. Pak Suryo membuka matanya, tersenyum tipis meski tampak dipaksakan. "Makasih, Nak. Kamu... nggak usah repot-repot urus Papa. Harusnya kamu lagi sibuk kirim lamaran kerja, cari pengalaman baru." "Papa lebih penting dulu," jawab Hazel tegas, duduk di tepi ranjang. "Lagian, aku udah kirim beberapa lamaran kok. Tinggal nunggu panggilan interview." Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya benar. Sejak hari itu di rumah sakit, pikiran Hazel terlalu dipenuhi kekhawatiran untuk benar-benar fokus mencari pekerjaan. Bagaimana bisa ia
Last Updated: 2026-09-30
You May Also Like
Terjebak Gairah Paman Billionaire
Terjebak Gairah Paman Billionaire
Romansa · Adinasya Mahila
102.3K views
My Boss
My Boss
Romansa · Rahayu avilia
101.9K views
Nafkah Terakhir sebelum Ditalak
Nafkah Terakhir sebelum Ditalak
Romansa · Ina Shalsabila
101.7K views
PULANG KAMPUNG
PULANG KAMPUNG
Romansa · NawankWulan
101.1K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status