Sangkar Emas Nyonya Arlando

Sangkar Emas Nyonya Arlando

last updateÚltima actualización : 2026-10-03
Por:  Puti sunshineActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
7Capítulos
11vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Hazel, 21 tahun, baru lulus kuliah, terpaksa menikahi Arlando Wijaya — duda kaya, tampan, dan arogan — demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang di ambang kebangkrutan. Malam pertama yang seharusnya sakral berubah menjadi trauma karena Arlando memaksakan haknya sebagai suami. Hazel berkali-kali mencoba kabur dari rumah mewah yang terasa seperti penjara, hingga sebuah kecelakaan saat pelariannya mempertemukannya dengan dr. Raka, dokter yang diam-diam jatuh hati padanya.

Ver más

Capítulo 1

Wisuda dan Awal Petaka

Sinar matahari pagi menembus tirai kamar Hazel, jatuh tepat di atas toga hitam yang tergantung rapi di pintu lemari. Hazela Suryo berdiri di depan cermin, memandangi pantulan dirinya sendiri dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Hari ini adalah hari yang sudah ia nantikan selama empat tahun terakhir—hari wisuda.

"Akhirnya," gumamnya pelan, sambil merapikan letak selempang berwarna emas di lehernya. "Empat tahun begadang, revisi skripsi lima belas kali, dan sekarang... selesai."

Ponselnya bergetar di atas meja rias. Sebuah pesan masuk dari Melati, sahabatnya sejak SMA.

Melati: "Woy! Udah siap? Gue otw jemput nih, 15 menit lagi sampai!"

Hazel tertawa kecil, mengetik balasan cepat sebelum menyambar tasnya dan bergegas keluar kamar. Pagi yang hangat menyambutnya dengan aroma kopi dan cemilan—rutinitas pagi yang selalu dilakukan ibunya.

"Ma, Pa, aku duluan sama Melati, ya! Nanti ketemu di aula," serunya sambil menyambar sepasang sepatu di rak dekat pintu.

Namun, tidak ada jawaban. Hazel mengernyit. Biasanya ibunya, Bu Ratna, akan langsung menyahut dari dapur dengan banyak pertanyaan—sudah sarapan, bawa payung tidak, jangan lupa foto yang banyak. Tapi pagi ini, beda.

Ia melangkah menuju ruang keluarga, dan menemukan kedua orang tuanya duduk berdampingan di sofa, wajah mereka tegang. Di meja depan mereka, terlihat beberapa lembar kertas.

"Ma? Pa? Kalian nggak apa-apa?" tanya Hazel, suaranya mulai diliputi kekhawatiran.

Bu Ratna buru-buru tersenyum, terlihat dipaksakan. "Eh, nggak apa-apa, Sayang. Kamu duluan aja, nanti kami nyusul ke aula."

Hazel ingin bertanya lebih lanjut, tapi klakson mobil Melati terdengar dari luar. Ia menatap kedua orang tuanya sekali lagi, mencoba membaca ekspresi mereka, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Oke... tapi jangan telat, ya. Aku nggak mau foto wisuda tanpa Mama Papa."

Aula kampus dipenuhi ratusan wisudawan dan keluarga mereka. Musik mengalun dari sound system, diselingi tepuk tangan meriah setiap kali nama dipanggil naik ke podium. Hazel duduk di barisan tengah, jantungnya berdebar menunggu namanya disebut.

"Tegang banget sih," bisik Melati yang duduk di sebelahnya, sambil menyikut lengan Hazel pelan.

"Ya iyalah! Ini momen penting, tau," balas Hazel, matanya masih menyapu ke arah pintu masuk aula, berharap melihat sosok Bu Ratna dan Pak Suryo di antara kerumunan.

Tapi hingga namanya dipanggil—"Hazela Suryo, Fakultas Ekonomi, predikat cumlaude"—kursi yang seharusnya diisi orang tuanya tetap kosong.

Ia berjalan ke podium dengan senyum yang mulai memudar, menerima ijazah dengan tangan sedikit gemetar. Saat berjabat tangan dengan dekan, matanya sekali lagi menyapu ke arah pintu masuk. Masih kosong.

Ketika acara usai dan Hazel keluar dari aula bersama Melati, ia melihat sosok ibunya berdiri di dekat mobil, sendirian, tanpa sang papa.

"Ma!" Hazel berlari kecil menghampiri, memeluk ibunya erat. "Kok telat? Papa mana?"

Bu Ratna membalas pelukan itu, namun Hazel bisa merasakan tubuh ibunya sedikit gemetar. Ketika melepaskan pelukan, Hazel melihat mata Bu Ratna yang memerah, seperti baru saja menangis.

"Ma, kenapa?" Hazel mulai panik, memegang bahu ibunya.

"Nggak apa-apa, Sayang," Bu Ratna berusaha tersenyum, namun kali ini senyumnya benar-benar runtuh. "Papa di rumah sakit. Dia... dia kena serangan jantung tadi pagi."

"APA?!" Hazel nyaris menjatuhkan ijazah yang dipegangnya. "Kenapa Mama nggak telepon aku dari tadi?!"

"Mama nggak mau ganggu hari bahagia kamu," jawab Bu Ratna, suaranya bergetar. "Ayo, kita ke rumah sakit sekarang."

Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti lama. Hazel duduk di kursi belakang mobil Melati—yang dengan sigap menawarkan untuk mengantar—sambil terus menggenggam tangan ibunya yang gemetar.

"Ma, cerita yang sebenarnya, dong," pinta Hazel pelan. "Papa kenapa?"

Bu Ratna terdiam cukup lama, menatap ke luar jendela sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Perusahaan Papa... lagi ada masalah besar, Hazel. Utang ke bank sudah menumpuk. Pagi ini, ada surat somasi dari pengadilan soal penyitaan aset kalau utangnya nggak dibayar dalam waktu dekat."

Dunia Hazel serasa runtuh seketika. "Se-berapa besar utangnya, Ma?"

"Lebih dari lima miliar," bisik Bu Ratna, "Papa sudah coba segala cara, pinjam sana-sini, tapi nggak cukup. Tadi pagi, waktu suratnya datang, Papa langsung... jatuh."

Hazel mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Semua kebahagiaan tadi menguap begitu saja, digantikan oleh ketakutan yang mencekam.

"Kenapa nggak pernah cerita, Ma? Aku kan anak kalian!"

"Kami nggak mau kamu khawatir, Sayang. Kamu lagi fokus skripsi, ujian, semuanya," Bu Ratna menjawab, suaranya penuh penyesalan.

Melati yang sedari tadi diam mendengarkan dari kursi kemudi, akhirnya bersuara pelan, "Tante, maaf ikut denger... tapi apa nggak ada jalan keluar lain? Investor, misalnya?"

Bu Ratna menggeleng lemah. "Sudah dicoba, Nak. Nggak ada yang mau ambil risiko sama perusahaan yang sedang begini."

Sesampainya di rumah sakit, Hazel bergegas masuk ke ruangan tempat Pak Suryo dirawat. Ayahnya terbaring lemah di ranjang, wajahnya pucat, namun matanya terbuka begitu mendengar suara pintu terbuka.

"Hazel..." suara Pak Suryo serak, penuh haru sekaligus rasa bersalah. "Maaf, Papa nggak bisa lihat kamu wisuda hari ini."

Hazel segera menghampiri, menggenggam tangan ayahnya erat, air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. "Papa nggak perlu minta maaf. Yang penting Papa sehat dulu."

"Papa udah bikin masalah besar, Nak," gumam Pak Suryo, matanya berkaca-kaca. "Papa nggak tahu harus bagaimana lagi..."

"Kita cari jalan keluar bareng-bareng, Pa," Hazel mencoba menguatkan, meski hatinya sendiri diliputi ketakutan yang sama besarnya. "Aku baru lulus, aku bisa cari kerja, bisa bantu—"

"Nggak akan cukup, Hazel," potong Pak Suryo pelan. "Utangnya... terlalu besar untuk gaji seorang fresh graduate."

Ruangan itu hening sejenak, hanya diisi oleh bunyi mesin pemantau detak jantung yang berdetak teratur. Hazel menatap wajah ayahnya yang tampak jauh lebih tua dari biasanya..

Di sudut ruangan, Bu Ratna berdiri diam, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang, penyesalan, dan sesuatu yang lain yang belum berani ia ungkapkan.

Malam itu, setibanya di rumah, setelah memastikan Pak Suryo stabil dan bisa dibawa pulang esok hari, Hazel duduk sendirian di kamarnya. Toga wisuda yang tadi pagi ia kenakan dengan bangga kini tergeletak begitu saja di atas kasur, terlupakan.

Ia meraih ponselnya, membuka galeri foto—satu-satunya foto wisuda yang sempat diambil Melati, dirinya tersenyum lebar dengan ijazah di tangan. Senyum yang kini terasa begitu asing, seperti milik orang lain di kehidupan yang berbeda.

Hazel tidak tahu bahwa di balik pintu kamarnya, Bu Ratna berdiri diam, menggenggam sebuah kartu nama yang baru saja diberikan seseorang siang tadi..

Arlando Wijaya, CEO Wijaya Group.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
7 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status