INICIAR SESIÓNHazel, 21 tahun, baru lulus kuliah, terpaksa menikahi Arlando Wijaya — duda kaya, tampan, dan arogan — demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang di ambang kebangkrutan. Malam pertama yang seharusnya sakral berubah menjadi trauma karena Arlando memaksakan haknya sebagai suami. Hazel berkali-kali mencoba kabur dari rumah mewah yang terasa seperti penjara, hingga sebuah kecelakaan saat pelariannya mempertemukannya dengan dr. Raka, dokter yang diam-diam jatuh hati padanya.
Ver másDua hari berlalu sejak pertemuan Hazel dengan Arlando di restoran itu, namun jawaban yang ditunggu-tunggu belum juga keluar dari mulut Hazel. Ia mengurung diri di kamar, hanya keluar sesekali untuk makan seadanya, menghindari tatapan penuh harap sekaligus cemas dari kedua orang tuanya. Melati datang berkunjung sore itu, membawa dua cangkir bubble tea kesukaan mereka berdua sejak SMA, berharap bisa sedikit mencairkan suasana hati sahabatnya yang sedang berantakan. "Lo udah mikirin baik-baik?" tanya Melati, duduk bersila di atas kasur Hazel, menyerahkan salah satu cangkir bubble tea itu. Hazel menerima minuman itu tanpa semangat, menyesapnya pelan sebelum menjawab, "Gue udah mikir sampai nggak tidur dua hari ini, Mel. Tapi tetep aja gue nggak nemu jawaban yang bikin gue lega." "Gimana orangnya?" Melati bertanya penasaran, teringat cerita singkat Hazel semalam lewat telepon tentang pertemuan mereka. "Lebih parah," Hazel menghela napas berat, teringat kembali tatapan dingin Arlando
Arlando menjabat tangan itu sekilas, singkat dan formal, sebelum duduk di kursi seberangnya tanpa menunggu Hazel duduk kembali terlebih dahulu. Sikap itu langsung membuat Hazel merasakan ketidaknyamanan yang menusuk—seolah kesopanan dasar pun tidak dianggap penting oleh pria ini. Seorang pelayan datang menawarkan menu, namun Arlando langsung menepisnya. "Saya sudah pesan lewat telepon sebelumnya. Kita langsung ke pembicaraan utama saja." Hazel mengangguk kaku, meletakkan kedua tangannya di pangkuan untuk menyembunyikan getaran yang tak bisa ia kendalikan. "Saya yakin orang tua Anda sudah menjelaskan situasinya," Arlando membuka pembicaraan tanpa basa-basi, matanya menatap lurus tanpa berkedip. "Saya butuh menikah dalam waktu dekat. Anda butuh dana untuk menyelamatkan bisnis keluarga. Sederhana, bukan?" "Sederhana bagi Anda, mungkin," Hazel menjawab, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya panas oleh emosi yang membuncah. "Tapi ini kehidupan saya yang sedang diperta
Pak Suryo menoleh, mengangguk pelan meski hatinya semakin berat. "Akan saya sampaikan, Pak." Dalam perjalanan pulang, Pak Suryo duduk di kursi belakang taksi, menatap kosong ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu seiring senja yang mulai turun, namun tak satu pun cahaya itu mampu menerangi kegelapan yang bersarang di dalam hatinya. Ia teringat wajah Hazel semasa kecil, tertawa riang berlari mengejar layang-layang di halaman rumah mereka yang dulu masih sederhana. Ia teringat betapa bangganya ia saat Hazel diterima di universitas ternama dengan beasiswa penuh berkat kecerdasannya sendiri. Dan sekarang, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya sendirilah yang mungkin akan menghancurkan seluruh mimpi dan masa depan yang telah dibangun putrinya dengan susah payah. Apakah aku ayah yang gagal? batinnya perih, tangannya mengepal erat di atas paha. Membiarkan anakku sendiri menanggung dosa dan kesalahanku dalam mengelola bisnis... Namun di sisi lain, ba
Gedung Wijaya Tower menjulang tinggi di tengah jantung kota, kaca-kaca hitamnya memantulkan cahaya matahari sore dengan begitu angkuh, seolah menegaskan kekuasaan pemiliknya atas segala yang ada di bawahnya. Pak Suryo berdiri di depan lobi megah itu, tangannya menggenggam map berisi dokumen perusahaan yang sudah lecek karena keringat dingin yang terus mengalir sejak tadi. "Bapak sudah ditunggu di lantai 42," ujar resepsionis dengan senyum profesional, mengarahkan Pak Suryo menuju lift khusus eksekutif. Selama perjalanan naik, Pak Suryo menatap pantulan dirinya di dinding lift berbahan kaca. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya, garis-garis lelah membekas jelas di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ini demi keluarga. Demi Hazel juga, batinnya berulang kali, meski hatinya sendiri dipenuhi keraguan besar tentang apa yang akan ia bicarakan sebentar lagi. Pintu lift terbuka, menampilkan ruang tunggu eksek


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.