Chapter: BAB 12 — Kehangatan yang GanjilRatri ngotot ikut pas Wira buru-buru jalan ke arah kediaman Ki Bramantyo, meski beberapa penjaga sempat nyoba nahan dia di belakang."Aku ikut," Ratri bilang tegas, nggak ngasih ruang buat dibantah. "Dia kenalan pertama aku di sini. Aku berhak tau dia baik-baik aja apa nggak."Wira nggak sempet ngeyel, cuma ngangguk cepet dan biarin Ratri jalan di sampingnya.Sesampenya di ruang catatan Ki Bramantyo, suasananya udah kacau. Beberapa gulungan berserakan di lantai, meja kebalik, dan Ki Bramantyo sendiri lagi dibaringin di ranjang kecil di sudut ruangan, kepalanya diperban, wajahnya pucat banget.Tabib istana lagi meriksa denyut nadinya. "Beliau cuma pingsan, Jenderal. Ada benturan di kepala, tapi nggak parah. Mungkin sejam lagi udah sadar."Wira ngangguk, matanya nyapu ruangan yang berantakan itu. "Ada yang tau siapa pelakunya?""Belum, Jenderal," jawab salah satu penjaga. "Nggak ada saksi. Kami cuma nemuin beliau kayak gini pas rutin patroli."Ratri natap ke arah meja yang berantakan, k
Última actualización: 2026-07-14
Chapter: BAB 11 — Senyum yang Terlalu RapiRatri buru-buru nyalain lilin di meja deket ranjang, tangannya sedikit gemeteran. Ketukan itu kedengeran lagi, kali ini lebih pelan, kayak orangnya juga waspada.Dia deketin jendela hati-hati, jantungnya berdegup kenceng banget. Begitu dia buka tirai dikit, yang keliatan cuma bayangan gelap yang buru-buru ngelompat turun dari atap paviliun sebelah, terus ilang di balik kegelapan taman."Ada apa?" suara Wira dari pintu, udah setengah lari, pedang di tangan. Ternyata kamarnya emang deket, dan dia denger suara berisik dari kamar Ratri."Ada... ada orang di jendela," Ratri jawab, suaranya masih gemeteran. "Aku liat bayangan, tapi keburu kabur."Wira langsung ke jendela, natap ke arah taman gelap di bawah. Nggak ada apa-apa lagi di situ, cuma daun-daun yang bergoyang ketiup angin."Tunggu di sini," katanya tegas, terus keluar manggil beberapa penjaga.Malam itu penjagaan diperketat di seluruh kompleks kediaman. Wira sendiri yang mimpin pengecekan sampai subuh, meski nggak ketemu apa-apa se
Última actualización: 2026-07-14
Chapter: BAB 10 — Meja Makan yang Dingin"Nggak lama," Ratri jawab cepet, kelewat cepet buat kedengeran meyakinkan. "Baru mau lewat aja, mau ke ruang makan."Wira natapnya lama, kayak lagi nimbang mau percaya apa nggak. Tapi akhirnya dia cuma ngangguk pelan, ngelangkah minggir dari pintu."Kalau gitu, ayo," katanya, suaranya udah balik netral kayak biasa. "Makan malam udah siap."Di belakangnya, Kapten Segara masih berdiri kaku, buru-buru ngangguk hormat ke arah Ratri sebelum ngeloyor pergi lewat pintu satunya, jelas pengen ngindarin situasi canggung itu secepat mungkin.Ratri jalan di samping Wira menuju ruang makan, tapi kepalanya masih penuh sama potongan-potongan obrolan yang baru aja dia denger. Catatan itu. Jangan sampai dia tau. Belum saatnya.Ruang makan malam itu udah ditata rapi, lilin-lilin kecil nyala di sepanjang meja panjang, meski cuma mereka berdua yang bakal makan di situ. Bi Rahayu udah nyiapin beberapa hidangan, uapnya masih ngepul, aroma rempah-rempah khas Cakrawijaya yang belum pernah Ratri cium sebelumn
Última actualización: 2026-07-14
Chapter: BAB 9 — Kenangan yang Belum SelesaiRatri jalan balik ke kamarnya sendirian, soalnya dia nolak ditemenin sama Ki Bramantyo yang keliatan masih gugup abis kejadian tadi.Sepanjang jalan, dia berusaha nyusun ulang kejadian di kepalanya. Kenapa ada nama Arya di catatan Ki Bramantyo? Kenapa lelaki tua itu segitu takutnya sampai nutupin gulungan itu buru-buru? Dan kenapa dia bilang harus Wira sendiri yang cerita, bukan dia?Kepalanya penuh. Satu kata doang, "Arya", tapi cukup buat bikin seluruh badannya kerasa dingin.Dia nyampe di kamar, duduk di tepi ranjang yang masih asing, terus natap ke luar jendela tanpa bener-bener liat apa-apa.Pikirannya malah melayang jauh, balik ke Wilatikta, ke masa sebelum semua ini kejadian.Dulu, sebelum perang, rumah mereka selalu rame. Arya paling seneng ganggu Ratri pas lagi nyulam, sengaja narik-narik benangnya sampai kusut cuma buat liat Ratri ngambek."Kang, serius deh, ini udah yang ketiga kali!" Ratri pernah protes, sambil ngelempar bantal ke arah kakaknya.Arya cuma ketawa, nangkep b
Última actualización: 2026-07-14
Chapter: BAB 8 — Rumah yang Belum Terasa RumahTernyata penyergapan itu udah dibatalin duluan sebelum sempet kejadian.Prajurit yang nyisir jalur depan nemuin bekas perkemahan kosong, abu bekas api unggun yang masih anget, tapi orangnya udah kabur entah ke mana. Kayak mereka tau rombongan bakal ganti jalur, terus milih mundur daripada ketahuan."Mungkin cuma gertakan," kata Wira, meski rahangnya masih tegang sepanjang sisa perjalanan. "Atau mereka emang belum siap nyerang rombongan sebesar ini."Ratri nggak sepenuhnya ngerti apa artinya itu, tapi dia bisa liat Wira jadi lebih waspada dari biasa, matanya nggak berhenti ngawasin tiap sudut hutan yang mereka lewatin.Untungnya, sisa perjalanan berjalan lancar. Nggak ada kejadian aneh lagi sampai akhirnya di hari ketiga, gerbang Kerajaan Cakrawijaya keliatan dari kejauhan.Ratri nempelin wajahnya ke jendela kereta, kagum. Istananya jauh lebih megah dari yang dia bayangin. Menara-menara tinggi berukir emas, taman-taman luas yang tertata rapi, dan penjaga berbaris di sepanjang jalan mas
Última actualización: 2026-07-13
Chapter: BAB 7 — Kabar dari Perbatasan"Ada apa, Segara?" Wira udah berdiri di depan pintu, pedang di tangan, suaranya tajam.Ratri buru-buru narik selimut, jantungnya masih berdegup kencang."Penjaga perbatasan kirim kabar semalam," Segara ngos-ngosan, jelas abis lari dari pos jaga. "Ada rombongan bersenjata nggak dikenal, keliaran deket jalur yang bakal kita lewatin buat balik ke Cakrawijaya. Belum jelas mereka siapa."Wira diem sebentar, mikir cepet. "Berapa orang?""Laporan bilang sekitar dua puluh, Jenderal. Nggak pakai lambang kerajaan mana pun.""Kalau gitu kita berangkat lebih pagi dari rencana," kata Wira, udah mulai pakai jubahnya. "Siapin rombongan. Jalur diganti, lewat yang lebih aman meski lebih jauh."Segara ngangguk cepet terus buru-buru pergi.Ratri masih duduk di ranjang, nggak ngerti separuh dari yang baru aja dia denger. "Itu... bahaya?""Mungkin cuma perampok," Wira jawab, tapi nadanya nggak sepenuhnya yakin. "Tapi lebih baik hati-hati. Kau siap-siap. Kita berangkat sejam lagi."Ratri ngangguk, meski ta
Última actualización: 2026-07-13