MasukPagi itu, Segara nyamperin Wira di ruang kerja, wajahnya gugup banget, tangannya nggak berhenti megangin sesuatu di balik jubahnya. "Jenderal," katanya, suaranya agak gemeteran, "saya butuh bantuan." "Bantuan apa?" Wira nanya, ngelipat laporan yang lagi dia baca. "Saya mau lamar Nyai Sekar," Segara ngaku, mukanya udah merah duluan sebelum ngomong lebih jauh. "Hari ini. Sebelum semua kekacauan ini makin runyam." Wira senyum lebar, berdiri dari kursinya. "Akhirnya." "Tapi saya nggak tau harus mulai dari mana," Segara ngaku, keliatan panik. "Saya jago perang, bukan jago romantis." Ratri, yang kebetulan lagi di ruangan itu bawa dokumen buat Wira, langsung nyeletuk semangat. "Aku bisa bantu!" Segara natap Ratri penuh harap. "Gusti Ratri mau bantu?" "Tentu aja," Ratri ngangguk semangat. "Ini kesempatan buat bales dendam manis lainnya." Sore itu, Ratri dan Wira diam-diam ngatur segalanya—minta Dyah bantuin ngumpulin bunga melati sebanyak-banyaknya, minta Bi Rahayu siapin lentera
Ratri nahan diri buat nggak langsung nengok, jantungnya berdebar kenceng banget. "Di mana persisnya?" Ratri bisik, coba tetep tenang. "Pohon beringin di seberang kolam," Ratu Ibunda Suri bisik balik, matanya masih ngunci ke arah sana. "Dia pake jubah hitam. Sekarang dia mulai gerak." Ratri nggak bisa nahan diri lagi, dia nengok cepat, dan sempet nangkep sekilas bayangan seseorang yang buru-buru ngumpet di balik semak-semak. Jantungnya berdegup makin kenceng, keringat dingin mulai ngerambat di tengkuknya. "Wira!" Ratri teriak keras, sesuai janji mereka. Nggak sampai beberapa detik, Wira udah muncul dari arah gerbang paviliun, pedang di tangan, wajahnya waspada penuh. Dia pasti udah nunggu di dekat situ sejak Ratri masuk tadi, siap siaga kayak yang dia janjiin. "Di sana!" Ratri nunjuk ke arah bayangan yang sekarang keliatan lari ke arah tembok pembatas taman. Wira lari cepat, dan Ratri, tanpa mikir panjang, ikut lari nyusul meski Ratu Ibunda Suri teriak nyuruh dia tetep di tempat
Empat hari sebelum upacara, Ratri dapet undangan buat minum teh sore bareng Ratu Ibunda Suri di paviliun teratai—undangan yang sama sekali nggak bisa dia tolak tanpa keliatan mencurigakan. "Aku ikut," Wira nawarin, wajahnya serius. "Kalau kau ikut, dia bisa curiga kita udah tau sesuatu," Ratri ngingetin. "Aku harus pergi sendiri, kayak biasa." Wira nggak seneng sama rencana itu, tapi akhirnya ngalah. "Aku bakal nunggu di deket sana. Kalau ada apa-apa, teriak aja." Ratri ngangguk, coba nenangin detak jantungnya sendiri sebelum jalan ke paviliun teratai. Ratu Ibunda Suri udah duduk di kursi biasanya, senyumnya hangat kayak biasa, sama sekali nggak nunjukin tanda-tanda dia tau kalau identitas aslinya udah kebongkar. Bunga teratai di kolam mekar sempurna sore itu, kontras banget sama ketegangan yang Ratri rasain di dalam dadanya. "Duduklah, Nak," katanya, nuang teh ke cangkir Ratri sendiri. "Sudah lama kita nggak ngobrol berdua." "Iya, Ratu Ibunda," Ratri duduk, coba tampil seten
Lima hari sebelum upacara peringatan, Dyah nyamperin Ratri di kamarnya sore itu, bawa dua cangkir teh hangat dan wajah yang lebih serius dari biasanya. Matahari sore masuk lewat jendela, ngasih warna keemasan di seluruh kamar. "Kak, aku boleh nanya sesuatu?" Dyah nanya, duduk di tepi ranjang Ratri, nyodorin salah satu cangkir teh ke Ratri sebelum duduk. "Tentu," Ratri nyender di sampingnya, ngambil salah satu cangkir teh. "Aku denger dari dayang-dayang, ada sesuatu yang lagi terjadi. Sesuatu yang berbahaya." Dyah natap Ratri lekat. "Kakak nggak akan bohong ke aku, kan?" Ratri natap adiknya, ngerasa dilema antara pengen ngelindungin Dyah dari ketakutan dan pengen jujur sepenuhnya. "Ada beberapa hal yang lagi kita selidikin," Ratri akhirnya ngaku, milih kata-kata hati-hati. "Tapi kau nggak perlu khawatir. Wira dan semua orang di sini bakal jagain kita." "Aku bukan anak kecil lagi, Kak," Dyah ngomong pelan tapi tegas. "Aku tau ada yang nggak beres sejak perjalanan kemarin. Orang
Pagi setelah reveal soal Ratu Ibunda Suri, Ratri kesulitan bangun dari ranjang, kepalanya masih penuh sama semua kemungkinan yang bikin dia susah tidur semalaman. Cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela kerasa kelewat terang buat matanya yang masih berat. Wira udah nyiapin sarapan sederhana di kamar, bukan di ruang makan formal kayak biasa. "Aku pikir kau butuh sarapan tenang hari ini," katanya, naruh nampan di meja deket ranjang. "Kau nggak perlu repot-repot," Ratri ngomong, meski dia ngerasa hangat liat usaha itu. "Aku pengen," Wira jawab simpel, duduk di tepi ranjang. "Lagian aku juga nggak terlalu pengen ketemu banyak orang pagi ini." Ratri natap nampan itu—bubur hangat, telur rebus, dan segelas teh yang masih ngepul. "Kau yang masak?" "Aku cuma nyuruh Bi Rahayu," Wira ngaku jujur, nyengir kikuk. "Tapi aku yang bawa ke sini sendiri, itu hitungannya usaha, kan?" Ratri ketawa kecil, tawa pertamanya sejak semalam. "Itu hitungannya usaha." Mereka sarapan bareng di kamar,
Ki Bramantyo balik ke kediaman menjelang subuh, wajahnya pucat banget, matanya keliatan belum tidur sama sekali semalaman. Langit di luar masih gelap kebiruan, cuma sedikit cahaya oranye di ufuk timur yang nandain subuh bakal dateng sebentar lagi. "Jenderal," katanya begitu masuk ke ruang kerja Wira, suaranya gemeteran, "saya udah dapet hasilnya." Wira sama Ratri langsung duduk tegak, nunggu. Ratri, yang sengaja bangun lebih pagi buat nemenin Wira nunggu kabar, ngerasa jantungnya udah berdebar sejak semalam. "Tabib itu berhasil ngangkat lapisan tintanya," Ki Bramantyo ngelanjut, ngeluarin gulungan yang udah dia bawa semalaman, tangannya masih agak gemeteran waktu naruhnya di meja. "Tapi apa yang saya temuin bikin saya nggak bisa tidur sepanjang sisa malam." Wira ngambil gulungan itu, ngebentangnya pelan-pelan. Ratri ndeketin, natap dari balik bahunya. Di bagian yang tadinya tertutup tinta, sekarang keliatan jelas tulisan tangan lama, agak pudar tapi terbaca. Retno Girinata, pu







