LOGINRatri Kirana tak pernah menginginkan ini. Mereka menikahkannya dengan pembunuh kakaknya sendiri. Ratri semula percaya hal itu, sampai mereka menikah, pria yang ditemuinya berbeda dengan rumor. Akhirnya Ratri harus memilih: membenci pria itu dan membalas dendam atau percaya pada cintanya.
View MoreBeberapa minggu berlalu sejak selapanan Bintang, dan meski laporan-laporan dari Ki Bramantyo masih terus berdatangan tentang aktivitas mencurigakan di sekitar Sendang Rejo, kehidupan di kediaman berusaha mempertahankan ritme normalnya."Kau pikir kita harus mengunjungi Wilatikta lebih sering sekarang?" Ratri bertanya suatu malam, menggendong Bintang yang mulai bisa tersenyum, sebuah pencapaian kecil yang membuat seluruh keluarga bahagia."Aku pikir itu ide bagus," Wira mengangguk, mengamati Arya yang sedang mengajari Bintang menggenggam jarinya, meski bayi itu belum sepenuhnya mengerti. "Kita bisa merencanakan kunjungan bulan depan.""Aku akan menulis surat memberi tahu Ayah," Ratri berkata, senyum lembut menghiasi wajahnya membayangkan pertemuan berikutnya dengan keluarganya di Wilatikta.Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga, momen sederhana yang selalu Ratri hargai—Arya yang bercerita tentang harinya dengan penuh semangat, Bintang yang mulai menunjukkan kepribadia
Tiga puluh lima hari setelah kelahiran Bintang, tradisi selapanan kembali dirayakan, kali ini dengan suasana yang sedikit berbeda—penuh kebahagiaan yang sama, tapi juga kewaspadaan yang lebih tinggi menyusul laporan-laporan terbaru dari Ki Bramantyo."Kau yakin ini waktu yang tepat untuk mengadakan perayaan?" Ratri bertanya ke Wira, sedikit khawatir mengingat situasi yang masih belum jelas."Kita tidak bisa membiarkan ketakutan menghentikan kita merayakan kebahagiaan," Wira menjawab mantap. "Kita hanya perlu memastikan pengamanan ekstra selama acara berlangsung."Perayaan selapanan Bintang berlangsung di halaman kediaman, dihiasi bunga-bunga segar dan lampion kecil, meski kali ini penjaga tambahan tersebar tidak kentara di berbagai sudut untuk memastikan keamanan.Ayah Ratri, yang datang jauh-jauh dari Wilatikta bersama Dyah, langsung menghampiri cucunya yang baru dengan mata berbinar bahagia."Cucuku yang kedua!" ayahnya berseru gembira, menggendong Bintang dengan hati-hati. "Dia mir
Beberapa minggu setelah kelahiran Bintang, di tengah kebahagiaan yang masih menyelimuti kediaman, Ki Bramantyo datang dengan laporan yang lebih serius dari biasanya."Jenderal," Ki Bramantyo memulai, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak biasa. "Informan kita di Sendang Rejo melaporkan peningkatan aktivitas mencurigakan dalam beberapa minggu terakhir."Wira, yang tengah menggendong Bintang, menyerahkan bayinya pelan-pelan ke Ratri sebelum fokus penuh pada laporan itu. "Aktivitas seperti apa?""Beberapa kelompok kecil terlihat berkumpul secara rutin, jauh dari pengawasan biasa," Ki Bramantyo menjelaskan. "Kami belum bisa memastikan tujuan mereka, tapi polanya mengingatkan pada persiapan sebelum tindakan besar.""Berapa banyak orang yang terlibat?" Wira bertanya, mencoba mengukur skala ancaman itu."Sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang, tersebar di beberapa titik," Ki Bramantyo memperkirakan. "Tapi jumlah itu bisa bertambah kalau mereka berhasil merekrut lebih banyak simpati
Malam itu, tepat tiga bulan setelah pemeriksaan terakhir, Ratri terbangun karena rasa sakit yang familiar, menjalar dari perutnya ke seluruh tubuhnya."Wira," Ratri membisikkan, menggoyang pelan suaminya yang tertidur. "Sepertinya waktunya sudah tiba."Wira langsung terbangun, matanya melebar panik meski dia mencoba tetap tenang. "Kau yakin?""Aku yakin," Ratri mengangguk, meringis menahan rasa sakit yang mulai datang berirama.Kediaman segera dipenuhi kesibukan yang familiar—tabib dan Bi Rahayu bergegas datang, sementara Wira mendampingi Ratri dengan tangan yang tidak pernah lepas dari genggamannya."Kau bisa melewati ini," Wira membisikkan, mengusap keringat di dahi Ratri. "Kau sudah pernah melakukannya sebelumnya, dan kau begitu kuat.""Aku tahu," Ratri menjawab di sela napasnya yang memburu, "tapi tetap saja tidak mudah."Arya, yang terbangun karena keributan itu, dijaga oleh Dyah yang kebetulan menginap malam itu, keduanya menunggu dengan cemas di luar kamar."Ibu sakit?" Arya be
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore