Jenderal Tiran Itu Suamiku

Jenderal Tiran Itu Suamiku

last updateآخر تحديث : 2026-07-14
بواسطة:  Heldaتم تحديثه الآن
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
لا يكفي التصنيفات
12فصول
26وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Ratri Kirana tak pernah menginginkan ini. Mereka menikahkannya dengan pembunuh kakaknya sendiri. Ratri semula percaya hal itu, sampai mereka menikah, pria yang ditemuinya berbeda dengan rumor. Akhirnya Ratri harus memilih: membenci pria itu dan membalas dendam atau percaya pada cintanya.

عرض المزيد

الفصل الأول

BAB 1 — Perjanjian Darah

"Gusti Putri, ada utusan dari ibu kota. Kanjeng Adipati memanggil Anda ke sana sekarang juga," ucap Nyai Sekar.

Ratri terdiam sejenak mendengar ucapan dayang istananya itu. Ia melemparkan hasil sulaman di tangannya. Firasat buruk langsung memenuhi dadanya.

Ratri bergegas menuju pendopo. Dyah mengikutinya dari belakang, wajahnya ikut tegang.

Di sana, ia melihat ayahnya berdiri tertegun menatap gulungan surat dengan lambang kerajaan. Wajah sang Adipati terlihat pucat seketika. Utusan yang mengantarkan surat itu berdiri mundur beberapa langkah, tak berani menatap siapa pun.

Ratri melangkah masuk. "Ayah, ada apa?" tanyanya.

Ruangan pendopo terasa lebih sunyi dari biasanya, meski matahari pagi masih bersinar terang di luar.

Adipati Wilatikta menatapnya lama sebelum menjawab. "Perjanjian damai sudah disepakati," katanya dengan suara bergetar. "Kerajaan meminta jaminan. Seorang putri Wilatikta harus dinikahkan dengan panglima perang mereka."

Ratri berdiri tertegun.

"Kau, Ratri. Kau yang mereka minta."

Ratri tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. 

"Kenapa aku?" tanyanya, suaranya bergetar.

"Kenapa aku yang harus dikorbankan untuk kesalahan yang bukan aku yang buat?"

"Ratri, dengarkan Ayah dulu—"

"Kakang Arya sudah mati demi kadipaten ini!" potongnya. Air matanya mulai menggenang. 

"Sekarang mereka mau ambil aku juga? Belum cukup, Ayah?"

Mendengar nama Arya, wajah sang ayah terlihat sedih. Ia menunduk, menahan tangis.

"Dengan siapa?" tanya Ratri pelan, meski sebagian dirinya sudah takut mendengar jawabannya.

"Jenderal Wira Danurdana," jawab ayahnya akhirnya.

Nama itu membuat Ratri semakin gelisah. Semua orang di Wilatikta tahu nama itu. 

Jenderal termuda kerajaan, orang yang pasukannya berdiri di garis depan malam Arya gugur.

"Tidak," Ratri menggeleng cepat. "Aku nggak akan menikah dengan pembunuh kakakku sendiri."

"Ratri Kirana." Suara ayahnya berubah tegas, meski matanya berkaca-kaca. "Ini bukan keinginan Ayah. Ini menyangkut nyawa seluruh rakyat Wilatikta."

Dyah menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak berani bersuara.

Ratri menatap ayahnya lama. Ia marah, tapi juga takut. Ia tahu, kali ini tidak ada ruang untuk menolak.

"Ada cara lain, kan, Ayah?" tanya Ratri, suaranya memelas. "Upeti, atau apa saja selain aku?"

"Ayah sudah coba," jawab sang Adipati pelan.

 "Semuanya ditolak. Kita bicarakan nanti, Ratri. Sekarang bukan waktunya."

Ratri menahan diri untuk tidak membantah lebih jauh. Ia berbalik hendak pergi, tapi langkahnya terhenti di depan utusan kerajaan yang masih berdiri dekat pintu.

"Kau kenal jenderal itu?" tanya Ratri tiba-tiba.

Utusan itu terkejut, tapi menjawab jujur. "Saya pernah bertugas di bawah komandonya, Gusti. Beliau tidak seperti yang orang-orang bicarakan di luar sana."

"Lalu seperti apa?"

"Disiplin. Diam. Tidak banyak bicara kecuali perlu." Utusan itu ragu sejenak. 

"Tapi saya juga dengar, beliau yang paling keras menentang penyerangan lanjutan ke Wilatikta."

"Kalau begitu kenapa dia yang memimpin pasukan yang membuat kakakku gugur?"

Utusan itu terdiam, tak berani menjawab lebih jauh. 

"Itu bukan sesuatu yang saya tahu detailnya, Gusti. Ampuni saya."

"Apa dia tahu aku yang akan dinikahkan dengannya?" tanya Ratri lagi.

"Saya tidak tahu, Gusti. Beliau berangkat lebih dulu dari kami."

Kata-kata itu tidak membuat Ratri lega. Ia semakin bingung harus membenci seperti apa.

Ia mendengus pelan, lalu melangkah pergi menuju kamarnya sendiri.

Di ambang pintu pendopo, ia sempat menoleh sekali. Ayahnya masih berdiri di tempat yang sama, menatap gulungan surat di tangannya. Dyah masih menutup mulutnya sendiri di sudut ruangan, matanya penuh air mata yang ia tahan.

Ratri buru-buru memalingkan wajah, lalu melangkah cepat menuju kamarnya.

Malam itu, Nyai Sekar datang membawa air minum, tapi Ratri tidak menyentuhnya sama sekali.

"Gusti," kata Nyai Sekar, duduk di tepi ranjang. "Menangis saja kalau memang perlu."

"Aku nggak mau nangis, Nyai," jawab Ratri, suaranya datar menahan getar. "Kalau aku mulai nangis sekarang, aku takut nggak bisa berhenti sampai dua minggu lagi."

Nyai Sekar tidak memaksa. Ia hanya duduk diam menemani, sesekali membetulkan selimut yang berantakan, sampai akhirnya undur diri saat malam semakin larut.

"Kalau Gusti butuh apa-apa, panggil saja Nyai," katanya sebelum menutup pintu. 

"Sekecil apa pun itu."

Ratri hanya mengangguk, tak sanggup menjawab lebih dari itu.

Ratri menatap kosong ke arah peti kayu tua di sudut ruangan. Peti peninggalan Arya yang belum pernah ia buka sejak kepulangan jenazahnya.

Setiap kali tangannya mendekat, selalu ada sesuatu yang menahannya. 

Mungkin karena membukanya berarti benar-benar menerima bahwa kakaknya tak akan pernah kembali.

Ratri akhirnya berlutut di depan peti itu, meletakkan tangan di atas kayu yang dingin, tapi tetap tak membukanya. Belum. Ia hanya butuh merasa dekat dengan kakaknya sekali lagi.

"Kenapa harus aku, Kang?" bisiknya ke ruangan kosong. 

"Belum cukup mereka ambil kau dariku? Sekarang mereka mau ambil sisa hidupku juga, buat menikah sama orang yang bikin kau nggak pernah pulang."

Ia teringat satu malam sebelum Arya berangkat ke medan perang terakhirnya. Kakaknya duduk di tepi ranjang ini, menyodorkan sebungkus jajanan pasar kesukaan Ratri.

"Kang, kenapa nggak nyuruh orang aja buat beli?" Ratri pernah bertanya waktu itu, setengah tertawa.

"Karena adikku cuma satu," jawab Arya, mengacak rambutnya. "Kalau Kakang nggak pulang-pulang, siapa lagi yang bakal jagain kamu?"

Waktu itu Ratri hanya tertawa, menganggapnya candaan biasa. Sekarang, kalimat itu terasa seperti pertanda yang baru ia pahami.

Ia masih ingat bagaimana Arya selalu pulang membawa oleh-oleh kecil dari setiap perjalanan dinas, bagaimana kakaknya selalu memastikan Ratri tidur sebelum ia sendiri beristirahat, bagaimana suara tawanya memenuhi seisi rumah setiap kali ia pulang.

Ratri juga ingat, malam sebelum keberangkatan terakhir itu, Arya sempat berhenti di depan pintu kamarnya, menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, "Jaga diri baik-baik, ya, Dik. Kalau ada apa-apa, jangan takut minta tolong sama siapa pun."

Waktu itu Ratri tidak paham kenapa kakaknya berkata seperti itu. Sekarang, ia mulai bertanya-tanya apakah Arya sudah punya firasat sendiri.

Sekarang rumah ini sepi. Dan dua minggu lagi, Ratri juga akan pergi, meninggalkan satu-satunya tempat yang selama ini terasa aman.

Ia menatap peti kayu itu sekali lagi sebelum akhirnya berdiri, merapikan selimutnya sendiri, dan berbaring menatap langit-langit kamar. Tidur tidak kunjung datang meski matanya sudah terasa berat.

"Aku harus bagaimana, Kang?”

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
12 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status