تسجيل الدخولRatri Kirana tak pernah menginginkan ini. Mereka menikahkannya dengan pembunuh kakaknya sendiri. Ratri semula percaya hal itu, sampai mereka menikah, pria yang ditemuinya berbeda dengan rumor. Akhirnya Ratri harus memilih: membenci pria itu dan membalas dendam atau percaya pada cintanya.
عرض المزيد"Gusti Putri, ada utusan dari ibu kota. Kanjeng Adipati memanggil Anda ke sana sekarang juga," ucap Nyai Sekar.
Ratri terdiam sejenak mendengar ucapan dayang istananya itu. Ia melemparkan hasil sulaman di tangannya. Firasat buruk langsung memenuhi dadanya.
Ratri bergegas menuju pendopo. Dyah mengikutinya dari belakang, wajahnya ikut tegang.
Di sana, ia melihat ayahnya berdiri tertegun menatap gulungan surat dengan lambang kerajaan. Wajah sang Adipati terlihat pucat seketika. Utusan yang mengantarkan surat itu berdiri mundur beberapa langkah, tak berani menatap siapa pun.
Ratri melangkah masuk. "Ayah, ada apa?" tanyanya.
Ruangan pendopo terasa lebih sunyi dari biasanya, meski matahari pagi masih bersinar terang di luar.
Adipati Wilatikta menatapnya lama sebelum menjawab. "Perjanjian damai sudah disepakati," katanya dengan suara bergetar. "Kerajaan meminta jaminan. Seorang putri Wilatikta harus dinikahkan dengan panglima perang mereka."
Ratri berdiri tertegun.
"Kau, Ratri. Kau yang mereka minta."
Ratri tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kenapa aku?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Kenapa aku yang harus dikorbankan untuk kesalahan yang bukan aku yang buat?"
"Ratri, dengarkan Ayah dulu—"
"Kakang Arya sudah mati demi kadipaten ini!" potongnya. Air matanya mulai menggenang.
"Sekarang mereka mau ambil aku juga? Belum cukup, Ayah?"
Mendengar nama Arya, wajah sang ayah terlihat sedih. Ia menunduk, menahan tangis.
"Dengan siapa?" tanya Ratri pelan, meski sebagian dirinya sudah takut mendengar jawabannya.
"Jenderal Wira Danurdana," jawab ayahnya akhirnya.
Nama itu membuat Ratri semakin gelisah. Semua orang di Wilatikta tahu nama itu.
Jenderal termuda kerajaan, orang yang pasukannya berdiri di garis depan malam Arya gugur.
"Tidak," Ratri menggeleng cepat. "Aku nggak akan menikah dengan pembunuh kakakku sendiri."
"Ratri Kirana." Suara ayahnya berubah tegas, meski matanya berkaca-kaca. "Ini bukan keinginan Ayah. Ini menyangkut nyawa seluruh rakyat Wilatikta."
Dyah menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak berani bersuara.
Ratri menatap ayahnya lama. Ia marah, tapi juga takut. Ia tahu, kali ini tidak ada ruang untuk menolak.
"Ada cara lain, kan, Ayah?" tanya Ratri, suaranya memelas. "Upeti, atau apa saja selain aku?"
"Ayah sudah coba," jawab sang Adipati pelan.
"Semuanya ditolak. Kita bicarakan nanti, Ratri. Sekarang bukan waktunya."
Ratri menahan diri untuk tidak membantah lebih jauh. Ia berbalik hendak pergi, tapi langkahnya terhenti di depan utusan kerajaan yang masih berdiri dekat pintu.
"Kau kenal jenderal itu?" tanya Ratri tiba-tiba.
Utusan itu terkejut, tapi menjawab jujur. "Saya pernah bertugas di bawah komandonya, Gusti. Beliau tidak seperti yang orang-orang bicarakan di luar sana."
"Lalu seperti apa?"
"Disiplin. Diam. Tidak banyak bicara kecuali perlu." Utusan itu ragu sejenak.
"Tapi saya juga dengar, beliau yang paling keras menentang penyerangan lanjutan ke Wilatikta."
"Kalau begitu kenapa dia yang memimpin pasukan yang membuat kakakku gugur?"
Utusan itu terdiam, tak berani menjawab lebih jauh.
"Itu bukan sesuatu yang saya tahu detailnya, Gusti. Ampuni saya."
"Apa dia tahu aku yang akan dinikahkan dengannya?" tanya Ratri lagi.
"Saya tidak tahu, Gusti. Beliau berangkat lebih dulu dari kami."
Kata-kata itu tidak membuat Ratri lega. Ia semakin bingung harus membenci seperti apa.
Ia mendengus pelan, lalu melangkah pergi menuju kamarnya sendiri.
Di ambang pintu pendopo, ia sempat menoleh sekali. Ayahnya masih berdiri di tempat yang sama, menatap gulungan surat di tangannya. Dyah masih menutup mulutnya sendiri di sudut ruangan, matanya penuh air mata yang ia tahan.
Ratri buru-buru memalingkan wajah, lalu melangkah cepat menuju kamarnya.
Malam itu, Nyai Sekar datang membawa air minum, tapi Ratri tidak menyentuhnya sama sekali.
"Gusti," kata Nyai Sekar, duduk di tepi ranjang. "Menangis saja kalau memang perlu."
"Aku nggak mau nangis, Nyai," jawab Ratri, suaranya datar menahan getar. "Kalau aku mulai nangis sekarang, aku takut nggak bisa berhenti sampai dua minggu lagi."
Nyai Sekar tidak memaksa. Ia hanya duduk diam menemani, sesekali membetulkan selimut yang berantakan, sampai akhirnya undur diri saat malam semakin larut.
"Kalau Gusti butuh apa-apa, panggil saja Nyai," katanya sebelum menutup pintu.
"Sekecil apa pun itu."
Ratri hanya mengangguk, tak sanggup menjawab lebih dari itu.
Ratri menatap kosong ke arah peti kayu tua di sudut ruangan. Peti peninggalan Arya yang belum pernah ia buka sejak kepulangan jenazahnya.
Setiap kali tangannya mendekat, selalu ada sesuatu yang menahannya.
Mungkin karena membukanya berarti benar-benar menerima bahwa kakaknya tak akan pernah kembali.
Ratri akhirnya berlutut di depan peti itu, meletakkan tangan di atas kayu yang dingin, tapi tetap tak membukanya. Belum. Ia hanya butuh merasa dekat dengan kakaknya sekali lagi.
"Kenapa harus aku, Kang?" bisiknya ke ruangan kosong.
"Belum cukup mereka ambil kau dariku? Sekarang mereka mau ambil sisa hidupku juga, buat menikah sama orang yang bikin kau nggak pernah pulang."
Ia teringat satu malam sebelum Arya berangkat ke medan perang terakhirnya. Kakaknya duduk di tepi ranjang ini, menyodorkan sebungkus jajanan pasar kesukaan Ratri.
"Kang, kenapa nggak nyuruh orang aja buat beli?" Ratri pernah bertanya waktu itu, setengah tertawa.
"Karena adikku cuma satu," jawab Arya, mengacak rambutnya. "Kalau Kakang nggak pulang-pulang, siapa lagi yang bakal jagain kamu?"
Waktu itu Ratri hanya tertawa, menganggapnya candaan biasa. Sekarang, kalimat itu terasa seperti pertanda yang baru ia pahami.
Ia masih ingat bagaimana Arya selalu pulang membawa oleh-oleh kecil dari setiap perjalanan dinas, bagaimana kakaknya selalu memastikan Ratri tidur sebelum ia sendiri beristirahat, bagaimana suara tawanya memenuhi seisi rumah setiap kali ia pulang.
Ratri juga ingat, malam sebelum keberangkatan terakhir itu, Arya sempat berhenti di depan pintu kamarnya, menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, "Jaga diri baik-baik, ya, Dik. Kalau ada apa-apa, jangan takut minta tolong sama siapa pun."
Waktu itu Ratri tidak paham kenapa kakaknya berkata seperti itu. Sekarang, ia mulai bertanya-tanya apakah Arya sudah punya firasat sendiri.
Sekarang rumah ini sepi. Dan dua minggu lagi, Ratri juga akan pergi, meninggalkan satu-satunya tempat yang selama ini terasa aman.
Ia menatap peti kayu itu sekali lagi sebelum akhirnya berdiri, merapikan selimutnya sendiri, dan berbaring menatap langit-langit kamar. Tidur tidak kunjung datang meski matanya sudah terasa berat.
"Aku harus bagaimana, Kang?”
Ratri buru-buru nyalain lilin di meja deket ranjang, tangannya sedikit gemeteran. Ketukan itu kedengeran lagi, kali ini lebih pelan, kayak orangnya juga waspada.Dia deketin jendela hati-hati, jantungnya berdegup kenceng banget. Begitu dia buka tirai dikit, yang keliatan cuma bayangan gelap yang buru-buru ngelompat turun dari atap paviliun sebelah, terus ilang di balik kegelapan taman."Ada apa?" suara Wira dari pintu, udah setengah lari, pedang di tangan. Ternyata kamarnya emang deket, dan dia denger suara berisik dari kamar Ratri."Ada... ada orang di jendela," Ratri jawab, suaranya masih gemeteran. "Aku liat bayangan, tapi keburu kabur."Wira langsung ke jendela, natap ke arah taman gelap di bawah. Nggak ada apa-apa lagi di situ, cuma daun-daun yang bergoyang ketiup angin."Tunggu di sini," katanya tegas, terus keluar manggil beberapa penjaga.Malam itu penjagaan diperketat di seluruh kompleks kediaman. Wira sendiri yang mimpin pengecekan sampai subuh, meski nggak ketemu apa-apa se
"Nggak lama," Ratri jawab cepet, kelewat cepet buat kedengeran meyakinkan. "Baru mau lewat aja, mau ke ruang makan."Wira natapnya lama, kayak lagi nimbang mau percaya apa nggak. Tapi akhirnya dia cuma ngangguk pelan, ngelangkah minggir dari pintu."Kalau gitu, ayo," katanya, suaranya udah balik netral kayak biasa. "Makan malam udah siap."Di belakangnya, Kapten Segara masih berdiri kaku, buru-buru ngangguk hormat ke arah Ratri sebelum ngeloyor pergi lewat pintu satunya, jelas pengen ngindarin situasi canggung itu secepat mungkin.Ratri jalan di samping Wira menuju ruang makan, tapi kepalanya masih penuh sama potongan-potongan obrolan yang baru aja dia denger. Catatan itu. Jangan sampai dia tau. Belum saatnya.Ruang makan malam itu udah ditata rapi, lilin-lilin kecil nyala di sepanjang meja panjang, meski cuma mereka berdua yang bakal makan di situ. Bi Rahayu udah nyiapin beberapa hidangan, uapnya masih ngepul, aroma rempah-rempah khas Cakrawijaya yang belum pernah Ratri cium sebelumn
Ratri jalan balik ke kamarnya sendirian, soalnya dia nolak ditemenin sama Ki Bramantyo yang keliatan masih gugup abis kejadian tadi.Sepanjang jalan, dia berusaha nyusun ulang kejadian di kepalanya. Kenapa ada nama Arya di catatan Ki Bramantyo? Kenapa lelaki tua itu segitu takutnya sampai nutupin gulungan itu buru-buru? Dan kenapa dia bilang harus Wira sendiri yang cerita, bukan dia?Kepalanya penuh. Satu kata doang, "Arya", tapi cukup buat bikin seluruh badannya kerasa dingin.Dia nyampe di kamar, duduk di tepi ranjang yang masih asing, terus natap ke luar jendela tanpa bener-bener liat apa-apa.Pikirannya malah melayang jauh, balik ke Wilatikta, ke masa sebelum semua ini kejadian.Dulu, sebelum perang, rumah mereka selalu rame. Arya paling seneng ganggu Ratri pas lagi nyulam, sengaja narik-narik benangnya sampai kusut cuma buat liat Ratri ngambek."Kang, serius deh, ini udah yang ketiga kali!" Ratri pernah protes, sambil ngelempar bantal ke arah kakaknya.Arya cuma ketawa, nangkep b
Ternyata penyergapan itu udah dibatalin duluan sebelum sempet kejadian.Prajurit yang nyisir jalur depan nemuin bekas perkemahan kosong, abu bekas api unggun yang masih anget, tapi orangnya udah kabur entah ke mana. Kayak mereka tau rombongan bakal ganti jalur, terus milih mundur daripada ketahuan."Mungkin cuma gertakan," kata Wira, meski rahangnya masih tegang sepanjang sisa perjalanan. "Atau mereka emang belum siap nyerang rombongan sebesar ini."Ratri nggak sepenuhnya ngerti apa artinya itu, tapi dia bisa liat Wira jadi lebih waspada dari biasa, matanya nggak berhenti ngawasin tiap sudut hutan yang mereka lewatin.Untungnya, sisa perjalanan berjalan lancar. Nggak ada kejadian aneh lagi sampai akhirnya di hari ketiga, gerbang Kerajaan Cakrawijaya keliatan dari kejauhan.Ratri nempelin wajahnya ke jendela kereta, kagum. Istananya jauh lebih megah dari yang dia bayangin. Menara-menara tinggi berukir emas, taman-taman luas yang tertata rapi, dan penjaga berbaris di sepanjang jalan mas












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.