Chapter: BAB 17: Hadir Tanpa BersuaraBAB 17: Hadir Tanpa BersuaraSejak mengambil alih posisi Direktur Utama Investasi di Vance Group, hari-hari Shena dipenuhi rapat marathon, pemeriksaan berkas, dan penyelesaian akuisisi aset Pratama Group. Gedung kantor lantai lima puluh itu seolah menjadi rumah keduanya.Siang itu, jam sudah menunjukkan pukul dua. Shena masih berkutat di depan layar laptopnya. Berkas analisis risiko menumpuk tinggi di sisi kiri meja. Perutnya sebenarnya sudah lapar sejak sejam lalu, tetapi tumpukan dokumen menahannya untuk sekadar beranjak dari kursi.Pintu ruang kerjanya terketuk dua kali dengan ketukan khas. Adrian melangkah masuk.Pria itu tidak membawa berkas atau laporan kerja. Di tangannya, ada sebuah nampan berisi semangkuk sup ayam hangat, nasi putih, dan secangkir teh chamomile panas."Makan dulu," ujar Adrian santai seraya meletakkan nampan itu di sudut meja Shena yang agak lengang.Shena menengadah, mengusap pelipisnya yang agak pening. "Aku belum pesan makanan, Adrian.""Saya yang pesankan
Terakhir Diperbarui: 2026-09-03
Chapter: BAB 16: Sampel TerakhirMobil SUV hitam yang membawa Shena dan Arka perlahan meluncur meninggalkan pelataran parkir kedai es krim. Lampu merah belakangnya menghilang di tikungan jalan, tetapi mata Rendra sama sekali tidak beranjak dari teras luar kedai itu.Di atas meja kayu tempat Arka duduk tadi, sebuah topi koki mainan berwarna biru tertinggal begitu saja.Jantung Rendra berdegup kencang. Dalam hitungan detik, seluruh rasa malu, gengsi, dan ketakutan akan kebangkrutannya seolah menguap. Yang tersisa di kepalanya hanyalah benda kecil berwarna biru di atas meja itu.Seorang pelayan berapron merah melangkah mendekati meja membawa nampan dan kain lap. Sebelum tangan pelayan itu menyapu permukaan meja, Rendra sudah bergerak cepat menerobos masuk ke area teras."Tunggu! Jangan dibuang!" seru Rendra setengah berlari.Pelayan itu terkejut, menghentikan gerakannya dengan wajah bingung. "Iya, Pak? Ada apa?"Rendra langsung menyambar topi mainan itu. Dari dalam dompet kulitnya yang tipis, ia menarik dua lembar uang
Terakhir Diperbarui: 2026-09-03
Chapter: BAB 15: Orang AsingRendra tidak langsung pergi setelah dibentak Adrian di depan gerbang.Pria itu memarkir sedannya di seberang jalan, sedikit tersembunyi di bawah rindangnya pohon asam. Dari balik kaca mobil yang agak kusam, Rendra terus menatap ke arah gerbang rumah keluarga Vance.Ancaman Adrian untuk menyita rumah dan memenjarakannya masih bergema di telinga Rendra. Tapi separuh jiwanya masih menolak percaya. Di kepala Rendra, Shena pasti hanya pura-pura jual mahal. Shena hanya sedang memakai Adrian untuk menakut-nakutinya.Aku ini ayahnya Arka. Cinta pertama Shena. Tidak mungkin dia setega itu, bisik Rendra pada dirinya sendiri, mencoba memompa kembali sisa-sisa keberaniannya.Pukul dua siang, gerbang besi tinggi itu perlahan terbuka.Sebuah SUV hitam mewah meluncur keluar dengan pelan. Dari kaca jendela depan yang sedikit terbuka, Rendra bisa melihat Shena duduk di kursi belakang bersama seorang bocah kecil.Arka.Mata Rendra langsung membelalak. Jantungnya berdegup kencang seketika."Shena... Ark
Terakhir Diperbarui: 2026-08-27
Chapter: BAB 14: Bunganya DibuangUang jaminan terakhir dari sisa simpanan pribadinya berhasil mengeluarkan Rendra dari kantor polisi menjelang tengah malam. Pengacaranya menyarankan agar Rendra bersembunyi dan mengamankan sisa aset yang ada.Namun, otak Rendra sudah tidak bisa berpikir rasional lagi.Pikirannya sudah teracuni sepenuhnya oleh ucapan ibunya. Bagi Rendra, fakta bahwa Shena sampai memanggil polisi justru menjadi bukti kuat bahwa wanita itu belum sepenuhnya lupa padanya. Shena hanya sedang emosi. Shena hanya ingin menguji seberapa gigih Rendra akan mengejarnya kembali.Pagi harinya, dengan pakaian yang sudah kembali rapi dan seikat mawar merah segar di tangannya, Rendra berdiri di depan gerbang besi menjulang tinggi milik kediaman megah keluarga Vance di kawasan eksklusif Jakarta Selatan.Gerimis tipis mengguyur Jakarta, membuat udara pagi itu terasa sangat dingin. Namun Rendra tetap berdiri tegap di depan pintu gerbang, mengabaikan tatapan curiga dari dua pengawal berseragam yang berjaga di pos keamanan.
Terakhir Diperbarui: 2026-08-27
Chapter: BAB 13: Harapan SemuTangisan histeris Ibu Ratna mendadak berhenti.Suara sirine bahaya kebangkrutan yang sejak pagi bergaung di kantor Pratama Group seolah lenyap dari kepalanya. Wanita tua itu mengusap air matanya kasar, menatap potongan surat penyitaan dari Vance Group yang berserakan di atas lantai marmer.Matanya membelalak lebar, memancarkan binar aneh yang mendadak muncul di tengah kepanikan."Rendra..." bisik Ibu Ratna. Suaranya yang tadi melengking kini berubah pelan dan memburu.Rendra yang sedang terduduk lesu di lantai, menyandarkan punggungnya pada kaki sofa, mendongak lambat. Wajahnya kusam, matanya merah tanpa sisa wibawa."Apa lagi, Ma? Semuanya sudah selesai," gumam Rendra pasrah. "Besok pagi kantor ini disita. Rumah kita juga menyulul."Ibu Ratna berlutut di hadapan Rendra. Tangan wanita tua itu mencengkeram kedua bahu anaknya erat-erat."Belum selesai! Kita masih punya satu kesempatan emas!"Rendra mengerutkan keningnya. "Kesempatan apa? Bank memblokir rekening kita, investor kabur, dan
Terakhir Diperbarui: 2026-08-04
Chapter: BAB 12: Efek DominoTelepon di atas meja kerja Rendra tidak berhenti berdering sejak pukul delapan pagi.Sekretarisnya, Siska, bolak-balik keluar masuk ruangan dengan wajah pucat dan tumpukan map di pelukannya. Suara dering telepon dari ruang staf di luar terdengar seperti suara sirine bahaya yang tak kunjung padam.Rendra duduk di kursi kebesarannya dengan dasi yang sudah melar dan lengan kemeja tergulung acak-acakan. Matanya merah, menatap layar komputer yang menampilkan grafik pergerakan saham dan laporan keuangan perusahaannya yang merosot tajam."Pak Rendra... Pak Surya dari PT Nusa Indah di telepon," ucap Siska bergetar, berdiri ragu di ambang pintu.Rendra langsung meraih gagang telepon di mejanya. "Halo, Pak Surya! Mengenai rencana investasi sepuluh miliar untuk proyek perumahan minggu depan...""Maaf, Pak Rendra," potong suara di ujung telepon dengan nada dingin. "Saya menelepon untuk memberitahukan bahwa pihak kami membatalkan seluruh kerja sama tersebut."Dada Rendra mendadak sesak. "T-tapi Pa
Terakhir Diperbarui: 2026-08-04