LOGINBlaire berpikir dia bisa melupakan kebodohannya malam itu, ketika ia tanpa sengaja tidur dengan pria asing. Namun, sialnya, esok harinya ia justru bertemu kembali dengan pria itu ... yang mana adalah kakak tirinya yang baru.
View More“Blaire, kau sepertinya butuh bantuan,” ucap suara familier itu. Blaire mengenali pria itu sebagai kakkak sahabatnya. “Ayolah. Apakah kau akan pergi sebelum bersenang-senang denganku?”
Blaire menggelengkan kepala, mencoba fokus. Kesadarannya nyaris menguap sepenuhnya, dan sialnya, dia mulai merasakan reaksi aneh pada tubuhnya. Rasa gerah yang mendesak, rasa haus tetapi bukan di tenggorokan.
Malam ini, ia memang minum beberapa gelas alkohol untuk pesta perpisahan dirinya dan teman-temannya. Dirinya akan pindah, mengikuti sang ibu yang menikah lagi dan ingin membawanya serta.
Ini bukan kali pertama ia minum minuman keras, tapi baru kali ini tubuhnya bereaksi demikian.
“Tidak,” tolak Blaire. Ia mencoba menepis tangan laki-laki itu. “Lepaskan aku….”
“Masih saja jual mahal.” Terdengar laki-laki itu mencemooh. Tiba-tiba ia mendorong Blaire ke dinding. “Padahal Ella sudah menaruh obat itu. Tapi kenapa kau masih menolakku, huh?”
Jantung Blaire seperti berhenti berdetak. “Ella? Obat?” gumamnya.
“Ya. Sahabatmu itu–bahkan semua temanmu–ingin memberikan kenangan terindah untukmu sebelum kau pergi.”
“Tidak–”
“Semua karena kau merebut pria yang disukai Ella. Kau ingat?”
Blaire menggeleng, menolak percaya sahabatnya tega melakukan itu.
Ia bahkan tidak pernah merebut siapa pun. Pria yang dimaksud memang menyatakan cinta pada Blaire beberapa tahun lalu, tapi Blaire langsung menolaknya!
Kenapa teman-temannya setega itu?
“Sekarang, menurutlah dan–argh!”
Entah dengan kekuatan dari mana, Blaire mendorong pria itu menjauh, kemudian menendang selangkangan laki-laki itu.
Meski oleng, Blaire mencoba berlari. Pandangannya mulai kabur saat ia tiba-tiba menabrak sesuatu. Keras. Tubuh itu tinggi dan tegap. Dia mencoba mendongak, tetapi sulit menjernihkan pandangan.
Aroma maskulin yang khas menggelitik hidungnya. Terasa sedikit familier.
Kaki Blaire akhirnya menyerah. Namun, sebelum dia benar-benar jatuh menghantam lantai, sebuah tangan kekar lebih dulu memeluk pinggang rampingnya. Erat. Tubuhnya lantas disentakkan, merapat pada tubuh tegap itu.
“Tolong ... tolong aku ....” Dia memohon setengah merintih. Rasa tak nyaman itu mulai terasa menyiksa. Anehnya, saat kulitnya bersentuhan dengan kulit laki-laki asing ini, rasa panas itu seakan terpadamkan meski hanya untuk sesaat.
“Shit.” Terdengar seorang laki-laki mengumpat. Laki-laki tadi rupanya berhasil menyusul, tetapi dia mengurungkan niat saat melihat Blaire telah ada di pelukan laki-laki lain.
Hidung Blaire mulai mengendus-endus aroma tubuh itu. Kedua tangannya yang ada di dada bidang laki-laki itu pun mulai meremas-remas kecil permukaan keras sekaligus empuk.
Namun, kedua tangannya mendadak ditangkap dan sedikit ditekan. “Jangan bermain-main denganku.” Kemudian, suara serak dan garang itu mengalun pelan, tetapi cukup berbahaya.
Blaire mencoba membuka kedua mata indahnya, tetapi benar-benar terasa berat. “Panas ....” Tangannya mulai menarik-narik bagian leher dress-nya sendiri. “Aku tidak tahan.”
Wajah laki-laki itu mengeras. Tampak sorot matanya pun menajam. Berbahaya.
“Aku tidak akan membantumu.” Kali ini, nadanya lebih tegas.
Blaire membuka kedua matanya lebih lebar. “Kumohon .... Ada yang memasukkan sesuatu ke minumanku.” Kesadarannya masih hilang timbul, dan akal sehatnya masih sedikit berfungsi di tengah desakan asing yang menuntut.
“Bukan urusan–”
Kedua mata laki-laki itu membola saat Blaire tiba-tiba mencium bibirnya. Ciuman singkat, sebelum Blaire kehilangan kesadaran.
Laki-laki asing itu mengumpat kasar begitu tubuh Blaire lunglai di dalam pelukannya, sumpah serapah langsung beruntun keluar dari mulutnya. Tanpa berkata apa pun, dia segera menggendong tubuh Blaire dengan gaya bridal. Membawanya pergi dari sana.
Niatnya baik, ingin membawa perempuan mabuk itu ke hotel terdekat dan akan meninggalkannya di sana.
Namun, niat baik itu tidak sejalan dengan apa yang terjadi. Begitu tiba di kamar di sebuah hotel terdekat, tubuh Blaire diletakkan di ranjang. Saat laki-laki itu sedikit lengah karena hendak membetulkan kaki Blaire, dua tangan tiba-tiba saja menjerat lehernya lalu menarik tubuhnya. Dia yang memang tidak menduga akan tindakan itu, berakhir jatuh oleng ke ranjang.
Blaire segera naik ke tubuh laki-laki itu. Kedua kakinya menekan permukaan ranjang, mengangkang tepat di pinggang laki-laki itu. Kedua tangannya pun menekan kedua tangan laki-laki itu yang jelas berusaha berontak.
“Cium aku,” kata Blaire. Desakan itu sudah tak tertahankan lagi sampai rasanya dia akan menjadi gila.
Laki-laki itu mencoba mendorong lagi. Namun, Blaire menjatuhkan tubuhnya sehingga menindih tubuh laki-laki itu.
Dalam gerakan singkat, Blaire menggigit jakun laki-laki itu.
Sontak dua tangan segera mendorong pundaknya kasar. Gigitan terlepas. Laki-laki itu mencoba bangkit duduk sekaligus mendorong tubuh Blaire. Namun, posisi Blaire masih berada di atasnya.
“Kau galak sekali. Kau tidak mampu menghabiskan malam denganku, ya?” gumam Blaire.
“Hati-hati dengan mulutmu!” peringat laki-laki itu tajam.
“Mulutku?” Blaire tertawa singkat. “Mulutku bisa jadi lawan mulutmu ...” Dia meracau dengan telunjuk menyentuh bibir tebal laki-laki di depannya.
“Akan kuajari kau sesuatu agar kau tidak lagi berbicara sembarangan!”
Kemudian, laki-laki itu meraih tengkuk Blaire, menekannya, dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman terburu-buru. Laki-laki itu yang memimpin, membungkam bibir Blaire secara penuh.
“Hmmmppthh ....”
Bukannya merasa takut, Blaire malah meloloskan desahan rendah. Seolah hal ini sudah ditunggunya sejak tadi.
Ciuman makin intens dan memanas. Lidah laki-laki itu menerobos masuk usai diberi akses secara sukarela oleh Blaire. Lidah mereka saling membelit. Decap basah dari lidah yang beradu terdengar memenuhi ruangan, sesekali diselingi desahan rendah yang lolos dari mulut Blaire.
Pukulan halus dari Blaire di dadanya membuat laki-laki itu menghentikan ciuman. Tampak Blaire bernapas pendek-pendek untuk mengisi paru-parunya.
Ciuman yang luar biasa.
Tatapan laki-laki itu pun teralih pada bibir bengkak Blaire yang tampak makin menggoda. Sial sekali. Kewarasannya yang tadi terjaga dengan baik, mulai goyah setelah melihat tampilan berantakan perempuan di atasnya yang justru tampak seksi. Apalagi dua gundukan yang menyembul dari balik dress berkerah rendah.
Sangat menggoda untuk disentuh.
“Jangan menyalahkanku karena kau yang lebih dulu memulai,” kata laki-laki itu di sela napas yang berembus kasar.
Keributan kecil yang terjadi di meja mereka jelas mulai menarik perhatian beberapa pengunjung kafe dan staf yang ada di sekitar sana. Tatapan-tatapan penasaran mulai tertuju pada mereka, dan Blaire merasa sangat, sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian atas drama picisan seperti ini.“Fine! Tunggu aku membereskan barang-barangku dulu!” kata Blaire pada akhirnya. Dia menyerah kalah, mengalah secara terpaksa demi menghentikan kegilaan ini meski dadanya bergemuruh menahan kekesalan yang membakar.Axelo tampak sangat kaget mendengar ucapan pasrah dari perempuan itu. “Blaire, kau tidak harus—”“Axelo, maafkan aku. Tapi aku memang harus pulang sekarang juga,” sela Blaire memotong ucapan Axelo. Dia sengaja menekankan dua kata terakhirnya sembari melemparkan tatapan penuh penyesalan pada laki-laki itu.“Ah... okay kalau memang begitu...” Axelo menghela napas pasrah, mendadak bingung dan kehilangan kata-kata harus bereaksi seperti apa lagi.Set
Axelo memilih sebuah kafe yang lokasinya terbilang cukup jauh dari area lingkungan kampus. Namun, begitu mereka sampai, pilihan tempatnya terbukti sangat luar biasa. Kafe tersebut mengusung gaya estetika retro yang hangat, dengan letak bangunan yang persis berada di tepi jembatan kota. Dengan kata lain, salah satu sisi kafe yang berdinding kaca transparan itu menyajikan pemandangan spektakuler berupa hamparan sungai jernih yang airnya mengalir deras di bawah terpaan sinar sore.Sesuai dengan agenda awal mereka, begitu berhasil mendapatkan meja kosong yang nyaman di sudut ruangan, berbagai peralatan belajar langsung dikeluarkan dari dalam tas. Untungnya, permukaan meja kayu tempat mereka duduk cukup lebar dan lapang, sehingga mereka bisa leluasa menata MacBook, buku-buku referensi tebal, buku catatan, pulpen, dan barang lainnya. Tentu saja, sebelum mulai sibuk, Blaire dan Axelo sudah lebih dulu memesan beberapa menu makanan ringan dan minuman hangat.Seharusnya, agenda
Blaire mengangguk setuju. “Boleh. Perutku juga belum terisi dari tadi pagi.”Atas ide tersebut, keduanya segera membereskan sisa barang di meja dan melangkah meninggalkan keheningan perpustakaan. Begitu memijak koridor luar, mereka mulai mengobrol dengan lebih bebas dan santai sembari berjalan berdampingan menuju kafetaria kampus.Sejujurnya, Blaire tergolong jarang sekali menyantap sarapan di area kampus. Dia jauh lebih terbiasa makan di rumah sebelum berangkat. Namun, karena pagi ini dia sengaja melewatkan ritual sarapan keluarga akibat suasana hatinya yang memburuk, keputusan untuk menyantap sarapan bersama Axelo rasanya bukan ide yang buruk sama sekali.Tak berapa lama, mereka telah duduk berhadapan di salah satu meja kosong di sudut kafetaria. Di hadapan masing-masing sudah tersedia menu sarapan hangat beserta minuman yang tadi mereka pesan. Tanpa banyak mengulur waktu, mereka mulai menikmati makanan tersebut.“Sepertinya semester ini kita bakal makin dipadatkan sama tugas-tugas
Pagi ini cuaca kota sedang amat cerah. Langit membentang bak kain biru bersih tanpa cela, hanya dihiasi segelintir gumpalan awan putih tipis yang berarak perlahan terdorong angin. Matahari menyiramkan sinar hangatnya, yang lambat laun beranjak kian terik seiring detik yang bergerak menuju siang. Di atas sana, gerombolan burung gereja sesekali terbang melintas membentuk formasi, bersahut-sahutan di antara pepohonan kampus. Dari kejauhan, deru lalu lintas jalan raya dan riuk rendah hiruk-pikuk perkotaan menyajikan ritme pemandangan yang teramat biasa bagi siapa pun yang melintas.Namun, Blaire kembali gagal memulai harinya dengan suasana hati yang baik.Kejadian serba canggung dan kacau semalam benar-benar memengaruhi kewarasannya. Bayangan-bayangan yang seharusnya tidak hadir terus berputar tanpa permisi di kepalanya, memburu hingga ke sela-sela napas. Untuk alasan itu pula, pagi ini dia sengaja melewatkan sarapan di meja makan rumah, sengaja menghindari tatapan siapa pun, dan memilih
Gema musik bas dari lantai bawah samar-samar masih merambat naik melalui pilar-pilar beton rumah megah ini, mengetuk dinding kamarnya bagai detak jantung monster yang tak kunjung tidur. Seharusnya malam ini Blaire masih berada di sana, berdiri di bawah guyuran cahaya lampu kristal, memegang gelas s
Blaire tak menyangka bahwa hidupnya akan mengalami perubahan drastis untuk kedua kalinya. Pertama, setelah ayah kandungnya meninggal yang merupakan titik balik hidupnya. Kedua, setelah kabar pernikahan ibunya dengan ayah tirinya ada di depan mata.Blaire bukan tak mendukung pernikahan ibunya, hanya
Suasana meja makan terasa lebih mendebarkan pagi itu. Agenda sarapan yang harusnya berlalu dengan kehangatan, mendadak berubah arah sesaat setelah Marcel bersuara.“Ben, Blaire, ada yang ingin Dad katakan pada kalian. Mungkin sebelumnya kalian sudah mendengar ini, baik dari Dad atau Mom. Dad hanya
Setelah melalui banyak drama pagi ini, akhirnya Blaire bisa tiba di sebuah rumah megah. Taksi yang mengantarnya berhenti dengan mulus di depan gerbang. Kemudian, Blaire turun dari mobil dan segera melangkah cepat.Ini bukan rumahnya atau rumah ibunya, melainkan rumah calon suami baru ibunya. Alias,


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.