LOGINNabila, seorang bidan yang juga asisten dokter obgyn, tiba-tiba mendapatkan kabar bahwa ia akan dijodohkan. Siapa sangka ternyata laki-laki yang dijodohkan dengannya adalah atasannya sendiri. Hari-hari yang ia lalui di tempat kerja sebelumnya berjalan seperti biasa, namun kini malah berdebar-debar. kemudian, sekelumit permasalahan pun muncul di saat menuju hari sakral itu.
View More“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.
“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain. Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kikuk. Ia hanyalah seorang bidan yang kebetulan menjadi asisten Fahmi, dokter obgyn yang terkenal ramah, lembut, gagah, dan tampan, di poli kandungan. “Hus kalian ini,” ujar Nabila sambil memberi isyarat kepada rekannya untuk tidak melanjutkan obrolan itu. “Nab, tanyain dong sama dokter Fahmi, beliau pakai parfum merk apa, kok wanginya bisa bikin semua orang jatuh cinta,” sahut Isti, salah satu rekan bidan Nabila. “Eh, nggak berani aku, itu kan privasi. Gak ada urusannya sama pekerjaan,” tolak Nabila sambil menggelengkan kepalanya. “Ayolah, Nab. Cuma kamu nih yang paling dekat sama dokter Fahmi,” pinta Isti lagi, ia bahkan memasang wajah memelas. “Kan kalau gak bisa dapetin dokter Fahmi, seenggaknya bisa dapet wanginya tiap hari kalau tahu parfumnya.” “Ih iya, Nab … coba tanyain dong,” pinta perawat yang lain. Nabila menghela napas. Selama ini, ia sama sekali tak pernah mengobrol masalah lain di luar urusan pekerjaan dengan Fahmi. Bukan hanya karena merasa sungkan, tapi juga karena Nabila ingin menjaga batasan profesional. Pun dengan Fahmi. Dokter Obgyn menawan itu bahkan juga termasuk dokter yang sangat menjaga batasan, apalagi dengan wanita. Sebenarnya, sudah banyak yang menanyakan merk parfum milik dokter tampan itu. Hanya saja, Fahmi selalu menjawab dengan kalimat yang sama, yaitu ‘Umroh dulu dengan Malik Tour supaya bisa beli parfumnya’. Itu adalah salah satu trik marketing sang dokter juga untuk bisnis travel yang ia miliki. Sudah tampan, mapan, menawan, dan kuat iman pula. Pantas saja semua orang jatuh hati padanya. “Ish, iya … iya, nanti kalau ada kesempatan aku tanyain,” jawab Nabila dengan pasrah. Beberapa menit berlalu dengan obrolan panjang lebar mereka. Sampai akhirnya, pintu ruang jaga dibuka. Ketika semua orang menatap ke arah pintu, mereka langsung sigap penuh hormat. Di sana, Fahmi yang sedari tadi mereka bicarakan berdiri dengan jas dokter yang membalut tubuh tegapnya. “Pagi, Dok,” sapa para perawat dan bidan. “Pagi,” balas Fahmi singkat dengan senyum ramahnya, lalu pandangannya beralih pada Nabila yang berdiri di dekat meja kerja paling ujung. “Nabila, ikut saya visit.” Mendapati instruksi dari atasannya yang tiba-tiba itu membuat Nabila kaget. Pekerjaan belum selesai masih cukup banyak data yang menumpuk di sebelah laptopnya. Lagi pula tumben sekali Fahmi mengajaknya visit, biasanya cukup dengan bidan dan perawat yang berjaga di instalasi saja. “B–Baik, Dok,” jawab Nabila akhirnya. Melihat Fahmi yang sudah menarik handle pintu, buru-buru Nabila mengklik tombol simpan dan berjalan mengekori atasannya. Ketika mereka berjalan beriringan di koridor, jelas langsung mencuri perhatian. Pesona Fahmi benar-benar tidak bisa diragukan. Begitu tiba di instalasi kebidanan dan kandungan, Fahmi langsung mendatangi ranjang salah satu pasien yang baru saja melahirkan secara sesar. Nabila, jelas langsung mengikutinya. “Selamat pagi, Bu. Pagi ini apa yang dirasa?” tanya Fahmi sambil mulai memeriksa si pasien. “Pagi, Dok. Rasanya biasa aja, Dok. Gak ada yang sakit,” jawab si pasien sambil tersenyum ramah. “Syukurlah kalau begitu. Obatnya jangan lupa diminum yaa.” Fahmi mengingatkan dengan ramah. “Siap, Dokter. Ngomong-ngomong dokter Fahmi sama Bu Bidan ini kelihatan serasi ya ternyata. Apa jangan-jangan, kalian memang pasangan?” Kalimat itu seketika membuat Nabila yang sejak tadi fokus pada catatan rekam medis di tangannya langsung membeku. Ia mengangkat wajahnya, lalu melirik Fahmi sekilas. Namun, Fahmi hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi lebih. Hal itu membuat Nabila pun ikut tersenyum kikuk kepada sang pasien. Tak lama, usai berpamitan dari ruangan itu, Nabila dan Fahmi kembali ke ruang poli. Namun, mengingat ada titipan dari rekannya, Nabila akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. “Dok, maaf saya mau tanya sesuatu, tapi sebenarnya ini pertanyaan titipan dari teman-teman,” kata Nabila dengan sedikit keraguan. “Tanya apa?” Fahmi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nabila. “Anu … Ehm, parfum dokter mereknya apa ya?” Nabila memberanikan diri untuk menatap Fahmi sejenak. Fahmi tersenyum tipis, lalu menjawab, “Parfum saya belinya di Mekah, nggak ada yang jual di sini. Kalau mau beli, ikut umroh sama Malik Tour aja, nanti diarahin ke tokonya.” Sekali lagi, jawabannya dengan marketing terselubung. Tapi, justru ini yang membuat Fahmi tampak berbeda dengan dokter tampan lainnya. Sifat Fahmi yang cenderung hangat dan kadang juga bisa sedikit diajak bercanda, tentu saja membuat semua betah dengannya. Namun bagi Nabila, justru hal itu yang membuat Fahmi terasa lebih sulit digapai. “Ah begitu ya … Nanti saya sampaikan ke teman-teman yang lain ya, Dok. Kalau begitu, saya permisi, Dok. Saya ada jadwal konsultasi dengan pasien.” Usai mengucapkan hal itu, Nabila langsung pergi meninggalkan Fahmi. ** Tak terasa waktu berjalan cepat. Kini, Nabila baru saja tiba di rumah. Namun, begitu menginjakkan kaki di ruang tengah, Nabila langsung disuguhkan dengan pemandangan kedua orang tuanya yang tampak sedang berdiskusi serius. “Nah, pulang juga kamu. Sini, Papa mau ngobrol dulu,” ujar Khairul, papa Nabila. “Ada apa, Pa?” Nabila yang masih menenteng tasnya di pundak langsung mengambil tempat di samping ibunya. “Jadi, kemarin itu kan Papa habis reuni sama temen-temen SMA, terus Papa ketemu sama temen deket Papa itu, namanya Abdul,” kata Khairul dengan antusias. Lalu, ia melanjutkan, “Nah, terus dia ngajak besanan sama Papa.” Mendengar penjelasan itu, Nabila sedikit terlonjak. “Aku dijodohin gitu maksudnya?” Farida, mama Nabila langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Iya, kamu mau, kan? Anaknya Om Abdul itu dokter loh, ganteng pula. Nih, ada CV-nya.” Nabila meraih map yang disodorkan oleh ibunya dengan perasaan aneh. Begitu ia membuka map itu dan melihat satu pas foto yang ada di lembar pertama, Nabila langsung membelalakkan matanya lebar-lebar. “Dokter Fahmi?!“Aamiin…” Nabila mengaminkan ucapan yang berisi harapan tersebut. Ia tak menyanggah dengan pertanyaan, kenapa tidak melakukan ANC sendiri saja, toh bisa menghemat biaya, tidak perlu ke dokter obgyn lain. Namun, ia mengerti maksud sang suami. Fahmi mengubah sudut pandangnya sebagai pasien. Ia ingin merasakan hal itu bersama sang istri. Bagaimana rasanya melakukan pemeriksaan kehamilan, mendengar penjelasan dokter tentang kesehatan ibu dan janin. Meskipun, nanti ia juga tahu penjelasan tersebut. Sebuah pemikiran pun terlintas di benak Nabila. “Mas, apa nggak bakalan grogi, dokter obgyn periksa kehamilan istrinya ke obgyn lain?” Fahmi tersenyum tipis. Ada benarnya pertanyaan sang istri. Juga terkesan seperti mengetes kemampuan sesama sejawat. “Betul juga pertanyaan kamu, nanti Mas pertimbangkan lagi, mau ANC sendiri atau ke dokter lain,” jawabnya dengan tenang. Nabila mengangguk. Ia mengikuti saja apa yang dikatakan sang suami. “Mas mau
Nabila menyadari gerak-gerik sang suami yang terlihat tidak seperti biasa. Tiba-tiba sekali, padahal baru saja mereka berlaku seperti biasanya, bercanda, mengobrol, dan saling menggoda. Dokter obgyn tampan itu nampak berhenti sejenak, matanya tertuju pada sebuah meja yang ditempati oleh dua orang perempuan. Letak meja itu tak jauh dari tempat yang dipilih Nabila. Satu perempuan tersebut Nabila kenali, namun satunya lagi terasa familiar. Kania duduk berhadapan dengan Marsha, posisinya pas sekali untuk dapat bertemu pandang dengan Fahmi yang tengah berdiri tak jauh darinya. Matanya pun langsung tertuju pada teman suaminya itu, sama-sama saling berpandangan. Fahmi tak dapat menghindar dari pandangan Kania, namun ia bisa bersikap seolah tak peduli dengan kehadiran dua perempuan yang sama-sama mencintai Rafli. Setelah antara mata Fahmi dan Kania saling bertemu, Fahmi langsung bergerak lagi seolah tak terjadi apa-apa. Ia langsung meletakkan piringnya di atas
Antara rumah sakit dan diri sendiri seperti sudah memiliki ikatan. Kehidupan Fahmi sedari kecil sudah terbiasa dengan gedung tersebut beserta aktivitas di dalamnya. Memiliki orang tua dengan latar belakang seorang tenaga medis tentu saja membuatnya turut menyelam dalam dunia tersebut. Begitu juga dengan Nabila, meskipun berbeda latar belakang dengan keluarga sang suami, ia sendiri juga sudah memiliki ikatan batin pada dunia kesehatan. Meski kedalaman jarak yang ia selami di dunia ini, tak sedalam Fahmi, di dalam hatinya pekerjaan sebagai tenaga kesehatan sudah menyatu dengan jiwa. Saat pertanyaan perawat senior tersebut terdengar oleh telinga mereka, tentu mengundang rasa geli. Tapi, memang diakui, ada rasa rindu pada dunia tersebut. “Ya, dibilang nggak rindu, gimana ya Pak. Antara saya sama rumah sakit itu sudah mendarah daging,” jawab Fahmi dengan tenang. Perawat tersebut tersenyum. Ia sendiri tahu bagaimana anak dari pemilik rumah sakit ini
Marsha telah berlalu, ia berjalan tanpa menoleh ke kiri dan kanan. Pandangannya lurus ke depan. Langkahnya pun terkesan buru-buru, seperti ada yang sedang ditunggunya. Pandangan Fahmi tertuju pada temannya itu, dilihat dari belakang pun ia mengenali sosok tersebut. Matanya kini beralih pandang pada dr. Reza yang berada di hadapannya. Dokter anestesi itu nampak agak bingung dengan tatapan Fahmi. “Jangan sama beliau, Dok.” Ternyata dr. Reza mengerti maksud pandangan Fahmi. Tangannya pun bergerak melambai pertanda ia menolak untuk dijodohkan dengan Marsha. Fahmi tersenyum pada dr. Reza. “Nggak kok, mungkin bisa tanya sama istri saya.” Ia menoleh pada Nabila. “Sayang, kayaknya temen-temen kamu di instalasi banyak yang belum menikah,” ucap Fahmi. Nabila tak begitu mempedulikan ucapan sang suami, ia justru terpaku pada panggilan ‘sayang’ tersebut. Sebetulnya ia sudah cukup terbiasa dengan panggilan itu, namun karena diucapkan di depan orang lain ia
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Nabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali.
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore