Chapter: Bab. 5. PENAWARAN BERSYARATSuara barang pecah berantakan terdengar nyaring dari luar. Pintu depan terbuka. Aris dan Alvin menghentikan langkah secara mendadak di ambang pintu, terpaku melihat ruang tamu rumah mereka yang hancur berantakan. Kursi terguling, vas bunga pecah, dan barang-barang berserakan di lantai. Bagong menggebrak sisa meja kayu yang masih berdiri, berteriak garang. “Gua enggak mau tahu, Bu! Hari ini bunga sama pokoknya harus cair! Kalau enggak ada uangnya, rumah ini gua acak-acak sampai rata!” Di sudut ruangan dekat lemari, Ibu memeluk Mentari erat-erat. Mentari menangis terisak sambil menyembunyikan wajahnya di dada neneknya. “Beri kami waktu Tuan, tolong,“ suara ibu Aris bergetar ketakutan Mata Alvin membelalak, emosi meluap. “Mentari! Ibu!” Alvin langsung menerobos masuk, pasang badan tepat di depan Ibu dan anaknya. “Bagong! Apa-apaan lu, hah?! Jangan berani-berani lu sentuh anak dan ibu gua!” Bagong menoleh, melipat tangan di dada lalu tertawa mengejek “Oho, datang juga
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: Bab 4. Kabar DukaDi tengah tangis Aris dan Alvin yang masih bergemuruh di ruang rawat yang sempit itu, pintu kamar perlahan diketuk. Jaka dan Rahman melangkah masuk dengan ragu. Keduanya masih mengenakan seragam dinas, namun topi pet mereka sudah dilepas, dijepit di bawah ketiak sebagai bentuk penghormatan pada situasi keluarga Aris.Rahman yang melihat Alvin berlutut dengan pakaian lusuh langsung mendekat, menepuk pundak pemuda itu dengan lembut.“Kamu adiknya Aris, ya? Alvin?” sapa Rahman menepuk pundak Alvin.Alvin menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu berdiri dan mengangguk kikuk“Siap, iya, Pak. Saya adiknya Mas Aris.”Jaka tersenyum hangat, menepuk pundak Alvin“Gak usah panggil Pak, panggil Mas Jaka sama Mas Rahman aja. Kita berdua ini abang-abangan Masmu di Polres.”Jaka kemudian melangkah mendekati sisi ranjang Aris. Ia melihat borgol di tangan kiri Aris, lalu menoleh ke luar pintu, memanggil petugas piket klinik yang berjaga di koridor.Jaka setengah berteriak ke arah pint
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: Bab 3. Surat SkorsAKBP Supriadi duduk di kursi kerjanya, membolak-balik berkas laporan setebal beberapa halaman. Suara gesekan kertas terdengar nyaring di ruangan yang kedap suara itu. Ipda Yudha berdiri terpaku di seberang meja, pandangannya lurus ke depan.BRAK!Kapolres menutup map laporan itu dengan sedikit penekanan, tidak sampai menggebrak, namun cukup membuat suasana di ruangan semakin mencengam. Beliau melepas kacamata bacanya, lalu menatap tajam ke arah Yudha.“Yudha. Kamu tahu apa yang saya pegang ini?” suara Komandan bariton diruangan.“Siap. Laporan pengamanan konflik lahan di dermaga kemarin, Komandan.” Menjawab tegas Ipda Yudha.“Bagus kalau kamu tahu. Lalu, bisa kamu jelaskan kepada saya, bagaimana bisa seorang Briptu, anggota di bawah komando langsung kamu, mengokang senjata laras panjang dan menodongkannya ke arah kerumunan warga tanpa ada perintah Flash Ball atau penggunaan kekuatan dari kamu?” Tukas Komandan berang.“Siap, Komandan. Anggota atas nama Briptu Aris mengalami serang
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: Bab 2. Senapan yang BergetarSuara riuh demonstran berteriak saling bersahutan memprotes batas lahan dermaga. Pagar pembatas besi diguncang-guncang oleh massa. Suara ombak menghantam tiang dermaga berbaur dengan teriakan emosional dari kedua belah pihak. IPDA YUDHA bicara melalui megaphone “Harap tenang! Bapak-bapak, Ibu-ibu, harap tenang dan mundur tiga langkah! Tolong jangan lakukan tindakan anarkis!” suara IPDA Yudha tenang melalui megaphone. Di barisan belakang tameng, Aris berdiri dengan tubuh kaku. Matanya melotot, menatap liar ke arah kerumunan massa yang berteriak-teriak. Namun, di dalam kepala Aris, suara teriakan massa perlahan meredup, digantikan oleh dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Suara bising dermaga perlahan teredam,bertransisi menjadi suara gema tawa laki-laki yang berat, bersahutan dengan suara Nisa. “Polisi miskin... Cuma modal seragam tapi gak punya apa-apa. Kasihan.” Suara Juragan Haris tertawa meremehkan tiba tiba mengema ditelinga Aris. “Aku capek hidup susah
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: .Bab. 1. Undangan dari Istana Sawit.Suara langkah kaki sepatu laras (PDL) berderap di atas aspal. Samar-samar terdengar tawa dan obrolan para personel yang bubar apel. Suara peluit lantas di kejauhan.“Ah, beneran gua bilang juga apa! Si Komandan kalau udah pidato perkara disiplin, embun pagi aja sampai kering!” Jaka tertawa lebar, menepuk pundak Rahman.“Biasa, Jak. Efek kopi hitamnya belum turun itu. Eh, tapi bentar...” Rahman ikut terkekeh.Rahman menghentikan langkahnya, menyenggol Jaka dengan siku sambil menunjuk ke arah Aris dengan dagunya.“Tuh, liat. Patung Polres kita masih mode standby di bawah beringin. Kagak gerak dari tadi.”“Lagi nunggu sinyal” ujar mereka kompak sambil menyeringai, berjalan menghampiri Aris.“Woy, Ris! Apel udah bubar, Komandan udah masuk ruangan. Lo masih mau hormat sama pohon beringin?”Aris tidak merespons. Ia bergeming. Detik berikutnya, saku celana PDL Aris bergetar kuat. Bunyi getaran pendek tapi beruntung khas notifikasi pesan masuk memenuhi keheningan di antara mereka.“Na
Last Updated: 2026-08-13