author-banner
Alfa24
Alfa24
Author

Novel-novel oleh Alfa24

Antara janji dan cinta yang tertinggal

Antara janji dan cinta yang tertinggal

Suci dan Putra pernah saling mencintai dalam diam bertahun-tahun lalu. Namun sebelum sempat mengaku, Dina — sahabat Suci — lebih dulu mendekati Putra. Demi persahabatan, Suci mengubur perasaannya dan mundur perlahan. Kini, lima tahun kemudian, Suci kembali ke kota yang sama. Dina dan Putra sudah menikah, namun rumah tangga mereka retak. Suci berjanji menjaga jarak, tapi takdir terus mempertemukan mereka. Saat hati yang tak pernah benar-benar lepas bertemu kembali, mana yang harus dipilih: kesetiaan pada persahabatan, atau cinta yang sempat terputus?
Baca
Chapter: BAB 13: Jejak yang Tak Pernah Pudar
Jangan pernah merasa kita sudah menang sepenuhnya.”Suci berhenti tepat di ujung lorong, punggungnya menjauh dari ruang rawat namun pikirannya tetap tertinggal di sana. Ia menatap lurus ke arah Putra—matanya jernih, tak tergoyahkan oleh ketenangan sesaat yang baru saja tercipta. Putra menyandarkan bahu ke dinding, napasnya teratur namun tatapannya tetap waspada.“Kau merasa ada yang kurang?” tanyanya singkat dan tegas.“Jauh lebih dari sekadar kurang,” jawab Suci cepat. “Dina mengaku lelah, ia menangis sedikit, dan kita merasa lega. Tapi perhatikan matanya—sebelum kita keluar, ia melirik laci meja samping tempat tidur seolah ada sesuatu yang paling berharga tersimpan di sana. Sesuatu yang tak ingin ia diketahui siapa pun.”“Mungkin hanya barang pribadi,” Putra mencoba, namun nada bicaranya menunjukkan ia pun mulai meragukan ucapannya sendiri.“Bukan begitu caranya,” bantah Suci mantap. “Aku mengenal tatapan itu sejak kita remaja. Itu tatapan rahasia yang dijaga mati-matian—hal yang ji
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: BAB 12: Bahaya dalam Keheningan
“Pintu ini tak boleh tertutup rapat lagi.”Suci berhenti tepat di ambang pintu ruang rawat, suaranya tajam, tanpa ragu sedikit pun. Ia menatap Putra dengan sorot mata yang penuh kewaspadaan—tak lagi sekadar rasa cemas, melainkan tekad yang kuat. Putra mengangguk mantap, rahangnya mengeras. Ia mengerti: peringatan Ibu Dina bukan sekadar firasat kosong.“Kita tak boleh terbuai oleh ketenangan yang ia tunjukkan,” sahut Putra rendah namun tegas. “Dia pandai menyembunyikan segalanya—terutama saat merasa paling terpuruk.”Mereka melangkah masuk perlahan. Dina duduk bersandar di bantal, menatap jendela kaca yang membiarkan langit sore tampak kelabu. Sikapnya tenang, terlalu tenang—persis seperti topeng yang selama ini ia pakai rapi. Saat mendengar langkah kaki, kepalanya beralih perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya—namun tak sampai ke matanya.“Kalian kembali cepat sekali,” ucapnya lembut, nada bicaranya halus dan terkontrol. “Ada yang terlupa?”“Hanya ingin memastikan kau tak merasa s
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: BAB 11: Topeng yang Selalu Dia Pakai
“Kau lihat cara dia bicara tadi?”Suci berhenti di lorong yang sama, namun kali ini suaranya lebih tajam, lebih terkontrol. Ia menatap Putra dengan sorot mata yang tak lagi ragu—melainkan penuh keyakinan yang mulai menyatu dengan firasat.“Dia bilang dia tidak tahu arah hidupnya,” lanjutnya tanpa menunggu jawaban. “Tapi yang lebih menggangguku bukan itu. Yang menggangguku adalah cara dia menatap kita—seolah dia sudah menyerah sepenuhnya. Bukan menyerah karena lega, tapi menyerah karena merasa tidak berharga lagi.”Putra menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke dinding lorong yang dingin.“Dina memang selalu begitu. Dulu, saat kita masih bersama… setiap kali ada konflik besar, dia akan diam. Bukan tenang, tapi kosong. Seolah jiwanya sementara pergi meninggalkan tubuhnya.”“Dan kau tidak pernah menanyakan alasannya?” Suci melangkah selangkah lebih dekat, menatapnya dengan tatapan yang menuntut kejujuran penuh. “Kau membiarkannya diam saja?”“Aku pikir itu caranya menenangkan dir
Terakhir Diperbarui: 2026-08-30
Chapter: BAB 10: Di Balik Ketenangan yang Rapuh
“Kau tidak merasa aneh?”Suci berhenti tepat di sudut lorong yang agak teduh, jauh cukup dari jangkauan pendengaran keluarga Dina. Ia menatap lurus ke arah Putra—matanya tajam, tak lagi diselimuti keragu-raguan yang pasif, melainkan penuh kewaspadaan yang tumbuh.“Aneh bagaimana?” Putra berhenti bersamanya, tetap tenang namun siap mendengarkan. “Karena orang tuanya mulai memberi ruang? Atau karena Dina terlihat begitu tegar?”“Terutama Dina,” jawab Suci cepat, suaranya rendah namun jelas. “Dia baru saja terancam nyawanya, napasnya masih terasa berat saat berbicara—tapi tatapannya begitu jernih. Bahkan terlalu tenang. Seolah ada sesuatu yang ditahan rapat-rapat di balik senyum tipis itu.”Putra menghela napas pendek, menoleh ke arah pintu ruangan yang masih tertutup di kejauhan.“Itu bukan kelemahan yang kau lihat, Suci. Itu harga diri. Dina selalu punya cara menampung segalanya sendirian, teringatkah? Dulu ia tak pernah menangis di depan siapa pun meski terluka.”“Tapi ini bukan hal y
Terakhir Diperbarui: 2026-08-28
Chapter: BAB 9: Antara Kasihan dan Kebenaran
“Kita tidak bisa hanya berdiri di sini selamanya.”Suara Putra membelah keheningan lorong rumah sakit yang berbau obat dan dingin. Ia berdiri tegak, rahang tegas, tatapan tak lagi melayang—meski matanya masih menyimpan kelelahan yang dalam. Suci menatapnya, kedua tangannya saling meremas di depan dada.“Lalu apa rencanamu?” tanyanya pelan namun tegas. “Keluarga Dina menatap kita seolah kita pelaku utama. Dan kau lihat sendiri—setiap kata yang keluar dari sana terasa seperti menambah beban napasnya.”“Bukan kata-kata yang melukainya,” jawab Putra cepat, jelas. “Tapi kebohongan yang ia peluk bertahun-tahun. Sekarang luka itu terbuka, berdarah—dan kita tidak boleh lari hanya karena pemandangannya menyakitkan.”“Mudah bagimu bicara,” sahut Suci, suaranya sedikit meninggi namun tetap terkendali. “Kau tidak mendengar nada suara ibunya tadi. Sejak awal kedatanganku di kota ini, seolah setiap langkah yang kuambil membawa dampak buruk. Aku mulai berpikir—mungkin benar apa yang dikatakan banyak
Terakhir Diperbarui: 2026-08-27
Chapter: BAB 8: Bayang yang Kembali Menghantui
“Putra… tunggu, jelaskan! Apa maksudnya kritis lagi?”Suci melompat dari tempat tidur sebelum alas kaki terpasang sempurna, suaranya memecah keheningan pagi yang baru saja mekar hangat. Putra tak menjawab seketika, ponsel masih tergenggam erat di tangan kanannya, wajah pucat seolah darah seketika tersedot habis dari kulitnya. Ia bergerak cepat, tanpa tatapan yang jelas, tanpa napas yang teratur.“Mereka tidak memberi rincian panjang,” jawabnya singkat, namun gemetar hebat. “Hanya bilang segera hadir. Sekarang, Suci.”“Tapi kemarin… dokter bilang dia stabil. Dia bicara padaku! Dia tersenyum!” Suci menghadang langkahnya di ambang pintu, matanya memancarkan kepanikan yang meluap. “Apa kita salah paham? Apa ada hal yang tak diketahui?”Putra menatapnya sejenak—tatapan yang kosong dan penuh ketakutan sekaligus. “Aku tak tahu. Tolong, jangan tanya dulu. Kita harus bergerak.”Di jalan raya, suasana terasa asing. Matahari yang seharusnya menenangkan justru terang benderang tanpa belas kasihan
Terakhir Diperbarui: 2026-08-26
Anda juga akan menyukai
Sunset is Love
Sunset is Love
Romansa · Alfianita
3.5K Dibaca
Love and Lust
Love and Lust
Romansa · Altari
3.5K Dibaca
The Bad Life
The Bad Life
Romansa · Hanabelle
3.5K Dibaca
I Can See Your Destiny
I Can See Your Destiny
Romansa · Bintang Hamal
3.5K Dibaca
Nadira
Nadira
Romansa · Alleira Cahaya Starla
3.5K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status