Chapter: BAB 8: Bayang yang Kembali Menghantui“Putra… tunggu, jelaskan! Apa maksudnya kritis lagi?”Suci melompat dari tempat tidur sebelum alas kaki terpasang sempurna, suaranya memecah keheningan pagi yang baru saja mekar hangat. Putra tak menjawab seketika, ponsel masih tergenggam erat di tangan kanannya, wajah pucat seolah darah seketika tersedot habis dari kulitnya. Ia bergerak cepat, tanpa tatapan yang jelas, tanpa napas yang teratur.“Mereka tidak memberi rincian panjang,” jawabnya singkat, namun gemetar hebat. “Hanya bilang segera hadir. Sekarang, Suci.”“Tapi kemarin… dokter bilang dia stabil. Dia bicara padaku! Dia tersenyum!” Suci menghadang langkahnya di ambang pintu, matanya memancarkan kepanikan yang meluap. “Apa kita salah paham? Apa ada hal yang tak diketahui?”Putra menatapnya sejenak—tatapan yang kosong dan penuh ketakutan sekaligus. “Aku tak tahu. Tolong, jangan tanya dulu. Kita harus bergerak.”Di jalan raya, suasana terasa asing. Matahari yang seharusnya menenangkan justru terang benderang tanpa belas kasihan
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: BAB 7: Cinta yang Akhirnya BeraniDunia seakan runtuh di bawah kaki mereka. Suci melangkah mundur, napasnya tercekat di tenggorokan. "Apa... apa yang kau katakan?""Dina di ruang gawat darurat," ulang Putra, suaranya parau. Ia langsung meraih kunci mobil di meja. "Ayo pergi."Perjalanan menuju rumah sakit terasa seabad panjang. Tak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Hanya suara napas berat dan deru mesin mobil yang membelah jalanan pagi. Suci menatap ke luar jendela, matanya kering namun hatinya hancur berkeping-keping. Apakah bahagia mereka memang harus dibayar dengan nyawa orang lain? Apakah cinta ini sebenarnya kutukan yang menyakiti siapa pun yang tersentuhnya?Sesampainya di rumah sakit, mereka berlari menuju ruang gawat darurat. Di sana, keluarga Dina sudah menunggu dengan wajah pucat. Jam dinding berdetak lambat, seolah setiap detik adalah hukuman. Satu jam terasa seperti selamanya. Hingga pintu akhirnya terbuka dan dokter keluar."Kondisinya sudah stabil," kata dokter. "Dia selamat. Tapi butuh is
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: BAB 6: Antara Harapan dan Rasa BersalahSuci menatap pintu yang baru saja tertutup itu, napasnya tercekat. Dina tadi... tatapannya bukan lagi kemarahan, melainkan kepasrahan yang menyakitkan. Surat itu di tangannya, tanda tangan di bawahnya sudah tertulis rapi. Putra bebas, tapi mengapa rasanya bukan seperti kemenangan?"Kau menyesal?" suara Putra terdengar pelan di belakangnya.Suci berbalik, matanya masih basah. "Aku tak tahu. Aku seharusnya lega, kan? Tapi setiap kali aku teringat wajah Dina tadi... rasanya aku seperti pencuri yang baru saja mengambil apa yang bukan miliknya."Putra melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapannya. "Kau bukan pencuri, Suci. Hati ini sudah lama milikmu, sebelum dia datang merebut waktu kita.""Apakah waktu cukup untuk menentukan siapa yang benar?" tanya Suci lirih. "Dia bersamamu lima tahun. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat, Mas. Bagaimana mungkin aku dengan mudahnya menggantikan semua itu?""Kau tak menggantikan siapa pun," jawab Putra tegas. "Kau melengkapi apa yang sejak awa
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: BAB 5: Badai yang Tak Terhindar"Kita harus ke sana sekarang!" seru Suci, darahnya seakan mendidih karena panik.Mereka berdua berlari menuju parkiran. Putra mengemudi secepat mungkin, wajahnya kaku dan pucat. Suci duduk di sebelahnya, tangannya saling meremas, napasnya tertahan di tenggorokan. Pikiran buruk terus berputar di kepalanya. Kalau sesuatu terjadi pada Dina... aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri.Sesampainya di rumah, pintu terbuka lebar. Ruang tamu berantakan — vas bunga pecah di lantai, bantal bertebaran. Dina duduk di tepi jendela yang terbuka lebar, kakinya menjuntai ke bawah. Matanya bengkak dan merah, menatap kosong ke arah jalanan di bawah."Dina!" panggil Putra lembut, melangkah perlahan mendekat.Dina menoleh, senyum getir terukir di bibirnya. "Kau datang. Demi dia, atau demi aku?""Demi keselamatanmu," jawab Putra berhenti beberapa langkah di depannya. "Turunlah, Dina. Ini bukan jalan keluar.""Jalan keluar?" Dina tertawa, air mata kembali jatuh. "Apa lagi yang tersisa untukku? Suamiku
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: BAB 4: Di Bawah Langit yang SamaSuci melompat berdiri, wajahnya pucat. "Dina... bukan seperti yang kau kira. Ibu sakit, Mas Putra hanya datang membantu.""Membantu?" Dina tertawa getir, matanya basah. "Hanya membantu? Lalu kenapa wajahnya begitu cemas? Kenapa dia yang ada di sini, bukan aku? Bukan kerabat lain? Selalu dia, Suci. Selalu dia!""Dina, tenang dulu," kata Putra melangkah maju, berdiri di antara mereka. "Aku datang karena kebetulan tahu. Tak ada yang perlu kau curigai.""Kebetulan?" Dina menatapnya tajam. "Sejak kapan kebetulan selalu terjadi pada kalian berdua? Dulu kau pergi tanpa pamit, Suci. Sekarang kau kembali, dan semuanya berubah. Aku tak bodoh!""Aku tak bermaksud menyakitimu, Dina," ucap Suci pelan, air mata mulai mengalir. "Aku sungguh tak bermaksud.""Kau tak bermaksud? Tapi kau melakukannya!" Dina berteriak, suaranya menggema di lorong rumah sakit. "Kau datang lagi, membawa semua kenangan yang coba kubangun. Dan dia... dia selalu menunggumu, Suci. Selama lima tahun ini, hatinya tak pernah ben
Last Updated: 2026-07-21
Chapter: BAB 3: Luka yang Terbuka KembaliSuci mundur selangkah, tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku jarinya memutih. "Tolong berhenti, Mas. Ini salah. Semua ini salah."Putra menghela napas panjang, pundaknya merosot pelan. "Kau benar. Maaf." Ia berbalik duduk kembali di kursinya, wajahnya tertutup bayangan lelah. "Kembalilah bekerja. Kita... bicara soal tugas saja mulai sekarang."Suci mengangguk cepat, bergegas keluar ruangan sebelum air matanya jatuh. Sepanjang hari itu, ia tak bisa berkonsentrasi. Setiap kali mendengar suara langkah kaki, jantungnya berdegup tak beraturan. Setiap kali bertatapan mata dengan Putra, ada rasa sakit yang menusuk — rasa bersalah yang tak pernah hilang.Sore itu, saat jam kantor sudah habis, Dina datang lagi. Kali ini wajahnya tak lagi tersenyum manis. Ia berdiri di depan meja Suci, menatapnya tajam."Suci," panggilnya pelan namun tegas. "Bisa bicara sebentar?""Tentu, Kak," jawab Suci, berdiri dan mengikutinya ke sudut lorong yang sepi.Dina menatapnya lama, lalu berkata, "Aku tahu k
Last Updated: 2026-07-21