
Aku Menikah Dengan Pria Yang Seharusnya Membunuhku
Pada malam aku mati, suamiku memelukku sambil berkata... 'Maaf. Kali ini aku tetap harus membunuhmu.' Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Dan kali ini... aku yang akan mencarinya lebih dulu."
Hujan badai menghantam kaca jendela kamar tidur utama dengan beringas. Di atas ranjang berseprai satin merah tua—warna yang kelak menyerupai genangan darah—aku terbujur lemah. Napasku tersengal, berat, dan berbau logam amis. Racun itu bekerja dengan sangat cepat, melumpuhkan setiap jengkal saraf di tubuhku.
Sosok pria berjas hitam legam itu berdiri tepat di atasku. Wajahnya yang rupawan, pahatan rahang yang tegas, serta sepasang mata kelam yang biasanya memancarkan kehangatan, kini terlihat dingin tanpa jiwa. Namun, di balik kengerian itu, aku melihat kilat keraguan yang teramat tipis.
Tangan dinginnya membelai leherku, seolah memastikan nadi terakhirku berhenti berdetak.
"Kenapa..." suaraku tercekat, nyaris tak terdengar di antara deru guntur.
Ia mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat yang meremukkan sisa kewarasanku sebelum gelap total merenggut kesadaranku.
Lalu... semuanya sunyi.
Baca
Chapter: BAB 13: PAVILIUN TIMUR YANG TERKUNCITok. Tok. Tok."Clara? Buka, Nak... Ini Ibu... Ibu Olivia mau minta maaf..."Suara itu... suara Olivia Hartono. Parau, serak, dan dibuat-buat sesenggukan.Tapi tadi aku jelas melihat dengan mata kepalaku sendiri dua bodyguard Sterling menyeret Olivia dan Selena ke mobil hitam di gerbang depan. Tuan Besar sendiri yang perintahkan bawa langsung ke Polda.Bagaimana mungkin sekarang dia ada di depan pintu kamarku di lantai 3?Dan yang lebih membuat bulu kudukku berdiri, dua bodyguard yang selalu berjaga di depan kamarku, Pak Joko dan Pak Bram, tidak terdengar suaranya sama sekali. Biasanya, mereka akan langsung menghardik siapa pun yang mendekati kamarku tanpa izin Alexander.Hening. Terlalu hening.Tanganku mencengkeram surat Ibu dan foto ayah kandungku — Devandra Sterling — erat-erat sampai kertasnya lecek. Kotak kayu jati berisi deposito 1,2 miliar masih terbuka di atas ranjang."Clara? Sayang... Ibu tahu Ibu salah... Ibu... Ibu cuma mau pamit sebelum dibawa polisi... Buka pintunya seb
Terakhir Diperbarui: 2026-09-25
Chapter: BAB 12: RAHASIA AYAH KANDUNGAmplop itu terasa berat.Bukan berat karena kertasnya. Tapi berat karena rahasia yang ada di dalamnya.Aku masih dalam gendongan Alexander. Tubuhku masih gemetar setelah teriakan tadi. Api di paviliun barat sudah padam total, hanya menyisakan arang hitam yang mengepul pelan dan bau gosong yang menusuk hidung.Olivia dan Selena sudah diseret bodyguard ke mobil hitam Sterling di gerbang depan. Jeritan Olivia masih terdengar samar-samar: "Clara! Kau akan menyesal! Kau bukan Hartono!"Bukan Hartono.Kalimat itu yang membuat tanganku berhenti tepat di atas segel amplop cokelat yang belum pernah kulihat sebelumnya.Di atas amplop, tulisan tangan Ibu. Tapi tulisannya jauh lebih berantakan daripada surat yang tadi. Seolah ditulis dengan terburu-buru, sambil menahan sakit.TULISAN IBU: JIKA OLIVIA TERTANGKAP, BUKA INI. JANGAN BUKA DI DEPAN ORANG BANYAK. HANYA KAU DAN TUAN BESAR. AYAH KANDUNGMU BUKAN HARTONO. MAAFKAN IBU, NAK.Darahku surut.Alexander yang melihatku mematung, menunduk menatap a
Terakhir Diperbarui: 2026-09-25
Chapter: BAB 11: SURAT BERACUN DAN PENGAKUAN TUAN BESARTanganku gemetar hebat memegang surat itu.Kertasnya sudah menguning, pinggirannya sedikit gosong karena sempat tersambar api di dalam kotak kayu jati itu. Tapi tulisan tangannya... tulisan Ibu... tidak mungkin aku salah mengenalinya.Setiap lekukan hurufnya masih sama seperti saat Ibu mengajariku menulis namaku dulu di buku tulis bergambar kelinci.Air mataku menetes, jatuh tepat di atas kalimat terakhir....ada racun di dalamnya."Clara..."Suara Tuan Besar Sterling memanggilku pelan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun aku tinggal di Mansion Sterling sebagai anak angkat yang tidak diakui, suaranya tidak dingin. Suaranya... bergetar.Aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku seperti tercekik asap yang masih mengepul dari paviliun arang di belakangku.Alexander yang masih menggendongku dari tangga tadi, perlahan menurunkan aku. Tapi tangannya tidak lepas. Satu tangannya tetap melingkar erat di pinggangku, menopang tubuhku yang sudah lemas."Jangan baca di sini," bisik Alexander di tel
Terakhir Diperbarui: 2026-09-25
Chapter: BAB 10: PAVILIUN TERBAKARApi itu besar sekali.Merah menyala melahap paviliun pembantu di sayap barat Mansion Sterling. Asap hitam membumbung tinggi ke langit malam yang dingin. Suara alarm kebakaran meraung memekakkan telinga.Aku masih dalam gendongan Alexander. Kepalaku bersandar di dadanya yang bidang. Dari jendela kaca besar kamar utama, aku bisa melihat semuanya dengan jelas.Olivia menjerit-jerit seperti orang gila di halaman. Rambutnya yang tadi disasak rapi kini berantakan penuh abu. Daster mahalnya robek di bagian bawah. Dia memeluk sebuah kotak perhiasan kayu jati dengan erat. Kotak perhiasan mendiang ibuku, yang isinya gelang giok warisan keluarga Hartono senilai delapan ratus juta.Selena di sebelahnya lebih parah. Wajahnya hitam karena asap. Tangannya melepuh karena mencoba mengambil kotak itu dari dalam api. Namun, dia tetap memeluknya, seperti memeluk nyawa sendiri.Bodoh. Serakah, sampai mati pun masih serakah.Tuan Besar Sterling sudah ada di bawah dengan kursi rodanya. Dua pengacara dan lim
Terakhir Diperbarui: 2026-09-24
Chapter: BAB 9: KAU BEDAPukul 02.13 pagi.Aku tidak bisa tidur.Kalung berlian Hartono itu sudah aku lepas dan aku taruh di dalam kotak beludru biru. Namun, bekas dinginnya masih tertinggal di leherku. Begitu pula bekas tangan Alexander di tengkukku.Pintu kamar utama tidak aku kunci. Aku sengaja tidak menguncinya.Karena aku tahu, dia pasti datang.Dan benar saja.Klik.Pintu terbuka pelan tanpa ketukan.Alexander masuk. Masih mengenakan kemeja hitam yang sama dari ruang makan tadi. Dua kancing atasnya terbuka. Rambutnya sedikit berantakan. Dia tidak menyalakan lampu.Dia hanya berdiri di depan pintu, menatapku yang duduk di tepi ranjang mengenakan daster tidur satin tipis."Kenapa belum tidur?" tanyanya. Suaranya serak.Aku tersenyum manja, memainkan peran rubah kecilnya. "Menunggu suamiku."Alexander berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat karpet tebal itu tenggelam. Aroma parfumnya yang dingin, bercampur sedikit aroma darah dari tamparan tadi, memenuhi kamar.Dia berhenti tepat di depanku. Tangannya
Terakhir Diperbarui: 2026-09-24
Chapter: BAB 8: MILIKKURuang makan itu masih sunyi senyap setelah tamparan Alexander.Olivia masih tergeletak di lantai marmer. Darah tipis merembes di sudut bibirnya yang tebal. Tas Hermes merahnya terinjak kakinya sendiri. Tidak ada yang berani menolongnya. Bahkan Selena hanya bisa memeluk lutut ibunya sambil menangis terisak tanpa suara.Semua orang menatapku. Atau lebih tepatnya, menatap leherku.Kalung berlian Hartono itu masih dingin di kulitku. Tangan Alexander masih di tengkukku. Panas. Besar. Menjepitku seolah aku adalah tawanannya.Tuan Besar Sterling berdeham pelan."Cukup," kata Tuan Besar. Suaranya berat. "Olivia, Selena, kembali ke paviliun. Tanpa perintahku, jangan injakkan kaki kalian di mansion utama."Itu bukan teguran. Itu pengusiran.Wajah Olivia pucat seperti mayat. "Tuan Besar... saya...""Dua pengacara saya akan ikut menggeledah paviliun kalian sore ini," lanjut Tuan Besar dingin. "Kita lihat berapa banyak lagi milik mendiang Hartono yang kalian curi."Olivia gemetar. Dia tahu, di pav
Terakhir Diperbarui: 2026-09-24