LOGINPada malam aku mati, suamiku memelukku sambil berkata... 'Maaf. Kali ini aku tetap harus membunuhmu.' Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Dan kali ini... aku yang akan mencarinya lebih dulu." Hujan badai menghantam kaca jendela kamar tidur utama dengan beringas. Di atas ranjang berseprai satin merah tua—warna yang kelak menyerupai genangan darah—aku terbujur lemah. Napasku tersengal, berat, dan berbau logam amis. Racun itu bekerja dengan sangat cepat, melumpuhkan setiap jengkal saraf di tubuhku. Sosok pria berjas hitam legam itu berdiri tepat di atasku. Wajahnya yang rupawan, pahatan rahang yang tegas, serta sepasang mata kelam yang biasanya memancarkan kehangatan, kini terlihat dingin tanpa jiwa. Namun, di balik kengerian itu, aku melihat kilat keraguan yang teramat tipis. Tangan dinginnya membelai leherku, seolah memastikan nadi terakhirku berhenti berdetak. "Kenapa..." suaraku tercekat, nyaris tak terdengar di antara deru guntur. Ia mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat yang meremukkan sisa kewarasanku sebelum gelap total merenggut kesadaranku. Lalu... semuanya sunyi.
View MoreHujan badai menghantam jendela Grand Ballroom keluarga Sterling. Di dalam ruangan yang diterangi ratusan lampu kristal, suara dentingan gelas porselen dan musik orkestra menciptakan suasana perayaan yang sempurna.
Namun, tidak bagiku. Aku berdiri di depan cermin besar di ruang tunggu VIP, menatap pantulan diriku dengan napas memburu. Usiaku kembali dua puluh tahun. Tidak ada sisa racun yang membakar kerongkonganku, tidak ada rasa sakit saat organ tubuhku berhenti berfungsi, dan tidak ada lagi rasa dingin kematian yang mencekam. Malam ini adalah malam pertunanganku—malam di mana takdirku seharusnya mulai terikat dengan pria yang kelak menjadi algojuku di masa depan. “Pada malam aku mati, suamiku memelukku sambil berkata... Maaf. Kali ini aku tetap harus membunuhku.” Bisikan itu bergema jelas di kepalaku, begitu nyata dan menusuk. Aku mengepalkan tangan di balik gaun merah anggur, merasakan detak jantung yang dipenuhi amarah membara. Di masa lalu, aku adalah gadis naif yang percaya cinta bisa mengubah segalanya. Aku menyerahkan hidupku pada keluarga yang menjadikanku alat tukar, lalu mati di ujung jarum suntik suamiku sendiri. Tapi itu dulu. Clara yang bodoh sudah mati di atas ranjang berseprai darah. Clara yang berdiri di sini sekarang adalah wanita yang kembali dari masa depan dengan membawa dendam kesumat. Pikiran tentang detik-detik terakhir kematianku masih terekam tajam di dalam memori. Bau antiseptik rumah sakit yang menusuk hidung, suara monitor detak jantung yang melambat menjadi garis lurus yang memekakkan telinga, serta tatapan dingin tanpa belas kasihan dari Alexander saat ia mencabut selang oksigenku. Semua siksaan itu membakar jiwaku, membentuk sebuah tekad baja yang tidak akan pernah bisa dihancurkan lagi oleh kelembutan palsu atau ancaman apa pun. Keluarga Hartono—keluargaku sendiri—menjualku tanpa ragu demi melunasi utang perusahaan yang menumpuk. Mereka menjadikanku tumbal dalam permainan politik tingkat tinggi para kaum elit. Dan Alexander Sterling adalah eksekutor utamanya. Pria berdarah dingin yang tidak memiliki hati nurani, yang memandang pernikahan bukan sebagai ikatan suci, melainkan kontrak bisnis yang bisa diakhiri kapan saja saat sudah tidak menguntungkan. "Nona Clara? Anda tampak pucat. Ada yang kurang berkenan dengan dekorasinya?" Suara Martha, pelayan paruh baya yang merawatku sejak kecil, menyadarkanku dari lamunan kelam itu. Ia membawakan segelas air es di atas nampan perak, matanya menatapku dengan ketulusan yang dulu sering aku abaikan. Di kehidupan sebelumnya, Martha adalah salah satu orang pertama yang dipecat dengan tidak hormat oleh keluarga Sterling setelah kematianku, dengan tuduhan palsu atas pencurian. Kali ini, aku tidak akan membiarkan takdir buruk itu menyentuhnya ataupun orang-orang yang berharga di sekitarku. Aku menarik napas dalam-dalam, menatapnya lewat cermin, lalu tersenyum tipis. "Tidak, Martha. Semuanya sempurna. Malah... hidupku baru benar-benar dimulai malam ini." Martha tampak bingung dengan perubahan nodal bicaraku yang terdengar begitu dingin dan tegas, namun ia hanya bisa mengangguk patuh demi menjaga profesionalismenya. "Baik, Nona. Tamu-tamu penting dari berbagai kalangan sudah mulai berkumpul di luar ruangan utama." Sebelum Martha sempat beranjak, pintu kayu jati di ujung ruangan terbuka lebar. Udara dingin masuk bersamaan dengan keheningan mendadak yang meredam perbincangan para tamu di luar sana. Seorang pria berjas hitam buatan desainer Italia melangkah masuk dengan langkah pasti. Posturnya tinggi tegap, rahangnya tegas, dan sepasang mata kelamnya memancarkan aura intimidasi yang pekat. Alexander Sterling. Pria yang merenggut nyawaku demi ambisi keluarganya. Dari balik pintu, tatapan kelam itu langsung menembus kerumunan dan terkunci pada pantulan cermin tempatku berdiri. Ada kilat keterkejutan di matanya, menyadari ada sesuatu yang berbeda dari calon istrinya malam ini. Dulu, aku akan menunduk gugup dan salah tingkah. Tapi kali ini, aku tidak bergeming. Aku membalas tatapannya lurus-lurus, mengangkat dagu, dan tersenyum tipis. Kali ini, bukan aku yang memohon belas kasihan. Tapi kau yang akan berlutut di hadapanku. Aku mengangkat gelas wine merah di sampingku. Racun yang sama yang membunuhku dulu, masih ada di dalamnya.Tok. Tok. Tok."Clara? Buka, Nak... Ini Ibu... Ibu Olivia mau minta maaf..."Suara itu... suara Olivia Hartono. Parau, serak, dan dibuat-buat sesenggukan.Tapi tadi aku jelas melihat dengan mata kepalaku sendiri dua bodyguard Sterling menyeret Olivia dan Selena ke mobil hitam di gerbang depan. Tuan Besar sendiri yang perintahkan bawa langsung ke Polda.Bagaimana mungkin sekarang dia ada di depan pintu kamarku di lantai 3?Dan yang lebih membuat bulu kudukku berdiri, dua bodyguard yang selalu berjaga di depan kamarku, Pak Joko dan Pak Bram, tidak terdengar suaranya sama sekali. Biasanya, mereka akan langsung menghardik siapa pun yang mendekati kamarku tanpa izin Alexander.Hening. Terlalu hening.Tanganku mencengkeram surat Ibu dan foto ayah kandungku — Devandra Sterling — erat-erat sampai kertasnya lecek. Kotak kayu jati berisi deposito 1,2 miliar masih terbuka di atas ranjang."Clara? Sayang... Ibu tahu Ibu salah... Ibu... Ibu cuma mau pamit sebelum dibawa polisi... Buka pintunya seb
Amplop itu terasa berat.Bukan berat karena kertasnya. Tapi berat karena rahasia yang ada di dalamnya.Aku masih dalam gendongan Alexander. Tubuhku masih gemetar setelah teriakan tadi. Api di paviliun barat sudah padam total, hanya menyisakan arang hitam yang mengepul pelan dan bau gosong yang menusuk hidung.Olivia dan Selena sudah diseret bodyguard ke mobil hitam Sterling di gerbang depan. Jeritan Olivia masih terdengar samar-samar: "Clara! Kau akan menyesal! Kau bukan Hartono!"Bukan Hartono.Kalimat itu yang membuat tanganku berhenti tepat di atas segel amplop cokelat yang belum pernah kulihat sebelumnya.Di atas amplop, tulisan tangan Ibu. Tapi tulisannya jauh lebih berantakan daripada surat yang tadi. Seolah ditulis dengan terburu-buru, sambil menahan sakit.TULISAN IBU: JIKA OLIVIA TERTANGKAP, BUKA INI. JANGAN BUKA DI DEPAN ORANG BANYAK. HANYA KAU DAN TUAN BESAR. AYAH KANDUNGMU BUKAN HARTONO. MAAFKAN IBU, NAK.Darahku surut.Alexander yang melihatku mematung, menunduk menatap a
Tanganku gemetar hebat memegang surat itu.Kertasnya sudah menguning, pinggirannya sedikit gosong karena sempat tersambar api di dalam kotak kayu jati itu. Tapi tulisan tangannya... tulisan Ibu... tidak mungkin aku salah mengenalinya.Setiap lekukan hurufnya masih sama seperti saat Ibu mengajariku menulis namaku dulu di buku tulis bergambar kelinci.Air mataku menetes, jatuh tepat di atas kalimat terakhir....ada racun di dalamnya."Clara..."Suara Tuan Besar Sterling memanggilku pelan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun aku tinggal di Mansion Sterling sebagai anak angkat yang tidak diakui, suaranya tidak dingin. Suaranya... bergetar.Aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku seperti tercekik asap yang masih mengepul dari paviliun arang di belakangku.Alexander yang masih menggendongku dari tangga tadi, perlahan menurunkan aku. Tapi tangannya tidak lepas. Satu tangannya tetap melingkar erat di pinggangku, menopang tubuhku yang sudah lemas."Jangan baca di sini," bisik Alexander di tel
Api itu besar sekali.Merah menyala melahap paviliun pembantu di sayap barat Mansion Sterling. Asap hitam membumbung tinggi ke langit malam yang dingin. Suara alarm kebakaran meraung memekakkan telinga.Aku masih dalam gendongan Alexander. Kepalaku bersandar di dadanya yang bidang. Dari jendela kaca besar kamar utama, aku bisa melihat semuanya dengan jelas.Olivia menjerit-jerit seperti orang gila di halaman. Rambutnya yang tadi disasak rapi kini berantakan penuh abu. Daster mahalnya robek di bagian bawah. Dia memeluk sebuah kotak perhiasan kayu jati dengan erat. Kotak perhiasan mendiang ibuku, yang isinya gelang giok warisan keluarga Hartono senilai delapan ratus juta.Selena di sebelahnya lebih parah. Wajahnya hitam karena asap. Tangannya melepuh karena mencoba mengambil kotak itu dari dalam api. Namun, dia tetap memeluknya, seperti memeluk nyawa sendiri.Bodoh. Serakah, sampai mati pun masih serakah.Tuan Besar Sterling sudah ada di bawah dengan kursi rodanya. Dua pengacara dan lim
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.