author-banner
Lilly94
Lilly94
Author

Novel-novel oleh Lilly94

Sisi Lain Pelakor: Aku Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Sisi Lain Pelakor: Aku Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Arini (23 tahun), seorang gadis muda yang terpaksa membuang harga dirinya menjadi istri kedua siri dari pengusaha kaya bernama Bram (38 tahun) demi melunasi utang medis mendiang ayahnya dan menyelamatkan ibunya. Hidup di paviliun belakang rumah mewah Bram, Arini harus menahan siksaan mental dari Citra (36 tahun), istri sah Bram, serta dicap sebagai "pelakor" yang menjijikkan oleh lingkungan sekitar, sementara Bram bersikap abai dan memperlakukannya layaknya barang sewaan.
Baca
Chapter: Bab 7 Roti Gosong
BAB 7: ROTI GOSONG Arini tidak membersihkan brownies yang hancur di lantai malam itu. Ia biarkan remahan coklat yang sudah terinjak sepatu Citra itu berserakan, karena itu bukan sampah tapi utu pengingat bahwa Citra sudah tau semuanya.Pukul sembilan malam, setelah Citra masuk ke kamar utama dan Bram belum pulang dari toko bangunan, ada ketukan pelan di pintu triplek paviliun. Bi Ijah masuk dengan muka pucat, sambil membawa kantong plastik hitam yang bau."Maaf ya Neng, maaf banget," bisik Bi Ijah sambil menutup pintu cepat. "Tadi sore Bu Citra maksa saya, dia liat status WA anak saya yang foto brownies itu. Terus dia langsung ngamuk di dapur, nyuruh saya ambil semua kue Neng di warung Madura. Katanya kalau saya gak ambil, saya dipecat besok. Padahal anak saya butuh buat sekolah, Neng."Arini mengangguk pelan, ia sudah menduga ini akan terjadi. Komplek elit itu kecil, jadi gosip bisa menyebar lebih cepat dari bau brownies kukus."Gak apa-apa, Bi. Saya ngerti."Bi Ijah membuka kantong
Terakhir Diperbarui: 2026-10-07
Chapter: Bab 6 : Dosen Wali
BAB 6: DOSEN WALI Kuitansi lunas UKT itu masih menempel di dinding paviliun, yang ku tempel di sebelah kertas HVS 7 aturan milik Citra. Setiap pagi saat Arini bangun tidur, ia selalu melihat dua kertas itu. Satu kertas yang menindasnya, dan satu kertas yang menyelamatkannya. Sejak hari itu, Arini lebih sering ke kampus. Bukan untuk kuliah tatap muka, karena Citra melarangnya keluar terlalu lama. Tapi untuk bimbingan skripsi diam-diam. Jam 6 pagi ia sudah di kampus, namun jam 9 pagi ia harus sudah kembali menyapu halaman. Bu Ratna jadi satu-satunya orang yang tahu Arini masih kuliah. Sore itu, Bu Ratna mengirim pesan WA: "Rin, ke ruangan saya jam 4 sore. Penting.! Jangan pakai almamater, pakai baju biasa saja." Arini panik.. Penting..? Kata penting dari dosen killer tidak pernah berarti hal baik. Jam setengah empat, Arini sudah di depan ruangan dosen dengan daster terbaiknya yang tidak sobek, yang ia tutupi dengan cardigan pinjaman Bi Ijah. Keringat bercucuran kar
Terakhir Diperbarui: 2026-10-06
Chapter: Bab 5 : 1.180.000 Pertama
*BAB 5: 1.180.000 PERTAMA* Uang Rp 1.180.000 itu Arini simpan di dalam kaos kaki bekas yang sudah bolong di ujungnya, lalu kaos kaki itu ia gulung dan masukkan lagi ke dalam celengan botol air mineral yang ia kubur di bawah tumpukan daster di lemari plastik hijau yang kakinya patah. Pagi itu jam tujuh, batas akhir pembayaran UKT semester 6. Arini sudah tiga hari tidak bisa tidur, karena kepikiran akan hal itu. Arini menatap pantulan dirinya di kaca lemari plastik yang buram, bawah matanya membentuk lingkaran hitam panda, bibirnya pecah-pecah, dan daster yang ia pakai sudah luntur warnanya. Tidak ada yang akan percaya kalau perempuan ini adalah istri seorang pengusaha yang punya Alphard. Pukul delapan pagi, Citra dan Bram pergi bersamaan. Citra mau ke Jakarta, ada acara keluarga sedangkan Bram mau ke toko dan dirumah hanya ada Bi Ijah. Ini waktunya.. Arini mengambil kaos kaki berisi uang itu, dan memasukkannya ke dalam tas kain lusuhnya. Ia juga membawa map plastik bening
Terakhir Diperbarui: 2026-10-01
Chapter: Bab 4 : Warung Di Ujung Gang
*BAB 4: WARUNG DI UJUNG GANG*Paviliun tanpa jendela itu panasnya seperti di dalam kukusan kalau siang, tapi sejak menemukan tujuh lembar kwitansi itu, Arini tidak lagi merasa gerah. Ia merasa terbakar oleh sesuatu yang lain, amarah yang dingin.Tujuh lembar bukti penipuan itu sekarang ia sembunyikan di dalam lipatan mukena yang tidak pernah ia pakai karena Citra melarangnya shalat di teras paviliun yang terlihat dari rumah utama. Mukena itu ia lipat rapi, dan di dalamnya ada plastik bening berisi kwitansi. Setiap malam sebelum tidur, ia membukanya, menghitungnya lagi, dan memastikan itu bukan mimpi.Tujuh lembar kwitansi Rp 50 juta, Rp 75 juta, Rp 100 juta. Semua ditransfer Bram ke Koperasi Makmur Jaya. Bram bukan pahlawan, melainkan Bram adalah dalangnya.Tapi amarah saja tidak bisa membayar UKT tujuh juta yang batas akhirnya tinggal dua minggu lagi, dan amarah saja tidak bisa membeli obat jantung ibu seharga dua juta per bulan. Arini butuh uang, tapi uang yang bukan dari Bram.Pagi
Terakhir Diperbarui: 2026-09-29
Chapter: Bab 3 : Kunci Berkarat
*BAB 3: KUNCI BERKARAT*Gudang itu ada di paling ujung kebun belakang, tempatnya tertutup oleh pohon mangga yang tidak pernah dipangkas dan tumpukan karung semen bekas. Pintunya kayu lapuk warna hijau lumut, dan digembok besar yang sudah berkarat. Tidak ada yang pernah ke sana, bahkan Bi Ijah pun tidak pernah membersihkan area itu karena Citra bilang banyak ular.Arini sudah tiga hari memegang kunci kecil berkarat itu. Tiga hari juga ia hanya menggenggamnya di dalam saku dasternya saat menyapu, saat mencuci, dan saat pura-pura tidur.Rasa penasaran itu mengalahkan rasa takutnya.Hari keempat, hari Jumat. Bram pergi ke toko pusat di Bogor sejak subuh. Citra pergi ke salon sejak jam sembilan pagi, katanya mau creambath dan tidak akan pulang sampai sore. Bi Ijah pergi ke pasar, rumah utama kosong. Dan inilah kesempatannya.Arini berjalan pelan ke arah gudang, jantungnya berdetak cepat seperti genderang. Tangannya berkeringat dingin, sampai kunci berkarat itu terasa licin digenggamannya.
Terakhir Diperbarui: 2026-09-29
Chapter: Bab 2 : Aturan Paviliun Belakang
*BAB 2: ATURAN PAVILIUN BELAKANG* Malam pertama Arini di paviliun tidak diisi dengan doa atau bunga, melainkan malam pertama diisi dengan daftar aturan yang ditempel di pintu kulkas mini yang tidak dingin. Kertas HVS putih, tulisan tangan Citra yang rapi tapi menekan. Arini menemukannya saat ia mencoba mencari air putih karena haus. Aturannya ada tujuh.. 1. Dilarang masuk rumah utama tanpa izin Bu Citra. 2. Dilarang memakai mesin cuci. Cuci menggunakan tangan di belakang. 3. Dilarang menyalakan kompor setelah jam 7 malam. Karena bau masakan mengganggu. 4. Dilarang menerima tamu. Apalagi laki-laki. 5. Dilarang berisik. Rumah ini butuh ketenangan. 6. Bersihkan halaman paviliun setiap pagi jam 5. 7. Ingat posisi kamu. Arini membaca aturan nomor tujuh itu dua kali. Ingat posisi kamu.. Posisi apa? Pembantu? Istri siri? Barang sewaan? Pukul lima pagi, Arini sudah bangun. Bukan karena alarm, tapi karena suara keran air di rumah utama yang disengaja dibuka kencang-ken
Terakhir Diperbarui: 2026-09-29
Anda juga akan menyukai
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status