ログインArini (23 tahun), seorang gadis muda yang terpaksa membuang harga dirinya menjadi istri kedua siri dari pengusaha kaya bernama Bram (38 tahun) demi melunasi utang medis mendiang ayahnya dan menyelamatkan ibunya. Hidup di paviliun belakang rumah mewah Bram, Arini harus menahan siksaan mental dari Citra (36 tahun), istri sah Bram, serta dicap sebagai "pelakor" yang menjijikkan oleh lingkungan sekitar, sementara Bram bersikap abai dan memperlakukannya layaknya barang sewaan.
もっと見る*BAB 1: MAHAR 350 JUTA*
Paviliun itu tidak punya jendela.. Arini tahu, seharusnya sebuah kamar pengantin baru punya jendela, dan ada cahaya matahari masuk. Tapi paviliun di belakang rumah utama itu hanya punya satu pintu kayu yang catnya sudah mengelupas di bagian bawah, satu kasur tipis yang sudah pudar warnanya, dan satu lemari plastik yang pintunya tidak bisa tertutup rapat karena kakinya patah satu. Akad siri selesai di ruangan yang bahkan tidak lebih besar dari kamar mandi rumah utama. Arini masih memakai kebaya putih, kebaya pinjaman dari Bu Marni di kampung. Di pangkuannya, ada sebuah map plastik bening berisi fotokopi surat nikah siri. Tidak ada stempel KUA, tidak ada foto pernikahan juga tidak ada wali dari pihaknya selain Pak RT yang dibayar Bram 2 juta untuk diam dan menjadi saksi. Di luar paviliun, suara tawa perempuan terdengar nyaring. "Mah, lihat deh, itu piring bekas kemarin belum dicuci. Suruh aja orang di paviliun yang cuci, kan memang tugasnya di situ. Ngapain dikasih kamar kalau tidak kerja?" Itu suara Citra, Istri sah Bram. Perempuan 36 tahun dengan gayanya bak putri raja. Arini menunduk, namun tangannya meremas map itu, bahkan jantungnya berdebar sangat kencang. Tiga bulan lalu, Arini masih mahasiswi semester 6 jurusan manajemen di kampus swasta di Margonda, Depok. Hidupnya biasa saja. Pagi membantu ibu membuat nasi uduk, siang kuliah, sore membantu ayah di kios servis elektronik kecil di Pasar Depok Lama. Mereka tidak kaya, tapi mereka tidak pernah kelaparan. Sampai ayahnya ambruk di depan kios, dia terkena stroke, dan terjadi pendarahan di otaknya. Di ICU selama 21 hari, BPJS tidak menanggung semua karena ada komplikasi jantung dan harus pakai obat paten. Tagihan terakhir sebanyak: Rp 347.500.000. Arini ingat betul angka itu. Karena angka itu menjadi hutang di koperasi simpan pinjam Makmur Jaya yang ternyata bunganya 20% per bulan. Padahal itu adalah rentenir berkedok koperasi. Ibu Arini, Bu Lastri, punya penyakit jantung dan harus minum obat rutin seharga 2 juta per bulan. Saat itulah Bram datang, dia adalah pengusaha bahan bangunan langganan servis ayahnya. Pria berumur 38 tahun. "Arini, kasihan ibu kamu," kata Bram waktu itu, sambil menyodorkan amplop coklat tebal berisi uang. "Pak Jono itu orang baik, saya sudah kenal lama. Saya akan bantu lunasin hutangnya, anggap saja investasi akhirat." Arini menolak hari itu, karena dia masih punya harga diri. Tapi keesokan harinya penagih hutang datang lagi, dua orang pria bertato menggedor pintu kontrakan sambil berteriak, "Bu Lastri! Hutang suami bayar! Jangan pura-pura mati!" Kontrakan pun juga sudah menunggak 3 bulan, Ibunya juga butuh obat. Lalu Bram datang lagi. "Saya tidak minta apa-apa, Rin," katanya dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Saya cuma kesepian. Istri saya, Citra, tidak bisa kasih anak setelah 10 tahun menikah. Saya butuh teman ngobrol, temenin saya saja di rumah. Nanti saya bikinin usaha buat ibu kamu." Arini yang berumur 23 tahun, yang tidak pernah pacaran karena harus menjaga warung, yang seumur hidup cuma gadis rumahan, mengira itu adalah pertolongan tulus dari orang kaya yang baik hati. Dia tidak tahu, akad siri itu adalah jebakan yang sudah disiapkan Bram sejak lama. Pintu paviliun diketuk keras. "Ceklek." Bram masuk, masih memakai batik coklat saat akad tadi pagi. Di tangannya ada kotak makanan dan sebotol air mineral. "Sudah makan?" tanyanya, tanpa menatap mata Arini. Dia lalu menaruh kotak itu di atas lantai keramik yang dingin. Arini menggeleng pelan. "Belum, Pak." Bram mendengus kesal. "Mulai sekarang panggil Mas, bukan Pak. Biar Citra tidak curiga kalau kamu itu pembantu baru yang saya ambil dari kampung. Paham?" Arini mengangguk. "Iya, Mas." Bram duduk di pinggir kasur. Dia menatap Arini dari atas ke bawah, tatapan yang membuat Arini merasa jijik. "Kamu tahu aturan di sini, kan?" kata Bram dengan suara rendah. "Kamu tinggal di paviliun, jangan masuk rumah utama kalau tidak saya panggil. Kalau Citra manggil, kamu jawab seperlunya saja. Jangan cari muka, kalau ibu kamu butuh uang obat, bilang saya. Jangan manja minta ini itu." Arini menggigit bibir bawahnya. "Iya, Mas." Bram tersenyum. "Pinter, makanya saya pilih kamu. tidak neko-neko kayak perempuan di luar sana yang matre." Dia mengulurkan tangan, jari-jarinya yang besar menyentuh pipi Arini yang halus. Arini menahan napas, Seluruh tubuhnya terasa kaku dan rasanya ingin muntah. Saat itulah suara Citra terdengar lagi dari depan, lebih keras dan sengaja dibanting. "BRAM! Kamu di mana? Tukang taman nanya mau tanam apa di depan paviliun! Suruh perempuan itu keluar, jangan cuma ngumpet di dalam terus! Mentang-mentang baru datang!" Bram menarik tangannya dengan cepat seperti tersetrum, wajahnya berubah kesal dan panik. "Nah, dengar sendiri kan? Sabar ya. Lama-lama dia juga terbiasa. Namanya juga perempuan, kalau cemburu begitu," bisik Bram, dia berdiri terburu-buru. "Makan dulu. Nanti sore saya suruh Mang Ujang antar gas sama galon. Kalau butuh apa-apa, chat saja. Jangan telepon, jangan sampai ketahuan Citra." Bram lalu keluar tapi tidak menutup pintu paviliun, dia membiarkan Arini terlihat dari luar. Arini duduk diam selama lima menit. Suara langkah Bram menjauh, disusul suara Citra memarahi pembantu utama tentang letak sepatu yang tidak rapi. Baru setelah itu Arini membuka kotak makanan di lantai. Nasi putih yang sudah agak keras, ayam goreng satu potong yang kecil, dan sambal yang tumpah kemana-mana. Tidak ada sendok dan tidak ada tisu. Arini tidak lapar, tapi perutnya terasa mual. Dia merogoh tas kain lusuh yang dibawanya dari kontrakan. Di dalamnya, selain baju ganti dua potong daster dan satu kerudung, ada buku tabungan ibunya yang saldonya Rp 12.000, ada fotokopi ijazah ayahnya yang sudah lecek, dan ada sebuah buku catatan kecil warna biru yang sampulnya sudah sobek. Buku itu adalah buku keuangan warung nasi uduk ibu. Di halaman terakhir, ada tulisan Arini: _Utang Koperasi Makmur: 347.500.000 - LUNAS (Dibayar Pak Bram)_ _Mahar Nikah Siri: 350.000.000 (dianggap lunas hutang)_ Mahar.. ? Dia menyebutnya mahar agar tidak terasa seperti dijual, padahal itu adalah harga dirinya. Harga untuk melunasi napas terakhir ayahnya. Arini lalu menutup buku itu, air matanya akhirnya jatuh. Di luar, azan Ashar berkumandang dari masjid komplek perumahan elit itu. Suara yang biasanya menenangkan, hari ini terdengar seperti vonis hukuman seumur hidup. Dia adalah istri kedua, Istri siri yang tinggal di paviliun belakang tanpa jendela, yang dipanggil "perempuan itu" oleh istri sah, dan yang dianggap pelakor menjijikkan. "Ya Allah," bisik Arini pelan, suaranya hampir tidak terdengar karena tertahan isak. "Kalau memang ini jalannya, kasih aku kuat sehari saja. Sehari saja aku butuh kuat." Dia menghapus air matanya, lalu membuka HP jadulnya yang layarnya retak. Ada satu pesan dari ibunya yang masuk 10 menit lalu. Ibu: Rin, udah sampai rumah baru? Ibu masak sayur asem kesukaan kamu. Kalau kangen rumah, pulang ya sayang. Jangan lupa makan. Ibu kangen._ Arini menatap pesan itu lama, dadanya terasa sesak. Lalu dia mengetik balasan dengan kebohongan terbesar dalam hidupnya. Arini: Udah Bu, rumahnya bagus banget. Arini betah. Ibu minum obatnya ya, jangan capek-capek jualan. Nanti Arini kirim uang. Arini meletakkan HP nya dan menatap dinding paviliun yang lembab dan berjamur, di dinding itu ada bekas paku berkarat. Mungkin dulu tempat menggantung sesuatu. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Arini merasa benar-benar sendirian di dunia yang luas ini. ---BAB 6: DOSEN WALI Kuitansi lunas UKT itu masih menempel di dinding paviliun, yang ku tempel di sebelah kertas HVS 7 aturan milik Citra. Setiap pagi saat Arini bangun tidur, ia selalu melihat dua kertas itu. Satu kertas yang menindasnya, dan satu kertas yang menyelamatkannya. Sejak hari itu, Arini lebih sering ke kampus. Bukan untuk kuliah tatap muka, karena Citra melarangnya keluar terlalu lama. Tapi untuk bimbingan skripsi diam-diam. Jam 6 pagi ia sudah di kampus, namun jam 9 pagi ia harus sudah kembali menyapu halaman. Bu Ratna jadi satu-satunya orang yang tahu Arini masih kuliah. Sore itu, Bu Ratna mengirim pesan WA: "Rin, ke ruangan saya jam 4 sore. Penting.! Jangan pakai almamater, pakai baju biasa saja." Arini panik.. Penting..? Kata penting dari dosen killer tidak pernah berarti hal baik. Jam setengah empat, Arini sudah di depan ruangan dosen dengan daster terbaiknya yang tidak sobek, yang ia tutupi dengan cardigan pinjaman Bi Ijah. Keringat bercucuran kar
*BAB 5: 1.180.000 PERTAMA* Uang Rp 1.180.000 itu Arini simpan di dalam kaos kaki bekas yang sudah bolong di ujungnya, lalu kaos kaki itu ia gulung dan masukkan lagi ke dalam celengan botol air mineral yang ia kubur di bawah tumpukan daster di lemari plastik hijau yang kakinya patah. Pagi itu jam tujuh, batas akhir pembayaran UKT semester 6. Arini sudah tiga hari tidak bisa tidur, karena kepikiran akan hal itu. Arini menatap pantulan dirinya di kaca lemari plastik yang buram, bawah matanya membentuk lingkaran hitam panda, bibirnya pecah-pecah, dan daster yang ia pakai sudah luntur warnanya. Tidak ada yang akan percaya kalau perempuan ini adalah istri seorang pengusaha yang punya Alphard. Pukul delapan pagi, Citra dan Bram pergi bersamaan. Citra mau ke Jakarta, ada acara keluarga sedangkan Bram mau ke toko dan dirumah hanya ada Bi Ijah. Ini waktunya.. Arini mengambil kaos kaki berisi uang itu, dan memasukkannya ke dalam tas kain lusuhnya. Ia juga membawa map plastik bening
*BAB 4: WARUNG DI UJUNG GANG*Paviliun tanpa jendela itu panasnya seperti di dalam kukusan kalau siang, tapi sejak menemukan tujuh lembar kwitansi itu, Arini tidak lagi merasa gerah. Ia merasa terbakar oleh sesuatu yang lain, amarah yang dingin.Tujuh lembar bukti penipuan itu sekarang ia sembunyikan di dalam lipatan mukena yang tidak pernah ia pakai karena Citra melarangnya shalat di teras paviliun yang terlihat dari rumah utama. Mukena itu ia lipat rapi, dan di dalamnya ada plastik bening berisi kwitansi. Setiap malam sebelum tidur, ia membukanya, menghitungnya lagi, dan memastikan itu bukan mimpi.Tujuh lembar kwitansi Rp 50 juta, Rp 75 juta, Rp 100 juta. Semua ditransfer Bram ke Koperasi Makmur Jaya. Bram bukan pahlawan, melainkan Bram adalah dalangnya.Tapi amarah saja tidak bisa membayar UKT tujuh juta yang batas akhirnya tinggal dua minggu lagi, dan amarah saja tidak bisa membeli obat jantung ibu seharga dua juta per bulan. Arini butuh uang, tapi uang yang bukan dari Bram.Pagi
*BAB 3: KUNCI BERKARAT*Gudang itu ada di paling ujung kebun belakang, tempatnya tertutup oleh pohon mangga yang tidak pernah dipangkas dan tumpukan karung semen bekas. Pintunya kayu lapuk warna hijau lumut, dan digembok besar yang sudah berkarat. Tidak ada yang pernah ke sana, bahkan Bi Ijah pun tidak pernah membersihkan area itu karena Citra bilang banyak ular.Arini sudah tiga hari memegang kunci kecil berkarat itu. Tiga hari juga ia hanya menggenggamnya di dalam saku dasternya saat menyapu, saat mencuci, dan saat pura-pura tidur.Rasa penasaran itu mengalahkan rasa takutnya.Hari keempat, hari Jumat. Bram pergi ke toko pusat di Bogor sejak subuh. Citra pergi ke salon sejak jam sembilan pagi, katanya mau creambath dan tidak akan pulang sampai sore. Bi Ijah pergi ke pasar, rumah utama kosong. Dan inilah kesempatannya.Arini berjalan pelan ke arah gudang, jantungnya berdetak cepat seperti genderang. Tangannya berkeringat dingin, sampai kunci berkarat itu terasa licin digenggamannya.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.