Sisi Lain Pelakor: Aku Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Sisi Lain Pelakor: Aku Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

last update最終更新日 : 2026-10-06
作家:  Lilly94たった今更新されました
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
評価が足りません
6チャプター
20ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Wanita Kuat

Istri Kedua

Cinta Palsu

Arini (23 tahun), seorang gadis muda yang terpaksa membuang harga dirinya menjadi istri kedua siri dari pengusaha kaya bernama Bram (38 tahun) demi melunasi utang medis mendiang ayahnya dan menyelamatkan ibunya. Hidup di paviliun belakang rumah mewah Bram, Arini harus menahan siksaan mental dari Citra (36 tahun), istri sah Bram, serta dicap sebagai "pelakor" yang menjijikkan oleh lingkungan sekitar, sementara Bram bersikap abai dan memperlakukannya layaknya barang sewaan.

もっと見る

第1話

Bab 1 : Mahar 350 Juta

*BAB 1: MAHAR 350 JUTA*

Paviliun itu tidak punya jendela..

Arini tahu, seharusnya sebuah kamar pengantin baru punya jendela, dan ada cahaya matahari masuk. Tapi paviliun di belakang rumah utama itu hanya punya satu pintu kayu yang catnya sudah mengelupas di bagian bawah, satu kasur tipis yang sudah pudar warnanya, dan satu lemari plastik yang pintunya tidak bisa tertutup rapat karena kakinya patah satu.

Akad siri selesai di ruangan yang bahkan tidak lebih besar dari kamar mandi rumah utama.

Arini masih memakai kebaya putih, kebaya pinjaman dari Bu Marni di kampung.

Di pangkuannya, ada sebuah map plastik bening berisi fotokopi surat nikah siri. Tidak ada stempel KUA, tidak ada foto pernikahan juga tidak ada wali dari pihaknya selain Pak RT yang dibayar Bram 2 juta untuk diam dan menjadi saksi.

Di luar paviliun, suara tawa perempuan terdengar nyaring.

"Mah, lihat deh, itu piring bekas kemarin belum dicuci. Suruh aja orang di paviliun yang cuci, kan memang tugasnya di situ. Ngapain dikasih kamar kalau tidak kerja?"

Itu suara Citra, Istri sah Bram. Perempuan 36 tahun dengan gayanya bak putri raja.

Arini menunduk, namun tangannya meremas map itu, bahkan jantungnya berdebar sangat kencang.

Tiga bulan lalu, Arini masih mahasiswi semester 6 jurusan manajemen di kampus swasta di Margonda, Depok. Hidupnya biasa saja. Pagi membantu ibu membuat nasi uduk, siang kuliah, sore membantu ayah di kios servis elektronik kecil di Pasar Depok Lama. Mereka tidak kaya, tapi mereka tidak pernah kelaparan.

Sampai ayahnya ambruk di depan kios, dia terkena stroke, dan terjadi pendarahan di otaknya. Di ICU selama 21 hari, BPJS tidak menanggung semua karena ada komplikasi jantung dan harus pakai obat paten. Tagihan terakhir sebanyak:

Rp 347.500.000.

Arini ingat betul angka itu. Karena angka itu menjadi hutang di koperasi simpan pinjam Makmur Jaya yang ternyata bunganya 20% per bulan. Padahal itu adalah rentenir berkedok koperasi.

Ibu Arini, Bu Lastri, punya penyakit jantung dan harus minum obat rutin seharga 2 juta per bulan.

Saat itulah Bram datang, dia adalah pengusaha bahan bangunan langganan servis ayahnya. Pria berumur 38 tahun.

"Arini, kasihan ibu kamu," kata Bram waktu itu, sambil menyodorkan amplop coklat tebal berisi uang. "Pak Jono itu orang baik, saya sudah kenal lama. Saya akan bantu lunasin hutangnya, anggap saja investasi akhirat."

Arini menolak hari itu, karena dia masih punya harga diri. Tapi keesokan harinya penagih hutang datang lagi, dua orang pria bertato menggedor pintu kontrakan sambil berteriak, "Bu Lastri! Hutang suami bayar! Jangan pura-pura mati!"

Kontrakan pun juga sudah menunggak 3 bulan, Ibunya juga butuh obat.

Lalu Bram datang lagi.

"Saya tidak minta apa-apa, Rin," katanya dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Saya cuma kesepian. Istri saya, Citra, tidak bisa kasih anak setelah 10 tahun menikah. Saya butuh teman ngobrol, temenin saya saja di rumah. Nanti saya bikinin usaha buat ibu kamu."

Arini yang berumur 23 tahun, yang tidak pernah pacaran karena harus menjaga warung, yang seumur hidup cuma gadis rumahan, mengira itu adalah pertolongan tulus dari orang kaya yang baik hati.

Dia tidak tahu, akad siri itu adalah jebakan yang sudah disiapkan Bram sejak lama.

Pintu paviliun diketuk keras.

"Ceklek."

Bram masuk, masih memakai batik coklat saat akad tadi pagi. Di tangannya ada kotak makanan dan sebotol air mineral.

"Sudah makan?" tanyanya, tanpa menatap mata Arini. Dia lalu menaruh kotak itu di atas lantai keramik yang dingin.

Arini menggeleng pelan. "Belum, Pak."

Bram mendengus kesal. "Mulai sekarang panggil Mas, bukan Pak. Biar Citra tidak curiga kalau kamu itu pembantu baru yang saya ambil dari kampung. Paham?"

Arini mengangguk. "Iya, Mas."

Bram duduk di pinggir kasur. Dia menatap Arini dari atas ke bawah, tatapan yang membuat Arini merasa jijik.

"Kamu tahu aturan di sini, kan?" kata Bram dengan suara rendah. "Kamu tinggal di paviliun, jangan masuk rumah utama kalau tidak saya panggil. Kalau Citra manggil, kamu jawab seperlunya saja. Jangan cari muka, kalau ibu kamu butuh uang obat, bilang saya. Jangan manja minta ini itu."

Arini menggigit bibir bawahnya. "Iya, Mas."

Bram tersenyum. "Pinter, makanya saya pilih kamu. tidak neko-neko kayak perempuan di luar sana yang matre."

Dia mengulurkan tangan, jari-jarinya yang besar menyentuh pipi Arini yang halus.

Arini menahan napas, Seluruh tubuhnya terasa kaku dan rasanya ingin muntah.

Saat itulah suara Citra terdengar lagi dari depan, lebih keras dan sengaja dibanting.

"BRAM! Kamu di mana? Tukang taman nanya mau tanam apa di depan paviliun! Suruh perempuan itu keluar, jangan cuma ngumpet di dalam terus! Mentang-mentang baru datang!"

Bram menarik tangannya dengan cepat seperti tersetrum, wajahnya berubah kesal dan panik.

"Nah, dengar sendiri kan? Sabar ya. Lama-lama dia juga terbiasa. Namanya juga perempuan, kalau cemburu begitu," bisik Bram, dia berdiri terburu-buru. "Makan dulu. Nanti sore saya suruh Mang Ujang antar gas sama galon. Kalau butuh apa-apa, chat saja. Jangan telepon, jangan sampai ketahuan Citra."

Bram lalu keluar tapi tidak menutup pintu paviliun, dia membiarkan Arini terlihat dari luar.

Arini duduk diam selama lima menit. Suara langkah Bram menjauh, disusul suara Citra memarahi pembantu utama tentang letak sepatu yang tidak rapi.

Baru setelah itu Arini membuka kotak makanan di lantai. Nasi putih yang sudah agak keras, ayam goreng satu potong yang kecil, dan sambal yang tumpah kemana-mana. Tidak ada sendok dan tidak ada tisu.

Arini tidak lapar, tapi perutnya terasa mual.

Dia merogoh tas kain lusuh yang dibawanya dari kontrakan. Di dalamnya, selain baju ganti dua potong daster dan satu kerudung, ada buku tabungan ibunya yang saldonya Rp 12.000, ada fotokopi ijazah ayahnya yang sudah lecek, dan ada sebuah buku catatan kecil warna biru yang sampulnya sudah sobek.

Buku itu adalah buku keuangan warung nasi uduk ibu. Di halaman terakhir, ada tulisan Arini:

_Utang Koperasi Makmur: 347.500.000 - LUNAS (Dibayar Pak Bram)_

_Mahar Nikah Siri: 350.000.000 (dianggap lunas hutang)_

Mahar.. ?

Dia menyebutnya mahar agar tidak terasa seperti dijual, padahal itu adalah harga dirinya. Harga untuk melunasi napas terakhir ayahnya.

Arini lalu menutup buku itu, air matanya akhirnya jatuh.

Di luar, azan Ashar berkumandang dari masjid komplek perumahan elit itu. Suara yang biasanya menenangkan, hari ini terdengar seperti vonis hukuman seumur hidup.

Dia adalah istri kedua, Istri siri yang tinggal di paviliun belakang tanpa jendela, yang dipanggil "perempuan itu" oleh istri sah, dan yang dianggap pelakor menjijikkan.

"Ya Allah," bisik Arini pelan, suaranya hampir tidak terdengar karena tertahan isak. "Kalau memang ini jalannya, kasih aku kuat sehari saja. Sehari saja aku butuh kuat."

Dia menghapus air matanya, lalu membuka HP jadulnya yang layarnya retak. Ada satu pesan dari ibunya yang masuk 10 menit lalu.

Ibu: Rin, udah sampai rumah baru? Ibu masak sayur asem kesukaan kamu. Kalau kangen rumah, pulang ya sayang. Jangan lupa makan. Ibu kangen._

Arini menatap pesan itu lama, dadanya terasa sesak.

Lalu dia mengetik balasan dengan kebohongan terbesar dalam hidupnya.

Arini: Udah Bu, rumahnya bagus banget. Arini betah. Ibu minum obatnya ya, jangan capek-capek jualan. Nanti Arini kirim uang.

Arini meletakkan HP nya dan menatap dinding paviliun yang lembab dan berjamur, di dinding itu ada bekas paku berkarat. Mungkin dulu tempat menggantung sesuatu.

Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Arini merasa benar-benar sendirian di dunia yang luas ini.

---

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
6 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status