Chapter: 6. Pasukan Burung BangkaiLangit malam di atas hutan pinus mendadak berubah warna menjadi merah keruh. Lentera-lentera kertas di sekeliling rumah joglo retak dan terbakar satu per satu, memuntahkan percikan api yang padam sebelum menyentuh tanah. Bau belerang dan daging busuk menyeruak pekat dari udara."Mereka menggunakan Umpan Jiwa di pusat kota!" geram Nyi Kirana. Wajah cantiknya tidak lagi menunjukkan keramahan. "Target asli mereka sejak awal adalah tempat ini!"KWAKKK! KWAKKK!Ribuan burung gagak bermata merah menyala menembus kabut perak yang melindungi markas. Kepakan sayap mereka membawa hawa angin beku yang menghanguskan pepohonan pinus di sekeliling pelataran. Di belakang kawanan burung iblis itu, belasan sosok berjubah hitam melayang turun, mendarat di atas atap dan pagar kayu joglo.Dari tengah kawanan gagak, muncul seorang pria berbadan bungkuk yang menunggangi gumpalan asap hitam. Wajahnya dipenuhi rajah garis-garis merah, dan di lehernya menggantung kalung dari susunan tulang jari manusia. Di
Terakhir Diperbarui: 2026-10-08
Chapter: 5. Amarah BanaspatiDarah dan bau gosong yang menempel di baju Sakakala perlahan tersapu oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Setelah melompat melintasi batas jendela rumah sakit, langkah Nyi Kirana seolah membentangkan jalan tak kasat mata di udara malam.Setiap kali ujung payung peraknya memukul udara, kabut tebal bergulung, menelan jejak mereka dari kejauhan. Ketika kabut perlahan terurai, Sakakala mendapati dirinya berdiri di pelataran luas berumput basah.Di hadapan mereka, berdiri kokoh sebuah rumah joglo tua berarsitektur kayu jati hitam. Tidak ada lampu listrik, hanya deretan lentera kertas memancarkan cahaya keperakan yang menggantung di bawah bubungan atap. Ukiran relief ular berkepala burung di tiang penyangga joglo seolah terus memandangi setiap pergerakan Sakakala dengan pendaran cahaya mistis yang redup."Di mana ini?" tanya Sakakala, menyapu pandangan ke sekeliling. Hutan pinus tebal mengepung tempat itu, namun udaranya terasa jauh lebih tenang dan murni."Markas cabang Sanggrahan Perak
Terakhir Diperbarui: 2026-10-08
Chapter: 4. Nyi KiranaBau kain terbakar dan sisa racun mistis beradu dengan aroma parfum bunga melati yang dibawa oleh wanita bergaun hitam itu.Setiap kali payung kertas kunonya bergeser tipis, udara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas, meredam raungan sirine darurat di luar gedung, akan tetapi membuat keringat bercucuran.Sakakala melangkah mundur dua langkah. Pisau lipat berrajah kembali tergenggam erat di tangan kanannya, sementara mata kiri Banaspati berkedip berapa kali menatap wanita di depannya."Siapa kau? Kau utusan Sekte Gagak Hitam juga, hah!" tembak Sakakala langsung.Wanita bercadar itu terkekeh pelan. Suaranya terdengar renyah namun dingin bagai bilah es. "Jangan samakan aku dengan kerumunan burung bangkai yang tergeletak di lantaimu ini, Sakakala. Namaku Nyi Kirana."Nyi Kirana memutar gagang payung kertasnya dengan santai. "Jika aku menginginkan nyawamu atau Mata Banaspati itu, aku tidak akan menunggumu menumbangkan lima pembunuh ini. Aku datang menawarkan jalan hidup."'Jalan hidup
Terakhir Diperbarui: 2026-10-08
Chapter: 3. Wanita Bermata PerakUdara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas. Lima pria berjas hitam dari Sekte Gagak Hitam mengepung dari berbagai sudut, mengunci setiap celah. Pendaran merah dari bilah keris modern di tangan mereka memantul di dinding putih ruangan."Kalian siapa? Apa mau kalian?!" geram Sakakala, memposisikan pisau lipatnya di depan dada dan mengambil kuda-kuda."Kau tidak perlu tahu siapa kami," sahut pria berjas hitam di tengah. "Serahkan Mata Banaspati, atau kami akan mengulitimu hidup-hidup."Tanpa peringatan, dua pria di sisi kiri dan kanan menerjang maju secara bersamaan. Gerakan mereka begitu presisi dan cepat, mengayunkan keris mereka membentuk silangan tajam yang mengincar leher dan perut Sakakala.Berkat dorongan Refleks Tubuh lebih dari 20% yang Sakakala serap sebelumnya, persepsi Sakakala terhadap gerakan musuh terasa sedikit lambat. Ia membungkukkan badan secara refleks, merasakan desiran angin tajam dari bilah keris yang nyaris menyambar helai rambutnya. Sakakala bergulin
Terakhir Diperbarui: 2026-10-08
Chapter: 2. Serapan Kutukan PertamaSakakala merasakan hawa aneh yang menyengat menjalar dari punggung hingga ke leher. Tiba-tiba bau bangkai busuk yang menggelitik hidung memenuhi ruangan dan mengalahkan bau antiseptik rumah sakit.Melalui mata kanannya, Sakakala melihat sang dokter masih berdiri dengan raut wajah tenang. Namun, melalui mata kirinya yang menyala merah dan mampu menembus pandang serta merekam fakta yang ganjil. Di bawah kulit leher dokter itu, ratusan urat hitam bergerak menggeliat seperti cacing yang saling bertumpuk. Aura pekat itu menjalar liar, membentuk wujud samar monster melata bermata picik yang melilit tubuh sang dokter."Cacing Bangkai..." bisik suara berat bergaung di dalam kepala Sakakala, suara dari inti Banaspati yang menyatu dengan jiwanya. "Makhluk suruhan tingkat rendah. Dia datang untuk membungkam mulutmu.""Siapa kau?" ujar Sakakala, menyudutkan tubuhnya hingga menempel pada papan kepala ranjang. Tangannya gemetar menahan ngeri.Dokter itu tidak menjawab dengan kata-kata. Mulutnya me
Terakhir Diperbarui: 2026-10-08
Chapter: 1. Mata Banaspati"Pegang kepala bocah itu! Jangan sampai ritualnya gagal hanya karena dia meronta. Darah ritual ini harus disiramkan saat dia masih sadar sepenuhnya. Dia tidak boleh pingsan ataupun mati!"Sentakan kasar di rambutnya memaksa Sakakala keluar dari kegelapan. Sensasi terbakar menyengat kulitnya seketika, disusul bau amis darah yang menusuk hidung.Pandangannya remang, tetapi rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya terasa sangat nyata, seolah dihantam martil besi.Ketika matanya berhasil terbuka sempurna, dadanya bergemuruh hebat. Belasan sosok berjubahkan kain merah darah mengelilinginya, merapalkan kidung kuno atau mantra gaib bertempo cepat yang membuat lantai batu di bawah tubuhnya bergetar. Sakakala berusaha menggerakkan badan, namun ia menyadari tubuhnya sudah dipasung terlentang di atas batu berdarah.Di hadapannya, berdiri megah sebuah batu besar. Di puncaknya, seorang pria berjubah hitam mengenakan topeng emas dan tepat di bawah kakinya, dua sosok yang sudah tergeletak ti
Terakhir Diperbarui: 2026-10-08