Mag-log inSakakala awalnya hanyalah pria biasa yang terjebak dalam pembantaian masal Ritual Banaspati Merah yang membunuh keluarganya. Namun, alih-alih tewas menjadi korban, tubuhnya justru menyerap inti api gaib purba kuno yang lepas kendali. Ia selamat, tetapi mata kirinya berubah menjadi Mata Banaspati. Sebuah penglihatan mistis yang mampu menembus benang kutukan, aura bahaya, hingga titik lemah makhluk supernatural. Mampukah Sakakala menaklukkan 1.000 kutukan sebelum jiwa manusianya habis dilahap oleh api Banaspati di dalam matanya?
view more"Pegang kepala bocah itu! Jangan sampai ritualnya gagal hanya karena dia meronta. Darah ritual ini harus disiramkan saat dia masih sadar sepenuhnya. Dia tidak boleh pingsan ataupun mati!"
Sentakan kasar di rambutnya memaksa Sakakala keluar dari kegelapan. Sensasi terbakar menyengat kulitnya seketika, disusul bau amis darah yang menusuk hidung.
Pandangannya remang, tetapi rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya terasa sangat nyata, seolah dihantam martil besi.
Ketika matanya berhasil terbuka sempurna, dadanya bergemuruh hebat. Belasan sosok berjubahkan kain merah darah mengelilinginya, merapalkan kidung kuno atau mantra gaib bertempo cepat yang membuat lantai batu di bawah tubuhnya bergetar.
Sakakala berusaha menggerakkan badan, namun ia menyadari tubuhnya sudah dipasung terlentang di atas batu berdarah.
Di hadapannya, berdiri megah sebuah batu besar. Di puncaknya, seorang pria berjubah hitam mengenakan topeng emas dan tepat di bawah kakinya, dua sosok yang sudah tergeletak tidak bernyawa.
Genangan darah hangat dari tubuh mereka merembes perlahan, mengalir menyusuri celah batu ritual hingga mengenai jemari Sakakala.
"Ayah... Ibu..."
Suara Sakakala tercekik di tenggorokan. Dengan sisa tenaga, ia mencoba mencabut pasak yang mengikatnya, tetapi rasa getir dan pilu menghantam dadanya begitu keras hingga ia terjerembap kembali, menempelkan pipinya pada dinginnya lantai batu yang tersiram darah.
"Sekarang giliranmu!" ucap pria itu datar, mengayunkan belatinya ke arah Sakakala.
Sialan! Mereka tidak ingin membunuhku. Mereka hanya ingin menyiksa dan mencuri ragaku. Aku bukan sekadar korban, tapi aku juga akan dijadikan tumbal!
CTARRR!
Bukan tebasan belati yang merobek kulit Sakakala, melainkan kejutan energu tak kasat mata dari inti Banaspati yang tiba-tiba meledak liar.
Bola api merah pekat itu bergetar hebat, memancarkan gema raungan gaib yang memekakkan telinga. Pria bermasker emas terdorong mundur beberapa langkah, menahan hantaman angin panas yang kuat.
Kedua mata Sakakala membelalak dengan sempurna. Lingkaran api di sekeliling pilar mendadak membumbung tinggi, memusat tepat di atas dadanya.
Sebuah bola api yang panasnya menyengat seperti menjulurkan lidah-lidah api yang bersiap menembus dadanya dan melahap jiwanya.
Rasa panik menguasai seluruh sel tubuhnya. Jantungnya berdegup sangat kencang saat sebuah fakta melintas dalam otak kecilnya.
Pembantaian orang tuanya sengaja disajikan di depan matanya agar mentalnya hancur dan jiwanya mati rasa. Tubuhnya sengaja disiapkan menjadi wadah kosong yang siap dirasuki dan dikuasai sepenuhnya oleh iblis api tersebut.
"Tidak mungkin. Inti apinya menolak ikatan ritual!" seru salah satu pengikut berjubah merah dengan panik.
"Tahan ritualnya. Jangan biarkan inti apinya lepas!" perintah pria bermasker emas.
Namun semuanya sudah terlambat. Inti Banaspati Merah meluncur turun dengan cepat. Bukan menuju dada atau jantung Sakakala, melainkan melayang tepat di atas wajahnya.
Sakakala berteriak dengan keras saat gumpalan api iblis itu memusatkan seluruh energinya dan menghantam mata kiri pemuda itu.
"AAAARGGGHHH!"
Rasa sakit yang diderita Sakakala membuat tubuhnya terlonjak tidak karuan. Rasa panas yang seolah melelehkan bola mata, saraf, hingga meresap langsung ke dalam jiwanya.
Mata kiri Sakakala menyerap seluruh kobaran api merah itu tanpa sisa. Bersamaan dengan terserapnya inti iblis tersebut, altar batu di bawah Sakakala meledak dan hancur.
Gelombang kejut dahsyat memancar ke segala arah, merubuhkan pohon-pohon besar dan melempar para pengikut berjubah merah hingga menghantam tanah.
"Mata itu... Dia menyerap inti Banaspati Merah!" pekik pria bermasker emas, menyipitkan mata di balik topengnya saat melihat gelombang energi mulai merambat liar. "Cepat mundur. Tempat ini akan hancur!"
Para pelaku yang tersisa merangkak panik dan melarikan diri ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan altar ritual yang hancur berantakan.
Sakakala terbaring di antara puing-puing altar batu. Pandangannya kabur, kepalanya serasa pecah, sebelum akhirnya kegelapan total menyergap kesadarannya.
•••
Suara dengung mesin pemantau detak jantung menjadi hal pertama yang menyapa pendengaran Sakakala. Bau antiseptik yang tajam menggantikan aroma darah dan kemenyan.
Ia membuka matanya perlahan. Langit-langit putih dan lampu neon yang redup menandakan ia tidak lagi berada di hutan.
Sakakala mencoba menggerakkan tubuhnya, merasakan rasa nyeri yang masih ia rasakan di sekujur tubuhnya dan tangan kirinya terpasang selang infus.
Ketika ia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajahnya, jemarinya meraba lapisan perban kasa yang tebal menutup sebelah kiri wajahnya. Mata kirinya tertutup rapat di balik balutan itu.
'Ingatan itu...' batin Sakakala, dadanya berdebar kencang saat bayangan kematian orang tuanya berputar kembali di kepalanya. "Ayah... Ibu..."
Pintu kamar rawat terdorong terbuka. Seorang dokter pria paruh baya berkacamata masuk sambil membawa papan catatan medis. Ia tersenyum ramah saat melihat Sakakala sudah terduduk di ranjangnya.
"Selamat malam, Sakakala. Baguslah kau sudah sadar," kata dokter itu dengan suara tenang. "Tim penyelamat menemukanmu tergeletak di area hutan dua hari yang lalu dan kondisimu sempat kritis."
"Dokter, di mana orang tua saya?" tanya Sakakala dengan suara yang masih lemah.
Dokter itu menghentikan langkahnya sejenak, memasang raut wajah prihatin. "Polisi masih menyelidiki lokasi kejadian, Nak. Sebaiknya kau fokus pada pemulihanmu dulu."
Sakakala menyipitkan mata kanannya, merasakan getaran aneh di balik perban mata kirinya. Ada sensasi hangat yang berdenyut, seolah menuntut untuk dibebaskan.
Tanpa memedulikan larangan dokter, tangan kanan Sakakala naik dan mulai mengurai ikatan perban di kepalanya.
"Hei, jangan dibuka dulu. Luka di mata kirimu belum—"
Kain perban terakhir terlepas dan jatuh ke pangkuannya. Sakakala membuka mata kirinya.
Dunia di sekitarnya seketika berubah. Mata kanannya melihat ruangan rumah sakit yang bersih dan terang, namun mata kirinya menangkap realitas yang sama sekali berbeda.
Lewat penglihatan merah darah dari mata Banaspati, pandangannya menembus lapisan luar sang dokter.
Sesosok aura hitam, seperti asap tebal berduri yang berbau busuk melilit erat tubuh dokter tersebut dari kaki hingga ke leher dan di balik wajah ramah sang dokter.
Aura hitam itu membentuk seringai raksasa dengan mata merah menyala yang menatap tepat ke arah Sakakala.
Dokter itu melangkah mendekati ranjang, tersenyum semakin lebar hingga sudut bibirnya tertarik tidak alami.
"Akhirnya kau bangun juga, wadah Banaspati," bisik dokter itu dengan nada suara berlapis yang asing dan mengerikan.
Langit malam di atas hutan pinus mendadak berubah warna menjadi merah keruh. Lentera-lentera kertas di sekeliling rumah joglo retak dan terbakar satu per satu, memuntahkan percikan api yang padam sebelum menyentuh tanah. Bau belerang dan daging busuk menyeruak pekat dari udara."Mereka menggunakan Umpan Jiwa di pusat kota!" geram Nyi Kirana. Wajah cantiknya tidak lagi menunjukkan keramahan. "Target asli mereka sejak awal adalah tempat ini!"KWAKKK! KWAKKK!Ribuan burung gagak bermata merah menyala menembus kabut perak yang melindungi markas. Kepakan sayap mereka membawa hawa angin beku yang menghanguskan pepohonan pinus di sekeliling pelataran. Di belakang kawanan burung iblis itu, belasan sosok berjubah hitam melayang turun, mendarat di atas atap dan pagar kayu joglo.Dari tengah kawanan gagak, muncul seorang pria berbadan bungkuk yang menunggangi gumpalan asap hitam. Wajahnya dipenuhi rajah garis-garis merah, dan di lehernya menggantung kalung dari susunan tulang jari manusia. Di
Darah dan bau gosong yang menempel di baju Sakakala perlahan tersapu oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Setelah melompat melintasi batas jendela rumah sakit, langkah Nyi Kirana seolah membentangkan jalan tak kasat mata di udara malam.Setiap kali ujung payung peraknya memukul udara, kabut tebal bergulung, menelan jejak mereka dari kejauhan. Ketika kabut perlahan terurai, Sakakala mendapati dirinya berdiri di pelataran luas berumput basah.Di hadapan mereka, berdiri kokoh sebuah rumah joglo tua berarsitektur kayu jati hitam. Tidak ada lampu listrik, hanya deretan lentera kertas memancarkan cahaya keperakan yang menggantung di bawah bubungan atap. Ukiran relief ular berkepala burung di tiang penyangga joglo seolah terus memandangi setiap pergerakan Sakakala dengan pendaran cahaya mistis yang redup."Di mana ini?" tanya Sakakala, menyapu pandangan ke sekeliling. Hutan pinus tebal mengepung tempat itu, namun udaranya terasa jauh lebih tenang dan murni."Markas cabang Sanggrahan Perak
Bau kain terbakar dan sisa racun mistis beradu dengan aroma parfum bunga melati yang dibawa oleh wanita bergaun hitam itu.Setiap kali payung kertas kunonya bergeser tipis, udara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas, meredam raungan sirine darurat di luar gedung, akan tetapi membuat keringat bercucuran.Sakakala melangkah mundur dua langkah. Pisau lipat berrajah kembali tergenggam erat di tangan kanannya, sementara mata kiri Banaspati berkedip berapa kali menatap wanita di depannya."Siapa kau? Kau utusan Sekte Gagak Hitam juga, hah!" tembak Sakakala langsung.Wanita bercadar itu terkekeh pelan. Suaranya terdengar renyah namun dingin bagai bilah es. "Jangan samakan aku dengan kerumunan burung bangkai yang tergeletak di lantaimu ini, Sakakala. Namaku Nyi Kirana."Nyi Kirana memutar gagang payung kertasnya dengan santai. "Jika aku menginginkan nyawamu atau Mata Banaspati itu, aku tidak akan menunggumu menumbangkan lima pembunuh ini. Aku datang menawarkan jalan hidup."'Jalan hidup
Udara di dalam kamar rawat mendadak terasa panas. Lima pria berjas hitam dari Sekte Gagak Hitam mengepung dari berbagai sudut, mengunci setiap celah. Pendaran merah dari bilah keris modern di tangan mereka memantul di dinding putih ruangan."Kalian siapa? Apa mau kalian?!" geram Sakakala, memposisikan pisau lipatnya di depan dada dan mengambil kuda-kuda."Kau tidak perlu tahu siapa kami," sahut pria berjas hitam di tengah. "Serahkan Mata Banaspati, atau kami akan mengulitimu hidup-hidup."Tanpa peringatan, dua pria di sisi kiri dan kanan menerjang maju secara bersamaan. Gerakan mereka begitu presisi dan cepat, mengayunkan keris mereka membentuk silangan tajam yang mengincar leher dan perut Sakakala.Berkat dorongan Refleks Tubuh lebih dari 20% yang Sakakala serap sebelumnya, persepsi Sakakala terhadap gerakan musuh terasa sedikit lambat. Ia membungkukkan badan secara refleks, merasakan desiran angin tajam dari bilah keris yang nyaris menyambar helai rambutnya. Sakakala bergulin
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.