Chapter: SELESAI"Saya terima nikah dan kawinnya Zaitun binti Rauf dengan maskawin tersebut dibayar tu--nai!""Bagaimana saksi, sah?""Sah!"Pak penghulu kemudian melanjutkan dengan bacaan ayat-ayat, lalu doa-doa. Sedangkan para hadirin serta saksi dan wali hakim yang mana sebagian besar dari mereka adalah kerabat dekat ayah dan ibu, mengimbangi pak penghulu dengan sahutan 'aamiin'. Sejenak menyimak seraya diam-diam memperhatikan.Semua orang tampak khusyuk. Maya yang duduk di kursi roda, dan berada tepat di belakangku, dia pun kini menumpu kedua tangan, menundukkan kepala, dan dengan mata terpejam. Bibirnya pun tak henti mengucapkan kata 'aamiin', dan itu berlangsung sampai pak penghulu mengusaikan doa-doanya."Alhamdulillah," ucap Maya lagi. Matanya tampak berkaca-kaca. "Sekarang Zaitun resmi dan sah menjadi bagian dari keluarga kita," tambahnya.Ibu yang lebih dulu menimpali, "Terima kasih, Maya. Tanpa izinmu, ijab kabul ini tidak akan pernah terlaksana.""Jangan bicarakan itu lagi, Bu," tepis May
Terakhir Diperbarui: 2026-07-03
Chapter: 242Agnes dan Abraham langsung membuntuti langkah Bu Merlin. Sedangkan Angel yang tiba-tiba jadi pendiam terhadap kami, baru membayangi langkah kedua kakaknya setelah Agnes menolehi dia sebentar.Cara Agnes menatap Angel sangat kentara sekali kalau itu semacam wanti-wanti. Mungkin karena itulah Angel yang biasanya tidak bisa menahan diri dalam berkata-kata, pada akhirnya beredar dengan wajah tertekuk dalam! "Bara?" desis Rafika sesaat setelah mereka semua tak lagi mengarahkan wajah pada kami, "kok aku merasa ada yang tidak biasa dengan Angel?""Maksudnya?" Aku menyahut sekedarnya saja."Angel kayak canggung gitu," imbuhnya. "Kan itu tidak kayak biasanya ya? Atau jangan-jangan itu karena..."Rafika tak menggenapi kalimatnya, tapi aku merasa tahu apa yang ingin dia katakan. "Iya, Rafika," sahutku, "tapi biarkan saja. Setidaknya sekarang kita sudah tahu seperti apa watak dia yang sebenarnya!"Rafika tak berkedip menatapku, tapi yang dia perlihatkan justru gurat kebingungan yang mendalam."
Terakhir Diperbarui: 2026-07-01
Chapter: 241Rafika berjalan kira-kira lima atau enam langkah di depan Edy Hidayat. Begitu mendekat perhatian langsung dia fokuskan pada Meisya, bukan aku!"Maaf," ucap Rafika, menatap serius wajah Meisya, "apakah kamu yang bernama Meisya?""Benar," sahut Meisya tanpa ada rasa sungkan sedikitpun juga. "Aku Meisya, saudara barumu," tambahnya dan tersenyum ramah."Senang sekali mendengarnya," balas Rafika juga. "Aku berharap mulai saat ini kita akan saling menguatkan satu sama lain.""Pasti, pasti itu Rafika. Maya juga sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu."Saat mengatakan itu, Meisya sudah lebih dulu membawa Rafika dalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan sangat hangat sekali. Aku bahkan merasa seakan-akan tidak percaya dengan pemandangan ini Pada momen ini, Edy Hidayat kebetulan juga melintasi kami. Sepertinya dia akan menuju ke ruangan di mana Nola berada. Aku tak berkedip mengawasi gerak-geriknya. Pasalnya, setelah melewati kami tanpa menoleh sedikitpun juga, dia lalu melintas di hadapan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: 240"Hei Bara, apa-apaan kau ini, ha? Bisa tidak kamu kondisikan dirimu? Kau bisa saja membuat kita celaka kalau mengemudi seperti orang kesetanan seperti ini, Bara!""Ibu...""Ya Tuhan, Bara, ada apa denganmu? Bukankah sudah kukatakan kau bisa saja membuat kita celaka?"Rafika memang benar, aku mengemudi layaknya orang kesetanan begini, bukan tidak mungkin akan membuat kami bahkan orang lain mengalami kecelakaan. Terlebih lagi dia sudah sampai berteriak panik bukan kepalang seperti itu, memang alangkah baiknya jika aku mengemudi secara normal saja."Maafkan aku, aku terlalu cemas saat ini. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!" Meskipun mungkin ini sudah sedikit terlambat, tapi aku berucap dengan sepenuh hati. Laju kendaraan pun sudah aku normalkan sebagaimana mestinya Alih-alih menyahut tidak peduli itu semisal mengumpat sekalipun, Rafika justru membuang muka. Namun, setelah kulirik dia sekilas dan mendapati raut wajahnya yang masih diselimuti oleh ketegangan, dan juga bersekutu
Terakhir Diperbarui: 2026-06-11
Chapter: 239"Brengsek, ternyata kalian!" "Iya Bara, ini memang kami. Senang sekali kamu sudah kembali.""Hah, brengsek kalian semua!"Sekali lagi aku memaki, tapi lawan bicaraku justru senyum-senyum sendiri, sebelum kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan ekspresi wajah sendiri-sendiri.Sementara itu, aku pada akhirnya hanya bisa kesal sendiri saat tahu siapa orang-orang dalam mobil yang aku cegat di tengah jalan ini.Bodohnya aku, barusan itu ada yang lupa aku pastikan!Tipe kendaraan hingga warnanya memang mirip dengan kendaraan yang membuat masalah pada aku dan Angel di bandara Kendari sana tempo hari, tapi plat nomornya itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang membuatku mendadak sok jagoan.Begitu juga dengan enam orang pria urakan dalam mobil ini, mereka semua adalah teman lamaku!"Oh ya Bara, ngomong-ngomong siapa perempuan di mobil itu? Perasaan kami baru pertama kali lihat dia.""Iya Bara, siapa dia? Apakah dia...""Hah sudah-sudah, aku tidak punya waktu untuk menjawab pertan
Terakhir Diperbarui: 2026-06-10
Chapter: 238"Jadi memang benar ya, aku memang sangat payah di matamu?""Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Rafika! Sudah ah, oke baik, aku akan temani kamu. Mari pergi sekarang!"Sebelum dia terlalu jauh memojokkan aku, memang akan lebih baik jika aku ikuti saja kemauannya. Biar dia saksikan sendiri saja akan seperti apa sosokku di pasar sentral ini sebentar nanti.Dan semoga saja dia siap mental untuk menghadapi reaksi orang-orang!Tapi begitu aku keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan bukannya menerima panggilan atau semacamnya, dia justru mengkerutkan kening."Ada apa? Maksudku siapa yang menelepon? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku penasaran."Tidak tahu siapa, nomor baru," katanya, sebelum kemudian me-reject panggilan itu.Tapi hanya selang beberapa saat dari itu, ponselnya kembali berdering. Sampai di sini aku berkata saja sekenanya, "Angkat saja dulu. Siapa tahu itu dari orang di desamu. Ayah atau ibumu misalnya?"Dia masih terlihat enggan. Namun begitu aku meminta dia sek
Terakhir Diperbarui: 2026-06-09
Chapter: Bertemu Seorang Ratu"Siapa, Ma?" terdengar suara seseorang dari arah belakang kios."Bukan siapa-siapa," jawab wanita berhati mulia ini.Tapi setelah itu, dia tiba-tiba mengibas-kibaskan punggung tangan, bibir bergerak-gerak, dagu dia lempar-lempar ke arah jalan raya sana.Itu sebuah syarat!Memikul keranjang dengan kelam kabut, melangkah pergi pun dengan jauh lebih kelam kabut lagi."Jualan apa anak itu?" Itu masih suara lelaki yang datang dari belakang kios barusan."Jual anu, langsat, tapi sudah habis," sahut si wanita dermawan. Sangat jelas kalau dia sedang coba 'menyelamatkan' kami. Setelahnya, mereka masih bertukar tanya dan jawab, tapi aku tidak bisa lagi memastikan mereka membicarakan apa. Kami sudah semakin menjauh.Kira-kira satu kilometeran membelakangi kiosnya, barulah aku terpikir akan susu pemberiannya tadi. Kuletakkan keranjangnya ke tanah, lalu memastikan."Yah maaf adik-adik, sepertinya memang hanya yang tiga ribu rupiah ini rejeki kita.""Kalian jangan sedih ya. Mudah-mudahan besok re
Terakhir Diperbarui: 2026-09-29
Chapter: Bertemu Orang Baik"Astaghfirullah! Ya Allah.., kenapa aku selalu panikan seperti ini?"Barusan itu sudah kuarahkan wajah ke sana-sini, mencari dengan panik uang tiga ribu rupiah yang coba direbut oleh Pak Mandor tadi. Tapi ternyata, uangnya justru berada di telapak kakiku sendiri. Aku bahkan menginjak uang ini.Cepat kujumput lalu beringsut ke keranjang Karma dan Norma. Dan, aku langsung tahan nafas.Anak-anak Zarima di siang ini.Satu lagi bukti Kemahabesaran Tuhan yang Dia perlihatkan padaku, seorang hamba yang maha lemah ini.Kudapati adik-adikku yang malang ini dalam keadaan terjaga. Apalagi Karma. Tangan dan kakinya bergerak-gerak, naik turun sebagaimana biasa. Selain itu, entah ini hanya peluh atau memang air mata, tapi ada bulir-bulir bening menghiasi wajah damainya.Tidak sedikitpun Karma memperdengarkan suara. Bahkan, anak ini seperti sedang menyuguhi aku seutas senyum simpul. "Terima kasih Tuhan, Kak Rima memang benar, Kau memang Maha Romantis," bisikku haru, rasa nyeri pada ragawi pun rasa-
Terakhir Diperbarui: 2026-09-28
Chapter: Uangnya di Mana?"Berani-beraninya kau lukai Pak Mandor ya?" Setelah kata-kata dinginnya itu jatuh sekali lagi, orang ini masih berkata-kata dengan sangat banyak;"Anak setan, mau tunjuk jago ya kau di sini?""Kenapa bukan aku yang kau lawan?""Lawan aku Baryno, lawan aku..."Naas! Pada bagian terakhir itu, dia sambil menendangi aku setelah lebih dulu menghentakkan tapak kakinya dengan keras ke sisi wajahku. Setelahnya, entah karena merasa aku sudah benar-benar terjebak, tak berkutik menghadapi tinju sepaknya, atau mungkin juga merasa kesal, orang ini menghantamku secara sporadis lagi membabi buta! Wajah dan dadaku sepertinya yang jadi incarannya.Sementara itu, meskipun tak ada niat membalas atau setidaknya membebaskan diri, sedaya upaya aku coba melindungi diri supaya tidak menjadi matras hidup bagi tinju sepaknya. Kedua tangan aku gunakan untuk melindungi wajah dan sedikit dada, lutut aku tarik naik untuk turut melindungi. Bentuk badan mirip udang meringkuk dalam posisi menyamping.Bagian terba
Terakhir Diperbarui: 2026-09-27
Chapter: Cakar Elang BatuKetika mereka tahu di mana tempat tinggal kami saja, orang-orang langsung bisa menebak, mengungkit fitnah yang melibatkan aku kepada Zarima. Lalu, bagaimana dengan seseorang yang ternyata bisa mengeja namaku dengan fasih? Aku masih trauma, aku cemas kejadian yang sudah-sudah akan terulang lagi. Ditambah lagi dengan sorot mata orang ini yang sudah tidak ubahnya hewan buas pada mangsa, sungguh telah membuatku abai akan selainnya kecuali rasa gugup semakin menjadi.Sekujur tubuh ini gemetar tak karuan. Uang dalam genggaman pun sampai lepas begitu saja hingga jatuh ke tanah tanpa sadar."Pak, mohon...""Jangan banyak bicara! Bayar atau akun kucekik lehernu!" Dia serius mencengkram leher bajuku dengan sedikit lebih kuat lagi. Aku sampai sempat kesulitan bernapas dibuatnya."Bukan tidak mau bayar, Pak, tapi uang kami hanya tiga ribu ini adanya. Tolong beri sedikit kelonggaran. Demi Tuhan, ini untuk beli susu adik-adikku."Aku sungguh-sungguh memohon. Andai dia meminta untuk melakukan sesu
Terakhir Diperbarui: 2026-09-27
Chapter: Jawaban dari Doa-Doa?....memang adalah seseorang yang sangat kukenal. Maryati Tompa namanya. Andai bernasib baik, seharusnya aku juga sedang mengenakan seragam putih biru seperti yang melekat di badannya saat ini."Ini anaknya siapa, Bary? Maksudku, anaknya Zarima, bukan?"Dia tiba-tiba berpindah topik. Ada kesan ambigu dalam nada bicaranya. Tapi aku mengangguk meskipun hanya sekadarnya."Iya." Menyahut pun nyaris tak terdengar oleh telingaku sendiri."Zahira kok tidak cerita ya, kalau anaknya Zarima ada dua? Ini kembar, 'kan?"Ternyata itu masalahnya. Langsung aku iyakan, tapi suaraku benar-benar payah di ketika ini.Maryati ini memang sahabatan dengan Zahira. Pada aku pun sebenarnya dia selalu ramah. Lalu itu, bisa berteman dengannya, rasanya itu seperti sebuah keberuntungan tersendiri. Pasalnya, selain cucu mantan bupati, ayah Maryati adalah seorang camat aktif di kecamatan kami.Tapi itu dulu, ketika impian mengubah debu jadi permadani masih membara pada setiap derap langkah. Sedangkan sekarang?"Maa
Terakhir Diperbarui: 2026-09-26
Chapter: Langit Seolah Berpaling"Kamu jangan tersinggung seperti itu Bary, aku ini hanya coba ngasih solusi, lho!"Yulianti masih menyempatkan diri berkata-kata. Nada bicaranya sudah hampir normal seperti biasanya.Sementara itu, aku yang sudah siap melanjutkan langkah sambi memikul keranjang, mau tidak mau menunda niat."Tidak Mbak. Tidak ada yang tersinggung. Aku hanya merasa berat saja."Yulianti ini selalu tulus pada kami, jadi bagaimana mungkin aku berani mengabaikan dia begitu saja."Berat, maksudnya?" Dia mengkerutkan dahi.Aku terdiam. Memperinci ini, sepertinya hanya akan memperpanjang cerita.Di sisi lain, mungkin mulai paham dengan maksud dari perkataanku, Yulianti melanjutkan, "Begini Bary. Aku tidak ada maksud misahin kamu dari anak-anaknya Zarima ini. Aku juga tau, kamu pasti sangat menyayangi mereka.""Tapi Bary, taukah kamu seperti apa sulitnya ngerawat bayi seperti mereka? Berat Bary! Satu saja beratnya nauzubillah, apalagi dua!"Kali ini dia sepenuhnya benar. Baru beberapa hari merawat, aku sudah h
Terakhir Diperbarui: 2026-09-25