Chapter: Sugesti"Astaga, sudah malam?""Ya Allah.. kenapa aku sampai harus ketiduran begini, sih?""Kak Rima juga, kok dia tidak bangunin aku?"Aku bermonolog, resah sekaligus menyesal kala mendapati hari telah pun berangsur-angsur gelap. Saat mulai mencuci sekitar pukul dua tadi, Zarima sendiri yang menyarankan, memintaku untuk mendahulukan pakaian kotor bayi-bayinya. Sedangkan pakaian kotor dan bekas nifasnya tadi malam, barulah dicuci setelahnya.Rendam dulu barang setengah jam, biar gampang dicuci, begitu katanya tadi, dan kuturuti itu. Satu hal lainnya yang cukup banyak menghabiskan waktu, adalah kesibukanku bolak balik ke desa untuk mengambil air bersih. Masalahnya juga, mencuci pakaian mereka ini ternyata butuh lebih banyak air bila dibandingkan mencuci pakaian biasa. Bayangkan saja, untuk pakaian bayi-bayinya saja, itu menghabiskan air sebanyak empat jerigen lima literan. Itupun aku tidak terlalu yakin kalau sudah benar-benar bersih.Tiga kali bolak balik ke desa untuk mendapatkan air bers
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: Mereka Anak-anakmu, Zarima!"Baiklah Mbak, aku terima titipannya. Nanti tolong sampaikan terima kasihku pada siapa pun yang sudah ngasih semua ini."Meskipun sangat yakin Zahira adalah orangnya, tapi pasti akan jauh lebih menenangkan bila tahu persis ini pemberian siapa. "Iya iya, nanti aku sampaikan!" sahutnya. "Intinya Bary, orang tidak mungkin ngasih sesuatu, kalau mereka tidak kenal atau perduli pada kita.""Bahkan, adakalanya itu semacam bentuk kasih sayangnya pada kita lho. Kamu paham kan dengan apa yang kumaksudkan?"Itu dia! Sekarang semakin meyakinkan kalau yang dia maksudkan pasti Zahira. Bukan hendak menolak uluran tangan dari sesama atau semacamnya, tapi andai tidak khawatir justru akan membuatnya kecewa, walau dalam kondisi kepepet sekalipun, aku tidak akan menerima pemberiannya ini.Tentang Yulianti, wanita berhati mulia ini juga sudah sangat tahu apa alasan di balik aku selalu menolak pemberian Zahira. Jadi, tidak mengherankan kalau dia tidak bisa berterus terang, dan hanya berani berselindung
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: Dia Pasti Zahira!Pezina? Kenapa lagi-lagi aku harus divonis dengan sesuatu yang tidak kulakukan?Sedari awal aku sudah mendebat banyak orang, mengatakan bahwa apa yang mereka sangkakan kepada kami semuanya adalah fitnah. Namun, jangankan yang tidak tahu menahu seperti orang tua ini, orang-orang di sekeliling kami saja malah tidak percaya dengan pembelaan tersebut.Pun, masih dalam balutan rasa yang entah seperti menggambarkannya, perlahan aku turunkan badan, menjumput bulir-bulir beras dan kacang tanah yang jatuh berserakan di tanah barusan.Tapi kemudian, baru saja juga menjumput beberapa bulir, orang tua ini sudah kembali menyalak dengan tajam!"Hei hei, apa yang kau lakukan, ha?" Begitu awalnya sebelum kemudian dia menambahkan, "Bukankah sudah kukatakan, lebih baik aku kasih ke anjing barangku itu daripada disentuh oleh pezina seperti kamu?"Orang tua yang tadinya kupikir adalah malaikat ini sudah terlalu jauh melampaui batasannya! Cepat aku tegakkan badan, lalu membalas!"Pak, tolong jangan terla
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: Lebih Berharga Seekor AnjingTiba di desa, aku hanya mampir menyimpan pikulan beserta jerigen yang masih kosong di tempat pembuatan batu bata. Setelah itu,aku langsung ke pasar.Pasar yang kutuju adalah pasar yang paling ramai di kecamatan kami. Jaraknya dari tempat pembuatan batu bata hanya sekitar tiga kilometer. Biasanya aku hanya butuh waktu empat puluh menitan untuk tiba di sana."Astaga, kenapa tadi aku tidak kepikiran sama sekali sih?" Aku bermonolog, kaget sekaligus menyesal.Sudah berada di depan sebuah toko barulah aku ingat, kalau tadi aku tidak sempat meminta uang dari Zarima. Bagian terbaiknya, uang dua puluh tujuh ribu milikku, masih tetap berada di saku. Uang ini mungkin cukup, tapi untuk pulang dulu ke ladang itu lebih tidak mungkin lagi.Pun, masuklah aku ke toko dimaksud untuk mendapatkan barang yang dipesan Zarima.Aku memulainya dengan pupur bayi merk R*ta. Harganya empat ribu rupiah, lebih murah seribu rupiah dari yang Zarima sebutkan. Sabun mandinya yang lumayan mahal. Botol kecil saja ha
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: Nifasnya Raib Entah KemanaTidak ingin membuang-buang waktu, begitu selesai sarapan, aku langsung menghampiri Zarima."Kak," ucapku membuka percakapan, "tadi kamu minta tolong apa?" "Itu Bary," jawabnya, "tembuni tadi malam, nanti tolong tanamkan ya. Pamali lho, kalau terlalu lama dibiarkan."Zarima yang tengah bersiap memandikan bayi-bayinya ini, berkata-kata tanpa menoleh aku. Apa yang dia sampaikan juga memang hanyalah perkara biasa. Hanya saja, tumben dia menyelipkan kata 'pamali' dalam kalimatnya. Pada saat yang sama, mungkin karena mendapati aku yang belum juga merespon, dia kemudian berkata lagi."Iya, tidak apa-apa, nanti saja. Maksudku, tunggulah sampai makanan tenang di perutmu."Sampai di sini barulah langsung kubalas, "Tidak, Kak, sekarang saja, biar aku bisa cari kerjaan lain lagi juga, 'kan? Matahari sudah tinggi, lho!""Iya juga sih," sambungnya.Zarima hanya sampai di situ. Aku juga tidak lagi menambahkan, dan langsung bergeser menyambar gentong-gentong berisi tembuni, juga golok tua untuk men
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Lapa-LapaZarima tiba-tiba menggerakkan badan, salah satu tangannya dia tautkan ke dinding. Dinding gubuk kami ini terbuat dari anyaman bambu buluh. Butuh sedikit kehati-hatian saat berpegangan padanya jika tidak ingin tergores.Tangannya yang lain pula, bertumpu pada lututnya sendiri. Sepertinya dia hendak meninggalkan tempat duduknya."Kak, kamu butuh apa? Ayo, biar aku saja. Tolong jangan memaksakan diri!" Aku menyela, berkata-kata dengan penuh penekanan, dan tidak ingin bernegosiasi. Terpaksa kulakukan, karena untuk berdiri dari duduknya saja, kulihat dia harus melakukannya dengan sangat susah payah."Tolong ambilkan pakaian anak-anak ini," katanya juga, "Ambilkan saja sekalian buntalannya," tambahnya. Lalu, masih sambil berpegangan pada dinding, pelan-pelan dia duduk kembali di sisi bayi-bayinya.Setelah mengambil buntalan yang dia maksudkan, aku himpun pakaian kotornya menjadi satu, lalu menaruhnya pada suatu tempat. Setelah itu barulah aku beralih pada gentong-gentong berisi tembuni.
Last Updated: 2026-08-23
Chapter: SELESAI"Saya terima nikah dan kawinnya Zaitun binti Rauf dengan maskawin tersebut dibayar tu--nai!""Bagaimana saksi, sah?""Sah!"Pak penghulu kemudian melanjutkan dengan bacaan ayat-ayat, lalu doa-doa. Sedangkan para hadirin serta saksi dan wali hakim yang mana sebagian besar dari mereka adalah kerabat dekat ayah dan ibu, mengimbangi pak penghulu dengan sahutan 'aamiin'. Sejenak menyimak seraya diam-diam memperhatikan.Semua orang tampak khusyuk. Maya yang duduk di kursi roda, dan berada tepat di belakangku, dia pun kini menumpu kedua tangan, menundukkan kepala, dan dengan mata terpejam. Bibirnya pun tak henti mengucapkan kata 'aamiin', dan itu berlangsung sampai pak penghulu mengusaikan doa-doanya."Alhamdulillah," ucap Maya lagi. Matanya tampak berkaca-kaca. "Sekarang Zaitun resmi dan sah menjadi bagian dari keluarga kita," tambahnya.Ibu yang lebih dulu menimpali, "Terima kasih, Maya. Tanpa izinmu, ijab kabul ini tidak akan pernah terlaksana.""Jangan bicarakan itu lagi, Bu," tepis May
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: 242Agnes dan Abraham langsung membuntuti langkah Bu Merlin. Sedangkan Angel yang tiba-tiba jadi pendiam terhadap kami, baru membayangi langkah kedua kakaknya setelah Agnes menolehi dia sebentar.Cara Agnes menatap Angel sangat kentara sekali kalau itu semacam wanti-wanti. Mungkin karena itulah Angel yang biasanya tidak bisa menahan diri dalam berkata-kata, pada akhirnya beredar dengan wajah tertekuk dalam! "Bara?" desis Rafika sesaat setelah mereka semua tak lagi mengarahkan wajah pada kami, "kok aku merasa ada yang tidak biasa dengan Angel?""Maksudnya?" Aku menyahut sekedarnya saja."Angel kayak canggung gitu," imbuhnya. "Kan itu tidak kayak biasanya ya? Atau jangan-jangan itu karena..."Rafika tak menggenapi kalimatnya, tapi aku merasa tahu apa yang ingin dia katakan. "Iya, Rafika," sahutku, "tapi biarkan saja. Setidaknya sekarang kita sudah tahu seperti apa watak dia yang sebenarnya!"Rafika tak berkedip menatapku, tapi yang dia perlihatkan justru gurat kebingungan yang mendalam."
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: 241Rafika berjalan kira-kira lima atau enam langkah di depan Edy Hidayat. Begitu mendekat perhatian langsung dia fokuskan pada Meisya, bukan aku!"Maaf," ucap Rafika, menatap serius wajah Meisya, "apakah kamu yang bernama Meisya?""Benar," sahut Meisya tanpa ada rasa sungkan sedikitpun juga. "Aku Meisya, saudara barumu," tambahnya dan tersenyum ramah."Senang sekali mendengarnya," balas Rafika juga. "Aku berharap mulai saat ini kita akan saling menguatkan satu sama lain.""Pasti, pasti itu Rafika. Maya juga sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu."Saat mengatakan itu, Meisya sudah lebih dulu membawa Rafika dalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan sangat hangat sekali. Aku bahkan merasa seakan-akan tidak percaya dengan pemandangan ini Pada momen ini, Edy Hidayat kebetulan juga melintasi kami. Sepertinya dia akan menuju ke ruangan di mana Nola berada. Aku tak berkedip mengawasi gerak-geriknya. Pasalnya, setelah melewati kami tanpa menoleh sedikitpun juga, dia lalu melintas di hadapan
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: 240"Hei Bara, apa-apaan kau ini, ha? Bisa tidak kamu kondisikan dirimu? Kau bisa saja membuat kita celaka kalau mengemudi seperti orang kesetanan seperti ini, Bara!""Ibu...""Ya Tuhan, Bara, ada apa denganmu? Bukankah sudah kukatakan kau bisa saja membuat kita celaka?"Rafika memang benar, aku mengemudi layaknya orang kesetanan begini, bukan tidak mungkin akan membuat kami bahkan orang lain mengalami kecelakaan. Terlebih lagi dia sudah sampai berteriak panik bukan kepalang seperti itu, memang alangkah baiknya jika aku mengemudi secara normal saja."Maafkan aku, aku terlalu cemas saat ini. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!" Meskipun mungkin ini sudah sedikit terlambat, tapi aku berucap dengan sepenuh hati. Laju kendaraan pun sudah aku normalkan sebagaimana mestinya Alih-alih menyahut tidak peduli itu semisal mengumpat sekalipun, Rafika justru membuang muka. Namun, setelah kulirik dia sekilas dan mendapati raut wajahnya yang masih diselimuti oleh ketegangan, dan juga bersekutu
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: 239"Brengsek, ternyata kalian!" "Iya Bara, ini memang kami. Senang sekali kamu sudah kembali.""Hah, brengsek kalian semua!"Sekali lagi aku memaki, tapi lawan bicaraku justru senyum-senyum sendiri, sebelum kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan ekspresi wajah sendiri-sendiri.Sementara itu, aku pada akhirnya hanya bisa kesal sendiri saat tahu siapa orang-orang dalam mobil yang aku cegat di tengah jalan ini.Bodohnya aku, barusan itu ada yang lupa aku pastikan!Tipe kendaraan hingga warnanya memang mirip dengan kendaraan yang membuat masalah pada aku dan Angel di bandara Kendari sana tempo hari, tapi plat nomornya itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang membuatku mendadak sok jagoan.Begitu juga dengan enam orang pria urakan dalam mobil ini, mereka semua adalah teman lamaku!"Oh ya Bara, ngomong-ngomong siapa perempuan di mobil itu? Perasaan kami baru pertama kali lihat dia.""Iya Bara, siapa dia? Apakah dia...""Hah sudah-sudah, aku tidak punya waktu untuk menjawab pertan
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: 238"Jadi memang benar ya, aku memang sangat payah di matamu?""Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Rafika! Sudah ah, oke baik, aku akan temani kamu. Mari pergi sekarang!"Sebelum dia terlalu jauh memojokkan aku, memang akan lebih baik jika aku ikuti saja kemauannya. Biar dia saksikan sendiri saja akan seperti apa sosokku di pasar sentral ini sebentar nanti.Dan semoga saja dia siap mental untuk menghadapi reaksi orang-orang!Tapi begitu aku keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan bukannya menerima panggilan atau semacamnya, dia justru mengkerutkan kening."Ada apa? Maksudku siapa yang menelepon? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku penasaran."Tidak tahu siapa, nomor baru," katanya, sebelum kemudian me-reject panggilan itu.Tapi hanya selang beberapa saat dari itu, ponselnya kembali berdering. Sampai di sini aku berkata saja sekenanya, "Angkat saja dulu. Siapa tahu itu dari orang di desamu. Ayah atau ibumu misalnya?"Dia masih terlihat enggan. Namun begitu aku meminta dia sek
Last Updated: 2026-06-09