Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda

Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda

last updateHuling Na-update : 2025-12-23
By:  Thato KentOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
6Mga Kabanata
13views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Nola Hapsari adalah majikanku. Cantik, kaya, tapi kesepian, meski ia sudah bersuami. Aku hanya seorang sopir, terbiasa menunduk dan patuh, tak pernah berpikir lebih dari batas tugasku. Perhatiannya kuanggap sekadar kebaikan seorang majikan yang ramah, sentuhan-sentuhan kecilnya hanya kuanggap tak sengaja. Sampai perlahan aku menyadari, ada tatapan yang terlalu lama, jeda yang terlalu dekat, dan kata-kata yang menyimpan makna lain. Dan tanpa kusadari, hubungan kami pun melangkah ke wilayah yang tak pernah kubayangkan—di luar aku tetap pembantunya, namun di ranjang, peran itu berbalik arah.

view more

Kabanata 1

001

"Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?"

"Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!"

"Ta-tapi Nyonya, eh Bu ...."

"Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!"

"Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku.Nola."

Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil, sebelum kemudian membuka pintu penumpang bagian tengah. Dengan kepala membungkuk, aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sedari awal-awal mencoba peruntungan di kota ini.

"Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin," tambahnya agak frustrasi.

Aku diam saja dan tetap menundukkan kepala.

Detik berikutnya, tanpa pernah terbayangkan sama sekali, wanita bersuami ini tiba-tiba saja memberiku satu kecupan kecil di pipi.

Tersirap darahku seketika!

Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, ini adalah kali pertama dia memberiku sesuatu yang entah apa maksudnya.

"Jangan sampai terlambat!" katanya lag dan beredar menuju pintu utama sanggar kebugaran. Aku hanya menjawabnya dengan satu anggukan kecil seraya menikmati aroma bunga melati yang dia tinggalkan.

Untuk beberapa saat lamanya, duniaku seperti sedang berhenti berputar. Semuanya tampak bergeming. Bahkan, udara yang mengalir di rongga jantung ini pun seperti ikut terhenti karenanya.

Kecupan kecil yang diberikan oleh Nyonya Nola barusan, rasa-rasanya itu lebih tuak dari tuak manapun yang ada di muka bumi ini. Dahsyatnya melebihi kedahsyatan serangan candu anggur merah yang pernah menjajal ketahanan pembuluh darahku. Sungguh, aku sudah lebih dulu mabuk bahkan hanya dengan membayangkan betapa nikmat aromanya.

Ah, andai saja aku bukan hanya seorang babu di rumahnya.

Baru beberapa menit meninggalkan halaman sanggar kebugaran, ponselku berdering. Ada telepon masuk. Dari Tuan Edy Hidayat. Segera kupinggirkan mobil lalu menerima panggilannya.

"Iya, Tuan, saya?"

Berbicara dengan orang-orang yang 'kastanya' berada di atasku seperti Tuan Edy Hidayat, mau tidak mau aku harus mengikuti ritme keformalan mereka. Bukan untuk memanipulasi status sosial, tapi lebih kepada tuntutan profesi.

Supir pribadi dan yang setara, atau yang lebih rendah darinya, memang boleh dikatakan adalah babu yang diperhalus penamaannya. Tapi apa pun sebutannya, tetap saja suatu profesi.

"Mungkin itu, Tuan. Nyonya lagi senam sampai tidak sempat angkat telepon Tuan." Aku mereka-reka kalimat supaya dapat mengimbangi Tuan Edy Hidayat.

"Baik, Tuan, nanti saya sampaikan pesan Tuan."

Tuan Edi Hidayat tidak lagi menambahkan, dan langsung memutus sambungan telepon.

Sebelum pukul lima, aku sudah 'standby' di halaman sanggar kebugaran, Lokasinya berada tepat di jantung ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Nyonya Nola baru keluar setelah kira-kira dua puluh menit aku menunggu.

"Nyonya, tadi ... eh maaf-maaf, maksudku, Nola."

Sial! Lagi-lagi aku mempertontonkan wajah asliku yang 'kelas coro'. Namun, apa boleh buat. Ujung lisan ini masih butuh pembiasaan supaya tidak belibet ketika harus menyebut nama saja, tanpa harus menyertakan embel-embel apa pun.

"Iya, tadi Tuan nelpon," lanjutku seraya fokus menyetir. Sekarang mobil kami mulai merayap di jalan raya.

"Hm, terus, si Tua Bangka itu ngomongin apa saja?"

Nada bicara hingga isi kalimat Nyonya Nola sangat jelas menggambarkan ketidakempatian. Padahal, orang yang sedang kami bicarakan tidak lain adalah suaminya sendiri.

Mengetepikan sikapnya yang sejatinya tak ada hakku untuk ikut campur, kulanjutkan saja dengan tenang apa-apa yang diucapkan oleh Tuan Edy Hidayat.

Dari Nyonya Nola ke mana saja, kenapa tidak mengangkat telepon, tidak juga membalas pesan singkat via W******p, adalah sedikit dari beberapa pertanyaan Tuan Edy Hidayat yang kuinformasikan padanya. Terakhir, kusampaikan pesan Tuan Edy Hidayat yang katanya akan berada di luar kota hingga lima atau enam hari ke depan.

"Enam hari? Wah, bagus dong!"

Nyonya Nola sudah tidak ubahnya seorang pegawai negeri 'nyambi influencer amatiran' yang mendapatkan voucher libur gratis. Entahlah jika dia memang sengaja sedang ingin memperlihatkan wajah lain yang tersembunyi di balik status dirinya. Andai benar itu tujuannya, maka sayang sekali. Sebab, secara aku hanyalah pembantu di rumah mereka.

"Kok gerah, ya?"

Nyonya Nola tiba-tiba mengucapkan itu. Tidak yakin dia sedang berbicara denganku, aku coba mencari bayangannya dalam kaca cermin di langit-langit mobil sejajar dashboard.

"Oh astaga!" Aku mendesis tanpa nada dan secepat itu juga menarik pandang.

Wanita ini ternyata sedang mencopot baju senam yang dia kenakan. Meskipun hanya sekilas, tapi apa pun itu, aku sudah melihat dari dekat tubuh bagian atasnya. Kulitnya seputih susu. Sepasang benda di dadanya, betapa kepenuhan. Size-nya antara 40 atau 42.

Sial, aku tidak bisa menahan diri untuk menelan air liurku.

"Oh ya, Nola, ini langsung pulang atau bagaimana?"

Selain sebagai pengalihan suasana, kebetulan juga boleh dikatakan ini adalah hal wajib untuk ditanyakan. Masalahnya, adakalanya Nyonya Nola ini akan lebih dulu singgah di sana-sini sebelum minta diantar pulang ke rumah.

Nyonya Nola menyebut satu nama tempat. Tanpa banyak bicara aku langsung mengarahkan mobil menuju sana.

Kendari Beach, demikianlah orang di kota ini mengenal nama tempat yang dimaksud.

Lazimnya pembantu pada majikannya, entah itu akan masuk atau keluar dari mobil, sudah menjadi kewajibanku untuk selalu sigap membukakan pintu lalu menyeru Nyonya Nola ini atau Tuan Edy Hidayat dengan hormat. Sedangkan pada awal senja ini, begitu mobil kami berhenti, Nyonya Nola tidak lagi menunggu. Dia langsung turun sendiri dari mobil.

"Temanin aku sebentar, yuk!"

"Maaf, Nola, aku di sini saja."

"Sudah ... tidak apa-apa. Ayok!"

Nyonya Nola meraih lalu menautkan lengannya ke lenganku, memaksa aku untuk melangkah bersama.

Kami sudah tidak ubahnya sepasang kekasih. Ini di tempat umum, jelas tidak baik.

"Oke oke, tapi tidak perlu juga sampai harus gandengan tangan kayak gini, 'kan?"

Aku coba menepis, khawatir ada yang mengenali lalu melaporkan kami pada Tuan Edy Hidayat. Aku belum siap kehilangan mata pencaharian. Anak istriku di kampung sana sangat bergantung padaku. Semenjak terserang stroke, Maya Sari---istriku tidak dapat lagi berbuat banyak. Beruntung, masih ada ibuku yang merawat dia dan Nala---putri semata wayang kami.

"Memangnya kenapa kalau gandengan tangan?"

"Nola ...." Aku mendesis frustrasi. "Demi kebaikan semua pihak, mohon kondisikan dirimu."

Nyonya Nola pada akhirnya menurut. Tapi yang tidak aku sangka-sangka adalah, tangannya mendadak luput dari pantauanku.

Tiba-tiba ada sentuhan di bawah perutku, dan tanpa basa-basi langsung menjalar ke bawah. Sampai di sini barulah aku sadar, Nyonya Nola ternyata sudah kehilangan akal!

"Pegang tangan 'kan tidak boleh, ya? Tapi kalau pegang ini boleh, dong."

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
6 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status