Chapter: No LimitsTen minutes later, Alina's bedroom door opened without a knock.Daniel entered with posture still rigid from the confrontation with Emma. He closed the door, standing there for a moment—as if gathering thoughts.Alina was still sitting on the floor, not looking at him. Red eyes, face wet with tears."You heard that," Daniel said. Not a question. A statement.Alina didn't answer."Alina, I'm talking to you."Still silence.Daniel stepped closer, standing in front of Alina who sat on the floor—towering, intimidating."Emma shouldn't have come here. She shouldn't have interfered in our family matters."Alina finally looked up—eyes that once were full of love for Daniel now held only emptiness and disgust."You threatened her job," Alina said in a voice hoarse from crying. "You threatened to destroy her career just because she was worried about me.""I'm protecting our family from outside interference—""NO!" Alina suddenly stood—a movement so sudden it made Daniel step back. "You're prot
Terakhir Diperbarui: 2026-01-13
Chapter: The Last FriendAt nine in the morning, the false calm at Blackwood Mansion was disturbed by the sound of shouting from the front yard."LET ME IN! I WANT TO SEE ALINA!"Emma's voice was loud, angry, and desperate.Alina, who was sitting on the edge of the bed with swollen eyes from crying all night, immediately startled. She ran to the window, looking down.At the main gate, Emma stood facing two security guards. She was arguing, trying to push past them. Emma's hair was messy, makeup not perfect as usual, eyes red—signs she also hadn't slept."Miss, we already told you—Mrs. Blackwood can't receive visitors right now," one of the guards said in a firm but professional tone."BULLSHIT!" Emma shouted, not caring about neighbors who might hear. "Alina is my best friend! She would never refuse me. I know she's inside! Hurry and call her! ALINA! ALINA, CAN YOU HEAR ME?"Alina's heart pounded hard. She opened the window, wanting to shout back, but her voice caught in her throat.Alina knew that if she res
Terakhir Diperbarui: 2026-01-11
Chapter: The Price of ControlAt ten at night, Daniel sat alone in his study.Dim lights. Whiskey in hand—third glass, but it didn't make anything easier.Laptop open in front of him, but screen blank. Documents spread on the desk, but unread.What filled Daniel's head were only two voices.Junior and Alina."Papa is mean! Junior hates Papa!""Five years I was there for Junior. You? You left."Daniel took a swig of whiskey, feeling the burn in his throat but it didn't help numb the pain in his chest.He knew—at a deep level he didn't want to acknowledge—that he was the cause of all this.Junior cried because Daniel separated the boy from Alina.Alina was slowly dying in her room because Daniel locked her up, threatened her, stripped all her rights.All of this because of Daniel.But...There was a part of Daniel—the stubborn part, the selfish part, controlled by pride—that refused to accept it fully.This shouldn't be like this.His plan was simple. Clear. Logical.Clarissa returns. Junior bonds with his biologica
Terakhir Diperbarui: 2026-01-10
Chapter: Behind Locked DoorsAt seven in the evening, Junior's crying still hadn't stopped.That sound echoed throughout the mansion—raw, broken, desperate. Not the usual crying of a small child having a tantrum. This was deeper. Darker. Like something inside Junior had truly broken.Mrs. Helen stood outside Junior's room with an untouched tray of food, her face wet with tears. The old woman had tried—repeatedly—to go in to calm the boy. But every time she approached, Junior screamed."GO AWAY! JUNIOR DOESN'T WANT TO! JUNIOR ONLY WANTS MAMA!"And Mrs. Helen had to retreat with a broken heart, hearing the child she had cared for like her own grandson reject her harshly.Clarissa stood in the corridor in an elegant evening dress, perfect makeup, but a frustrated expression. She had tried to enter three times. And three times Junior threw pillows, dolls, anything he could reach."GO AWAY! HATE MAMA RISSA! GO AWAY!"Margaret sat on the family room sofa with rigid posture, a cup of chamomile tea in her slightly trembl
Terakhir Diperbarui: 2026-01-09
Chapter: Hate PapaHalf an hour later, the bedroom door opened without a knock.Alina was still sitting on the floor, but had already wiped her tears. Her face was empty. Eyes red.Daniel stood in the doorway, looking at her with an unreadable expression. His gaze fell on the tray on the table—the lunch plate that was almost finished.Something in his face relaxed. Subtle relief."You ate," he said. Not a question, but a statement.Alina didn't answer. Didn't look at him. Just stared at the window with empty eyes.Daniel stepped inside, closing the door. "Clarissa is coming. She'll be staying overnight tonight. I came home early to accompany Junior playing."Alina was stunned hearing Daniel's complete report. It wasn't usual for the man to report in detail. But Alina quickly realized, Daniel said that only to hurt her. To make her more tortured by hearing Daniel's decision to allow his ex-wife to stay in the house.Something cracked in Alina's chest—small, but painful enough to make her breath catch for
Terakhir Diperbarui: 2026-01-08
Chapter: Empty EyesTwelve fifteen.Alina stood in front of the window, staring at the mansion gate with an irregularly beating heart. Her eyes didn't blink, looking toward the gate. Waiting for the car that usually picked up Junior to return.But Junior, who should have been home fifteen minutes ago, was still not visible. The black SUV that usually picked him up still hadn't appeared 'Where is he?' Alina thought. 'Is Junior okay?'Alina remembered Mrs. Helen's words this morning about Junior's condition. She was worried something bad had happened to that child. Then Alina remembered Clarissa's words this morning in the corridor, a voice deliberately raised so Alina could hear from behind the door.'Junior, sweetheart, after school we're going to the park, okay? Mama already ordered a special picnic basket!'The park.Alina took a deep breath, trying to calm herself. "Junior is fine. He's just at the park with... his mother."Those words felt like poison on Alina's tongue.But maybe this was for the b
Terakhir Diperbarui: 2026-01-07

Pengkhianatan Suami & Ibu Tiri
"Mamah ... Carlos? APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Mata Alea terbeliak melihat tubuh polos Fiona, ibu Alea, sedang menunggangi tubuh polos Carlos, suami Alea, menantu Fiona sendiri.
Hati Alea bertambah pilu saat tatapannya menangkap sosok pria tua yang duduk pada kursi roda sedang menyaksikan perbuatan bejat mereka dari pojok ruangan.
Dengan teganya, Carlos dan Fiona membiarkan Andrean, ayah Fiona yang cacat dan tidak bisa apa-apa, menyaksikan pergumulan panas mereka.
Alea Rahardja, istri dari Carlos Renandra, setelah mendapati suaminya berselingkuh dengan ibu tirinya, Alea harus menerima kenyataan bahwa selama ini, dirinya hanya di manfaatkan oleh suaminya. Carlos hanya mengincar hartanya dan pria itu bahkan tidak segan melenyapkan bayi mereka.
"Bayiku, tolong selamatkan bayiku. Bawa bayiku bersamamu!"
Demi menghindari kejahatan suami dan ibu tirinya, Alea terpaksa menitipkan bayinya pada orang tak dikenal.
Akankah bayi Alea selamat? Bagaimana jika bayi Alea dinyatakan meninggal, mampukah Alea membalas dendam?
Baca
Chapter: Saling Mengancam"Nyonya Alea?" Kening Alea mengernyit. Mendengar seseorang memanggil namanya. Dia perlahan membuka mata, kemudian memutar sedikit kepala untuk melihat orang yang memanggilnya. Alea terkesiap melihat sosok pria yang semalam ditemuinya. Bibir Alea seketika tersenyum, lalu mengedarkan pandangan. Mencari keberadaan anak laki-laki yang semalam sudah berhasil mencuri hatinya. 'Akhirnya, kamu datang juga,' batin Alea. Tanpa mengindahkan keberadaan Liam.Liam mengeratkan rahang begitu melihat senyum di bibir Alea. Reaksi Alea yang tiba-tiba terlihat senang memberitahu Liam tentang Alea yang ingin kembali bertemu Ansel. Liam pun mendengus. Merutuki perbuatan licik yang Alea lakukan. Liam yakin, Alea memang sudah mengambil gantungan kalung milik putranya. "Anda tidak akan mendapatkan apa yang anda inginkan dengan mudah, nyonya," tutur Liam dengan nada dingin. Senyum di wajah Alea memudar. Tatapannya tertuju pada liam yang menatap datar dirinya. Alea sadar, anak laki-laki yang dari semalam
Terakhir Diperbarui: 2023-06-12
Chapter: Perasaan Iri"Siapkan pesawat! Kita pergi menyusul mereka." "Apa?!" Darvin tercengang mendengar perintah atasannya. Tidak menyangka Liam akan repot-repot menyusul Alea dan keluarganya. Padahal, pekerjaan pria itu sangat banyak. Dan tidak biasanya Liam pergi meninggalkan pekerjaannya."Maaf tuan, apa maksud anda kita akan pergi menyusul Nyonya Alea?" tanya Darvin dengan hati-hati. Memastikan perintah yang baru saja didengarnya. Liam melayangkan tatapan dinginnya. "Apa perintahku kurang jelas? Aku tidak suka mengulang perintah." "Ma-maaf Tuan! Saya akan segera menyiapkan pesawat," sahut Darvin seraya menegakkan badan. Gugup mendapatkan tatapan dingin dari Liam. Meski atasannya tersebut tidak terlihat marah, tapi Darvin tahu Liam bukan pria yang banyak berkata. Dia tidak suka menunggu atau mengulang perintah. Pria itu lebih baik kehilangan bawahan dari pada harus mengulang perkataannya. Tidak mau kehilangan pekerjaan yang sudah lima tahun ini dijabatnya, Darvin pun segera undur diri dari hadapa
Terakhir Diperbarui: 2023-06-10
Chapter: Jalan untuk Bertemu "Tangisanmu tidak akan berpengaruh pada papah, Ansel. Jangan harap Papah akan memaafkanmu begitu saja." Liam menolak permohonan putranya dengan tegas. Ansel merapatkan bibir. Menahan isakannya agar tidak keluar. Takut Liam akan semakin marah. Aliana menatap kakak dan keponakannya bergantian. Merasa iba pada Ansel. Dia ingin membela keponakannya, namun takut Liam akan berbalik marah padanya. Aliana pun hanya diam tanpa mampu berbuat apa-apa. "Sekarang katakan! Kenapa semalam kamu membuat masalah?" Liam mempertanyakan alasan Ansel kabur dari pesta. Dengan tangan bergetar, Ansel mengambil buku tulisnya dari tangan Liam, lalu mengambil pulpen dari Aliana. Ansel menuliskan sesuatu pada kertas yang terbuka dihadapannya. 'Maaf!' Ansel menunduk seraya memperlihatkan tulisan tersebut. Liam menatap putranya dalam-dalam, jika kata maaf sudah keluar, artinya Ansel tidak akan memberikan penjelasan apapun. "Papah khawatir!" Ansel mendongak mendengar dua kata yang ayahnya ucapkan. Matanya be
Terakhir Diperbarui: 2022-12-22
Chapter: Bibi Berbaju MerahKeesokan harinya, terjadi kerusuhan di rumah keluarga Abraham. Ansel, cucu tunggal keluarga Abraham, mogok makan dan tidak mau membuka mulut sedikit pun. Aliana yang sudah Liam percaya untuk menjaga Ansel pun bingung. Dia tidak mau Liam menjauhkan Ansel darinya. "Ansel, tolong jangan membuatku susah. Ayahmu sudah marah padaku karena kejadian semalam, buka mulutmu dan makanlah!" pinta Aliana setengah memelas. Takut kondisi Ansel kembali drop hingga Liam menyalahkannya. Selama ini, Liam sangat protektif pada putranya. Dia tidak membiarkan siapapun berdekatan dengan Ansel, termasuk orangtua dan adiknya. Liam tidak mempercayakan pengawasan Ansel pada orang lain. Namun dua tahun lalu, setelah Aliana membujuk Liam dengan menjanjikan akan membuat Ansel sembuh dari speech delaynya dan tidak akan membiarkan Ansel kekurangan kasih sayang seorang ibu, Liam pun akhirnya mempercayakan pengawasan Ansel pada adiknya, mengingat dirinya yang memang tidak bisa berceloteh banyak seperti yang Aliana l
Terakhir Diperbarui: 2022-12-21
Chapter: Saling Menginginkan Beberapa jam berlalu. Begitu Calros dan Fiona pergi ke kamar mandi, Alea membuka mata. Tadi, dia hanya berpura-pura tidur untuk menghindari Carlos. Alea tidak sudi melayani suaminya. Selama empat tahun ini, Alea harus bertahan dengan Calros dan Fiona yang tidak punya malu berhubung badan dihadapannya. Alea muak. Dia ingin menghentikan mereka, namun tidak ada yang bisa Alea lakukan selain menghindar. Biasanya, Alea pura-pura tidur atau mengamuk histeris untuk menghindari sentuhan Carlos. Namun, hal itu kadang tidak berguna jika Carlos ataupun Fiona menggunakan obat perangsang untuk membuatnya terlibat dalam percintaan. Air mata Alea menetes. Menangis tanpa suara. Tidak mudah bertahan hidup dalam kebobrokan moral yang dilakukan oleh suaminya. Carlos sebagai suami tidak memikirkan perasaan Alea yang harus melihat percintaannya dengan wanita lain. Alea sadar, dirinya mulai gila. Bahkan mungkin sudah gila seperti yang sering Fiona katakan. Tapi sayang, sejak empat tahun lalu, kesadara
Terakhir Diperbarui: 2022-10-08
Chapter: Kegemparan Saat Pesta Alea berjalan menuju rumah dengan langkah anggun. Senyum manis terukir di wajahnya. Tidak dipedulikannya sepatu dan ujung gaunnya yang kotor terkena lumpur, bahkan pakaiannya pun basah karena air hujan."Alea dari mana saja kamu?"Carlos menghampiri Alea dengan wajah cemas. Dia menilik penampilan istrinya. Carlos terkesiap melihat luka di pergelangan tangan Alea."Alea kamu melukai diri sendiri lagi?" Alea menarik tangannya dari genggaman Carlos. Dia menatapnya dengan tatapan dingin. "Jangan sentuh!" Alea menyembunyikan luka di tangannya.Plak! Tiba-tiba, sebuah tamparan mendarat di wajah Alea. Nampak, Fiona berdiri dihadapannya dengan wajah geram."Dasar wanita gila! Bisa-bisanya kamu pergi di tengah pesta. Kamu hampir menghancurkan pesta ulang tahun putraku," teriak Fiona. Dia hendak melayangkan kembali pukulannya, namun Carlos lebih dulu menahan laju tangannya. "Cukup!" cegah Carlos dengan tegas. "Jangan berlebihan!" Fiona mendelik. "Berlebihan? Dia–." "Oma, aku mengangtuk."
Terakhir Diperbarui: 2022-10-08