LOGINKamu... yang mengambil keperawananku!" Stefhani menuding lelaki di depannya yang tampak terkejut. Beberapa detik kemudian, lelaki itu menjawab dingin. "Kamu salah orang!" "Tidak. Minggir.... " Stefhani tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena sudah dihadang dua lelaki kekar. Matanya memicing kesal kala melihat lelaki tinggi itu bergegas pergi. "Aku tidak salah orang!" teriak Stefhani. "Tiga tahun lalu, Hotel Royal Swiss, kamar 713." Debar jantung Stefhani menguat. Ia mendengus pelan kala akhirnya lelaki itu berhenti berjalan lalu membalik tubuh. Matanya mengamati Stefanie dari ujung rambut hingga kaki. Lalu kembali menatap wajahnya cukup lama. "Bawa dia ke ruanganku!" titah si lelaki pada pengawalnya. Lelaki itu berjalan mendahului. Stefhani digiring ke sebuah ruangan mewah. Ia membaca papan nama di meja hitam pekat. Blue Lucien Arsenio Willson. CEO. Stefani menggigit bibir bawahnya. Lelaki ini... CEO? Orang yang menidurinya bertahun-tahun lalu ternyata seorang pimpinan tertinggi perusahaan internasional?
View MoreStefhani menggeliat pelan. Lalu, terkesiap menyadari dirinya tanpa busana. Spontan, ia menarik ujung selimut, menutupi dada.
Ia sedikit mengangkat kepala. Lalu, matanya bersirobok dengan lelaki tampan yang baru akan keluar dari kamar hotel tersebut.
“Tu—Tunggu!”
Terlambat. Lelaki itu sudah menutup pintu. Stefhani buru-buru turun dari ranjang, lalu mengumpat kala sadar ia telanjang.
Dengan cepat, Stefhani menarik selimut dan melillitkannya di tubuh. Segera memburu ke pintu. Dadanya berdebar kencang saat hendak mengejar lelaki yang baru saja keluar.
Namun, yang ia temukan hanya pintu lift yang tertutup. “Sial!” Stefhani memukul pintu besi di depannya.
Kepalanya menoleh ke kiri kanan lorong. Takut ada yang melihat dirinya hanya berbalut selimut, Stefhani kembali ke kamar. Ia tertegun di depan pintu menatap nomer kamar dan menggeleng samar.
“Aku bahkan tidak pernah membooking kamar ini.”
Dengan jantung berdebar kencang ia mengumpulkan pakaian yang bercecer di lantai kamar dan memakainya. Otaknya berpikir cepat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Selesai berpakaian, Stefhani berniat mencari sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk. Namun, belum sempat mencari, pintu sudah digedor keras. Stefhani menoleh dan mengira lelaki itu kembali.
Cepat, ia membuka pintu dengan emosi tinggi.
“Kamu.... “ Jari Stefhani yang terangkat langsung perlahan turun melihat siapa yang ada di depannya.
Wanita berjas putih langsung masuk. Stefhani mengenalinya sebagai dokter keluarga. Sekilas terlihat mengamati sekeliling, lalu menatap Stefhani.
“Buka pakaian anda, Nona. Saya izin periksa.”
Stefhani mundur satu langkah dan menggeleng. “Ke—Kenapa?”
“Ini perintah Papa Anda.”
Mendengar ucapan tersebut Stefhani menurut. Selama pemeriksaan, ia hanya bisa menghela napas panjang berkali-kali.
Setelahnya, ia digiring beberapa lelaki kekar yang sudah menunggu di luar. Stefhani hanya bisa pasrah saat ia dihadapkan pada lelaki tua di depannya.
“Papa.” Stefhani menundukkan kepala santun.
“Kamu sudah mencoreng nama bersih keluarga!” Nada tinggi itu menyapa Stefhani.
Berlembar foto disebar di meja. Tampilan dirinya sedang pesta di sebuah klub malam hingga terlihat mabuk membuat Stefhani membelalakkan matanya. Lalu ia mengambil satu lembar secara acak.
Foto dirinya tanpa busana dengan seorang lelaki di kamar hotel. Lelaki itu hanya tampak samping dan tidak terlihat jelas wajahnya.
“Ini... sebuah jebakan,” gumamnya sambil mengamati seisi ruangan.
Papa, Mama dan kakak tirinya berdiri dengan wajah dingin. Meski begitu, ia bisa melihat mata papanya tampak terluka dan menampakkan kesedihan mendalam.
“Papa... semalam aku hanya.... “
“Papa tau. Kamu dan kakakmu, Margie memang izin ke pesta ulang tahun Holly. Tapi, Margie langsung pulang setelah memberikan hadiah. Sementara kamu.... “ Lelaki tua bernama Larry itu melirik foto-foto di meja dan menggeleng.
Suasana tegang itu semakin suram kala dokter wanita yang memeriksanya masuk. Ia memberikan selembar surat pada Larry sambil menundukkan kepala.
Larry membuka dan membacanya cepat. Stefhani melihat tangan sang papa bergetar hebat.
“Kamu.... “ Larry menunjuk wajah Stefhani. “Mulai hari ini, kamu bukan lagi putriku!”
Detik berikutnya, tanpa bisa membela diri, Stefhani diseret keluar. Koper besar dan satu map dilempar di sampingnya.
“Kamu hanya bisa kembali jika menemukan lelaki itu dan menikah dengannya!”
Dorongan kasar di bahu membuat Stefhani terhuyung keluar rumah. Kakinya nyaris kehilangan pijakan di anak tangga.
Detik berikutnya, BRUAAAK!
Pintu utama dibanting begitu keras sampai seluruh rangka rumah bergetar. Suaranya menggema panjang di halaman yang sepi. Stefhani berdiri dan menggedor pintu dengan perasaan kalut.
“Papaa!” jerit Stefhani.
Percuma. Sefhani tau teriakannya tidak akan mempengaruhi apa pun. Stefhani meraih map dan mengeluarkan isinya.
Selain foto-foto, terselip selembar kertas laporan dari dokter. Stefhani dengan cepat membaca. Tubuhnya melorot lemah mengetahui hasil pemeriksaan menunjukkan ia telah ternoda.
Stefhani lahir di keluarga yang menjunjung tinggi kesucian seorang wanita. Mamanya adalah istri kedua Papa yang menginginkan anak lelaki. Istri pertamanya tidak bisa hamil lagi karena masalah medis.
Kandungan Mamanya sempat dipaksa digugurkan begitu tau janin itu perempuan. Tetapi, Mama tetap mempertahankan. Rasanya sia-sia selama ini, ia membuktikan diri bahwa perempuan bisa setara dengan laki-laki dan akhirnya mendapat perhatian sang Papa.
Hanya satu malam saja semua citra yang ia bangun hancur total tanpa ia tau bagaimana semua bisa terjadi.
Dengan langkah gontai, Stefhani menggeret koper. Hanya ada satu tujuan saat ini. Rumah Paman yang biasanya melindunginya.
Namun, Paman Nael menggeleng lemah. “Dengan bukti-bukti yang ada, kamu memang bersalah.” Paman Nael menghela napas panjang.
“Bisakah Paman bicara pada Papa? Aku benar-benar dijebak. Tidak tau siapa lelaki itu dan bagaimana bisa aku ada bersamanya.” Stefhani memohon.
Embusan napas panjang terdengar dari hidung Nael, ia hanya mengangguk pelan meski tidak berjanji apa pun.
Esoknya, bukan kabar gembira yang Stefhani dapatkan. Paman Nael malah memberikan identitas baru pada Stefhani – tanpa nama keluarga yang selama ini dengan bangga disandangnya.
“Pergilah, Stef. Papamu tetap pada keputusannya. Paman pun akan kena masalah jika masih menampungmu di sini.”
Stefhani terisak. Ia memegang identitas barunya dengan tangan bergetar. “Ke—Ke mana aku pergi, Paman?”
Paman Nael mengelus lengan atas Stefhani. “Pergi lah ke tempat di mana kamu tidak dikenal sebagai wanita yang ternoda.”
Kepala Stefhani menggeleng sedih. Kedua tangannya menutup wajah dengan isakan yang lebih keras. Pernyataan Paman Nael mengisyaratkan bahwa ia harus keluar dari negaranya, di mana tidak ada seorang pun yang tau tentang dirinya.
“Margie melahirkan anak perempuan.” Stefhani berkata pada suaminya yang sedang bekerja online.“Oh, oke.” Blue hanya membalas singkat. Tetapi, kemudian kepalanya mendongak dan menatap sang istri yang duduk termenung di sofa.Akhirnya Blue bangun dari kursi kerjanya dan menghampiri sang istri. Bibirnya mencium puncak kepala Stefhani sementara tangannya mengusap lembut perut yang mulai menonjol itu.“Kenapa? Kamu mau ke kastil Margie?”Stefhani menggeleng. “Kurasa Margie masih istirahat. Aku hanya kasihan pada Margie.”“Karena?”“Kedudukannya semakin terpuruk karena melahirkan anak perempuan sementara istri pertama Prince Axel telah memiliki dua putra.”Blue tidak mau berkomentar. Karena jika ia membuka mulut, maka ia yakin tidak bisa mengontrol kata-kata kasar yang akan keluar.Baginya para bangsawan itu memang sudah seharusnya terbuka pikirannya. Anak lelaki dan perempuan setara dan tidak adil rasanya terus-terusan mendeskriminasikan anak perempuan.Selang beberapa hari, pesta penyamb
Setelah insiden Gloria dan Margothie tersesat, keduanya memang langsung berubah. Mereka bersikap lebih baik tanpa menonjolkan diri. Terutama Gloria.Ancaman akan diceraikan merupakan pukulan telak baginya. Seorang putri bangsawan yang dicerai karena mempermalukan suami adalah tindakan sangat tercela di kalangan mereka.Bahkan jika itu terjadi, bisa jadi seorang putri bangsawan akan dikucilkan. Tentu Gloria tidak ingin hal tersebut menimpanya.Pesta kehamilan Stefhani dan Kimmy berlangsung meriah—meski hanya keluarga dekat saja yang hadir.“Aku berharap Stefhani melahirkan di kastil.” Larry berkata pada Geo.Mereka sedang mengamati sesi foto para ibu hamil dan suami-suami mereka. Blue yang biasanya berwajah datar, hari ini banyak tersenyum.Sementara Grey yang terlihat paling bahagia. Keinginannya agar istrinya dan istri Blue hamil berbarengan tercapai.“Aku mengerti keinginanmu. Tetapi, di sini fasilitas kesehatan lebih canggih.” Geo memberi saran, “Lagipula, biarkan Blue dan Stefhani
"Aku akan mengantarkan kalian kembali ke ruang tamu," ucap Blue dengan nada yang tidak bisa dibantah. Ia berbalik dan mulai berjalan. Gloria dan Margothie saling pandang dengan canggung, lalu mengikuti dengan langkah yang agak enggan.Mereka berjalan dalam keheningan yang sangat, sangat canggung. Blue di depan dengan postur yang tegap dan percaya diri, jelas sangat familiar dengan setiap sudut mansion ini. Gloria dan Margothie di belakang, tidak berani bicara."Sebelum kita kembali ke yang lain," Blue mulai dengan suara yang tenang tapi sangat tegas, "aku perlu bicara dengan kalian berdua.”Margothie tersenyum manis, mencoba bersikap akrab. "Oh, tentu Blue. Apa yang ingin kamu bicarakan? Kita kan keluarga sekarang, jadi tidak perlu terlalu formal….""Berhenti," potong Blue dengan tajam tapi tidak kasar, membuat Margothie langsung menutup mulutnya. "Jangan berpura-pura kita punya hubungan yang lebih dekat dari yang sebenarnya. Aku tahu permainan kalian."Gloria menegang. "Permainan? B
“Kalau begini, aku menyesal menikah dengan Prince Axel, Ma.” Margothie merengut. “Seharusnya aku juga bisa seperti Stefhani.”“Tetap saja sayang kalau darah murni bangsawanmu bercampur dengan darah lain, Nak.”“Tapi, lihat kehidupan Stefhani sekarang.” Margothie melebarkan kedua lengannya. “Dia hidup sangat mewah.”Kedua berjalan terus mengelilingi mansion. Di setiap sudut bangunan mewah itu, mereka berdecak kagum. Semua begitu elegan dan mewah.“Bahkan katanya mansion Stefhani dan Blue lebih bagus dari ini semua.” Margothie berkata dengan nada iri.Gloria terkekeh—tawa yang sedikit... sinis. "Tidak apa-apa. Kita bisa numpang ketenaran dengan keluarga Willson ini.""Maksud Mama?""Ya," jawab Gloria sambil berjalan perlahan, jemarinya menyusuri pegangan tangga yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang sangat detail. "Kita manfaatkan saja hubungan ini. Stefhani kan istri Blue sekarang. Yang berarti kita—sebagai keluarga Stefhani—juga punya akses. Ke lingkaran mereka, ke koneksi mer






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore