Chapter: Part 160 Aku Cinta PadamuSetelah menempuh perjalanan selama beberapa jam. Yudha, Tari, dan ajudannya Samil tiba di kediaman Giriandra. Ajudannya itu sampai terbengong melihat rumah besar atasannya."Mang, tolong antarkan Samil ke kamar tamu. Siapkan juga beberapa pakaian ganti untuknya," pinta Yudha yang menggendong istrinya yang sudah pulas masuk ke dalam rumah."Baik, Tuan Muda," sahut pria paruh baya itu. "Mari, Nak Samil!""Ini rumah apa istana?" batin ajudan Yudha itu tercengang.Sementara itu, Yudha beranjak ke kamar orang tuanya setelah memastikan Tari tidur dengan nyaman. Artama memeluk Rudi, sementara Rania memeluk Lusiana. Yudha kembali naik, tapi bukan langsung ke kamarnya. Pria itu masuk ke kamar Kayla. "Ke mana dia?" batin Yudha.Yudha kembali keluar dan mendapati Bi Darmi. Wanita itu mengulurkan segelas susu jahe sembari berkata, "Belakangan si Nona Kecil mengeluh kalau ayahnya sibuk terus. Minum dulu, biar besok tetap bugar ""Terima kasih, Bi. Maaf sudah merepotkan Bibi malam-malam begini," u
Last Updated: 2026-01-14
Chapter: Part 159 Balasan Sebuah KetulusanMinggu dan suara riuh senam pagi sudah menjadi salah satu ciri khas batalyon ini. Sejak dua tahun lalu pindah ke tempat ini, Tari merasa jika hidupnya banyak berubah. Ia tidak pernah menduga akan menjadi salah satu wanita yang dihormati karena pangkat dan jabatan suaminya.Tak seperti di Batalyon Rajawali tempat dinas Yudha sebelumnya yang terdiri dari lebih 1000 personil. Batalyon yang sekarang lebih kecil dengan jumlah personil hanya sekitar 700 orang saja. Akan tetapi, Yudha menduduki jabatan vital, bukan lagi sebagai ketua Tim Alfa, melainkan wakil komandan batalyon.Hari ini, seragam mereka didominasi dengan seragam olahraga. Kali ini diadakan berbagai jenis lomba. Semua elemen terlibat dalam memastikan agar kegiatan tahunan itu berjalan lancar. Semangat itu hadir bukan hanya karena hadiah yang dijanjikan. Pemenang akan mewakili batalyon ini dalam ajang perlombaan perayaan HUT kemerdekaan. Brownies Bukap menjadi sponsor utama yang menyediakan berbagai jenis hadiah menarik. Karen
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: Part 158 PembohongYudha bangun dan mengulum senyum. Putri kecilnya berkacak pinggang dan buang muka. Keduanya sama sekali tidak menyadari mereka sudah pulang. Bibir manyunnya yang mungil, mirip seperti ketika Tari cemberut. Akan tetapi, matanya yang sinis, lebih mirip dengan sang mama. Tak lama kemudian, senyum Yudha luntur. Artama muncul dengan menjinjing satu ember eskrim berukuran satu liter. Di belakangnya ada Lusiana yang menjinjing sekotak pizza sepanjang satu meter. Tari dan Yudha tahu kalau Lusiana tidak pernah menolak keinginan cucu-cucunya. Tapi, menurut mereka berdua, anak-anaknya juga tidak akan memesan makanan sebanyak itu."Rania sama Kakak dari mana?" tanya Yudha. Meski ia sudah bisa menebak dari makanan yang mereka beli, Yudha tetap ingin mendengar jawaban putra-putrinya."Dari mall, Ayah," sahut Artama."Jangan kepo!" sahut Rania.Yudha mendongak menatap mamanya. Lusiana merespon hanya mengedikan bahu. "Adek, ayo cuci tangan dulu!" ajak Artama menarik tangan adiknya.Dari celah tir
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: Part 157 Rania Annisa Giriandra"Rania kenapa? Cucu nenek kenapa cemberut?" tanya Lusiana. Hari ini ia sengaja berkunjung ke kota tempat Yudha dimutasi. Niatnya adalah ingin menjemput kedua cucunya untuk liburan ke Surabaya. Mumpung saat ini sedang masa libur sekolah, sehingga tidak akan mengganggu jadwal belajar Artama.Belakangan Tari kewalahan menghadapi Rania yang terlampau aktif dan banyak maunya, sementara Tari sedang hamil delapan bulan. Bocah cilik berusia tiga tahun itu tidak pernah bisa diam. Sangat berbeda dengan kakaknya Artama yang tenang dan kalem. "Tadi subuh, ayah pelgi cepat-cepat, Nenek. Ayah bilang mau lapat. Ayah sibut telus. Ditelpon nda dijawab," keluhnya manyun.Lusiana tersenyum mendengar cucunya menghela napas panjang. Gadis kecil itu seperti wanita tua yang sedang menghawatirkan nasib anak bujangnya.Sejak Yudha menjadi seorang Mayor, putranya memang jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Dua tahun setelah kenaikan pangkat, Yudha dimutasi ke batalyon lain dan menjabat sebagai wakil komandan ba
Last Updated: 2026-01-10
Chapter: Part 156 Surat Ancaman LagiAqiqah putra Yudha digelar besar-besaran di kediaman keluarga Giriandra. Awalnya Yudha ingin acara itu digelar di Batalyon Rajawali saja. Akan tetapi, Rudi dan Lusiana tidak mengizinkan dan bersikukuh akan menggelar acara itu di rumah mereka. Salah seorang yang berbaur di antara para tamu undangan terus saja membagikan informasi kepada Ayana. Dibayar dengan sejumlah uang, wanita yang bekerja sebagai salah satu karyawan catering itu mengirimkan foto bahagia dari sang pemilik acara. Dalam hitungan detik, foto-foto itu kini berada di tangan Ayana. Wanita yang tengah bersembunyi di kota lain itu meremas ponselnya. Harusnya, dia yang berdiri di posisi Yudha. "Semua gara-gara kalian! Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia selamanya. Lihat saja, apa yang akan kulakukan untuk menghancurkan kalian!" gumam Ayana memekik kesal. Sejak dua bulan terakhir, ia bahkan berusaha menghindari keluarganya. Meski semua orang tuanya mencemaskan dirinya, Ayana tahu kalau mereka tidak benar-benar menc
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Part 155 Tidak Ada Masa DepanRudi dan Lusiana menyambut kedatangan para tamunya. Pasangan itu sampai meneteskan air mata melihat senyum lebar Yudha. Bahkan, kini putra mereka itu sudah mau tidur di rumah ini lagi. Semua atas keinginan Tari, sehingga Yudha mau mengalah. Tari mengungkapkan jika ia menolak permintaan Lusiana dan Rudi, mungkin saja mertuanya berpikir dirinya belum benar-benar memaafkan dan melupakan kejadian buruk di masa lalu. Yudha pun akhirnya melunak. Meski pasangan itu sudah tahu tentang fakta kalau cucu yang mereka nanti bukan darah daging mereka, tapi Rudi dan Lusiana menerimanya dengan sepenuh hati. Dunia hanya tahu bahwa, putra pertama Yudha dan Tari adalah cucu pertama Rudi dan Lusiana. "Sepertinya, Anda jadi terlihat lebih muda sejak jadi kakek," puji salah seorang kolega bisnisnya. Rudi tertawa sembari mengangguk. "Sepertinya begitu. Saya belakang ini memang lebih sering olahraga biar lutut saya masih kuat. Waktu cepat berlalu dan tidak lama lagi, saya pasti kewalahan mengejar langka
Last Updated: 2026-01-09
Chapter: Part 45 Berawal Dari Ayuna"Semua kekacauan ini berawal sejak Ayuna pergi. Kalau dia tidak pergi meninggalkan Bian, mungkin saat ini kita akan adakan resepsi. Bukan rapat darurat membahas CEO pengganti," batin Gian yang menunggu kedatangan beberapa pemegang saham prioritas.Andra duduk santai di kursi presdir dengan mata terpejam. Membiarkan seisi ruang rapat bertanya-tanya tentang apa yang sedang dipikirkan oleh pimpinan tertinggi perusahaan.Sementara Tama, sebagai salah satu pemegang saham prioritas tampak duduk bersantai menghubungi seseorang. Tawa ringannya yang sesekali terdengar, justru semakin membuat resah yang lain. Pria itu terlalu tenang disaat genting seperti ini.Pintu ruang rapat kembali terbuka untuk kesekian kalinya. Beberapa langkah tegas dari ketukan sepatu kulit yang mewah itu, semakin menambah ketegangan. "Akhirnya mereka datang," batin Agung menghela napas panjang. Baginya ini bukan akhir, melainlan awal perang dingin. Engah bagaimana Gian akan menghadapi mereka.Tanpa banyak basa-basi, m
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Part 44 Saham Mulai TurunPasangan itu terhenyak setelah mendengar ucapan sahabatnya. Tama dan Ningrum tak menyangka, selama ini Andra dan Amba diam-diam menanggung beban seberat itu."Kalau bukan karena Tasya yang curiga, aku tidak akan tahu tentang Bian hari ini," batin Tama yang juga diam-diam menyelidiki keanehan putranya selama beberapa waktu terakhir. "Kami awalnya ingin memberitahu keluarga yang lain, termasuk kalian. Tapi karena mempertimbangkan saran dari pihak kepolisian, kami mengulur waktu. Setidaknya menunggu hasil pengobatan dokter ahli dari Singapura," jelas Amba menoleh menatap Ningrum yang meremas pelan punggung tangannya.Tama memperbaiki letak kacamatanya. Menatap Andra yang terdiam menatap berkas yang baru saja diantarkan Agung beberapa saat lalu. "Sebelum orang lain tahu tentang kondisi Bian. Sebaiknya umumkan di depan direksi dan pemegang saham kalau kamu yang akan pegang kendali selama Bian menjalani pengobatan. Jangan biarkan mereka tahu kalau Bian ... koma," saran Tama yang juga sela
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Part 43 Mencari Isi Dompet SendiriSejak tahu pria yang dicintai Yuna adalah Biantara, Maira juga akhirnya mengetahui identitas asli Yuna. Putri bungsu keluarga Diratama. Meski bisnis keluarga Diratama tidak sebesar keluarga Kawiraginandra, tapi cukup diperhitungkan dalam ranah industri tanah air. Yuna akhirnya mengakui jika semua itu benar. Disaat itu, Maira juga jujur tentang siapa mantan suaminya. Nama yang terasa tidak asing di telinga Yuna. Mulailah cerita Maira mengalir dan alasan mengapa dirinya bisa tahu tentang Bian. Mantan suami Maira tidak lain adalah salah satu saingan bisnis Bian. Bahkan, mereka pernah berhadapan dalam memperebutkan proyek nasional. Sejak itu pula, hubungan Yuna dan Maira semakin dekat. Mereka merasa jika takdir sudah mempertemukan mereka. Jika ayah bayi mereka bermusuhan karena persaingan bisnis, Yuna dan Maira berharap kelak anak-anak mereka akan hidup rukun seperti saudara. Hari ini, barang-barang jualan yang dipesan Maira sudah tiba. Impiannya membuka toko outfit sudah di depan mat
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Part 42 Rencana LicikWanita yang tengah hamil besar itu tersenyum setelah mendapat pesan dari mata-matanya. Tadinya ia pikir, suaminya punya wanita lain di luar sana. Ternyata dugaannya tidak benar. Berawal dari kecurigaan, ia kini mendapatkan satu rahasia besar. Keluarga Kawiraginandra dan kedua sahabat putranya, semuanya ke rumah sakit. Kemungkinan besar, pasien yang sedang mereka jenguk itu dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. "Gian selamat dalam kecelakaan beberapa hari lalu. Tetapi, Tuan Andra dan Nyonya Amba tetap ke rumah sakit. Mata-mataku melihat Gian dan Adiba datang. Mereka semua keluar di lobi rumah sakit bersama Danu dan Arga. Yang kurang di antara mereka adalah ... Bian," ucap Tasya tersenyum. Istri Arga itu sedang memikirkan cara untuk balas dendam pada Bian. Pesta resepsi pernikahannya kemarin sempat kacau karena Bian yang mempermalukan tante dan sepupu Arga. Selain itu, di antara ketiga sahabat Arga, hanya Bian yang bersikap dingin padanya. "Kamu berani mengaku sebagai menantu
Last Updated: 2026-07-04
Chapter: Part 41 Cuma Gempa Ringan"Si Gian mana sih? Kok sampai sekarang belum nongol juga? Nggak penasaran apa kembarannya siuman apa kagak?" gerutu Danu."Percuma lo ngomel, mereka tuh punya telepati," komentar Arga. Ia baru saja tiba setelah sore tadi diberi kabar tentang kecelakaan Bian yang kedua kalinya."Emang dia ngasih lo kabar?" tanya Danu meneguk minumannya."Nggak," balas Arga menggeleng. "Tapi tadi gue telpon Adiba. Nanyain di mana Gian. Dia bilang suaminya lagi hibernasi sejenak karena udah hari dua malam nggak tidur."Danu tercengang. Sepertinya ia harus percaya kalau Bian dan Gian memang punya telepati. Satunya belum siuman dan satunya lagi ingin hibernasi. Entah siapa yang akan lebih dulu bangun."Bini lo nggak nyariin?" Danu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Arga kembali menggeleng. "Nggak."Danu mengernyit heran. "Emang dia beneran cuekin lo, Ga?" "Hem. Topengnya udah kebuka, jadi dia nggak perlu pura-pura manis dan manja lagi sama gue. Selagi dia bisa jaga sikap, anak gue lahir selamat dan s
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: Part 40 Penelusuran GianSetelah memeriksa cctv tempat saudara kembarnya kecelakaan, Gian akhirnya menemukan bukti kuat. Bisikan Bian sebelumnya terbukti benar. Yuna masih hidup dan terlihat panik menghindari Bian.Dari taksi online yang ditumpangi Yuna, Gian mendapatkan informasi lain. Titik tujuan Yuna dari riwayat pemesanannya adalah nama sebuah toko kelontong. "Oh, nona ini memang pernah ke sini, Pak. Saya ingat, soalnya dia sekali belanja langsung banyak, hampir sejuta. Dia tinggal di penginapan di ujung jalan," jelas sang pemilik toko. "Apa ibu ingat apa saja yang pernah dia beli?" tanya Gian memberi isyarat agar bisa merekam suara wanita itu.Pemilik toko lalu bertanya, "Bapak mau beli apa?" "Bedak tabur bayi, selotip bening yang besar, sama gunting. Kalau sarung tangan ada, Bu?" tanya Gian."Tidak ada, Pak. Yang ada cuma sarung tangan plastik, kalau lagi buat kue," tawarnya."Ya, itu saja," pinta Gian mengangguk setuju lalu membayar belanjaannya.Setelah mendapatkan informasi yang sedikit ganjil, G
Last Updated: 2026-06-27