LOGINYuna merasa sekujur tubuhnya panas. Perlahan matanya mengerjap dan menyadari itu hanya mimpi. Sentuhan Bian malam itu terasa begitu nyata dalam mimpinya.
"Ada apa denganku? Kenapa di antara banyaknya kenangan sama dia, harus ingat hal ini?" gerutu Yuna bangkit dari tempat tidur. Lekas ia mengganti piyama yang baru. Ia tidak nyaman menggunakan piyama yang lengket karena keringat. "Apa dia juga sedang mengingatku?" batin Yuna mengusap perutnya. Lagi-lagi ia lapar. <"Bagaimana? Apa sudah hasil? Kalian menemukannya?" tanya Bian sambil mengetik balasan pesan untuk sekretarisnya. Sudah dua hari ia tidak masuk kantor dengan dalih ingin menemui investor. Bagaimanapun, ia tidak bisa mengabaikan tanggungjawabnya sebagai CEO perusahaan."Belum, Bos. Anak buah saya juga sudah berkeliling di sekitar mall. Wanita itu sepertinya berhasil keluar dengan menyamar sebagai orang lain," ujar orang suruhan Bian. "Percepat pencarian! Telusuri juga para wanita yang mengenakan cadar!" perintah Bian menoleh ke arah pintu apartemen yang dibuka seseorang. "Siapa yang datang? Apa diam-diam Gian keluar beli makan? Kenapa aku tidak menyadarinya? Apa dia keluar saat aku mandi?" batin Bian."Kakak Ipar, di mana suamiku?" sapa Adiba yang baru saja masuk. Wanita berseragam loreng itu meletakkan totebag resto dengan aroma yang menggiurkan.Bian menunjuk ke arah pintu kamar. Sejak kemarin malam Gian mengabaikannya. Tepatnya, setelah ia jujur tentang pernikahannya dengan Yuna d
"Ada apa, Ma?" tanya Andra yang melihat istrinya cemberut menatap layar ponselnya sendiri."Cuma Adiba yang jawab telpon mama, Pa. Tuh anak dua, masa iya udah tidur? Matahari baru aja tenggelam kok?" dumelnya. Anak kembarnya sama-sama sulit dihubungi.Andra duduk di samping sang istri, merangkul dan mencoba membuatnya tenang. Kemudian ia berbisik, "Papa tidak sengaja dengar Gian telpon dokter. Kayaknya mereka berdua ke Jakarta, diam-diam menemui dokter untuk konsultasi masalah Bian belakangan ini. Kalau Gian yang jadi otaknya, anak itu mana mau bilang.""Pantesan aja tadi, Pa. Adiba bilang kalau Gian nemenin Bian ketemu investor, habis itu mau ngajak Bian latihan nembak," ujar Amba akhirnya bisa tenang."Latihan tembak?" "Awas aja kalau mereka bohong!""Semoga saja Gian nggak ketahuan bohong sama mantuku. Bisa-bisa bonyok tuh anak dihajar sama istrinya," batin Andra.***Suara khas akses dari kunci elektronik itu akhirnya terdengar. Tiga jam lebih menunggu tanpa kabar, benar-benar me
Sebulan terakhir, Yuna hanya menghabiskan waktu di penginapan. Bagaimanapun, ia tidak bisa mengabaikan peringatan dari dokter. Ia harus menunggu hingga setidaknya, kandungannya berusia tiga bulan untuk bisa aman melakukan perjalanan jauh.Setelah membeli rambut palsu dan kacamata hitam via online shop, akhirnya Yuna bisa keluar penginapan dengan bebas. Berbekal alat penyamarannya itu, Yuna bisa berjalan ke sana kemari tanpa diketahui oleh orang lain. Tujuan utamanya saat ini adalah menemui agen rahasia yang akan menyiapkan identitas baru untuknya. Meski tahu transaksinya kali ini adalah hal ilegal, tapi Yuna tidak punya pilihan lain. Sulit baginya memulai kehidupan baru jika masih berstatus putri keluarga Diratama yang sudah dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat. Lagipula, ia menginginkan hidup baru."Kok orangnya lama sih?" batin Yuna resah karena yang ditunggu tak kunjung muncul. Di tasnya ia sudah menyiapkan sejumlah uang yang cukup besar. Agen itu juga sudah setuj
Sebuah mobil sport merah perlahan menurunkan kecepatan saat memasuki pelataran parkir kantor PT. RK Tbk. Kehadiran sang pemilik menyita perhatian banyak pasang mata. Tak seperti tamu lainnya yang harus menghampiri meja resepsionis. Danu yang siang ini mampir ingin menemui Bian hanya melambai pada dua resepsionis yang sudah hapal dengan tujuannya menemui CEO perusahaan ini. "Rapatnya udah selesai, Bro?" tanya Danu pada sekretaris Bian. "Sudah, Mas Danu. Bos lagi santai kok," sahut pemuda itu tersenyum menepikan kotak makan siangnya. Danu menggeleng. "Kamu lanjut makan aja. Nggak perlu anterin saya masuk. Sekalipun saya diusir sama bos kamu itu, saya bakalan bergeming di dalam sampai dia setuju," ungkap Danu melangkah sembari bersenandung memikirkan tujuan kedatangannya. "Setuju apa? Perasaan Pak Bian nggak ada bahas apapun soal Pak Danu?" batin sekretaris Bian itu menggaruk kepalanya bingung. Ceklek! "Asam lambung lo itu
Yuna merasa sekujur tubuhnya panas. Perlahan matanya mengerjap dan menyadari itu hanya mimpi. Sentuhan Bian malam itu terasa begitu nyata dalam mimpinya. "Ada apa denganku? Kenapa di antara banyaknya kenangan sama dia, harus ingat hal ini?" gerutu Yuna bangkit dari tempat tidur. Lekas ia mengganti piyama yang baru. Ia tidak nyaman menggunakan piyama yang lengket karena keringat. "Apa dia juga sedang mengingatku?" batin Yuna mengusap perutnya. Lagi-lagi ia lapar. "Masih ada buah tidak, ya?" batin Yuna kembali bangun dari tempat tidur. Saat mengambil sebuah pisang, tatapan Yuna juga tertuju pada promo vila di sebuah destinasi wisata. Yuna kembali teringat saat liburan bertiga bersama Bian dan Arga ke puncak. "Malam itu jadi malam terakhir aku menatap wajahmu," batin Yuna memejamkan mata mengenang wajah pria yang dicintainya. Flashback on Yuna mengintip dari lubang kunci pintu kamar. Di sana, kakaknya sepertiny
Bian didera rasa mual dan pusing. Sejak kemarin tubuhnya seakan sulit diajak kompromi. Ia bahkan sangat sensitif dengan aroma masakan atau parfum orang lain. Hanya saja, ia enggan mengungkapkannya. Karena jika ia jujur, maka bualan Gian tentang dirinya kerasukan arwah ibu hamil akan dianggap benar. Mana mungkin dirinya kerasukan hantu bumil? Ada-ada saja! Hari ini, resepsi pernikahan Arga berlangsung meriah. Meski begitu, para tamu bisa melihat jika para anggota keluarga Diratama masih berduka atas kepergian Yuna. Hari bahagia Arga terasa kurang tanpa kehadiran putri bungsu keluarga itu."Ada apa, Bian?" tanya sang mama. "Bian pusing, Ma. Mungkin karena cium terlalu banyak wangi parfum," jawab Bian. Amba mengernyit heran. Tiba-tiba, seorang gadis berlari ke arah mereka dan langsung menggamit lengan Bian. Refleks Bian menoleh dan gumam, "Yuna?" "Ish, kok Yuna, sih? Dia udah nggak ada, Kak," gerutu gadis itu karena Bian langsung men







